Cewek Songong Vs Kakel Tampan

Cewek Songong Vs Kakel Tampan
Cewek Songong Vs Kakel Tampan


__ADS_3

"Astagah kamu ini yah," ucap Ainun sambil mencubit pelan pipi Elicia


***


Setelah lama berbincang-bincang di ruang tamu, Erni dan Cerline pun datang membawa sebuah kantung besar yang berisi ... entahlah author juga kagak tau hehehe.


"Assalamualikum," salam Erni dan Cerline.


"Waalaikumsalam," jawab Elicia dan Ainun.


Erni tertegung melihat Ainun yang nyaris begitu sempurna dan cantik di matanya.


'Subehanallah, sungguh cantik dan menawannya anak ini, hem ..., cocok jadi mantu ini ma,' batin Erni sambil tersenyum ke arah Ainun dan begitupun dengan Ainun.


Erni dan Cerline berjalan menuju Elicia dan Ainun, yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Siapa ini El? Temen kamu yah?" Tanya Cerline sambil mendudukkan bokong nya ke sofa di ikuti dengan Erni.


"Ini Mbak Ainun, yang aku pernah ceritain pas masih SMP sama Mami dan Kak Cerline, yang kalo aku bolos pasti ke warungnya Mbok Minah dan Mbak Ainun," jelas Elicia.


"Owh ..., yang itu yah," ucap Erni dan Cerline bersamaan.


"Kirain calon nya Lino," cerocos Erni sambil senyum ke Ainun.


"Ah, bu-bukan tante," ucap Ainun sambil mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan 'tidak'.


"Mami ..., Mbak Ainun itu mau ngelamar kerja sama bang Lino, bukan ngelamar jadi istri bang Lino, hais," jelas Elicia.


"Haiss, punya Mami gini amat si, pikirannya cuman mantu aja," dumel Elicia.


"Yah siapa tau jodoh kan, Ainun juga nyaris terbilamg tipe calon mantu mama banget," ucap Erni sambil senyum ke Ainun


"Yah jodohkan enggak ada yang tau El, siapa tau Ainun itu jodohnya Lino yang dikirimkan Allah untuk Lino, Iyakan nak Ainun?" Tanya Erni ke Ainun.


"Ah, i-iya Tan," jawab Ainun gugup.


"Aduh sayang jangan bilang Tante dong, bilang Mami aja biar akrap yahkan El, Line?" Ucap Erni sambil berpindah tempat duduk ke dekat Ainun.


"Iyah Mi," jawab Cerline.


"Maklumin aja mbak, Mami tuh udah kebelet mau ngeliat anak-anak nya nikah, lihat yang Cecan atau Cogan datang ke rumah, pasti di jodohin paksa deh," ucap Elicia.


"Eh eh eh enak aja kamu anak monyet, sejak kapan Mami jodohin kamu sama orang sembarangan, jodoh kamu itu Dirga, kagak boleh di ganggu gugat, tuaithik," ucap Erni sambil mengucapkan kata titik dengan iramanya.


"Bilang titik aja pake gaya-gayaaan, Mami ..., Mami ...," ucap Cerline sambil mengelengkan kepalanya pelan.


"Oiyah Mbak, kenalin ini kakak perempuan saya namanya Cerline, kalo soal nama panjang kayak nama panjang aku tapi bedanya cuman yang di depan aja, Cerline Awinda Herman dan Elicia Awinda Herman, itu," jelas Elicia.


'Tes bahasa ingris ah, kalo enggak tau, kan bisa aku ajar nanti, abis kalo Elicia sama bang Lino dipancing bahasa ingris jawabnya 'enggak usah sok ingris deh, kita ini orang Indo, jadi harus pake bahasa negara kita' hem' batin Cerline dan mengulurkan tangannya ke Ainun, Ainun pun menyambut uluran tangan Cerline dengan hangat.


"My name is Cerline," ucap Cerline.


Ainun terlihat bingung di mata Cerline.


