
Setelah Dhika sudah masuk ke mobil tak lama nenek Githa muncul di depan pintu. Githa segera menutup pintu mobil Dhika dan datang menghampiri neneknya.
"Eh ehm ini Githa lagi ngobrol sama temen kantor nek. Tadi pas lagi nunggu angkutan umum, dia kebetulan lewat dan ngajak berangkat bareng." ucap Githa berbohong.
"Oh begitu.. Ya sudah buruan pergi, sekarang sudah jam enam lewat. Jangan sampai kamu terlambat." pinta nenek.
"Oke nek. Yaudah nenek masuk lagi ya, temanin kakek." ucap Githa berharap neneknya segera masuk karena dia tidak mau pergi dengan Dhika.
"Iya. Nanti nenek masuk setelah kamu pergi." jawab nenek yang langsung membuat Githa terpaksa pergi ke mobil Dhika dan segera masuk.
Dhika tertawa kecil melihat wajah Githa yang cemberut. Dia segera menyalakan mobilnya dan hendak membuka kaca mobil ingin pamitan dengan nenek. Githa spontan langsung beranjak ke kursi Dhika dan menahan tangannya yang ingin memencet tombol Power Window. Kini Githa duduk di pangkuan Dhika tapi dia belum menyadarinya.
"Jangan di buka Dhik. Belum waktunya kamu bertemu dengan nenek. Aku takut nenek akan melarang kita berteman lagi. Dan, jangan jalan dulu ya. Tunggu sampai nenek masuk dan aku akan keluar. Aku ingin naik angkutan umum saja." jelas Githa panjang lebar dan masih belum sadar di mana posisinya sekarang. Dia tetap duduk di pangkuan Dhika sambil terus memantau neneknya yang masih berdiri di luar.
Dhika terdiam sesaat. Dia ingin memperbaiki posisi duduknya karena Githa menindih Dhika juniornya. Namun jika dia bergerak pasti Githa akan sadar dan kembali ke tempat duduknya. Dhika senang berada sedekat ini dengan Githa. Akhirnya dia memilih untuk membiarkannya dan membuang jauh-jauh fikiran negatif yang mulai berdatangan. Dhika menyandarkan kepalanya ke belakang sambil terus memandang pujaan hatinya.
Gak sia-sia badan pegel karena semalam tidur mobil. Pagi ini terbayarkan dengan berada denganmu sedekat ini, sayangku. batin Dhika dengan senyum bahagia.
Githa masih terus melihat ke arah neneknya yang masih saja berdiri di luar. Beberapa saat kemudian akhirnya neneknya pun masuk. Githa mengurungkan niatnya untuk naik angkutan umum karena percuma dia sudah terlambat. Biarlah hari ini dia berangkat dengan Dhika saja.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat. Nenek udah masuk tuh." pinta Githa yang masih duduk di pangkuan Dhika.
Dhika langsung bangkit memegang kemudi mobil yang otomatis seperti memeluk Githa. Githa yang langsung menyadari posisinya kaget dan segera bangkit namun karena terburu-buru dia jatuh terduduk lagi dan kini posisi mereka berhadapan.
Deg.. deg.. deg..
Degub jantung mereka sama hebatnya. Githa mulai merinding saat tangan Dhika yang perlahan mulai naik mengelus pundaknya.
Dhika tersenyum saat melihat Githa yang mulai salah tingkah.
"Tetaplah disitu kalau kamu masih menginginkannya." ucap Dhika sedikit mengejek.
"Sorry aku bener-bener gak sengaja. Please jangan di bahas dan lupain semuanya." ucap Githa dan memalingkan wajahnya. Dia sangat malu. Dia takut Dhika mengira dia sengaja melakukannya karena ingin menggoda Dhika.
"Iyaa. Gak perlu minta maaf, aku suka kok. Makasih ya, haha.." jawab Dhika lalu melajukan mobilnya.
"Kita langsung ke kantor aja ya Dhik." Githa.
"Gak lah. Aku mau ke apartemen dulu mandi lalu siap-siap." Dhika.
__ADS_1
"Kan kamu bisa mandi di kantor aja. Kemarin aku lihat di ruanganmu ada beberapa pasang kemeja dan jas juga." saran Githa.
"Gak mungkinlah aku datang ke kantor dengan pakaian kayak gini. Udah pokoknya ke apartemen aku dulu, bentar aja kok." bantah Dhika.
Githa hanya mengangguk tanda setuju.
.
.
.
Bersambung~~
Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Comment, Rate dan Votenya.
Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.
Terimakasih ❤
__ADS_1