Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Kecurigaan Bella


__ADS_3

"Hai mbak Merlin.." sapa Githa.


"Hai mbak.. Maaf saya lupa nama mbaknya." jawab Merlin.


"Githa mbak. Hemm.. Boleh gak saya duduk di sini?" tanya Githa sambil menunjuk bangku kosong di depan Merlin.


"Boleh mbak silakan." jawab Merlin sopan.


"Oh iya.. sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Githa basa-basi.


"Sudah hampir 4 tahun mbak. Kalau mbak sebelumnya bekerja di mana?" Merlin balik bertanya.


"Saya belum pernah bekerja mbak, hehe.. Ini pengalaman pertama saya. Mohon dukungannya ya mbak." jawab Githa sopan.


Tak lama kemudian Bayu datang menghampiri mereka. "Permisi.. boleh gabung gak?" tanya Bayu.


Deg..deg..deg.. jantung Merlin langsung berdebar-debar. Untuk pertama kalinya ia akan makan satu meja dengan pria yang sudah lama di sukainya. Merlin hanya diam sambil terus menatap Bayu.


Tampan sekali.. batin Merlin.

__ADS_1


Belum sempat mereka menjawab Bayu sudah duduk di sebelah Githa. "Hehe.. Kalian lama sekali jawabnya jadi aku langsung duduk saja." ucap Bayu nyengir.


Mereka bertiga makan tanpa ada satupun yang berbicara. Bayu diam-diam memperhatikan Githa yang duduk di sampingnya.


Hari ini dia cantik sekali berbeda saat wawancara kemarin. batin Bayu.


***


Selesai makan Bella langsung pergi meninggalkan Dhika. Dia kecewa karena Dhika menolak untuk segera bertunangan. Dhika membiarkannya pergi dan tak juga menahannya. Dia datang menghampiri Githa yang sedang duduk dengan Bayu dan Merlin. "Git, ayok ikut aku." kata Dhika.


Bayu dan Merlin sudah tidak asing mendengar suara tersebut, mereka langsung berdiri menundukkan kepala lalu segera pergi.


"Mereka pergi karena waktu istirahat sudah habis bukan karena takut padaku. Mana mungkin pria tampan sepertiku menakutkan. Haha.. Coba lihat sekelilingmu apa masih ada karyawan yang berkeliaran?" jawab Dhika.


"Tampan? PD sekali kau ya. Haha.." balas Githa sambil tertawa.


"Ayok aku antar pulang. Tadi kamu bilang mau pulang kan?" tanya Dhika.


"Iya aku memang mau cepat pulang. Aku sudah tidak sabar memberitahu orang rumah tentang kabar baik ini. Sekarang mereka pasti penasaran aku sedang pergi ke mana dan ada urusan apa. Hemm.. Tapi aku mau naik angkutan umum saja. Terimakasih sudah menawarkan tumpangan Tuan Dhika." jelas Githa sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Baiklah aku gak akan memaksa." Dhika mengambil dompet di saku belakang celananya mengambil kartu kredit unlimited lalu memberikannya kepada Githa. "Ambillah. Beli beberapa pakaian formal untuk bekerja. Beli juga tas sepatu serta alat make up. Jangan ditolak karena ini perintah atasanmu." pinta Dhika.


"Okey. Aku anggap ini hutang dan aku akan mencicilnya tiap bulan dari gajiku." Githa menerimanya lalu berpamitan pulang.


"Sebelum pulang kau harus ke ruangan HRD dulu. Ada yang harus kau tanda tangani di sana. Tau kan ruangannya yang mana?" tanya Dhika.


"Ruang tempat interview kemarin bukan? Ruangannya mas Bayu?" jawab Githa menebak.


"Iya benar." ucap Dhika.


Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan kantin.


Benar kan dugaanku! Kak Dhika berubah sejak bertemu lagi dengan wanita itu. Selama ini dia tidak pernah menolak permintaanku, tidak pernah juga membiarkanku menangis. Tapi tadi perlakuannya sangat berbeda! Kak Dhika bahkan tidak menenangkanku saat menangis.Tak akan ku biar kan kau menggangu hubungan kami. Lebih baik aku terima tawaran papa untuk kuliah di Indonesia saja. batin Bella. Ternyata tadi dia tidak benar-benar pergi karena ingin mengawasi Dhika dan Githa.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2