'Tepat sekali, yes akhirnya aku punya murid,' batin Cerline.


"What's up?" Tanya Cerline.


"Ah, My name is Ainun, nice to meet you," jawab Ainun.


"Ka-kamu bisa bahasa ingris?" Tanya Cerline kaget.


"Saya cuman mengerti sedikit," jawab Ainun ramah di iringi senyum. Cerline pun manggut-manggut dan tersenyum.


"Yaudah deh, Mami mau tempur di dapur dulu sama Bi Surti, oiyah Ainun kamu makan di sinikan Nak?" Tanya Erni.


"Iya Tante, eh maksudnya iya Mami," jawab Ainun.


"Mau ikut tempur sama Mami nggak?" Tanya Erni lagi, membuat Ainun bingung dengan kata-kata Erni, Erni yang melihat ekspresi Ainun langsung berkata.


"Maksud Mami itu, bertempur dengan alat masak di dapur, begitu," jelas Erni.


"Owh, iya Mi mau," jawab Ainun semangat.


"Yaudah ayok ikut Mami sama Cerline ke dapur," Ucap Erni.


"Yuk," ajak Cerline sambil mengandeng lengan Ainun.


"Elicia udah mandi belom?" Tanya Erni.


"Belom, ini baru mau naik ke kamar," jawab Elicia.


"Pantesan ada yang bau," ejek Erni diiringi kekehan kecil.


Elicia hanya memutar bola matanya malas dan beranjak menuju lantai atas tepatnya ke kamarnya.


"Bi Surti ..., yuhu ...,!" Teriak Erni.


***


"Nyonyah ini siapa?" Tanya Surti sambil menatap Ainun.


"Ini Ainun Bi, calonya Lino," bisik Erni ke Bi Surti.


"Oalah, cantik bingits nyah, mantu idaman nyonya banget ya, coba tes nya masaknya," Bi surti kembali berbisik dan di jawab angukan semangat oleh Erni.


"Bisa masak kan Nun?" Tanya Erni.


"Bisa Mi," jawab Ainun.


"Coba Mami mau tes," ucap Erni.


"Mami mau di masakin apa sama Cerline? " Tanya Ainun.


"Tumis kangkung bisa?" Tanya Cerline ramah.


"Bisa, apalagi?" Tanya Ainun.


"Yang kamu bisa apa aja?" Tanya Erni.


"Bisa di bilang lumayan bisa masak semua menu makanan Mi," jawab Ainun.


"Se-semua? Kalo Menu luar negara bisa?" Tanya Cerline.


"Insyaallah bisa Line," jawab Ainun tersenyum manis.


"Semua? Wow ..., daebak Mi," ucap Cerline kagum.


"Yaudah kalo gitu coba masak gulai ayam sama tumis kangkung aja dulu karena itu menu kesukaan calon suami kamu," ucap Erni menggoda Ainun.


"Bu-bukan Mi, saya cuman calon sekertarisnya Pak Lino," ucap Ainun gugup.


"Iya-iya, yaudah yuk kita mulai," ucap Erni.


"Yaudah aku masak sayur aja deh, soalnya Papi sukanya sayur kelor," ucap Cerline sambil mengambil kelor.


"Yaudah kalo gitu giliran Mami yaitu goreng ikan asin, maklum Nun, Papi tu sukanya makanan sederhana," ucap Erni.


"Kalo di tanya kayak gini yah 'Papi enggak keasinan makan ikan kering?' papi pasti jawab gini 'masih banyak yang pengen makan-makanan kayak gini di luar sana Lin, tapi mereka enggak mampu beli, buat apa di sebut orang mapan kalo makan-makanan kayak gini aja enggak mau makan, itu artinya cuman kaya di luar Line, bukan kayak pemikiran, kita bersyukur bisa makan semewa yang sekarang, dulu cuman bisa makan ubi bakar doang,' gitu katanya, makanya sampai sekarang aku sama bang Lino enggak pernah nanya lagi, kecuali Elicia, dia tuh selalu nanya setiap makan, tapi Papi enggak pernah marah kalo Elicia nanya," jelas Cerline sambil menambahkan garam dan penyedap rasa di sayur kelor.


