
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mereka pun sampai di apartemen Dhika.
Dhika mematikan mobilnya lalu segera turun dan hendak menuju lift. Sementara Githa masih duduk di kursinya. Saat sudah di depan lift baru Dhika sadar kalau Githa tidak ikut turun dan terkunci di dalam mobil.
Dia kembali ke mobil lalu membuka pintu dan berkata "Kamu kenapa gak turun? Ayo turun sebentar aja kok." ajak Dhika.
"Lebih baik aku menunggu di sini saja. Boleh ya, hehe.." tolak Githa. Dia tidak ingin berduaan di apartemen Dhika walaupun hanya sebentar. Semenjak insiden dengan Bella di kantor Dhika selama dua hari berturut-turut membuat dia lebih waspada. Dia tidak mau hal seperti itu terulang lagi dan juga tidak ingin Bella tersakiti.
Dhika langsung mengerti apa maksud Githa. Dia menyalakan kembali mobilnya lalu segera pergi agar Githa tidak menunggu lama.
Sambil menunggu, Githa menelpon Merlin dan memberitahu kalau dia akan datang terlambat.
Tak lama Dhika pun datang. Ketampanan meningkat setelah mandi dan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu muda. Sesaat Githa terpana, namun dengar cepat dia tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya.
Kenapa kamu semakin tampan. Wangi banget lagi. Uuhh..
Eh! Apaan sih! Gak boleh Githa. Ingat dia itu punya Bella. Jaga hatimu Git. batin Githa kagum lalu segera tersadar.
__ADS_1
"Habis nelpon siapa?" tanya Dhika saat sudah duduk di balik kemudi.
"Mau tahu aja deh." ledek Githa.
"Iya, emang aku mau tahu semua yang berurusan denganmu." gombal Dhika sambil mencubit gemas pipi Githa.
"Buruan nyalain mobilnya. Udah jam tujuh lewat nih." ucap Githa mengalihkan pembicaraan dan memalingkan wajahnya karena tersipu malu.
"Haha.. Iya sayangku." ucap Dhika lalu segera menyalakan mobilnya dan melaju dengan santai.
Githa tak menanggapi dan pura-pura cuek padahal hatinya berbunga-bunga. Sebisa mungkin dia harus menyembunyikan perasaannya. Dia tidak ingin Dhika meninggalkan Bella sebelum perjanjian itu selesai.
Dhika segera menepikan mobilnya lalu berhenti. Dia duduk berbalik menghadap ke arah Githa.
"Ada yang mau aku omongin Git. Langsung pada intinya aja ya. Jadi setelah pulang dari rumah Bella kemarin, aku sudah memutuskan untuk mengikuti saranmu. Bukan karena untuk menjaga perasaan Bella, tapi lebih karena ingin melindungimu." jelas Dhika. "Aku mohon agar kamu bisa sabar menungguku dan jangan buka perasaanmu untuk orang lain." ucap Dhika lagi dengan tulus.
Githa terdiam berfikir sejenak lalu berkata. "Kamu gak perlu ceritain panjang lebar seperti ini karena semuanya gak ada hubungannya denganku! Dan soal saran itu, sebagai teman aku hanya ingin kamu mengambil langkah yang benar." tegas Githa. "Plissss aku mohon sama kamu mulai sekarang bersikap biasa aja. Dan pada saat di kantor perlakukan aku seperti karyawanmu yang lainnya. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang. Ehm.. Dan satu lagi, jangan ngatur-ngatur aku soal perasaanku karena kamu gak ada hak apapun atas diriku kecuali urusan pekerjaan. Ingat ya Dhik, hubungan kita hanya sebatas Atasan dan bawahan saat di kantor, dan hanya sebatas teman kecil saat diluar jam kerja seperti sekarang ini. Aku gak mau ngulang-ngulang lagi buat ingatin kamu. Aku harap kamu ngertiin aku." tegas Githa tanpa menatap Dhika.
__ADS_1
Dhika tahu kalau Githa sedang berbohong. Dia tahu benar kalau Githa juga tertarik padanya. Namun dia tidak membantah dan menghargai keputusan Githa. Dia juga sadar kalau sudah egois karena melarang Githa membuka hatinya untuk pria lain. Sebenarnya dalam hati Dhika bersedih, dia tidak siap jika suatu saat melihat Githa menggandeng pria lain. Tapi apa yang di katakan Githa juga benar, Dhika tidak ada hak apapun atas dirinya terkait soal perasaan.
Dhika membalikkan badannya menghadap kembali ke depan dan melajukan mobilnya. Dia berusaha tegar dan menahan dirinya agar tidak membantah Githa.
Sepanjang perjalanan mereka diam tenggelam dalam perasaannya masing-masing.
.
.
.
Bersambung~~
Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Comment, Rate dan Votenya.
Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.
__ADS_1
Terimakasih ❤