
Author bakal semangat update setiap hari kalau para readers gak pelit kasih VOTE nya..
Yang belum VOTE di tunggu ya 🙏
------------------------------------------------------------------------
"Om, tante, saya minta maaf karena sudah membuat keributan." ujar Githa saat mereka sudah kembali duduk di kursi masing-masing.
Sebenarnya ada rasa kagum di benak bu Harnum saat melihat Githa dengan berani membela harga dirinya. Namun cepat-cepat dia mengusir rasa itu mengingat status sosial dari keluarga Githa yang tidak selevel dengannya.
"Sudahlah semua sudah terjadi. Lain kali kamu harus bisa menahan emosi, jangan gegabah seperti tadi," sahut bu Harnum jutek.
Githa hanya menjawab dengan senyum getirnya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah dan sudah berbuat yang benar yaitu membela harga dirinya karena telah di sebut wanita murahan. Kalau hanya di sebut wanita kampungan atau tak berpendidikan, Githa tidak akan segeram tadi.
"Kamu gak salah jadi gak perlu minta maaf. Justru tadi kamu terlihat sangat keren," tutur Ali sambil mengelus lembut pundak Githa dan tertawa kecil.
Githa pun ikut tertawa dan sejenak mereka saling beradu pandang dengan tatapan dalam yang hanya mereka berdua yang dapat mengartikannya.
"Ehmm hmmm!! Sudah cukup pandang-pandangannya. Ayo cepat selesaikan makan kalian," ujar Pak Abdul menyadarkan kedua insan yang sedang duduk di hadapannya.
Setelah selesai mereka pun keluar meninggalkan restoran menuju parkiran. Bu Harnum mengajak Ali dan Githa bergabung satu mobil dengannya karena ada sesuatu yang penting ingin di sampaikannya. Ali pun menyetujui, dia menelpon manager restoran dan meminta bantuan salah satu staffnya untuk menyetir mobilnya. Tak lama seorang security yang di utus oleh sang manager datang menghampiri Ali dan Githa yang masih berdiri di luar.
Ali membukakan pintu mobil dan meminta Githa untuk masuk lebih dulu karena ada yang ingin di sampaikan Ali pada security tersebut. Sebenarnya Githa enggan masuk lebih dulu karena ada pak Abdul dan bu Fatma di dalam, namun karena Ali terus memaksa akhirnya dia menurut saja.
"Tolong bawa mobilku mengiringi mobil ini." pinta Ali sambil menunjuk mobil orangtua nya yang akan di kendarainya.
__ADS_1
"Baik tuan." jawab security.
Setelah cukup memberi arahan yang lain kepada security, Ali segera masuk ke mobil, duduk di balik kemudi lalu mulai melaju dengan kecepatan sedang.
***
"Gimana rasanya duduk di situ? Sudah merasa seperti nyonya Ali belum?" sindir bu Harnum.
Ketika mengetahui latar belakang Githa, bu Harnum ingin sekali memakinya namun ia menahan diri karena tidak ingin berbuat keributan di restoran. Karena itu dia sengaja meminta Ali dan Githa untuk ikut di mobilnya karena dia ingin meluapkan semua kemarahan yang sudah di tahannya sejak tadi.
"Tolong kamu sadar diri! Kamu gak layak untuk Ali! Wanita sepertimu hanya ingin memanfaatkan putraku saja! Cepat katakan berapa uang yang kamu inginkan? Akan ku berikan asalkan kamu pergi menjauh dari Ali!" cerca bu Fatma dengan emosi yang meledak-ledak.
"Cukup ma! Kalau mam..." ucapan Ali terputus karena di potong oleh Githa.
"Ali jangan protes kamu! Mama sudah sering memperingatkan agar kamu mencari pasangan yang selevel dengan kita! Bisa jatuh martabat keluarga kita kalau kamu sampai dua kali menikah dengan wanita rendahan! Dia hanya ingin memanfaatkan kamu, Nak!" ujar bu Harnum penuh penekanan.
Walau pun dari kecil Githa sudah terbiasa mendengar hinaan seperti itu, tetap saja ada rasa sakit di hatinya tiap kali di perlakukan semena-mena. Bu Harnum memang tidak menyebutnya wanita murahan, tapi menganggapnya sebagai wanita mata duitan yang akan memanfaatkan Ali.
Githa sungguh ingin membantah bu Harnum. Namun karena menghargai Ali, dia memilih diam dan menahan gejolak amarahnya.
"Mas, bisa berhenti sebentar?" tanya Githa pelan namun masih dapat di dengar oleh Ali.
Ali menoleh lalu balik bertanya, "Bisa, tapi kamu mau ngapain?"
"Coba lihat! Dia sudah berani perintah kamu bahkan di depan kami, orangtuamu!" ujar bu Harnum asal yang sengaja menyudutkan Githa.
__ADS_1
"Mas, tolong berhenti sekarang!" pinta Githa dengan sedikit menekan kan suaranya.
Ali langsung menepikan mobilnya.
Githa melepas seat beltnya dan ingin segera keluar namun dengan cepat tangannya di cekal oleh Ali.
"Plis jangan pergi, ini udah malam dan sepertinya akan turun hujan," ucap Ali dan menggelengkan pelan kepalanya.
"Sudah biarin aja Al! Bagus kalau dia sadar diri!" imbuh bu Harnum.
"Nak Githa, sebentar lagi kami akan sampai rumah. Om minta kamu bersabar dan biarkan Ali mengantarkanmu pulang," ujar Pak Abdul yang akhirnya buka suara.
Pak Abdul bukannya tidak mau membela Githa atau setuju dengan pendapat bu Harnum, hanya saja dia menghindari perdebatan. Lagi pula jika membantah istrinya percuma, mereka pasti akan berkelahi dan itu yang berusaha di hindarinya. Pak Abdul yakin kalau Ali pasti bisa melewati ini semua seperti dulu saat dia meminta restu dengan Maryam, almarhum istrinya.
"Mas lepasin! Tolong biarkan saya keluar!" pinta Githa sedikit berteriak.
Belum sempat Githa turun tiba-tiba air hujan satu per satu berjatuhan dan mulai membasahi kaca mobil pak Abdul. Githa tetap kekeh dengan keputusannya, dia segera membuka pintu dan berlari keluar menerobos hujan yang mulai deras.
.
.
.
Bersambung~~
__ADS_1