
"Ge er banget lo! Nih ambil itu dari Mama gue," ucap Asma menyodorkan rantang ke Dito.
"Kagak usah ngeles kali, ini bikinan lo kan? Cm, malu? bilang bos, kagak usah jual Mama lo," ucap Dito berlalu pergi menuju lift dan tidak mengambil rantang yang Asma berikan.
"Woi kutu kepret! Ini rantang lo!" Teriak Asma geram.
Sedangkan yang di teriaki malah tidak meresponnya. Asma langsung mengikutinya dari belakang sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang siap menerkam mangsanya.
Sesampainya di depan lift Asma langsung masuk duluan ke dalam lift.
"Buruan masuk! Gue mau cepet-cepet pulang!" Geram Asma sambil menarik Dito kasar.
"Apaan sih! Enggak usah narik-narik kali! Baju gue bisa-bisa robek gara-gara cakar ayam lo!" Omel Dito menatap malas Asma.
Ting!
Bunyi lift menunjukkan bahwa isi perutnya sudah sampai di depan kamar mereka.
Asma langsung menarik Dito dengan kasar menuju kamar hotelnya, sesampainya di depan pintu Asma tanpa rasa ibah langsung meraba kantong celana Dito bagian belakang hingga bagian depan mencari kunci atau kartu kunci kamar hotel, pas di bagian kantong depan Asma langsung menarik kartu atau kunci hotel dan bergegas memasukkannya ke dalam kunci, sedangkan Dito hanya bisa menelan lud*h nya karena tingkah Asma, karena dede kecil di bawa sana sudah terbangun dari tidur nyenyaknya.
'Dasar geprek! Bisa-bisa nya main rabah-rabah celana gue! Dia kira gue enggak normal apa?! Ah si kecil malah bangun lagi! Mau minta tanggung jawab, dia belom jadi istri gue! Awas lo Asma geprek! Sekali lagi lo nyentuh-nyentuh daerah terlarang gue! Gue bakalan terekam lo! Sial!' Umpat Dito dalam hati sambil menutupi bagian depannya dengan paperbac dan berusaha untuk tenang di depan Asma.
"Masuk Dito imanuel! Gue mau pulang nih!" Geram Asma.
Dia langsung menaruh rantang nya di meja kecil milik Dito dan berdiri sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Bukan di dada bidang Dito yah Beny, wkwkwk.
"Siapa juga yang larang lo pulang? Kalo lo mau pulang, lewat pintu, simpelkan, enggak pake ongkos!" Geram Dito dan berlalu masuk menaruh paperbac sambil membuka baju kaosnya.
"Astaga Dito!" Teriak Asma sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Apaan sih?! Ini bukan hutan! Malah teriak-teriak enggak jelas!" Geram Dito menatap tajam Asma.
"Lo ngapain buka baju lo njim! Lo enggak liat ada gue di sini?! Dasar Ayam lucn*t!" Teriak Asma emosi, masih dengan posisi yang sama menutup wajahnya.
Seketika Dito berjalan pelan menuju Asma, tepat di depan Asma, Dito berdiri tegap dan meniup tangan Asma yang menutupi wajahnya. Asma pelan-pelan membuka jari-jemarinya dan alhasil yang dia lihat adalah dada telanjang Dito.
"Ah ...!" Teriak Asma sambil mendorong Dito kuat-kuat, tapi sialnya Asma malah terpeleset dan ikut nimbrung di kasur tepat di atas Dito, karena memang di depan Asma tadi adalah kasur king nya Dito.
Tangan Asma tidak sengaja mendarat di dada Dito sambil meremasnya, Asma seketika membulatkan mata nya ketika melihat jari jemarinya bertengger rapih di dada bidang Dito.
Dengan sigap Dito langsung membalik posisinya dengan Asma, yang tadi Asma di atas Dito, kini Ditolak yang berada di atas Asma dan menghimpit Asma dengan lengan kekarnya sambil menatap Asma dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Lo udah dua kali ngebangunin adik kecil gue geprek!" Ucap Dito dingin penuh dengan penekanan.
"Adik kecil apaan? Lo kan kagak punya adik," tanya Asma polos tidak tau kalo nyawanya sedang terancam.
__ADS_1
"Minggir! Gue mau pindahin makanan di rantang! Dan satu lagi, pake baju loh!" Geram Asma sambil memukul-mukul dada bidang Dito tetapi Dita tidak mengubrisnya.
'Nyeremin amat Nih orang! Kayak gue mau di makan aja kalo di tatap kayak gitu!' Batin Asma dengan dada yang mulai panik.
"Lo suka sama gue atau enggak?" Tanya Dito dengan tatapan dingin.
Asma tiba-tiba terngagah dengan pertanyaan yang di lontarkan Dito.
