
"Tenang yah, lo enggak boleh ngelampiasin amarah lo dengan cara melenyapkan dia, lo itu bukan pembunuh El, jangan pernah kotorin tangan lo, lo mau kalo dia kenapa-napa pasti lo yang kena imbasnya El, dia bakalan seneng kalo liat lo menderita," ucap Asma menenangkan Elicia. Elicia hanya diam sambil berusaha menahan emosinya yang sudah memuncak.
"Elicia!" Teriak Nita dan Rhyrhy, dan berhambur memeluk Elicia dan Asma.
Sedangkan Rhyrhy sudah sesenggukan yah memang Rhyrhy orangnya baperan kalo soal sahabatnya dan keluarganya. Beberapa detik kemudian Dirga Cs pun datang dan menerobos masuk ke kelas Elicia. Asma yang melihat Dirga datang langsung melepaskan pelukanya dengan pelan-pelan dan memberi kode ke Nita dan Rhyrhy untuk mengerti. Dirga langsung menarik Elicia dalam pelukannya dan mengelus rambut panjang Elicia dengan lembut, bersamaan dengan Randa menarik Rhyrhy secara spontan ke pelukannya. Ada apa dengan Randa yah guys? Randa juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya, kenapa dia langsung menarik Rhyrhy. Di pikirannya sudah di kelilingi dengan pertanyaan tentang dirinya, entahlah mungkin dia hanya kasian karena melihat Rhyrhy menangis sesenggukan, itu pikirnya, beda lagi dengan hatinya, entah kenapa hatinya terasa perih melihat air mata Rhyrhy yang mengalir. {Entahlah author juga enggak bisa ngeramal hatinya Randa wkwkwk}
Deg
'Randa meluk gue? Enggak mungkin gue cuman halu,' Tanya batin Rhyrhy.
Secara tiba-tiba Rhyrhy menangis dengan keras, membuat semua orang terkejut tanpa terkecuali.
"Huwa ..., jantung gue berdetak kencang!" Teriak Rhyrhy.
"Lu kenapa Rhy?" Tanya Randa.
"Ra-Ra-Randa? Gue enggak halu berarti yah?" Tanya Rhyrhy menatap Randa.
"Enggak Rhyrhy, berarti lo sering ngehaluin gue?" tanya Randa sambil menatap Rhyrhy.
"Ah, ke-kepo lo kak," jawab Rhyrhy.
"Jangan uwu-uwuan dong di depan kita," ucap Elicia masih memeluk Dirga, tapi belum sadar dengan posisinya sekarang dengan Dirga.
"He Ibundan monyet! Emang situ kagak sadar, kita sama yah, sama-sama meluk orang," ucap Rhyrhy berhasil membuat Elicia langsung melepaskan pelukannya dari Dirga.
Blus!
Muka Elicia langsung memerah karena melihat sekelilingnya banyak siswa/i yang melihatnya.
"So-sorry, gue refleks," ucap Elicia tanpa melihat Dirga.
"Muka lo merah El?" Tanya Asma.
__ADS_1
"Enggak," jawab Elicia
"Ekhem ekhem, kipincut cintanya Kakel Tampan nhi e ...," ejek Nita.
"Apaan si? gaje bener!" bentak Elicia, Nita dan Asma hanya cengengesan melihat muka sahabatnya itu, entah kenapa malunya tiba-tiba muncul, biasanya juga oke-oke aja.
"Hei, kalian ngapain masih pada di sini? Bubar-bubar, gue tau gue ganteng tapi enggak usah di kerumunin juga kali, bubar-bubar kalian!" teriak Tedy membubarkan semua para siswa/i.
Merekapun bubar sambil meneriaki, sekarang hanya tinggal mereka berdelapan.
"Idih sok ganteng banget lo!" Teriak Nita ke Tedy.
"Apa? Emang gue ganteng baru nyadar lo?" Tanya Tedy dengan bangga.
"Ck dasar setres," ucap Nita memutar bola mata malas.
***
***
Rumah Elicia.
"Duduk dulu Mbak, gue mau nelpon bang Lino dulu," ucap Elicia lalu mengambil handphonenya. Setelah menelpon Lino Elicia kembali duduk sambil berbincang dengan Ainun, selang beberapa menit bel pintu rumahpun berbunyi dan terbuka, tampaklah seorang lelaki tampan berdiri di sana sambil menatap Ainun dengan tatapan entahlah.
'Masyaallah, inikah bidadari yang engkau kirimkan kepadaku, sungguh anggun dan menawan ciptaanmhu ini, jilbabnya sungguh serasi dengan wajahnya,' batin Lino terkagum-kagum melihat Ainun.
Ainun yang merasa di tatap, ia pun menundukan kepalanya karena malu.
'Tampan sekali dia, astagfirulah maafkan hamba yaallah telah memuji umatmu dengan berlebihan, sungguh semuanya hanya kepadamu yaalllah," batin Ainun ketika melihat Lino.
"Woi bang! Enggak pegel diri di situ?" Teriak Elicia berhasil membuyarkan lamunan Lino.
Lino pun berjalan menuju sofa di depan Elicia dan Ainun dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
"Jadi ini yang ingin menjadi sekertaris saya?" Tanya Lino dingin.
"Yap, anda sangat betul abang PegaLino," jawab Elicia.
"Hemm," dehem Lino dingin.
"Diterima nggak?" Tanya Elicia.
"Kalo memang bersunggu-sunggu dalam bekerja mengapa tidak," jawab Lino dingin.
"Besok boleh langsung bekerja dan ini isi bio data kamu, karena saya irit bicara dengan orang asing, permisi," ucap Lino sambil menyodorkan sebuah map berwarna kuning ke Ainun.
"Te-terima kasih Pak," jawab Ainun.
Lino pun berdiri ingin ke kantor lagi karena masih banyak pekerjaan yang harus ia urus, ia meninggalkan mereka berdua.
"Alhamdulillah Elicia, Embak di terima," ucap Ainun sambil memeluk Elicia dan sujud syukur.
"Iyah mbak Elicia ikut seneng," ucap Elicia.
"Mbak berterimakasih banget sama kamu, berkat kamu embak bisa kerja," ucap Ainun.
"Sama-sama mbak, kan Elicia udah bilang, mbak Ainun enggak bakalan di tolak, hehehe," ucap Elicia cengengesan, Ainun kembali memeluk Elicia sambil menangis bahagia dan di balas pelukan hangat oleh Elicia.
"Oiyah mbak, mbak nanti malam aja pulangnya mbak, inikan udah mau soreh sekalian tunggu Mami dan kakak perempua Elicia, biar bisa akrap gitu," ucap Elicia.
"Tapi bagaimana dengan Mbok Mina, pasti dia udah nunguin Mbak El," ucap Ainun.
""Tenang aja Mbak, tadi Elicia udah tanya mbok Mina kok, maaf yah emggak kasi tau mbak dulu," ucap Elicia.
"Astagah kamu ini yah," ucap Ainun sambil mencubit pelan pipi Elicia.
Bersambung.
__ADS_1