Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Di Rumah Bella (2)


__ADS_3

Dhika dan Bella kini sudah bergabung dengan Pak Husen dan Bu Fatma. Mereka duduk bersebelahan, di hadapan Pak Husen dan Bu Fatma.


Dhika terlihat gusar. Dia bingung akan menjawab apa jika Bu Fatma minta penjelasan soal insiden tadi siang di kantornya. Sebenarnya dia ingin jujur, namun setelah melihat kondisi Bella, dia mengurungkan niatnya. Sepertinya dia akan mengikuti saran Githa untuk tetap melanjutkan semua ini sesuai perjanjian. Walaupun itu berarti dia harus berbohong lagi.


"Kenapa Mamah dan Bella pada tegang begitu? Biasa aja Mah, kasian tuh Dhika mulai canggung. Kita ngobrolnya yang santai tanpa emosi." ucap Pak Husen yang sedari tadi memperhatikan mereka satu per satu.


"Nggak apa-apa kok om." ucap Dhika canggung. "Sebelumnya Saya mohon maaf pada om dan tante karena sudah membuat Bella menangis. Bella hanya salah paham dengan karyawan baru saya yang bernama Githa. Karena Githa akan menggantikan Merlin, otomatis kami jadi sering bertemu." jelas Dhika membuka pembicaraan.


"Benarkah begitu sayang?" tanya Bu Fatma pada Bella.


"Bukan itu yang Bella permasalahin kak. Tapi sikap kak Dhika yang sangat perhatian padanya. Dan juga semenjak Githa muncul, kak Dhika lebih sering menghabiskan waktu dengannya! Bahkan waktu itu kakak pernah bilang kalau kakak..." Bella berhenti bicara, dia tidak ingin mama dan papanya tahu kalau Dhika pernah mengaku telah mencintai Githa. Hampir saja dia keceplosan.


"Bilang apa sayang? Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan." pinta Bu Fatma penasaran.


Pak Husen yang mulai paham duduk permasalahannya tanpa mendengar detail penjelasan Bella, langsung menengahi. Dia tidak mau Dhika makin tersudut.

__ADS_1


"Sudah sudah mah. Jangan paksa Bella untuk menceritakan semuanya. Beri dia privasi." ucap Pak Husen menengahi. "Dan kamu Bella, jangan mengulangi kesalahan yang dulu pernah kamu perbuat. Ingat tidak bagaimana dulu kamu sangat cemburu dengan Merlin? Hanya karena dia lebih sering bersama Dhika. Padahal itu semua karena urusan pekerjaan." timpal Pak Husen lagi.


Bella menatap papanya kesal. Dia merasa di sudutkan. Padahal jelas-jelas kemarin Dhika mengaku padanya kalau telah jatuh cinta pada Githa.


"Kali ini ceritanya beda pah! Ada sesuatu yang tidak papa ketahui!" sanggah Bella.


Dhika membuang nafasnya kasar. Dia mengusap wajahnya lalu berkata. "Bella.. Apa yang aku katakan padamu kemarin itu semuanya benar. Sekarang semuanya terserah padamu." ucap Dhika. Dia sudah tidak tahan jika harus berbohong lagi.


Bella menatap Dhika dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Tak lama air matanya pun tumpah tak mampu di bendungnya lagi. Dia berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya di lantai atas. Bella tidak sanggup lagi berkata-kata.


Bu Fatma berlari kecil mengikuti langkah anak kesayangannya yang kembali menangis. Saat berpapasan dengan Dhika dia berkata "Kau jangan pulang dulu. Kita harus bicara." pinta Bu Fatma seraya pergi menyusul Bella.


"Tapi om.. Aku sudah menemukan cintaku. Aku ingin segera menikah dengannya. Tolong om pikirkan juga bagaimana perasaanku. Aku tidak bisa meneruskan kebohongan ini." Dhika menolak dengan sopan.


Tanpa mereka sadari Bella dan Bu Fatma berdiri bersembunyi di balik tembok dan mendengarkan pembicaraan mereka. Bella pun langsung terduduk lemas. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana melanjutkan hari-harinya tanpa Dhika, orang yang selalu memanjakannya, orang yang sangat dia cintai.

__ADS_1


.


.


.


Bersambung~~


Hai readers.. Ini adalah novel pertama saya.


Sebagai penulis baru pasti Novel saya masih banyak kurangnya.


Saya butuh saran dan kritik kalian agar bisa menyempurnakan cerita ini.


Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya.

__ADS_1


Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.


Terimakasih ❤


__ADS_2