'Subehanallah, sungguh keluarga yang terbilang sempurna, walaupun kaya tapi makanannya sederhana banget,' batin Ainun dengan jari- jemari sibuk mengupas bawang.


***


Kamar Elicia.


Selesai mandi Elicia merebahkan badannya, karena terasa lelah gara-gara pertengkaran tadi di sekolah.


Ting!


Satu notifikasi whatsapp masuk di benda pipi Elicia.


Dengan malas Elicia langsung menyambar handphonenya. Terpampang di layar utama dengan nama 'Cumkring bawel' Elicia pun langsung membuka chat dari Dirga.


Pesan Whatsapp.


Cumkring Bawel:


{Buntal, lo belum jelasin ke gue tentang kejadian tadi di kelas lo, lo sama Tisa kenapa bisa bertengkar si?}


Elicia:

__ADS_1


{Kepo lu}


Cumkring Bawel:


{Jelasin ngak!}


Elicia:


{Besok aja gue capek}


Cumkring Bawel:


{Gue jemput besok, emggak nerima penolakan}


Elicia:


{Serah lu, malas gue berantem}


Read


Cumkring Bawel ofline.


"Buset nih orang, bener-bener mancing emosi banget, dia yang dulu ngechat eh dia juga yang ngeread, dasar Calpar lucn*t," umpat Elicia tak sadar mengakui Dirga sebagai calon pacarnya.


"Ih apaan si lo El, pake cara ngaku-ngakuin dia sebagai calon pacar lo, dasar mulut sial*n," geram Elicia sambil memukul-mukul mulutnya.


***


Jam 6:38 Pm


Tintong! Tintong!


Suara bel berbunyi, Bi Surti segera menuju dan membukakan pintu.


"Eh Tuan, Aden tumben telat pulangnya?" Tanya Bi Surti ketika melihat majikan dan anak majikannya sambil mengambil tas kerja mereka berdua.


"Baru selesai miting Bi, Mami mana?" Tanya Herman.


"Di dapur tuan, yaudah saya permisi dulu Tuan, Den, mau naruh tas," jawab Bi Surti sambil mebungkuk dan berlalu menuju kamar Lino, Herman dan Erni.


"Yaudah Pih, Lino naik ke atas dulu yah, mau mandi," ucap Lino di jawab angukan oleh Herman dan berlalu ke kamarnya. Sedangkan Herman berlalu menunu dapur menemui Erni.


"Tumben bukan Mami yang ..., eh ini siapa Mi?" Tanya Herman sambil melihat Ainun.


"Calon pacarnya Lino, eh maksud Mami calon sekertarisnya Lino," jawab Erni.


"Saya Papa nya Lino, Nama saya Herman pangil aja Papi biar akrapkan," ucap Herman menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ainun Pi," jawab Ainun sambil menangkupkan kedua telapk tangannya di depan dada.


"Kirain calon mantu Mi," ucap Herman ramah dan di balas oleh Ainun.


"Maunya sih nyomblangin Lino pi, Papi dukun kan?" Tanya Erni berbisik ke Herman dan di jawab angukan oleh Herman.


"Apasih yang enggak buat Mami," goda Herman.


"Ih Papi apaan si," ucap Erni dengan gaya malu-malu.


"Ekhem! Jangan romantis-romantisan di sini kali!" Teriak Elicia yang tiba-tiba datang.


"Iri bilang jomblo!" Teriak balik Mami dan Papi Elicia kompak.


"Idih," cibir Elicia sambil mengangkat bibir atasnya.


***


Kamar Lino.


Selesai mandi dan memakai piyama, Lino langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Ck, cantik juga tuh cewek tadi, hati gue langsung berdetak kencang ngeliat dia, cih, lo mau jadi sertaris gue, lo harus siap juga jadi istri gue ..., Ainun, apapun yang gue suka harus jadi milik gue, terutama lo," ucap Lino tersenyum miring.


