
Camello memasang kekuatan insting mata ketiga. Didalam penglihatannya terlihat Yang Mulia Lucifer dan Arnold sedang memberikan penenangan kepada seluruh Drakon di Pulau Grofendure. Wajahnya begitu tajam ketika melihat keponakannya memiliki sisa sepertiga kekuatan. Sumpah yang sudah ia lakukan kepada Yang Mulia Rue dari Kerajaan Agraria tidak mampu terelakkan olehnya. The Lord Of Alpha mungkin hanya sebutan saja di sampul fisiknya. Nyatanya, King Tian yang ia lihat adalah seorang King Tian yang lemah.
Camello berjalan keluar dari ruangan King Tian untuk segera menuju Ruang Tahanan Raja. Ksatria Shae sebuah nama yang ia harus membawanya kembali ke Agraria.
'Bagaimanapun ia harus pulang karena Agraria membutuhkannya. Sisanya biar keponakanku saja yang menebusnya, puluhan tahun ia bertahan di Pulau Mirst ini hanya untuk menunggu wanita itu. Dasar anak bodoh!' batin Camello kembali berbicara. Ia tidak menyangka bahwa keponakannya akan setia menunggu Olea sang cahaya Valinor.
Wilayah Barat Asgard menjadi benteng sumber kekuatan Pulau Mirst. Camello memejamkan mata. Tubuhnya memancarkan sinar biru menyala dengan pancaran kalung permata amethys biru lambang Kerajaan Hutan Barat dan Landramark. Tubuhnya menghilang dalam hitungan beberapa detik.
__ADS_1
Tubuh Camello menjadi bayangan dengan dipenuhi aroma Mirst. Dirinya memasuki dunia Mirst. Banyak sekali peri-peri dengan alunan lagu yang mereka nyanyikan. Camello mengeluarkan sihir untuk memperlihatkan wujudnya. Rupanya, kedua matanya begitu takjub dengan keindahan Pohon Mirst dengan penuh kesejukan dan sinar yang menyala, "sangat lama aku kemari tetapi tidak pernah aku melihat keindahan Pohon Mirst ini. Inikah nyawa Pulau ini?" Tanya Camello dengan ekspresi monohok disana dengan takjub.
Beberapa ranting pohon bergerak dengan diikuti suara-suara akar dari dalam tanah, "Salam Mirst Yang Mulia Camello," sebuah ucapan salam dari Pohon Mirst.
Wajah Camello terdiam dengan kedua mata yang membulat serta tatapan kosong. Ia baru pertama kali melihatnya, "selama ini kau berbicara? Aku hanya mendengarnya dari Yang Mulia Lucifer selama ini. Tidak kusangka kau benar berbicara. Woah! Hebat!" Sorak Camello dengan perasaan kagum disana. Ia selama ini tidak pernah melihat Pohon Mirst karena beberapa Raja melindunginya.
Camello tersenyum disana dengan berjalan memutari Pohon Mirst dengan wajah yang kagum, "ini luar biasa. Ah, maafkan aku jika kalian menatapku heran. Karena aku baru pertama kali melihat kalian. Kupikir, semua ini tidak akan berbicara sayangnya aku salah. Semuanya bisa berbicara. Sungguh luar biasa!" Camello kembali menggeleng-gelengkan kepala karena takjub akan pohon besar yang menjadi nyawa Pulau Mirst yang terkenal dengan sebutan Pulau Misteri.
__ADS_1
Peri Fi kembali tersenyum dengan bibir yang merekah. Tubuhnya begitu mungil dengan kecantikan nan imut disana. Camello mengeluarkan tangan dari dalam saku untuk memberikan tempat kepada Peri Fi berbicara.
"Apa benar soal takdir keponakanku? Aku mengetahuinya dari Yang Mulia Lucifer. Justru aku tidak tahu akan hal ini karena Yang Mulia tidak ingin aku sedih," Camello kembali bercerita dengan mencari alas pepohonan tua dia bawah Pohon Mirst. Dengan tubuh yang meringkuh duduk di bawah Pohon beserta para Peri yang menontonnya ikut berkumpul bersama.
"Apa saat ini Yang Mulia kami sedang dalam keadaan tidak baik Yang Mulia Camello?" Tanya beberapa Peri dengan nada cemas.
Camello hanya mengangguk dan merautkan wajah masam. Ia tidak tahu harus ada beberapa orang anggota keluarganya yang harus berkorban walaupun dari Kaum Serigala, "Aku pikir itu cerita palsu, dan Yang Mulia Lucifer mengizinkanku datang kemari dengan membuka portal dimensi. Tentunya lewat Grofendure," ujar Camello dengan menceritakan hal yang menjadi kesedihan hatinya. Beberapa Peri menyaksikan dengan raut wajah sedih dihadapannya. Camello mencoba tersenyum.
__ADS_1