
Wern sang penunggu crown rainbow stone kembali hadir dan memasuki dimensi jiwa Rue. Rue yang terlelap di atas ranjang beristirahat karena mengerjakan banyak sekali berkas. Waktu menunjukkan siang hari daerah Jeju Korea.
"Wern ada apa kau kembali menemuiku?" Rue menghampiri Wern yang memegang tongkat kayu berbunga dengan banyak sekali bunga crysant di seluruh tongkat dan tubuhnya.
"Salam Agraria yang mulia."
Wern setengah menundukkan kepala dan mengangkat kembali tengkuk wajah disana. Ekspresinya mengeluarkan wajah cemas dan khawatir yang mendalam.
"Kenapa tuan putri belum datang ke Valinor? Keadaan Valinor semakin kacau yang mulia, apa kau tahu bahwa tuan putri saat ini bersumpah mate abadi dengan ksatria Fern anak dari viscount Rax?" Wern berjalan melangkah dekat dengan Rue.
Hanya ada penuturan yang membuatnya kaget hampir tidak berdaya, kecemasannya selama ini benar dan inilah takdir yang ia hadapi.
"Sebuah kutukannya benar nyata."
"Kau harus kembali ke Valinor yang mulia, keadaan semakin gawat dan juga hanya kau yang mampu mengunci Ancalagon."
Rue manatap kaget, pupil kedua matanya membesar tak percaya apa yang ia lihat dan ia dengar.
"Kau bilang Ancalagon dilepas? Lalu dimana viscount Rax? Apa adikku sudah tahu?."
__ADS_1
"Duke Honor masih mencarimu yang mulia ia tidak akan kembali hingga menjemputmu pulang, jika kau pulang kembali ke Valinor maka Duke Honor akan kembali."
Rue menggeleng dan mengecak kedua matanya dengan tangan kirinya, kekhawatirannya akan Olea semakin terlihat jelas.
"Aku akan menghadapinya jika memang ini yang mereka inginkan, hanya tersisa aku seorang."
Wern yang mendengar akan pernyataan tuannya membuatnya empatik akan penglihatannya, "aku akan membuka sang light Drakon Khalkikos untuk menunggu Ancalagon di perbatasan."
Drakon Khalkikos menjaga hutan pegunungan Grey Montains Golden Fleece - yang terletak di hutan suci Grey di Hither Land.
"Hanya ini satu-satunya cara yang mulia dan juga pangeran Kim saat ini sedang tidak sadarkan diri. Jika tuan putri masih memiliki hubungan dengan ksatria Fern itu akan memberi keburukan kepada Valinor."
Rue kembali beranjak dan berjalan menjauhi Wern, pertemuannya dengan Wern berada di sisi pantai luas yang hanya terdengar suara ombak dan burung-burung yang bernyanyi.
Rue menghela nafas panjang dan datar.
"Aku tidak tahu jika putriku sudah bersumpah mate abadi bersama Fern."
__ADS_1
"Kau harus cepat membawanya ke Valinor yang mulia dan mempertemukannya dengan Kim, hanya putrimu yang menjadi kunci dari semua ini."
Rue menyilangkan tangan seraya khawatir, menatap langit-langit yang sangat cerah dengan desiran angin dan aroma lautan yang alami.
"Tunggu aku waktu sedikit lagi dan beri aku waktu untuk menjelaskan kepada istriku."
"Aku akan menunggu keputusanmu yang mulia."
Wern menghilang dengan kepulan asap berwarna pink, cahaya stone rainbow yang menjadi kekuatannya.
Rue yang tertidur terbangun, ia mendapati May yang menggenggam handphone dan menangis di sudut ruangan.
Rue menghampiri May dan memeluknya, ia tahu May menangis karena sesuatu hal yang terjadi pada Olea.
"Bagaimana ini? Putri kita bersama Fern, Rue kau akan membuatnya bahagia bukan? Ia akan bahagia kan sayang? Aku ingin putriku bahagia."
"Rue mengernyapkan kedua matanya dengan membelai rambut pirang May seraya menenangkan, "sudah menjadi takdir kita untuk mengorbankan diri. Kau tenanglah dia akan bahagia. Olea kita akan bahagia."
May hanya menangis di pelukan Rue yang mendapati telfon dari Yoju dan Huan selama Rue terlelap.
__ADS_1