Chronicle : Chance

Chronicle : Chance
Titik balik


__ADS_3

Araman - Kerajaan Atlantia


Wilayah Barat Kebun Bunga Mawar


Crisdione mengantar Pangeran Rad dengan selamat di Kerajaan Atlantia. Ia tidak menyangka hewan kesayangannya terkena wabah Ancalagon. Rad berjalan menyusuri pepohonan daun setinggi 4 meter berbentuk dinding labirin. Rupanya tidak berjarak jauh dari tempat ia berdiri terdengar suara-suara tertawa wanita bangsawan dari dekat.


Ratu Calla Gazer tertawa geli dengan mencium beberapa bunga mawar berwarna merah muda dan putih di genggamannya. Rad hanya mampu melihat dari jauh. Kakinya melangkah ketika suara tertawa Ratu Calla semakin lepas. Ia sangat muak akan sosok ibu tiri dihadapannya kini. Disaat Kim sakit ia justru malah tertawa bahagia.


"Im anír- na take cóon Kim awaui. Will cin dab- ha," ucap Rad dengan bahasa Elf dengan lantang. Dirinya mengganggu Ratu Calla yang sedang berbincang dengan para wanita bangsawan Kerajaan Atlantia.


Artinya : "aku ingin membawa pangeran Kim pergi. apakah kau akan mengizinkan?"


Ratu Calla terhenti dengan penciuman bunga mawar nya. Ia begitu muak mendengar suara Pangeran Rad. Bibirnya tersenyum palsu dan berpura-pura bertingkah manis di hadapan wanita bangsawan lainnya.

__ADS_1


Ratu Calla beranjak dari tempat duduknya di bangku taman. Mendekat ke telinga Pangeran Rad dan berbisik, "If cin tur-? Tur- cin tul- ha? Isn't ho seriouslui flae? After all, ho will bel- soon."


Artinya : "jika kau bisa? kau bisa membawanya? bukankah dia sedang sakit keras? lagipula sebentar lagi dia pasti mati."


Pangeran Rad terkejut akan penuturan Ratu Calla di sampingnya. Ia tidak dapat berkutik di hadapan ibu tirinya kini. Hanya ada gejolak benci di hatinya untuk membalas dendam akan kematian ibunya.


Rad melirik ke arah wajah Ratu Calla dengan tatapan sinis, "If cin ceri- ha. Cin will ú- n- forgiven hi anand."


Pangeran Rad pergi dari perkumpulan para wanita bangsawan yang menemani ibu tirinya di taman bunga mawar. Kakinya melangkah menuju ruangan kamar adiknya Kim Astor.


Sejenak, dirinya terhenti dengan pelupuk mata sedih. Ia sangat membenci adiknya karena menginginkan sebuah tahta. Tetapi ia lagi-lagi teringat akan kenangan masa kecil bersamanya. Bagaimana seorang kakak tega memperlakukan adiknya. Tapi ia tidak ingin tahtanya rusak dan hancur hanya karena sebuah kutukan.


Rad menggenggam kepalan tangan dan pergi menyusuri lorong di setiap istana. Terdengar suara batuk dari ujung lorong. Rupanya Kim sudah sadar. Ia teringat sebuah pernyataan dari Edelaine bahwa ibu tirinya ada ikut campur dengan kutukan ini.

__ADS_1


Beberapa pelayan menunduk ketika Rad datang, "salam Atlantia Pangeran."


Rad hanya berbalik menunduk dan menghormati. Para pelayan pergi ketika Rad datang mengunjungi Kim di ruangan kamarnya.


"Maafkan aku karena aku baru datang," ucap Rad dengan suara lirih sembaring menatap dari jauh adiknya yang melihat beberapa bunga mawar.


"Apakah ini semua kau yang memetiknya? Bagaimana dengan perbatasan? Apakah kau sudah menangani Kaum Orc?" Tanya Kim dengan suara payau dan wajah memucat. Wajahnya begitu dingin dan berwarna putih pucat.


Rad menghampiri adiknya dengan sebuah jawaban yang tidak ingin Kim dengar, "pergilah ke Kerajaan Osiris, kunjungi ia. Lagipula bukankah kau harus bersamanya. Mungkin, beberapa hari ini kau akan membaik jika kau ke Osiris."


Kim terdiam dan memalingkan wajah, "aku tidak mencintainya buat apa kau menyuruhku ke Osiris? Apa kau ingin adikmu menikah dengan Elvis yang tidak aku cintai huh?"


__ADS_1


__ADS_2