Cewek Songong Vs Kakel Tampan

Cewek Songong Vs Kakel Tampan
Cewek Songong Vs Kakel Tampan


__ADS_3

Merekapun bergegas menuju mobil Asma, Asma pun melajukan mobilnya dan mengantar Elicia terlebih dahulu pulang.


***


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan Elicia pun sampai di depan gerbang rumahnya.


"Guys gue masuk duluan yah," ucap Elicia sambil tergesa-gesa membuka pintu mobil Asma.


"El, gue bantu doa aja yah, abis gue juga pasti kena amuk kalo udah sampe, huh," ucap Asma sendu di iringi anggukan oleh Nita dan Rhyrhy.


"Yaudah lo bertiga hati-hati di jalan yah, gue masuk duluan bay ...," ucap Elicia dan bergegas masuk ke dalam Rumahnya.


"Bay queen," ucap Nita Asma dan Rhyrhy dan melambaikan tangannya dan di balas oleh Elicia.


Elicia pun bergegas menuju pintu rumahnya, ia pelan-pelan membuka pintunya, dan dilihat lampu ruang tamu, kamar orang tuanya dan Bi Surti sudah mati, jadi tinggal dapur dan lantai atas yaitu kamar kakak-kakak nya dan dirinya, karena memang Lino mungkin belum tidur, tidurpun mungkin jam satu atau enggak sama sekali gegara main game, sedangkan Cerline tidak suka kalo saat tidur lampunya mati begitupun dengan Elicia.


"Huh, aman ...," ucap Elicia secara pelan-pelan menutup pintu rumahnya dan menguncinya pelan jangan sampai macan di rumahnya bangun terus ngamuk, macan itu singkatan dari Mami cantik, tapi beda lagi kalo Erni marah pasti bagi Elicia itu bukan singkatan lagi malah di tambahin kalimatnya menjadi MACAN GANAS.


"Huh, untung Mami udah tidur, kalo enggak bisa-bisa gue di cincang abis-abisan nih," celetuk Elicia setengah berbisik.


Iapun mengendap-endap menuju kamarnya, tapi ketika kakinya menginjak ruang tamu lampu yang tadinya mati tiba-tiba menyala, sontak Elicia kaget sambil mendongak ke arah lampu dan melihat sekeliling, lebih parahnya ia melihat seorang wanita sudah berkacak pinggang dengan rautan wajah datar sambil melihat Elicia dengan tatapan ingin menerkam.


'Mampus gue, kena amuk nih, dahlah pasrah terima nasib ajalah, hiks' batin Elicia.


"Eh, Mami, belum tidur mi?" Tanya Elicia berbalik menghadap Erni.


"Baru pulang udah jam berapa ini?" Tanya Erni dan menghempaskan tubuhnya di sofa sambil menatap Elicia.


"Ah, mungkin udah mau jam dua belas Mi," jawab Elicia cengengesan tapi dengan di buat-buat.


"Terus, kenapa baru balik?" Tanya Erni lagi.


"Aelah Mami, maklum lah anak muda, Mami mana paham," jawab Elicia santai, karena Maminya tidak menampakan wajah marah.


Tapi bukannya Erni tidak marahyah, melainkan menahan kesalnya kepada anak gadisnya itu biar tidak langsung kabur kekamarnya, karena Elicia kalo udah di marahin sama Erni pasti langsung kabur ke kamarnya.


"Duduk di dekat Mami," ucap Erni sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.


Elicia pun menurut dan berjalan menuju sofa dekat Maminya.


'Hehehe, kena kamu, ayok kesini biar kamu enggak bisa kabur lagi dari Mami kalo Mami marahin kamu,' batin Erni.


Elicia pun duduk di sofa dekat Erni, dengan cepat Erni menangkap tangan Elicia.

__ADS_1


"Dari mana aja kamu ha?! Larut malam baru pulang! Ini udah jam berapa Elicia?! Katanya tadi cuman bentar kenapa pulang selarut ini?!" Marah Erni melontarkan pertanyaanya ke Elicia.


'Haduh, jiwa Macan nya bangun deh, kenapa gue bisa ketipu si," ucap Elicia dalam hati.


"A---" Elicia baru ingin menjawab pertanyaan Erni, Erni sudah memotongnya.


"Kalo Mami lagi marah diam, jangan ngebantah! Ini juga demi kebaikan kamu! Ini jam udah jam tidur, kenapa baru pulang!" geram Erni.


Elicia pun diam hanya menatap mata Maminya dengan tatapan biasa aja dengan muka tanpa bersalah, karena situasi ini sudah sering di alami Elicia, tapi baru pertama kali pulang selarut malam ini.


"Kenapa diam?! Udah tau kalo kamu salah!" ucap Erni.