'Nih orang kenapa tiba-tiba berubah drastis kayak gini? Pertanyaannya juga kagak masuk akal! Ini si Ayam yang gue kenal kan? Dengan sifat angkuh sombong dan bawelnya?' Tanya Asma membatin.
"Kenapa bengong? Gue tanya sekali lagi, lo duka sama gue atau enggak?" Tanya Dito dengan wajah serius masih dengan sifat dingin.
"L-lo kenapa?" Tanya Asma gugup.
"Jawab pertanyaan gue iya atau enggak?" Tanya Dito.
"Ap---" ucapan Asma terpotong karena Dito.
"Iya atau enggak? Gue enggak suka bertele-tele, kalo lo enggak jawab, gue cium lo!" Ancam Dito dan membuat Asma membulatkan matanya.
"Lo apa-apaan sih?!" Geram Asma menatap Dito kesal.
"Gue hitung mundur, tiga," ucap Dito.
"Dasar Ayam sinting! Bangun nggak!" Teriak Asma memukul dada bidang Dito.
"Dito lepasin! Sadar Yam sadar!" Teriak Asma memberontak.
"Ti ...," Dito menggantungkan ucapannya sambil menatap Asma.
"Ga! Berarti lo milih cium?!" Tanya Dito dengan senyum miringnya.
"Iya gue suka sama lo! Sekarang lepasin gue!" Teriak Asma dengan dada yang bergemuru, suka dengan Dito? Oh tentu tidak, dia hanya ingin lepas dengan pengundian Dito, pikirnya kalo dia mengiyakan pasti dia di lepaskan, tapi naasnya 'TIDAK'.
"Berarti kita pacaran sekarang? Lo harus nginep selamanya di sini sampai kita merid," ucap Dito dan mendaratkan kecupan singkat di kening Asma. Dan membuat Asma langsung ternganga dengan ucapan Dito.
"Kok..,"
"Tidak ada penolakan, sekali nolak, gue bakalan tambahin lo, dengan darah daging gue di perut lo!" Ancam Dito dan bangkit menuju kamar mandi.
Sedangkan Asma sedang mencerna ucapan Dito, posisinya belum sama sekali berubah.
"Maksud si Ayam? Gue bakalan di hamilin gitu sama dia?" Tanya Asma dengan dirinya sendiri.
"Enggak-enggak, gue harus kabur, gue kagak mau buat anak sama cowok bawel kayak dia, walaupun ganteng tapi mulutnya kayak emmak-emmak komplek, bisa-bisa anak gue nanti ngoceh teros kan bisa-bisa gue yang pusing, bapaknya ngoceh anaknya ngoceh, bisa-bisa keluarga gue di juluki keluarga ngocehceh, ih kagak-kagak," ucap Asma bergidik ngeri.
__ADS_1
Asma langsung bangun dan mengendap-endap menuju pintu kamar Dito hendak kabur.
Asma langsung mengugat rantang nya ketika berpikir apa yang dia lupakan.
"Rantang gue!" Teriaknya dan cepat-cepay menutup mulutnya.
Asma langsung mengendap-ngendap menuju meja tempat dia menaruh rantang nya.
"Fiuh, hampir lupa, kalo ini yang gue lupa, bisa-bisa gue di sangka keluyuran lagi sama Mama, mending gue cepet-cepet pindahin terus kabur," ucap Asma berlari kecil menuju dapur, hendak memindahkan isi rantang ke piring, karena dia mau mengambil rantangnya.
Visual karakter Asma
Visual Karakter Dito.
***
Kediaman Batara.
"Abang gagak!" Teriak Risma dari luar kamar Dirga.
"Dasar bocah kampr*t! Dia kira gue enggak ngantuk apa?" Umpat Dirga, dengan malas dia membuka kan pintu katanya.
"Bang gagak, ada yang cari in di luar, katanya teman bang gagak," celoteh Risma polos.
"Siapa?" Tanya Dirga sambil menautkan kedua alis tebalnya.
"Teman bang gagak," jawab Risma.
"Yah gue tau tapi siapa monyet!" Geram Dirga.
"Mana Risma tau, Risma kan enggak pernah liat, ah abang gagak bodoh!" Geram Risma karena Surga selalu menanyainya.
"Dasar bocah sengklek!" Geram Dirga membuang nafas kasar.
"Perempuan atau laki?" Tanya Dirga.
"Cewek" jawab Risma.
"Cewek? Apa temannya pacar?" Tanya Dirga ke dirinya sendiri.
Dirga langsung bergegas menuju ke ruang tamu dan melihat Momynya sedang berbincang dengan seorang perempuan yang sangat dia dan Elicia tidak suka.
__ADS_1
Bersambung