Tok! Tok! Tok!


Lino yang mendengar pintu kamarnya di ketuk langsung berdiri dan berjalan hendak membukakan pintunya.


"Den, kata nyonya makan malam udah siap, tinggal den Lino yang belum turun," ucap Bi Surti setelah pintu kamar Lino terbuka.


"Bibi duluan aja, nanti Lino nyusul," jawab Lino.


"Lama bener Bang Lino turunya, udah keroncongan juga, apa jangan-jangan dandan dulu yah baru turun," kesal Elicia. Erni dan Herman cuman menggeleng mendengar ucapan Elicia sedangkan Cerline dan Ainun hanya tersenyum. Tidak lama kemudian Lino akhirnya tiba di meja makan, dia heran melihat waja yang tidak asing duduk di kursi meja makan siapa lagi kalo bukan sang calon sekertaris yaitu Ainun, tapi wajhnya tanpa eksresi. Dia menatap Ainun beberapa detik saja dan melanjutkan langkahnya menuju kursi meja makan di dekat Elicia plus di depan Ainun.


"Lama banget lo bang," cetus Elicia.


"Bawel" ucap Lino dingin. Yah orang rumah memaklumi sikap Lino, kalo ada tamu atau kerabat yang nginap, pasti sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.


"Yaudah sekarangkan udah lengkapni, sekarang waktunya isi perut, pimpin doanya El," ucap Erni sambil melihat ke arah Elicia.


"Oke," jawab Elicia.


Elicia langsung memimpin doa makan, tapi malam ini agak cepat karena perut Elicia sudah berdisko minta di isi.


"Amin, selamat makan," tanpa basa-basi lagidan dengan gerakan cepat Elicia langsung meyendok nasi ke piringnya dan lauk, ia langsung melahapnya.


Membuat semua orang yang ada di meja makan melongo melihat Elicia dan menggeleng kepala sambil tersenyum.


"Lino cobain deh, ini masakan spesial buat kamu," ucap Erni sambil menyendokkan tumis kangkung dan gulai ayam kesukaan Lino.


Lino langsung menyantapnya dan merasa ada yang berbeda dalam masakan itu, tidak seperti biasanya.


'Rasanya enak banget enggak kayak biasanya, apa Mami beli yah?' Batin Lino


"Beli di mana MI?" Tanya Lino sambil menyendok nasi ke piringnya.


"Enak ngak?" Tanya Cerline.


"Enak banget, beli di mana? Baru kali ini Lino dapat masakan seenak ini," jawab Lino sambil bertanya balik


"Itu enggak beli bang, tapi di buat," jawab Cerline.


"Siapa yang buat? Lo? Engak mungkin," ledek Lino dingin.


"Bukan, tapi ..., Ainun ...," ucap Cerline dan Erni bersamaan.


"Oh!" Ucap Lino singkat, padat, jelas dan dingin.


"Gitu doang?" Tanya Elicia sambil mengunyah.


"Enak masakan lo," ucap Lino dingin tanpa menatap ke arah Ainun.


"Terima kasih Pak," ucap Ainun.


***


Setelah selesai makan malam, Elicia pergi ke kamarnya untuk mengambil handphonenya, Lino yang melihat Elicia menaiki tangga langsung menyusul Elicia, sesampainya di kamar Elicia, Lino langsung nyelonong masuk dan duduk di sofa.


"Buset, bang kalo mau masuk di kamar orang tuh harus nunggu pemiliknya masuk dulu, baru abang masuk, ini main nyelonong aja kayak mbak Kunti," celetuk Elicia.


"Ngomel mulu lo, sini cepetan, ada yang mau gue tanyain sama lo," ucap Lino.


Elicia langsung masuk sambil menghentak-hentakkan kakinya dan duduk di samping Lino.