'Aelah Mami maunya apasih? Di jawab salah, diam salah, duhai Mamiku apasih yang kamu mau? hiks ku ... menangis ...," batin Elicia menangis.


Lino yang ingin ke dapur untuk mengambil minum seketika manik matanya melihat Maminya dan Elicia di ruang tamu.


"Lah tuh anak buat ulah apalagi sampe-sampe Mami bangun tengah malem gini?" Gumam Lino bertanya-tanya.


Elicia yang melihat Lino sedang memandangnya dan Maminya, ia pun memberi syarat mata mengedip-ngedipkan mata ke Lino untuk membantunya. Lino yang menyadari permintaan Elicia, langsung berjalan ke arah ruang tamu.


'Huh, emang abang gue nih, akhirnya pahlawan gue dateng,' batin Elicia seketika berbinar.


"Loh, kok kalian belum tidur?" Tanya Lino basa-basi.


Elicia pun melebarkan matanya memberi syarat ke Lino untuk membantunya. Lino yang mengerti isyarat mata Elicia hendak membantunya tapi dia urunkan, karena ingin menjahili Elicia.


"Astagah Elicia, ternyata kamu baru balik, oh no ..., wah Mih, harus di kasi Undang-undang keluarga ini Mih," ucap Lino memanas-manasi Erni.


'Dasar abang kampr*t, disuruh bantuin malah tambahin masalah, bener-bener! Gue tarik balik kata-kata gue yang tadi!' Umpat Elicia membatin dan menatap sinis Lino.


"Hem, kamu enggak boleh jalan sampai Mami ijinin, ingat!" Tekan Erni.


"Emm, betul tuh Mi, tambah lagi Mi masa cuman satu, kan enggak seru Mi," ucap Lino memancing emosi Maminya.


"Aha, gini aja, kamu ke sekolah harus di bareng ama Dirga, kalo jalan harus juga sama Dirga," ucap Erni wajahnya yang tadi marah berubah menjadi senang.


"What?! Aku enggak salah dengerkan?!" Pekik Elicia bertanya ke Maminya.


"Kenapa? Enggak mau?" Tanya Erni.


"Cabut aja fasilitasnya Mi, kalo dia enggak mau," kompor Lino dan mendapat tatapan sinis dari Elicia


"Abang Lino! Apaan si? Orang gue mau kok," geram Elicia dan mengucapkan kalimat itu dengan terpaksa, karena dia enggak mau semua fasilitasnya di sitak.

__ADS_1


'Ah, bener-bener abang durhaka!" Umpat Elicia.


"Nah diakan udah setuju Mi, berarti udah selsaikan urusan Elicia sama Mami?" Tanya Lino.


Erni baru ingin menjawab pertanyaan Lino, Lino langsun berucap kembali.


"Udah lah Mi enggak usah di perpanjang, karena Lino ada urusan sama Elicia," ucap Lino dan menarik tangan Elicia. San epunya pun langsung berdiri dan mengembangkan senyuman.


"Good night Mother," ucap Elicia dan Lino.


Erni hanya melongo dan mengelengkan kepalanya melihat tingkah dua anaknya itu. Erni pun beranjak dan masuk ke kamarnya.


***


Kamar Elicia.


Pletak!


Satu jitakan keberuntungan secara tiba-tiba mendarat di kepala Lino dan mempuat sang empunya meringis kesakitan.


"Sakit monyet," ringis Lino sambil memegangi kepalanya.


"Bener-bener lu yah bang, dari tadi kek kasi alasan gitu ke Mami, eh malah mancing kemarahan Mami dulu, bawa-bawa Dirga lagi," gerutu Elicia.


"Yaelah, gue kan lagi cari kebahagiaan dulu," ucap Lino.


"Kebahagiaan apaan?" Tanya Elicia menautkan kedua alisnya.


"Kan adatuh kata orang-orang, bahagia itu simpel, cukup melihat orang lain menderita gue udah bahagia kok, nah gitu," jawab Lino sambil bersedekap dada dan menaik turunkan alis tebalnya.


"Bahagia apaan, bahagia pala lu, bener-bener gesrek nih abang atu nih," celetuk Elicia.


"Aelah gitu aja ngomel, yaudah urusan abang udah selsaikan? Abang haus mau ambil minum," ucap Lino hendak keluar dari kamar Elicia, tapi Elicia buru-buruh mencegahnya.


"Oh iya, et et et, tunggu dulu, gue mau ngomong phenting and ghenthing thing ... thing ...," ucap Elicia sambil berderama.


"Apa?" Tanya Lino sambil menaikkan alisnya sebelah


"Duduk dulu," ucap Elicia dan menarik tangan Lino untuk duduk di sofa.


Lino pun menuruti perintahElicia dan duduk di sebelah Elicia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2