
Suara tertawa kecil hingga nyaring menghiasi seluruh isi ruangan, mendapati tiga wanita yang sedang melakukan perawatan bersama. Olea bercerita akan hubungannya bersama Fern. Tansy hanya mendengarkan dengan hati yang lirih bahwa ia harus membicarakan hal penting ini terhadap ayahnya yang tak lain adalah Duke Honor.
Sage memakai sebuah masker tisu beras putih ke wajah dan memakaikan batuan giok untuk menggariskan wajahnya dengan vitamin oil, gerakan putaran giok dengan jari tangannya membuat tangan kirinya menahan pipi disana agar masker tisu tidak jatuh, "lalu kau bagaimana lagi dengan dokter itu? Aku sangat bahagia ketika kau bersama dengan dokter itu memutuskan untuk memiliki status," Sage berbicara lantang di atas kursi meja rias menatap Tansy dan Olea yang berbaring di atas ranjang.
"Aku tidak menyangka kau akan bersama dan menjalani kedekatan yang harmonis sedari kecil."
Olea membuka majalah kecantikan hari ini yang Tansy dapatkan dari penjaga asrama, "aku juga tidak menyangka akan bersamanya, lagipula aku baru menyadari bahwa selama ini dia yang selalu bersamaku."
Alis kanan Tansy terangkat dengan rasa penasaran disana, hanya ada kedua mata yang menariknya untuk menanyakan hal penting yang ingin ia tanyakan jauh lebih serius, "maksudmu baru menyadari? Menyadari apa? Selama ini dia selalu bersamaku?"
Olea yang melihat arah jarum jam angka 3 hanya membalas tersenyum kepada Tansy, "iya selama ini dia bersamaku, aku selalu bermimpi dua anak lelaki dan menolongku dalam penculikan dan aku baru tahu jika selama ini yang menolongku adalah Fern."
__ADS_1
"Seperti kisah dongeng sekali kisahmu akupun juga mau seperti itu," Sage tertawa kecil dengan mengusap wajahnya dengan lap handuk hangat diatas sebuah baskom berisikan air hangat.
"Malam ini sepertinya kita menyiapkan gaun saja untuk besok kita pesta topeng. Kekasihmu pasti sangat tampan besok jadi kau harus cantik Olea," Tansy memberikan sebuah pujian terhadap Olea yang mendapati sebuah gaun cantik tertata bersama gaun Tansy dan Sage di atas gantungan dinding dengan gantungan kayu berpita merah. Sebuah gaun yang Fern pilihkan untuknya sebelum ke asrama tadi pagi.
"Kau bisa saja," Olea membalas ucapan Tansy dengan beranjak dari ranjang mendapati dirinya membasuh wajah diatas westafel dengan handuk kecil miliknya dan mencuci wajahnya dengan perawatan wajah miliknya.
Tansy beranjak dengan melihat ke arah jendela, rupanya beberapa pengawalnya sudah bersiap membawa kabar akan pembicaraan dengan Olea dan Sage di kamar ini.
Tansy membuka mata, "malam ini kita tidak akan keluar asrama dan hanya akan dikamar atau dapur asrama saja."
"Untung saja para pelayan rumahmu datang ke asrama memberikan banyak sekali kantong makanan untuk kita malam ini dan besok," Sage mengusap wajahnya dengan handuk miliknya dengan perlahan.
__ADS_1
"Ya, dan aku akan mandi jadi kalian jangan menggangguku," Tansy mengambil piyama handuk dari balik lemari perawatan mandi di dalam lemari miliknya dan memasuki kamar mandi.
Sage dan Olea kembali melakukan percakapan kecil diatas ranjang, dengan Olea yang kini memakai parfum kesukaannya Madame' Flour.
"Kalian bagaimana bisa menjadi hubungan kekasih? Aku sudah pasti akan menganggapnya hanya sebagai kakak saja dalam hidupku jika mendapati seorang dokter Fern."
Olea menyibukkan diri dengan memakai lotion miliknya di tangan dan kaki mungilnya, kulitnya terlampau halus dan putih.
"Fern memang awalnya ingin menjadikan aku adik saja tetapi aku membutuhkannya untuk kujadikan pelindungku yasudah aku ingin dia menjadi milikku dan ia tidak menolak."
Kedua bola mata yang memberikan arti ketulusan dan kejujuran itu kembali mengarah ke wajah Sage yang mendapati dirinya bermain handphone dan membalas beberapa message dari balik layar tersebut.
__ADS_1