
Githa meminta Dhika untuk menghentikan mobilnya saat sudah dekat dengan kantor.
"Stop di depan situ ya Dhik." pinta Githa sambil menunjuk jalan di depannya.
Dhika langsung menepi dan memberhentikan mobilnya. Dia terus memandang lurus ke depan.
"Aku turun di sini aja ya. Makasih tumpangannya." ucap Githa seraya membuka pintu hendak keluar.
Namun Dhika hanya diam tidak menjawab dan masih terus memandang lurus ke depan.
Melihat Dhika yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, Githa langsung mengerti kalau pria di sampingnya sedang tidak enak hati. Githa tidak mau ambil pusing, dia langsung keluar dan Dhika pun langsung melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor Githa bergegas menuju ke ruangannya. Di sana sudah ada Merlin yang sedang sibuk dengan laptopnya. Tak lama telepon berbunyi dan Githa langsung mengangkatnya.
"Selamat pagi, dengan Githa sekretaris presdir." jawabnya sopan sesuai dengan standar operasional perusahaan.
"Silakan di mulai briefingnya tanpa saya. Dan tidak ada yang boleh masuk ke ruangan saya hari ini." balas suara datar dari telepon.
Githa yang kenal dengan suara tersebut langsung menjawab. "Baik, Tuan. Apa ada yang lain lagi? Atau mungkin ada yang Tuan butuhkan?" tanya Githa sopan masih sesuai dengan prosedur.
"Gak." jawab presdir lalu langsung menutup teleponnya.
__ADS_1
Kamu, cuma kamu yang aku mau Git. Tapi kenapa kamu malah menghindar dan terus membohongi perasaanmu sendiri. Aku akan ikuti semua yang kamu minta. Mari kita lihat siapa di antara kita yang akhirnya gak bisa menahan gejolak cinta ini. gumam Dhika sambil bersandar di kursinya dan memejamkan mata.
Di sisi lain Githa bingung karena perubahan sikap Dhika. Dhika yang ramah dan humoris mendadak jadi sosok pria yang cuek dan dingin.
Ehm.. Apa ucapanku tadi pagi sangat kasar ya? Aku kan hanya ingin kita berteman seperti biasa. Atau mungkin dia ada masalah dengan yang lain. Biarin ajalah! Dengan sikapnya yang seperti itu akan membuatku lebih mudah untuk berhenti mencintainya. ucap Githa dalam hati.
***
Di ruangannya Dhika menyibukkan dirinya dengan dokumen-dokumen yang sudah menumpuk sejak tiga hari lalu. Untunglah dia sudah meminta Merlin untuk menunda semua meetingnya sampai Roni datang. Jadi dia bisa sedikit bersantai di tengah-tengah konflik drama percintaannya.
Dhika mengambil ponselnya lalu menekan tombol dan menelepon Pak Husen.
"Ehm. Apa om sedang sibuk?"
"Gak, ini om lagi santai di rumah. Ada apa?"
"Saya mau bahas soal semalam om. Saya memutuskan untuk melanjutkannya sesuai perjanjian." ucap Dhika berat.
"Gak usah terburu-buru. Om gak mau nanti kamu berubah fikiran lagi."
"Saya pastikan gak akan ada lagi kejadian seperti itu om. Dan perlu om tahu saya melakukan ini semua demi Githa karena saya sangat mencintainya." ucap Dhika tegas. Sekarang dia sudah tidak mau mengalah lagi.
__ADS_1
"Iya iya, om tahu itu. Beruntung sekali Githa di cintai pria baik sepertimu. Ehmm.. Setelah ini tolong kamu hubungi Bella ya. Perbaiki kembali hubungan kalian. Semalam dia tidak berhenti menangis."
"Oke, nanti akan saya telepon. Oh iya satu lagi om, saya mohon om tepati janji om untuk bertanggung jawab penuh. Karena setelah perjanjian itu selesai, saya sudah tidak mau ada tawar menawar lagi. Apa pun hasilnya nanti tolong om selesaikan sendiri dan jangan libatkan saya lagi." jelas Dhika dengan tegas namun tetap sopan.
"Tentu saja. Kamu gak usah khawatir dan gak perlu mengingatkan om tentang hal itu. Sudah dulu, om mau keluar."
Pak Husen langsung memutus sambungan teleponnya. Dia mulai geram karena Dhika sekarang sudah mulai berani berbicara seperti itu kepadanya.
.
.
.
Bersambung~~
Mohon dukungannya dengan memberikan Like, Comment, Rate dan Votenya.
Kelanjutan Novel ini sangat bergantung dengan dukungan kalian.
Terimakasih ❤
__ADS_1