
Cahaya fajar menyinari dari balik kaca mobil membuat kedua mata Fern merasa silau, berfikir untuk menurunkan tangan mencari kaca mata untuk menutupi kedua matanya dari cahaya matahari pagi dari dalam dashboard mobilnya.
"Olea kita sudah sampai, bangunlah" bait kalimat yang membuat siapapun terhanyut dalam kelembutan dan sentuhan seorang pria berdarah Elf murni Fern Of Whisper. Kedua bola mata biru itu menatap lembut sang kekasih Elvis sang calon cahaya Valinor.
Kedua mata Olea menyipit karena sentuhan tangan Fern yang mendarat di pipinya, seraya membangunkan wajah manis itu.
Olea menarik nafas dalam-dalam dan menyipitkan kembali mata memperoleh tubuhnya yang terbangun serta tersenyum memandangi Fern yang terlihat keren dengan kacamata hitamnya.
Olea tersenyum manis.
Mobilnya terparkir rapi disebuah studio foto Ximao di perbatasan kota Taejon.
"Fern apa kau akan menungguku hingga selesai?"
"Tentu saja karena kau harus sampai selamat hingga asrama."
Kedua mata yang saling berpandangan memperlihatkan sisi wajah masokis nan romantis disana, Fern menemani Olea menjalankan tugas sesi foto hari ini hingga selesai.
Seraya memasuki sebuah studio besar dengan banyaknya lukisan pemandangan serta patung-patung seperti patung liberty didalamnya Fern berkeliling melihat-melihat menunggu kekasihnya sedang berdandan dan berganti pakaian.
Sesi foto yang menariknya berdecak kagum melihat wajah seperti seni abadi yang tersirat, Olea begitu cantik dengan gaun putihnya yang elegan.
Kedua bola mata itu berganti menjadi sebuah kekaguman dan ketakutan yang mendalam, sebuah ketakutan akan apa yang harus ia hadapi jika Olea terpisah darinya selama bekerja.
__ADS_1
Gerakan seni indah alami yang Olea ciptakan mampu membuat siapapun akan memanjakannya, seorang model yang tercipta alami dengan lekukan tubuh dan wajah yang sempurna.
Olea tersenyum melihat Fern yang berdiri tak jauh dari layar foto, mendapati senyum indah yang bahagia dan melambaikan tangan.
Fern kembali membalasnya.
Ia mundur dari layar yang sedari tadi memperhatikan para fotografer memotretnya, mencari tempat duduk dan menunggunya disana.
Fern menyenderkan diri di latar tembok putih,
Tiga jam berlalu sudah Fern menunggu. Dari jauh ia melihat kekasihnya menghampirinya, "hey.. aku sudah selesai ayo kita ke asrama."
Olea menarik tangan kiri Fern dan mengayun-ayunkan seperti anak kecil terhadapnya, Fern yang dewasa terpaut mengalah ketika Olea sedang bermanja-manja mesra di hadapannya.
Fern memakirkan mobil miliknya dan kembali ke Asrama
Seoul Nasional University, sebuah universitas elite para kaum bangsawan.
"Jangan lupa Minggu ini akan ada pesta topeng" Olea memberikan sebuah pembicaraan yang hampir terlupakan oleh Fern.
"Aku lupa, handphonemu jangan dimatikan ya dan aku akan menjemputmu di asrama."
Fern menyetir dengan fokus menatap jalanan kota Seoul hari ini.
__ADS_1
Olea mengangguk dan tertawa kecil dengan meminum sebuah teh mint dan kue tart lapis pelangi di mulutnya.
Para sponsor memberikan makanan dan uang setelah sesi pemotretan.
** 1 jam kemudian.
Olea dan Fern memasuki halaman parkir Seoul University. Kedua hidungnya mendapati aroma para morgoth dari sisi indera penciuman Elf.
"Turunlah, aku akan menemanimu hingga depan Asrama."
"Tapi pria dilarang masuk ke asrama wanita hanya boleh hingga aula dasar saja."
"Aku akan menunggumu hingga kau sampai di kamarmu."
"Kau selalu saja khawatir, Fern aku akan sangat merindukanmu."
"Olea, panggil namaku dihatimu jika terjadi sesuatu dan jangan ceritakan tentang dirimu ke orang lain bahwa kau seorang Elvis."
Olea hanya mengangguk dan tersenyum merajuk manis dihadapan Fern.
Olea turun dari mobil Fern dan melambaikan tangan kepada Fern, menaiki setiap anak tangga dan menuju kamar yang sudah Sage dan Tansy kirimkan kepadanya disebuah message pribadi.
Kedua mata Fern mencari keberadaan Elf, 'aroma ini adalah aroma kaum Faro, kenapa ada kaum Faro di sekitar sini' Fern membatin dan pergi dengan mobilnya kembali ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
__ADS_1