Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Sederajat


__ADS_3

Hari ini hari terakhir Bella berada di Indonesia. Besok dia akan berangkat ke korea untuk melanjutkan study nya yang sudah dua tahun tertunda. Malam ini Bella akan makan malam bersama dengan kedua orangtuanya dan juga Dhika. Bella berencana akan mengakhiri hubungannya dengan Dhika setelah makan malam nanti, di depan orangtuanya.


Setelah selesai mengemas barang-barang penting yang akan dibawanya besok, Bella keluar kamar menghampiri bu Fatma dan pak Husen yang tengah bersantai di ruang keluarga.


Bella menceritakan pada mamanya kejadian kemarin siang saat dia berada di kantor Dhika. Bu Fatma mendengarkan dengan antusias dan tersenyum sinis.


"Jadi wanita penggoda itu udah resign? Baguslah kalau begitu. Tapi mama penasaran seperti apa tampangnya. Mama belum sempat bertemu dengannya," ujar bu Fatma sinis.


"Githa bukan wanita penggoda, mah! Dia wanita yang baik, selama ini Bella yang udah salah menilai," bantah Bella.


"Tapi mama masih penasaran secantik apa sih dia? Yang pasti lebih cantik anak mama dong ya," gombal bu Fatma.


Bella dan bu Fatma pun tertawa. Sebenarnya Bella sedih karena besok harus pergi. Namun jika tetap tinggal juga percuma karena sampai sekarang pun dia tidak berhasil membuat Dhika jatuh cinta. Bella juga tidak ingin terus-terusan memaksakan keinginannya dan berharap bisa dengan mudah melupakan Dhika saat dirinya sudah di korea nanti.


Pak Husen tersenyum haru melihat anak kesayangannya yang mulai bersikap dewasa. Terlihat ada raut penyesalan di wajah pria paruh baya itu. Seharusnya dari awal dia tidak perlu membuat rencana seperti itu yang malah membuat Bella berharap lebih.


***

__ADS_1


Di Kediaman Orangtua Ali (Pak Abdul & Bu Harnum)


Sore hari Ali berkunjung ke rumah orangtuanya. Sudah tiga bulan dia tidak datang berkunjung karena sibuk bekerja.


"Assalamu'alaykum.." salam Ali saat memasuki rumah.


"Wa'alaykumsalam nak.." jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya.


"Akhirnya kamu ingat pulang, mama rindu sekali nak." ujar bu Harnum seraya memeluk anak sulungnya itu.


"Maaf ma, banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." balas Ali sambil membalas pelukan mamanya.


"Nah kedatanganku kemari juga karena ingin membahas soal itu ma," jawab Ali cepat.


"Malam nanti aku ingin mengajak mama dan papa makan malam di luar sekalian aku ingin mengenalkan teman wanitaku. Apa mama dan papa ada waktu?" imbuh Ali lagi setelah duduk bergabung dengan pak Abdul.


"Tentu saja! Kami akan menyambutnya dengan senang hati." jawab pak Abdul antusias.

__ADS_1


Semenjak kepergian istrinya, ini kali pertama Ali mengenalkan teman wanitanya. Istrinya meninggal dua jam setelah melahirkan anak pertama mereka. Anaknya yang lahir prematur sempat bertahan hidup selama tiga hari lalu setelah itu ikut menyusul istrinya. Sejak kepergian istri dan anaknya, Ali menutup diri dan terus menyibukkan dirinya dengan bekerja seharian tanpa mengenal waktu.


Beberapa kali pak Abdul dan bu Harnum mencoba menjodohkannya dengan anak teman-teman mereka, namun Ali selalu menolak. Entah karena masih belum mau membuka hati atau tidak tertarik, Ali tidak pernah memberitahu alasannya.


"Yang penting dia sederajat dengan keluarga kita Al, itu sudah cukup untuk menggantikan mendiang Inara." Imbuh bu Harnum yang langsung membuat Ali menggeleng kecil karena tak habis pikir dengan pola pikir mamanya yang selalu mengutamakan harta dan gengsi.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit balik ke apartemen dulu karena harus siap-siap," ujar Ali seraya bangkit dari duduknya.


"Iya, hati-hati di jalan. Biar mama saja yang tentukan restorannya ya. Nanti mama akan kirim alamatnya," sahut bu Harnum senang.


Ali mencium punggung tangan kedua orangtuanya lalu pergi. Terlihat kekhawatiran di wajahnya setelah mendengar bu Harnum berkata 'yang penting sederajat dengan keluarga kita'.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~~


Maaf upnya sedikit karena disesuaikan dengan votenya yang masih pelit-pelit 😅😁


__ADS_2