Cerita Cinta Githa

Cerita Cinta Githa
Rencana Bella dan Mamanya


__ADS_3

Bella dan mamanya segera pergi menuju kamar setelah melihat Dhika pulang. Bella berjalan dengan gontai dan di tuntun oleh mamanya. Dia masih menangis, kata-kata Dhika barusan masih terus terngiang di kepalanya.


Bu Fatma pun juga sangat geram. Wajahnya merah padam karena menahan amarahnya. Dia sangat tersinggung saat tadi Dhika menjelekkan anaknya. Kalau saja tidak di tahan oleh Bella, mungkin tadi dia sudah datang dan menampar Dhika.


***


Di kamar Bella terus menangis. Tangisnya malah semakin menjadi-jadi. Dia terus memegangi dadanya dan sesekali berteriak. Dia tidak menyangka kalau selama ini Dhika hanya berpura-pura mencintainya. Dan dia mulai sadar atas sikap Dhika yang selama ini selalu menghindar tiap kali di ajaknya berciuman. Dhika juga tidak pernah menyatakan cinta padanya. Dia baru menyadari semuanya sekarang. Selama ini dia salah mengartikan kebaikan Dhika.


"Cup cup sayang.. Anak mama harus kuat, anak mama gak boleh cengeng." ucap Bu Fatma menyemangati Bella.


"Bella gak bisa pisah dari kak Dhika mah. Bella mau kak Dhika, cuma kak Dhika yang Bella cinta." ucap Bella di sela-sela isak tangisnya.


"Iya sayang.. Mama pasti akan bantu kamu untuk mempertahankan hubungan kalian. Tenang aja mama sudah punya rencana." ucap Bu Fatma dengan senyum sinisnya.


Bella berhenti menangis lalu menatap mamanya dengan senyum tipis. Selama ini kalau ada masalah Bella selalu minta saran pada mamanya. Dan selama ini belum ada rencana mamanya yang gagal.


"Memangnya apa rencana mama?" tanya Bella sudah tidak sabar.

__ADS_1


"Ehmm.. Tadi papa ada bilang tunggu empat bulan lagi kan? Itu mungkin batas waktu perjanjian mereka. Jika Dhika setuju, berarti kita punya waktu empat bulan untuk mendapatkan hati Dhika. Mama mau mulai sekarang kamu belajar dewasa, pengertian, dan tidak cemburuan. Jangan buat Dhika tertekan, berikan rasa nyaman untuknya. Memang saat ini dia tidak mencintaimu. Tapi mama yakin perlahan dia akan berubah jika kamu mengikuti saran mama tadi." jelas Bu Fatma.


"Trus kalau kak Dhika tetap mau pisah gimana mah?" tanya Bella lagi.


"Terpaksa kita pakai cara kotor. Mama ada rencana juga untuk itu. Pokoknya kamu tenang aja sayang." ucap Bu Fatma dengan senyum jahatnya. "Tapi sepertinya Dhika akan mengikuti saran dari papa deh." tambah Bu Fatma lagi.


"Okey. Bella percaya sama mama. Mama memang selalu bisa Bella andalkan." ucap Bella dengan manja lalu memeluk mamanya.


"Oh iya siapa tadi nama gadis itu? Gadis yang sudah merusak hubungan kalian?" tanya bu Fatma.


"Namanya Githa mah. Dia dulu tetangga kak Dhika. Mereka baru bertemu lagi setelah delapan tahun kak Dhika pindah rumah." jelas Bella dengan wajah cemberut.


"Sudah ah gak usah bahas dia, gak penting banget." sungut Bella kesal. "Ehmm kita lanjut bahas rencana mama aja. Jadi pertama-tama apa yang harus Bella lakukan mah?"


"Kita tunggu aja dulu apa keputusan Dhika. Selama dia belum menghubungi papa, kamu juga jangan menghubunginya. Biarkan dia sendiri dulu. Berikan dia ruang. Yang paling penting adalah kamu harus bisa berubah sayang. Buang semua sifat-sifat yang membuat Dhika tidak nyaman." ucap bu Fatma sambil membelai lembut pundak anak kesayangannya.


"Iya mah. Bella akan berusaha. Tolong mama bantu Bella juga ya."

__ADS_1


"Pasti donk sayang. Tapi ingat, berubah bukan hanya karena Dhika, tapi demi dirimu sendiri agar bisa jadi lebih baik."


"Okey mah." balas Bella dengan senyum haru.


"Yaudah kalau gitu mama tinggal ya. Mama senang sekarang kamu sudah lebih tenang. Selamat tidur sayangnya mama." bu Fatma mencium puncak kepala Bella lalu pergi keluar.


Bella mengangguk lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah ritual sebelum tidur selesai, Bella langsung naik ke tempat tidurnya. Karena seharian dia menangis terus, dia merasa lelah dan tak lama kemudian dia terlelap.


.


.


.


Bersambung~~


Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya.

__ADS_1


Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.


Terimakasih ❤


__ADS_2