
Tiba-tiba Tedy langsung menggendong Nita dengan gaya bridal steel dan membawanya masuk ke dalam mobil, walaupun Nita terus meronta-ronta dan memukul-mukul dada Tedy.
Sekarang Nita dan Tedy sudah berada di dalam mobil, Nita menatap tajam Tedy yang sedang menyetir.
"Jangan ngeliatin gue kayak gitu, nanti naksir, gue enggak mau tanggung jawab," ucap Tedy tanpa melihat Nita.
"Idih! Siapa juga yang ngeliatin lo?! Geer!" Celetuk Nita sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ck!" Decak Tedy sambil fokus ke jalanan.
****
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Ainun sambil mengetuk pintu rumah kediaman Herman.
"Waalaikumsalam, eh Non Ainun, silahkan masuk Non," jawab Bi Surti mempersilahkan masuk.
Ainun pun mengangguk dan tersenyum melangkah masuk.
"Mau ketemu Den Lino yah Non?" Tanya Bi Surti.
"Iya Bi, soalnya saya di suruh ke sini sama Pak Lino," jawab Ainun tersenyum ramah.
"Yaudah Non, Non silahkan duduk dulu, saya panggilkan Den Linonya dulu," ucap Bi Surti dan berlalu pergi menuju kamar Lino.
Tidak lama Ainun duduk, Bi Surti kembali dan berkata.
"Non, di suruh naik ke kamar Den Lino, katanya nyuruh siapin baju Non," ucap Bi Surti menyampaikan pesan Lino.
Ainun mengerutkan dahinya, gugup, tidak mungkin dia naik ke kamar laki-laki yang bukan muhromnya.
"Tapi Bi .... Saya .... Enggak bisa," ucap Ainun bingung.
Tidak lama Erni pun datang dari balik pintu musollah rumahnya, masih memakai mukenna lengkap.
"Eh Ainun, cari Lino yah?" Tanya Erni sambil menghampiri Ainun yang ada di sofa ruang tamu.
"Eh Mami, Assalamualaikum Mi," ucap Ainun sambil menyalimi Erni.
"Waalaikumsalam," jawab Erni.
"Iyah Mi, Ainun di suruh Pak Lino dateng ke sini dulu, katanya ada yang mau dia omongin," ucap Ainun.
__ADS_1
"Lah? Terus Lino nya kok belum turun Bi?" Tanya Erni ke Bi Surti.
Bi Surti mendekat ke arah Erni dan berbisik "Itu Nyonya, Si Aden nyuruh Non Ainun langsung naik aja, tapi Non Ainun nya, kayaknya enggak biasa masuk ke kamar cowok Nya," jelas Bi Surti.
Erni pun mengangguk sambil tersenyum ke arah Ainun.
"Yaudah yuk naik ke kamar Lino, Mami temenin, Lino juga enggak mungkin apa-apain kamu sayang, kalo dia ngapa-ngapain calmant Mami, Mami bakalan goreng itu anak," ucap Erni sambil mengelus lembut pipi Ainun.
"Makasih Mi, tapi .... Saya enggak enak aja, emm .... Saya juga enggak berfikir ke situ kok Mi, Pak Lino baik kok, orangnya, cuman saya aja yang enggak enak Mi," ucap Ainun gugup.
"Yaudah, sini Mami temenin, takut kalian telat berangkatnya," ucap Erni sambil menarik lembut tangan Ainun.
****
Sedangkan di kamar, Lino sedang mencak-mencak sendiri karena menunggu Ainun terlalu lama.
"Ke mana sih tu cewek?! Lama banget, cuman naik tangga juga!" Geram Lino sambil beberapa kali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Mau marah ke dia, tapi gue nggak bisa, ck!" Decak Lino sambil tersenyum membayangkan Ainun yang hampir sempurna di matanya.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar, Lino cepat-cepat merubah mimik wajahnya menjadi dingin padahal di balik itu semua ada rasa yang dia sembunyikan.
Tok! Tok! Tok!
Lino berjalan dan membuka pintu sambil berkata.
