
Ali berdiri di depan cermin yang memantulkan bayangan sosok pria dewasa yang terlihat tampan dan keren. Setelah merasa penampilannya sempurna, Ali bergegas keluar apartemennya menuju parkiran dan melajukan mobilnya menjemput Githa sang pujaan hati.
Sementara Githa sedang bersiap dirumahnya. Githa menggeleng kecil melihat tingkah adiknya yang sedari tadi sibuk memilihkan pakaian untuknya.
"Pokoknya malam ini kakak harus terlihat sempurna," ujar Leela antusias sambil mengobrak-abrik isi lemari pakaian Githa.
"Ini cuma makan malam biasa dek, gak ada yang spesial. Iya.. Hanya makan malam untuk menebus hutangku pada mas Ali," gumam Githa pelan namun masih bisa di dengar oleh Leela.
"Kalau hanya makan malam biasa kenapa orangtua mas Ali juga ikut?" tanya Leela menanggapi.
"Entahlah, kakak gak mau berandai-andai dan yang jelas gak ada yang spesial di antara kami." jawab Githa sekenanya.
Leela tersenyum kecil melihat raut wajah kakaknya yang berubah, tidak lagi semangat seperti tadi.
"Pakai yang ini kak," pinta Leela seraya menyodorkan pakaian pilihannya.
Githa meraihnya dan segera mengenakan ke tubuhnya. Dress berwarna biru muda tanpa lengan dengan panjang di atas lutut. Hanya dress sederhana namun membuat Githa terlihat anggun saat mengenakannya.
Githa berias tipis dan membiarkan rambut panjangnya yang bergelombang terurai begitu saja. Githa berdandan apa adanya seperti biasanya dan tidak ingin memaksakan diri dengan tampilan sempurna agar bisa menarik perhatian orangtua Ali.
"Wah.. Kakak aku cantik banget malam ini," goda Leela saat melihat Githa selesai bersiap.
Githa hanya menanggapi dengan senyum dan wajah yang bersemu merah lalu pergi keluar kamar yang di susul oleh Leela.
Githa terkejut melihat Ali yang sudah duduk di ruang tamu tengahmengobrol dengan neneknya. Ali menatap Githa tanpa berkedip. Baru kali ini dia melihat Githa memakai dress yang membuat Githa terlihat anggun dan feminim.
"Cantik," ujar Ali spontan yang membuat Githa tersipu malu terlebih Ali mengatakan itu di depan neneknya juga.
"Maaf udah buat mas menunggu," ujar Githa pelan.
Ali langsung bangkit dari duduknya dan berpamitan dengan nenek dan Leela lalu bergerak keluar rumah menuju tempat di mana mobilnya parkir.
Githa mencium punggung tangannya neneknya lalu pergi mengikuti langkah Ali dari belakang.
"Hati-hati ya nak," ujar nenek seraya melambaikan tangan saat mobil Ali perlahan
melaju.
***
__ADS_1
Pak Abdul dan Bu Harnum sampai lebih dulu di sebuah restoran mewah yang cukup terkenal di kota B. Mereka memutuskan untuk masuk lebih dulu dan menunggu Ali di dalam. Saat akan memasuki restoran langkah bu Harnum terhenti karena mendengar ada seseorang yang memanggilnya dengan sedikit berteriak.
"Jeng Harnum..!" teriak seseorang dari belakang bu Harnum.
Bu Harnum berbalik dan langsung tersenyum setelah melihat sosok yang memanggilnya.
"Wah.. Jeng Fatma apa kabar?" ujar bu Harnum seraya memeluk dan cipika-cipiki dengan bu Fatma.
"Baik jeng. Mau makan malam di sini juga?" tanya bu Fatma seraya melepaskan pelukannya dan berjalan beriringan memasuki restoran.
"Iya jeng. Malam ini Ali mau kenalin calon istrinya," jawab bu Harnum sambil tertawa kecil.
"Beneran jeng? Syukurlah akhirnya Ali bisa move on juga setelah sekian lama. Pasti calonnya cantik deh jeng," balas Bu Fatma lagi.
"Cantik itu nomor dua jeng, yang paling penting harus berpendidikan dan sederajat dengan kita. Bener gak jeng?" ujar bu Harnum.
"Iya bener jeng, harus jelas bibit bebet dan bobotnya." timpal bu Fatma.
Bu Fatma adalah salah satu teman sosialita bu Harnum. Mereka masih asyik mengobrol sementara Pak Husen, Dhika dan Bella langsung memilih meja lalu mendudukkan tubuh mereka dan memilih menu makanan.
