
Setelah Githa menunggu kurang lebih lima belas menit tak lama sebuah mobil sport dua pintu berwarna hitam datang menghampiri lalu berhenti tepat di depannya. Tak lama pintu mobil itu terbuka dan tampak seorang pria yang keluar. Githa tidak mengenali sosok pria tersebut karena posisinya yang masih membelakangi Githa. Setelah berdiri dengan sempurna pria tersebut berjalan memutari mobilnya lalu membuka pintu mobil yang lainnya.
"Hai Githa.. Maaf sudah membuatmu menunggu. Silakan masuk." sapa pria itu dan mempersilakan Githa masuk ke mobilnya.
Githa yang masih belum mengenali sosok pria yang sedang berdiri di hadapannya hanya tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf anda siapa ya?" Tanya Githa sopan.
Ali tersenyum kecil lalu melepas kaca mata hitam yang sedari tadi di pakainya. Githa tersentak, dia langsung mengenali wajah tersebut. Wajah tampan yang baru kemarin di lihatnya.
"Pak Ali? Maaf karena tadi saya tidak mengenali anda." ucap Githa dengan suara yang sedikit bergetar.
"Gak apa-apa, wajar aja karena kita baru bertemu sekali." Jawab Ali santai. "Bisa kita pergi sekarang?" Imbuh Ali lagi.
"S-saya sedang menunggu Citra Pak." Jawab Githa terbata.
"Citra gak akan datang menjemputmu karena aku lah orang yang sejak semalam berkirim pesan padamu." Jelas Ali tanpa basa-basi dan kembali mempersilakan Githa untuk masuk ke mobilnya.
Githa tersentak mendengar penjelasan Ali barusan dan teringat dengan perkataan Dhika pagi tadi. Ia segera tersadar lalu masuk ke dalam mobil Ali dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Githa terpaksa ikut karena tidak mungkin ia menolak ajakan orang penting yang kini telah menjalin kerja sama dengan perusahaan Dhika.
Ali segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Githa memandang keluar jendela melihat jalanan yang lumayan macet saat jam makan siang. Dia merasa sangat canggung berduaan dengan orang yang baru kemarin di kenalnya.
__ADS_1
Ali pun fokus menyetir, dia sesekali menoleh ke arah Githa yang terus memalingkan wajahnya menatap ke jendela. Ali tersenyum kecil melihat Githa yang salah tingkah.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka pun sampai di Restoran mewah yang selalu ramai pengunjung karena terkenal dengan kelezatan hidangannya.
Ali langsung melangkah masuk ke ruang VIP, ruang makan yang terpisah dengan para pengunjung lain, di ikuti oleh Githa di belakangnya. Mereka di sambut dengan hangat oleh para pelayan. Setelah memilih meja dan mendudukkan tubuh mereka, tak lama pelayan pun datang membawa daftar menu. Ali dan Githa memilih makanan mereka masing-masing dan setelah mencatat semua pesanan pelayan pun pergi.
"Santai aja ya Git, aku gak gigit kok. Haha.." Ucap Ali sambil tertawa.
Githa terkekeh dan hanya mengangguk canggung. Dia bingung harus memulai percakapan dari mana, apalagi tadi dia yang mengajak untuk bertemu.
"Maaf Tuan, kenapa Anda harus berbohong mengaku sebagai Citra saat mengirim pesan pada saya?" Tanya Githa hati-hati.
Githa tak lagi menjawab, dia menundukkan wajahnya dan melihat tangannya yang saling berpautan di pangkuannya.
Apa maksudnya dia ingin mengenalku lebih jauh? Apa dia suka denganku? Hahaha.. Sadar Githa mengkhayalnya jangan ketinggian woyy! Batin Githa yang seketika menimbulkan senyum kecil di bibirnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Ali ketika melihat Githa senyum-senyum sendiri dan membuat Githa kelabakan.
"Eh ehm anu bukan apa-apa, Tuan." Jawab Githa terbata.
__ADS_1
"Berapa usiamu Git?" Tanya Ali lagi.
"Dua puluh tiga tahun, Tuan." Jawab Githa.
"Kalau begitu panggil saja aku Mas Ali, jangan memanggilku Tuan lagi." Balas Ali lagi.
"Baiklah Tu eh Mas Ali." Jawab Githa.
Ali mengelus lembut puncak kepala Githa yang langsung membuat Githa tersipu malu. Walaupun baru dua kali bertemu, Githa sudah mulai merasa nyaman karena sikap Ali yang ramah kepadanya. Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Pelayan menata makanan di atas meja dengan rapi setelah itu pergi. Ali dan Githa mulai menyantap hidangan tersebut sambil sesekali bercanda dan keduanya pun tertawa tanda sudah mulai akrab.
Mereka tidak menyadari kalau saat masuk restoran tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.
.
.
.
Bersambung~~
Jangan lupa di Like, Komen dan Vote ya kak..
__ADS_1
Terimakasih 💞