"Kamu yang seharusnya Mami tanya," ucap Erni sambil menerobos masuk ke kamar Lino dan menggandeng tangan Ainun.
"Lino kenapa Mi?" Tanya Lino sambil menghempaskan tubuh kekarnya ke sofa.
"Duduk sayang," Erni tidak menjawab pertanyaan Lino, melainkan menyuruh Ainun duduk di dekatnya.
"Iya Mi," ucap Ainun dan ikut duduk di kasur Lino.
Lino tersenyum tipis melihat keduanya, selain di restui dengan kedua orang tuannya, Mami dan Papinya juga menyayangi Ainun.
"Lino, kamu ini yah, Ainun itu menjaga etikanya sebagai perempuan, berbeda dengan sebagian perempuan," ucap Erni menatap kesal Lino.
"Terus?" Tanya Lino dingin.
"Terus ..... Kenapa anda menyuruhnya naik ke kamar anda tuan Herlino?" Tanya Erni geram.
"Kan Lino nyuruh dia naik ke sini buat nyiapin barang sama baju Lino, doang Mi, enggak mau macem-macemin dia juga," ucap Lino santai.
__ADS_1
"Kenapa harus calmant Mami? Kan kamu bisa sendiri," ucap Erni sewot.
"Dia kan sekertaris Lino, jadi wajar dong," ucap Lino tidak mau kalah.
"Malah ngelawan Mami, Mami aduin ke papi nih," ucap Erni mengancam.
"E-enngak papah Tant .... Eh maksud aku, enggak papah Mi, Ainun juga udah ada di sini," ucap Ainun melerai perdebatan kedua anak Ibu itu.
"Tuhkan Mi, orangnya aja mau," ucap Lino.
"Diam, satu menit Mami marah sama kamu, nanti kalo enggak tahan, Mami tunda," ucap Erni sambil memanyunkan bibirnya.
Yah itulah Erni yang harus kalian ketahui, dia terlalu sayang kepada anak-anaknya, tanpa terkecuali, tetapi dia sangat manja ketika berdebat dengan Lino, alasannya cukup masuk akal, karena dia tidak mau, ketika Lino nanti mempunyai istri, Lino tidak akan berani membentak atau menyakiti istrinya, karena pada dasarnya, anak lelaki hanya bisa di ajarkan dengan sikap orang tua..
Back to topic
Ainun tersenyum ketika melihat tingkah Erni, jujur dia sangat bersyukur ketika kenal dengan keluarga Elicia, selain ada kehangatan, di sini juga ada pelengkap kegembiraan nya dengan Ibunya.
"Ainun, kamu beneran enggak papah?" Tanya Erni khawatir.
"Enggak papah Mi, beneran, itukan juga tugas Ainun sebagai asisten nya Pak Lino," jelas Ainun sambil tersenyum.
"Yaudah kalo itu mau kamu sayang, tapi ... Mami enggak temenin kamu yah, soalnya Mami tadi di telpon sama Cerline, katanya ada klayen yang mau ketemu Mami di butik," ucap Erni.
"Iya enggak papah kok Mi, Ainun bisa sendri kok," jawab Ainun.
"Yaudah, Bi Surti yang nemenin kamu yah di sini," ucap Erni sambil berdi di ikuti dengan Ainun.
Cup! Cup! Cup!
"Yaudah, Mami sekalian pamit deh ke bawah," ucap Erni sambil mencium pipi dan jidat Ainun.
Selang peninggalan Erni, hanya tercipta hening dengan keduanya. Semenit kemudian Lino pun mengangkat bicara.
"Langsung siapin aja, gak pake lama," ucap Lino sambil melempar kunci lemari.
"Baik Pak," ucap Ainun sambil berlari kecil menuju lemari besar di kamar Lino.
Dia pun memindahkan beberapa jaz milik Lino ke dalam koper.
"Lo bawa baju berapa?" Tanya Link tanpa melihat Ainun, dia hanya fokus melihat layar ponsel tetapi dia juga sering curi-curi pandang.
"Cuman tiga Pak," jawab Ainun menoleh ke Lino.
__ADS_1
"Hem," dehem Lino.
To Be Continue