![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Perut mulas gara-gara kemarin malam makan makananan pedas gratisan dari Ji Yu, pagi ini sebelum kelas pertama dimulai, Jiang Lizqi terpaksa harus pergi ke toilet memenuhi panggilan alam. Saat kembali, masuk ruangan tepat di belakang dosen yang bertugas mengajar.
"Serahkan tugas kalian. Lizqi, kumpulkan tugas teman-temanmu."
Gadis itu seketika menghentikan langkah, setelah mengangguk kecil pada dosen segera mendatangi tempat duduk teman-temannya satu per satu.
Steven Lou diam-diam merogoh isi tas Jiang Lizqi. Meraba-raba sebentar, setelah dirasa menemukan apa yang dicari segera menariknya ke luar.
Yes! Dapat!
Matanya berbinar melihat sebuah disc yang di permukaan wadah bertuliskan nama Jiang Lizqi. Dia mengambil disc tersebut, lalu memasukkannya ke kotak disc kosong bertuliskan namanya sendiri. Beberapa detik sebelum Jiang Lizqi datang, dia sudah berhasil melemparkan kotak disc yang berlabel nama gadis itu ke dalam tasnya.
Rasakan pembalasanku, Tukang Senyum sialan.
"Steven ...."
Baru saja disebut namanya, dengan pongah Steven Lou sudah menyodorkan disc yang hendak diminta. Wajah Jiang Lizqi berseri, senang akhirnya si makhluk songong itu mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen.
"Well done," ucapnya.
Steven Lou hanya tersenyum miring tak acuh, padahal hatinya bersorak kegirangan, juga menghujat dengan berbagai macam kata kotor. Beberapa detik kemudian, wajah berseri Jiang Lizqi berubah panik. Mencari-cari di dalam tas miliknya, tetapi tidak kunjung menemukan apa yang dicari.
"Kok, tidak ada?" Gadis itu tertegun.
Steven Lou tetap tak acuh, menoleh dan pura-pura bertanya atau turut prihatin pun tidak. Dalam hati justru tertawa nista di atas penderitaan Jiang Lizqi.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Lizqi? Sudah terkumpul semua?" tanya sang dosen.
"Maaf, Mister Yo. Sepertinya tugas milik saya ketinggalan di apartemen."
Dosen itu menatap sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, kemudian berkata, "Kali ini aku beri toleransi. Kamu boleh mengumpulkannya besok dan sekarang sebaiknya segera selesaikan tugasmu."
"Baik. Terima kasih banyak, Mister Yo." Saking leganya, Jiang Lizqi sampai membungkuk beberapa kali. Wajahnya kembali berseri, sedangkan Steven Lou seketika memasang wajah masam.
Sial. Kenapa tidak diberi sangsi ? Pemuda itu menggerutu dalam hati, tetapi sesaat kemudian senyum jahat terlukis di bibirnya. Tidak apa-apa, sebentar lagi dia juga bakalan syok.
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu. Tugas sudah terkumpul semua di meja dosen dan Jiang Lizqi pun sudah kembali duduk di kursinya. Tersenyum manis pada Steven Lou, tetapi seringai miring nan sinis yang dia dapatkan sebagai balasan.
Dia tidak sakit hati, justru mengutarakan pujian, "Kemajuan positif. Kerja bagus, Steven."
"Jangan senang dulu," balas Steven sinis, padahal sebenarnya sedang setengah mati menahan tawa.
Jiang Lizqi belum sempat membalas, suara dosen sudah bergema di dalam ruangan yang hening. "Kemajuan. Akhirnya kamu mengumpulkan tugas juga, Steven."
Semua atensi serempak tertuju pada Steven yang hanya menatap ke depan tak acuh, sambil tersenyum miring sangat tipis.
"Good job." Jiang Lizqi memuji lagi.
Steven Lou pun kembali membalas sinis, "Naif sekali. Seharusnya kamu marah, bukan malah senang."
"Kenapa aku harus marah?"
"Kerja yang sangat bagus, Steven. Logo hasil buatanmu sempurna." Dosen memuji sembari memutar laptop, menghadapkan layarnya pada para mahasiswa.
Decak kagum saling bersahutan, hanya Jiang Lizqi yang melebarkan mata hingga maksimal karena syok. Meski cukup jauh, dia masih bisa mengenali dengan jelas logo yang saat ini terpampang di layar laptop dosennya---yang telah diklaim sebagai milik Steven Lou.
