Chronicle : Chance

Chronicle : Chance
Ras Thestral


__ADS_3


Kepakan sayap Morth memberikan tanda kepada Rad untuk menungganginya, sebuah tali pelana yang memang terikat dileher tertulis M-R yang berarti Morth milik Rad membuat Morth dikenal oleh para ras Thestral lainnya. Rad kembali berdecak dengan memukul pelan leher Morth, "Morth, apakah kau sama sepertiku yang tidak pernah menyukai Calla?"


Morth seorang hewan yang tidak dapat berbicara tetapi ia sangat peka terhadap perasaan majikannya. Morth mendengus nafas dengan pelan serta kepakan sayapnya menuju Atlantia, melewati beberapa daerah di atas dataran Hither Land menuju Valinor.



Morth berwarna hitam dengan rune yang bertengger di pelapis hidung berwarna tirai ungu. Hewan kesayangan Rad yang selalu menjadi kendaraannya kemanapun Rad pergi.


Rad terbang diatas langit duduk di punggung Morth dengan mengusap hewan kesayangannya, "terimakasih Morth. Hanya kau yang selalu mendengarkan aku."


Tubuh Morth terbang menuju wilayah Araman Kerajaan Atlantia. Gerbang kastil terbuka dengan banyaknya para pengawal di halaman indah Atlantia. Gerbang besi dengan kekuatan ratusan lapisan tembaga untuk melindungi Kerajaan Atlantia. Halaman besar dengan seribu tumbuh-tumbuhan hidup dan beraneka rupa seperti ladang surga Eden.


Kaki Morth mendarat diatas rerumputan dan mendengus perlahan dengan tali pelana yang masih dipegang Rad, "terimakasih, Morth. Kau pergilah ke sarangmu kembali dan bawa kabar kepada seluruh kaummu, aku akan memberikan hadiah banyak makanan ke hutanmu."


Morth mengangguk dan mengibaskan ekor serta melebarkan sayapnya, sebuah tanda penghormatan rupanya sudah ia lakukan setelah Rad memberikan hadiah kepada Morth.

__ADS_1


Seorang ksatria menghampiri Rad dengan memberikan sebuah penghormatan, "salam Atlantia tuan muda."


Rupanya Rad hanya tersenyum dan memberikan respon penghormatan, "pergilah, aku tidak apa-apa Morth."


Morth mengangguk dan terbang kembali ke Aganor Land.


Sebuah wilayah berbagai macam hewan Drakon serta Beastmagia yang berada dibawah arahan Atlantia.


Rad berjalan memasuki lorong dengan banyaknya prajurit Elf Atlantia. Wajah Rad tampak memberikan raut kesedihan ketika ia harus berhadapan dengan ibu tiri Calla Gazer. Kerajaan megah dengan kemegahan banyak sekali patung-patung besar dengan ukiran-ukiran bola-bola crystal.



Rad setengah menunduk ketika berhadapan dengan Calla dihadapan seorang wanita yang menyeringai dengan senyum piciknya, seorang wanita yang berhati baik dan seketika berubah ketika ia menjadi seorang istri dari Faro ayah kandung Rad.


Kematian Raner sang ibunda Rad membuat Rad sangat berkelit dengan rundungan kesedihan. Ia tahu bahwa kehidupan ini harus selalu maju dan hidup. Semuanya menjadi sirna ketika ia mengetahui bahwa dirinya darah setengah Elf dan tidak bisa menjadi putra mahkota untuk naik tahta sebagai raja.


__ADS_1


Calla menatap Rad dengan tatapan mata tajam, kedua tangannya mengepal di kursi raja, wanita cantik dengan rambut berwarna abu-abu perak dengan kulit yang cantik bak permata putih.


"Bangunlah, Rad. Pertanggung jawabkan apa yang terjadi terhadap anakku di perbatasan Hither Land."


Rad kembali mendongakkan wajahnya dari pandangan menunduk. Kini, ia berhadapan dengan sang ibu tiri yang selama ini ia benci dan ia curigai.


"Maafkan aku ibu bahwa aku akui aku adalah sebuah kesalahan dan maafkan aku."


Calla menyipitkan mata ketika Rad memberikan permintaan maaf, wanita ini mengerti apa yang Rad inginkan, "Hingga detik manapun kau tidak akan pernah menjadi seorang Raja Atlantia Rad. Hanya anakku yang pantas menjadi seorang raja di daratan Atlantia!"


Calla beranjak dari kursi raja dan mendekati Rad yang berdiri memandanginya. Nafas Calla sangat dekat ketika Calla membisikkan sebuah kalimat yang selama ini Rad benci, "kau hanya setengah Elf."


Calla berbalik dan kembali berjalan bersama beberapa pelayan yang mengikutinya untuk kembali ke ruangan singgah ratu.


Rad sangat kesal dengan apa yang sudah ibu tirinya itu katakan, kepalan tangannya mengeluarkan urat-urat kesal dan emosi. Jika bukan karena ia sayang terhadap Kim dan Ayahnya maka ia pasti sudah menghabisi nyawa wanita picik itu.


__ADS_1


__ADS_2