Tak lama Ali dan Githa tiba di restoran. Sebelum ke restoran Ali dan Githa singgah ke mall terlebih dahulu karena Ali ingin membeli sesuatu untuk mamanya. Selesai berbelanja Ali memberikan kantong belanjanya pada Githa dan meminta Githa untuk memberikannya pada mamanya nanti saat mereka bertemu. Githa sempat menolak karena paham maksud Ali, namun karena Ali terus memohon akhirnya Githa luluh dan menurutinya. Ali berbuat seolah Githa yang telah menyiapkan buah tangan untuk mamanya.
Mata Bella terbelalak saat melihat Ali yang terlihat begitu akrab dengan mamanya. Bella pun langsung bisa menyimpulkan kalau Ali adalah anak dari teman mamanya.
"Kak Dhika, lihat itu." ujar Bella sambil menunjuk ke arah Ali.
Dhika mengedarkan pandangannya dan melihat Ali yang sedang mengobrol dengan bu Fatma.
Cih! Kenapa ada dia lagi! batin Dhika kesal.
"Siapa namanya kak? Apa dia dan Githa berpacaran?" tanya Bella asal.
Dhika tersentak mendengar pertanyaan Bella barusan. Tentu saja itu membuatnya kesal dan khawatir.
"Mereka hanya berteman. Jangan pernah bicara seperti itu lagi," ujar Dhika dengan wajah datar.
"Aku kan cuma nanya kak," balas Bella sewot.
Dhika tak lagi menjawab karena melihat bu Fatma yang sudah datang menghampiri mereka. Bu Fatma menceritakan tentang Ali yang malam ini akan mengenalkan calon istrinya. Dhika mulai gelisah dan berharap dugaannya salah.
__ADS_1
***
Githa keluar dari toilet dan berjalan menuju meja tempat di mana Ali dan orangtuanya sudah menunggunya. Githa berusaha tenang menutupi kegugupannya. Dia kembali teringat kilasan masa lalunya saat Bisma mengenalkannya dengan bu Fatma. Kejadian penolakan itu membuatnya sedikit trauma. Walaupun Githa tidak tahu apa maksud Ali mengajaknya makan malam bersama, tetap saja dia takut kejadian yang dulu terjadi lagi.
"Selamat malam om dan tante.. Maaf tadi saya ke toilet sebentar," ujar Githa seraya mencium punggung tangan bu Harnum dan pak Abdul secara bergantian.
Pak Abdul dan Bu Harnum saling berpandangan, terlihat raut bahagia di wajah keduanya. Mereka menyambut Githa dengan hangat. Melihat penampilan Githa yang anggun, bu Harnum langsung menyimpulkan kalau Githa berasal dari keluarga yang selevel dengannya. Terlebih saat melihat Githa menenteng paper bag dengan logo barang branded yang harganya selangit, membuat bu Harnum semakin yakin.
"Gak apa-apa kok sayang. Ayo sini duduk dekat tante," jawab bu Harnum seraya menepuk kursi kosong di sampingnya.
Ali langsung berdiri dan mempersilakan Githa duduk di sampingnya. Githa menurut dan segera mendudukkan tubuhnya.
"Githa duduk di sebelahku aja ya ma," sela Ali sopan.
"Haha.. Anak mama maunya deket-deket terus nih," jawab bu Harnum terkekeh.
Mereka pun memesan menu makanan masing-masing. Githa sesekali menatap ke arah Ali, Ali balik menatapnya dan tersenyum hangat yang berhasil membuat kegugupan Githa berkurang.
***
Karena penasaran dengan calon istri Ali, sesekali bu Fatma menengok ke meja makan keluarga pak Abdul. Matanya terbelalak saat melihat Githa tengah duduk bersama mereka. Setelah yakin kalau tidak salah orang, bu Fatma mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada bu Harnum.
"Maaf jeng, itu beneran calon istri Ali? Aduhh jangan sampai Ali nikah sama perempuan itu. Itu wanita yang dulu deketin anakku Bisma, yang pernah aku ceritakan. Dia itu cuma wanita kampung dan gak berpendidikan jeng. Cepat putuskan hubungan mereka sebelum terlanjur." ~ bu Fatma.
Karena asyik mengobrol, bu Harnum tidak mendengar ponselnya berbunyi.
Karena melihat bu harnum tidak membaca pesannya, bu Fatma langsung menelpon.
Tut.. tut.. tut..
.
.
.
Bersambung~~
Jangan lupa vote poinnya ya kak..
__ADS_1