"Apa?" Tanya Elicia ketus.


"Kenapa bisa dia masih ada di sini? Kan tadi gue udah nerima dia," tanya Lino.


"Mbak Ainun maksud abang?" Tanya Elicia.


"Bukan! Tapi janda yang ada di dekat rumahnya pak Rt!" Geram Lino sambil menatap malas Elicia.


"Lah mana aku tau ..., OMG jangan-jangan bang Lino pacaran sama janda itu? Wah harus di kasi tau Mami zama Papi ni," ucap Elicia hendak berdiri dari tempatnya.


"He, mau kemana lu? duduk, ya kali gue pacaran ama tu jendes, pikiran gue masi normal bontot, maksud gue tu Ainun," jelas Lino.


"Owh, mbak Ainun? Gue yang suruh dia makan malam di sini, emangnya kenapa? Naksir?" Tanya Elicia.


"Nggak!" Teriak Lino sambil berjalan keluar kamar Elicia.


"Idih, enggak usah teriak kali," ucap Elicia.


***

__ADS_1


Ruang tamu.


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan orang tua Elicia, Ainun pun pamit pulang.


"Yaudah kalo gitu Ainun pamit pulang dulu ya Mami Papi, abis Mboknya Ainun sendirian di warungnya,"ucap Ainun.


"Oh yaudah, tunggu di sini dulu yah, Mami panggilin Elicia," ucap Erni sambil beranjak dari tempat duduknya.


Belum sempat naik tangga Elicia sudah muncul di pertengahan anak tangga.


"Loh kenapa Mi? Kok Mami mau naik?" Tanya Elicia sambil menuruni anak tangga.


"Sini dulu," pangil Erni.


Dengan cepat Elicia turun dan berdiri di samping Erni.


"Kamu liat Abang Lino?" Tanya Erni mengecilkan suaranya.


"Mungkin di kamarnya, emang ada apa?" Tanya Elicia.


"Yaudah kamu ke sana gih temenin Ainun, tapi jangan antar pulang yah, harus bang Lino yang antar pulang, ajak bincang-bincang aja sampai bang Lino turun," jelas Erni.


"Oke" ucap Elicia sambil mengangkat tangannya dan membyat bentuk O.


Erni menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Lino, sesampainya di kamar, Erni langsung masuk dan terlihat Lino duduk di sofa sambil bermain game online.


"Lino," pangil Erni.


"Emm," dehem Lino tanpa menoleh ke arah Erni.


"Antar Ainun," ucap Erni.


"Malas ah, kan Elicia yang jemput dia,harusnya Elicia juga yang antar, kenapa harus Lino yang antar dia pulang," ucap Lino pura-pura ketus.


"Lino!" Teriak Erni sambil merebut gawai milik Lino.


"Kalo orang tua ngomong liat, jangan fokus di hape mulu," omelan Erni.


"Antar Ainun atau hape kamu Mami sitak tiga bulan mau," ucap Erni.


"Iya-iya, Lino ganti baju dulu, tunggu di bawa aja, nanti Lino nyusul," ucap Lino ketus.


"Oke hape kamu Mami pegang dulu, di bawah baru Mami kasi," ucap Erni sambil berjalan keluar kamar Lino.


"Jodoh emang enggak kemana," ucap Lino sambil tersenyum lebar.


***


"El, pulang yuk," ajak Ainun.


"Tunggu Mami dulu yah, mbak," ucap Elicia.


Tak lama kemudian Erni pun datang membawa paperbak berisi beberapa baju gamis dan jilbab.


"Oiya Nun, ini ada hadia buat kamu terima yah, Mami enggak suka kalo di tolak," ucap Erni sambil menyodorkan paperbak ke Ainun.


"Terimakasih Mi, tapi ini banyak banget," ucap Ainun sambil meneremia paperbak yang di kasi Erni.


"Besok kamu pakai dah tu ke kantor Lino, oiyah Lino bakalan Antar jemput kamu kok, kan kamu sekertarisnya," ucap Erni.


