
Sebuah daratan bernama Mirst. Terbentang antara pulau Drakon dan Dark, dihuni oleh banyak kaum Elf dari jenis
Elf hutan. Ras jenis elf yang tinggal di hutan-hutan tinggi. Mereka memiliki kekuatan yang besar ketimbang kepintarannya. Kulit mereka berwarna merah kecoklatan, berambut hitam, coklat kemerahan. Mereka memiliki mata berwarna hijau, coklat, atau hijau tua.
Mereka hidup di dalam hutan bersama alam dan binatang-binatang buas. Mereka adalah pemanah terbaik dan terkenal dengan kemampuan mereka memerintah binatang-binatang buas. Mereka dapat memerintahkan para binatang untuk mencuri makanan atau menjaga tempat tinggal mereka dari ras lain yang ingin mengganggu tempat tinggal para elf hutan.
Pulau Mirst bertumpu kepada kekuatan Pohon Mirst dimana pohon tersebut mengeluarkan banyak sekali cahaya pada malam hari bagaikan lampu hewan kunang-kunang yang menari, bagi orang yang baru saja melihatnya mungkin itu bagaikan sebuah sihir nyata bercahaya berkilauan tapi tidak disangka ini adalah peri-peri hutan. Peri yang menjadi nyawa untuk Pohon Mirst. Pohon berdaun ungu.
Jendral Srinx sudah memasuki portal dimensi, "buang mereka berdua ke gua dan tutup dengan rapat."
__ADS_1
"Baik, Jendral."
Rapalan mantra dibacakan oleh Jendral Srinx, hanya ada wajah bahagia disana ketika melihat kedua Elf yang saling bersandar dengan banyak luka memar dan tubuh yang kumal.
Hanya ada satu jam melewati pintu ruang jiwa. Menembus portal dimensi menuju Dark Land.
Gua Gunung Mirst bernama Gunung Heiley dengan gua bebatuan alam, terdapat banyak para kelelawar didalamnya. Sudah lama Gua Gunung Heiley tidak dimasuki para Elf, "uhukkkk...uhuk…" Fern terbatuk-batuk dengan suaranya lirih dengan wajah yang terperangah, ia sadar bahwa ia sudah berada kembali di Dunia Valinor.
Fern merasa tangannya tidak dapat bergerak, ia merasakan bahwa tubuhnya bersandar di dudukan punggung seseorang. Kepalanya mencoba melirik ke kanan dan kiri, "hey aku tidak bisa menggunakan sihir disini. Siapa kau? Mataku tidak dapat melihatmu."
"Hey siapa kau? Aku tidak dapat melihatmu!" teriak Fern dengan emosi.
__ADS_1
Tetap saja Ksatria Shae hanya tertawa dan kembali meringis bahkan mungkin hampir setengah gila jika ia tertawa kadang menangis dan merengek bagaikan anak kecil yang kehilangan ibunya. Fern hanya bisa mendengar keluh kesah darinya, "Gunung Hailey terletak di wilayah Asgard. Apakah kau tahu? Disini banyak sekali serigala pembunuh berdarah dingin. Haha, kita akan mati bersama di dalam Gua Gunung Hailey ini!" Ksatria Shae kembali tertawa dan kadang meringis. Hanya ada hal berupa kesal dari otak pikiran Fern.
"Aku tidak akan mati hanya karena serigala manapun. Ada seseorang yang harus aku selamatkan!" Fern kembali tersulut emosi ketika ia langsung mengingat bahwa semuanya ini serangan dari Kaum Oracle dengan memberikan bubuk sihir yang kuat sehingga ia kehilangan sihir di daerah Mirst Land.
"Haha, dasar Elf tidak memiliki kecerdikan. Kau dan aku terikat rantai Oracle. Dan juga ini adalah wilayah serigala berdarah dingin. Mereka sudah mengincar kita. haha, Kau jangan bodoh Fern! Bagaimanapun tuan putri sudah berada di tangan Kaum Oracle."
Fern kesal mendengarnya, "lalu jika dia berada di Oracle. Aku tidak bisa? Kau sangat rendah sehingga kau tidak mau bersaing dengan musuh."
"Kau senang sekali memancing seseorang untuk naik pitam? Jelas saja aku tidak ingin tuan Putri kami kena noda memar luka, tetapi setahuku Raja Briar Twigi belum menikah. Hahaha, kau akan ditinggalkan Fern. Kau akan mati karena cinta."
__ADS_1
Ksatria Shae kembali memanas-manasi emosi Fern. Salah satu kelopak matanya memar dan bengkak akibat pukulan para kaum Oracle yang meninjunya dengan kepalan tangan ketika terkena bubuk sihir.