Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Mas Tampanku


__ADS_3

Keesokan paginya Githa merasa kepalanya pening dan tubuhnya menggigil. Githa yang hendak bangkit kembali menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya.


Tak lama ponselnya berdering singkat tanda ada pesan masuk. Perlahan Githa menggerakkan satu tangannya untuk meraih ponselnya yang berada di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya.


"Selamat pagi Githa, mentariku.." ~ Ali.


Githa tersenyum kecil lalu kembali memejamkan matanya dengan ponsel yang masih ditangannya. Dia tidak mampu membalas pesan dari Ali karena kepalanya semakin terasa berat.


Setiap pagi Ali tak pernah absen mengirim pesan kepada Githa. Begitu pun dengan Githa, dia selalu menantikan pesan singkat ucapan selamat pagi dari Ali. Walau pun belum ada status yang jelas diantara mereka, tapi mereka merasa nyaman satu sama lain. Sebenarnya Ali sudah menaruh hati pada Githa, namun dia tidak mau terburu-buru mengungkapkannya. Dia juga tidak mau meminta Githa menjadi kekasihnya, karena ingin langsung menjadikannya seorang istri.


"Selamat pagi juga mas tampanku," gumam Githa lirih lalu ia kembali terlelap.


***


Pukul 08:00 di rumah Githa..


Tokk.. Tokk..


"Assalamu'alaykum.." sahut seseorang yang datang sambil mengetuk pintu.


Nenek yang baru selesai sarapan segera mengantarkan kakek ke kamar untuk beristirahat lalu bergerak menuju pintu utama. Betapa terkejutnya nenek saat melihat tamu yang datang di pagi hari tersebut adalah Dhika.


"Wa-wa'alaykumsalam," jawabnya terbata.


"Nak, D-dhika?" tanya nenek lagi.


Dhika mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah walaupun belum dipersilakan masuk. Dia memeluk nenek menumpahkan rasa rindunya yang sudah lama ia pendam. Nenek pun membalas pelukan Dhika. Dulu hanya Dhika yang mau bermain dengan Githa dan Leela. Karena itu nenek sayang padanya dan sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri.


"Nenek minta maaf karena sudah egois," ucap nenek lirih seraya melepas pelukannya.

__ADS_1


"Sepertinya ayah dan ibumu begitu tersinggung dengan perkataan nenek dulu, sampai-sampai kalian pindah rumah dan membuat kami kesepian," imbuhnya lagi dan mulai mengeluarkan buliran bening di pelupuk matanya.


Dhika membungkukkan sedikit badannya mensejajari nenek lalu menghapus lembut air mata nenek dengan punggung tangannya seraya tersenyum hangat.


Selama beberapa tahun ini Dhika selalu melihat nenek sembunyi-sembunyi dari kejauhan karena takut nenek akan marah jika dia menghampirinya. Tapi ternyata nenek sangat merindukannya.


"Nek, ayah dan ibu memutuskan pindah rumah karena demi memenuhi permintaan nenek karena kalau gak salah nenek yang akan pindah jika kami masih tetap tinggal," jelas Dhika.


Nenek semakin menangis setelah mendengar penjelasan Dhika. Nenek sadar menolak pertolongan orangtua Dhika adalah kesalahan.


"Bagaimana kabar kakek nek?" tanya Dhika.


"Alhamdulillah kakek sudah mendingan, baru saja nenek antar istirahat di kamar. Sekarang kakek sangat jarang bicara, setelah terkena serangan stroke dua tahun lalu kakek lebih banyak diamnya," jawab nenek.


Setelah itu nenek mengajak Dhika duduk dan mereka berbincang-bincang mengenang masa kecil Dhika, Githa dan Leela yang dulu selalu bermain bersama.


***


Tokk.. Tokk..


"Assalamu'alaykum nek," salam seorang pria yang sedang berdiri di ambang pintu.


Dhika yang merasa tak asing saat mendengar suara tersebut segera membalikkan tubuhnya. Dia tersenyum sinis saat melihat Ali yang datang berkunjung.


"Wa'alaykumsalam nak Ali," jawab nenek.


"Masuk sini, nak." imbuh nenek lagi mempersilakan masuk.


Ali masuk dan terlihat gelisah. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah lalu matanya berhenti menatap lekat ke arah pintu kamar Githa.

__ADS_1


Nenek yang melihat sikap Ali langsung paham dan berkata, "Githa masih tidur, mungkin karena semalam kalian pulang larut malam jadi dia masih ngantuk. Tunggu sebentar ya akan nenek bangunkan," jelas nenek lalu hendak melangkah ke kamar Githa.


"Terimakasih nek, lebih baik biarkan dia tidur. Saya cuma khawatir karena gak biasanya dia gak membalas pesan dari saya. Karena itu saya datang kemari untuk memastikan," ujar Ali yang membuat langkah nenek terhenti dan kembali duduk di samping Dhika.


"Dia pasti sengaja bicara begitu karena ingin membuatku cemburu. Hahaha sayangnya gak mempan sama sekali, cihh!!" batin Dhika kesal.


"Oh iya kenalkan ini Dhika," ucap nenek.


"Dulu Dhika tinggal di rumah depan situ," jelas nenek sambil menunjuk rumah yang berada tidak jauh dari rumahnya. "Dia sudah seperti cucu nenek sendiri, malah dulu nenek dan orangtuanya sempat berniat menjodohkannya dengan Githa," imbuh nenek lagi yang sontak membuat Dhika terkejut namun tidak dengan Ali yang terlihat biasa saja.


"Serius nek dulu Dhika dan Githa mau dijodohin?" tanya Dhika antusias.


"Iya Dhika.. Tapi kan sekarang sudah bukan lagi jamannya jodoh-jodohan. Dan juga sudah ada nak Ali yang selalu bersama Githa. Bagi nenek yang terpenting adalah kebahagiaan Githa dan nenek lihat Githa bahagia dengan nak Ali," tutur nenek panjang lebar.


"Tapi nek, Ali dan Githa hanya berteman. Di antara mereka gak ada ikatan yang spesial jadi lebih baik nenek lanjutkan aja perjodohan kami, hehehe.." balas Dhika sambil tertawa kecil.


Nenek mengalihkan pandangannya ke arah Ali setelah mendengar penuturan Dhika barusan. Dia menatap lekat mata Ali seolah meminta penjelasan.


"Benar yang dikatakan Dhika. Saat ini saya dan Githa hanya berteman karena saya ingin langsung menjadikannya istri bukan pacar," jawab Ali yang membuat nenek semakin yakin dengannya.


.


.


.


Bersambung~


Jangan lupa LIKE, KOMEN dan VOTE agar Author semangat menulis.

__ADS_1


Terimakasih ^^


__ADS_2