"O-ohw, iya Mi," jawab Ainun.


Tidak menunggu lama Lino pun turun dan berdiri di dekat Maminya.


"Oiya mbak, bang Lino aja yah yang anter, soalnya Elicia capek banget, kan bamg Lino besok jadi bos mbak, jadi harus lebih akrap lagi dong," ucap Elicia.


"Yaudah kalo gitu Mbak pamitya," ucap Ainun sambil mencubit pipi Elicia dan di jawab angukan oleh Elicia.


"Mami Papi, Ainun pamit yah," ucap Ainun sambil mencium tangan Erni dan menangkupkan tangan ke Herman.


"Assalamualaikum," lanjutnya.


"Waalaikumsalam," jawab Elicia dan orang tuanya.


Lino pun berjalan ke luar rumah di ikuti dengan Ainun.


***


Dalam mobil


Hening, canggung, itulah suasana di dalam mobil, perjalan serasa lama sekali, tapi Ainun tidak memakai sabuk pemgaman karena ia tidak tau apa kegunaannya, sedangkan Lino tidak melihat itu. Ainun sesekali melirik Lino yang mukanya seperti es itu.


'Astagah, orang ini kenapa dingin banget jadi merinding saya ada di dekatnya,' batin Ainun.


Seketika Lino mengerem mendadak mobilnya dan membeloknya ke sebelah kanan, dan berhasil membuat tubuh mungil Ainun terlempar ke dada bidang Lino.


Deg!


"Astagfirullah," kaget Ainun karena melihat wajah Lino terlalu dekat dan menarik tubuhnya kembali sambil mengusap dadanya karena kaget.


"Emang gue setan apa," ketus Lino dingin.


"Ma-maaf pak, bukan maksud saya kayak gitu, saya cuman kaget," ucap Ainun gelagapan.


"Pake sabuk pengaman lo," ucap Lino dingin


Ainun bingung karena tidak tau apa yang dimaksud Lino, karena biasanya dia naik angkot tidak pake sabuk pengaman. Lino yang melihat Ainun kebingungan langsung mendekatkan tubuhnya ke Ainun.


'Mau ngapain dia? Jangan-jangan mau macem-macem,' batin Ainun dengan dada berdegup kencang.


Lino semakin mendekat dan semakin mendekat.


"Bapak mau ngapain?" Tanya Ainun dengan rau wajah panik


Lino langsung memasangkan sabuk pengaman Ainun.


"Enggak usah geer," ucap Lino sambil menarik tubuhnya dan kembali menjalankan mobilnya.


'Astagah orang ini, kenapa menyeramkan sekali,' batin Ainun sambil melihat Lino.


Setelah selesai mengantar Ainun, Lino pun langsung pulang ke rumahnya.


***


Rumah Asma.


Kring! Kring!


Terdengar bunyi telpon rumah berbunyi, segera Asma mengangkatnya.


"Halo dengan keluarga Raditya Ma di sini, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Asma sambil menempelkan telpon di kupingnya.


"Mama atau papa kamu ada?" Tanya seorang perempuan di sebrang sana.


"Ada, tunggu saya pangilkan ya," ucap Asma dan memanggil orang tuanya.


"Mama, papa! Ada yang nyariin!" Teriak Asma.


"Siapa?" Tanya Mamanya.


"Tau ..., nih, Asma mau ke atas dulu," ucap Asma dan berjalan menuju kamarnya.


"Halo, dengan siapa di sebrang sana?" Tanya Sila


"..."


"Owh ternyata kamu jeng, tumben nelpon ada apa yah?" Tanya Sila.


"..."


"Makan malam? Kapan jeng?" Tanya Sila lagi.


"..."


"Besok malam? Bisa-bisa," ucap Sila.


"..."


"Bay jeng," ucapnya lagi dan menutup telponnya.


"Papa!" Teriak sila dan berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Bersambung


Pay-pay👋🏻 seeyou next part


__ADS_2