
Cahaya ramuan yang Jendral Srinx taburkan membuat Fern tidak mampu bereaksi. Hanya suara menggema yang ia bisa dengar, Jendral Srinx menyeringai ketika melihat Elf dari lawannya di Valinor tidak dapat bergerak. Tubuh Fern sangat kaku ketika Jendral Srinx melihat cahaya abu-abu mulai melingkari seluruh tubuh Fern, "Kau akan merasakan kekuatanmu akan berkurang dasar Elf tidak berguna," Jendral Srinx mengambil tombak miliknya ketika para pengawal sudah memasuki portal pintu batu jiwa untuk teleportasi kembali ke Valinor.
Brakk!
Suara tubuh terjatuh terhempas ke tanah, para pengawal Jendral Srinx membawa Shae dengan lilitan rantai darkside. Rantai darkside yang dilapisi seratus mantera sihir hitam yang membuat siapapun Elf yang terserang akan mati dibawah pengaruhnya. Rupanya para pengawal Osiris menemukan Shae di perkumpulan pesta topeng malam ini.
Langkah kaki Jendral Srinx menghampiri Shae, "sudah lama aku menantikan kematianmu! Dan kau adalah kaki tangan pangeran itu."
Tangan kanan Jendral Srinx mengerat rambut Shae dengan mencampak dengan keras dan membantingkan kembali ke tanah, darah Elf mengalir diatas tanah, "bawa semuanya ke Valinor dan buang ke wilayah Dark Land, mereka akan menjadi santapan para Orc."
"Tapi jendral, jika kita membunuh mereka itu sama saja mengawali peperangan."
Jendral Srinx terdiam dengan memegang tombak stone darkside. Kedua matanya menyala dengan tatapan tajam, "bawa saja mereka dahulu dan kita akan membuangnya di Valinor."
__ADS_1
"Baik Jendral."
Jendral Srinx melihat sekitar taman yang sepi karena sudah diamankan oleh portal sihir Osiris, para pengawal ditarik mundur oleh Jendral Srinx untuk kembali ke Arda.
Rupanya Tansy diam-diam melihat seluruh kejadian ini di sela-sela dinding taman yang gelap, kekuatan sihirnya diaktifkan untuk melindungi dirinya sendiri. Tansy berfikir dan berdiam untuk memikirkan cara agar ia secepatnya kembali ke Valinor. Keadaan Universitas sangatlah tidak aman ia harus menunggu situasi aman dari para pengawal Dark Elf agar bisa kembali pulang untuk bertemu ayahnya.
***
Rad menjaga pintu portal jiwa di perbatasan menunggu Shae yang akan membawa Olea pulang, tetapi sayang seluruh gerak-geriknya terbaca oleh para kaum Oracle. Rad kembali memimpin para pasukan untuk melindungi wilayah pintu perbatasan, "semuanya mundur! kita tidak akan mampu melawan semua para Orc, sangat banyak. Mundur! kita kembali ke Atlantia."
"Bawa semuanya mundur kembali ke Atlantia! Sekarang!"
__ADS_1
Rad berteriak dengan membuka kekuatan sihir stone miliknya, sebuah suara menggema di perbatasan.
BOOM!
Sinar stone sihir Rad membuat para Orc jatuh terjungkal menjauh dari perbatasan. Banyak sekali burung-burung berterbangan dengan ketakutan. Rad beserta para ksatria kembali ke Atlantia dengan keadaan lusuh dan penuh dengan ruam luka di sekujur tubuh.
Rupanya suara Ancalagon menggema dari jauh hingga terdengar hingga Valinor, "kau harus berhasil Shae! Atau kau akan ku cari hingga ke ujung dunia!" Rad berdecak kesal dengan menghentakkan kepalan tangannya ke meja ruangan aula istana miliknya. Morth menghampiri Rad yang sedang kesal dengan memberikan sentuhan kepalanya di tangan Rad. Tentu saja Rad merasa terhibur akan Morth yang manja ketika Rad lelah dari tugas malam ini.
"Tuan, bagaimana dengan tuan putri? Maafkan kami tuan muda. Tetapi tuan putri harus kita selamatkan dari para kaum Oracle."
Para ksatria menatap Rad dari dekat. Rad tidak mengerti kenapa rencananya bisa terbaca hingga kaum Oracle mengacaukan segalanya, "jika kita tidak berhasil maka itu sudah takdir ada perjalanan untuk adikku."
Rad berbalik tubuh dan menatap para ksatria dengan membalut tangannya dengan kain, banyak sekali noda darah yang sudah para Orc berikan padanya.
__ADS_1