Steven Lou tersenyum miring, sangat puas melihat reaksi Jiang Lizqi yang sepertinya hampir meledak.
"Kamu ...." Geram bukan kepalang, untuk sesaat Jiang Lizqi sampai tidak tahu harus berkata apa. "Kamu tega sekali." Alih-alih marah, pada akhirnya dia hanya menggumam dan menatap sedih.
Steven Lou menyeringai lebih lebar. Melihat raut wajah Jiang Lizqi sekarang memelas, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak. Namun sayang, kesenangan itu tidak bertahan lama.
"Itu, kan, milik Qiqi! Steven, kamu mencurinya!" Ji Yu berang, berteriak marah sampai muka memerah. Tentu saja dia juga mengenali hasil karya Jiang Lizqi, karena dia adalah saksi hidup saat gadis itu mengerjakan tugasnya.
"Benarkah itu, Steven?" Dosen bertanya sambil menatap terpaku tajam, seperti tengah menyelidik.
Steven Lou mengetatkan rahang menahan geram. Setelah menghela dan mengembuskan napas kasar, dia membuka mulut hendak berbicara, tetapi Jiang Lizqi mendahuluinya.
"Itu tidak benar, Mister Yo. Saya sudah mengatakan bahwa tugas saya tertinggal di apartemen."
Steven Lou menatap syok tidak percaya. Ji Yu pun terkejut dan sudah hendak protes. Akan tetapi urung saat Jiang Lizqi menoleh, menatapnya teduh disertai senyum tipis seolah ingin menyampaikan aku tidak apa-apa.
__ADS_1
Tidak semudah itu membodohi dosen. Ucapan Ji Yu barusan sudah berhasil membuat dosen ragu. Jiang Lizqi adalah mahasiswi sempurna yang selama ini tidak pernah teledor sedikit pun bila menyangkut tugas-tugas kuliah.
Rasanya memang sedikit aneh. Di saat si teladan itu melakukan keteledoran untuk pertama kali, justru bersamaan dengan si malas yang selalu abai dan anti terhadap tugas kuliah, tiba-tiba turut mengumpulkan tugasnya.
"Kamu tidak sedang berusaha melindungi Steven, kan?"
Jiang Lizqi menggeleng mantap. "Tidak, Mister Yo."
Masih menatap curiga, dosen itu berkata, "Bagaimana kalau seandainya aku memintamu untuk mengambil tugas yang tertinggal? Sekarang."
Sesaat, Jiang Lizqi sempat bingung dan tanpa sengaja bertemu tatap dengan Steven Lou yang duduk menyandar santai. Dia tahu meskipun terlihat tenang, tetapi sorot mata pemuda itu menyiratkan kegelisahan. Kasihan juga jadinya.
Dia tersenyum sekilas, kemudian kembali menghadap dosen dan berkata, "Apartemen saya memang tidak terlalu jauh, tapi cukup akan membuang waktu bila saya mengambilnya. Saya masih menyimpan failnya di laptop. Kalau Mister Yo tidak keberatan, akan saya tunjukkan."
"Bawa kemari."
Sembari melangkah ke depan, Jiang Lizqi tidak henti-hentinya bersyukur dalam hati karena sudah mengerjakan dua logo yang berbeda.
Melihat ada potensi rencananya untuk membuat Jiang Lizqi dihukum bakal gagal, Steven menatap gadis itu penuh kebencian. Sudah senang membayangkan reputasi baik gadis itu akan tercemar, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Siapa yang tidak kesal?
Jangan senang dulu Jiang Lizqi. Jangan kira Steven akan menyerah begitu saja. Lihat saja itu senyum liciknya, belum lagi dahinya yang mengernyit dalam tanda sedang berpikir. Pasti sedang sibuk memikirkan ide jahat lainnya.
"Seperti yang diharapkan dari seorang mahasiswi teladan." Dosen memberi pujian sesaat setelah melihat hasil karya Jiang Lizqi.
"Tapi, sepertinya kali ini kamu harus mengakui keunggulan Steven. Dia mengerjakan logonya dengan sangat detail dan teliti. Semua unsur yang harus digunakan dia aplikasikan dengan sangat sesuai dan proposional. Kamu lihat," dosen menunjuk layar laptop dan kembali berkata, "dia menggunakan Visual Double Etendre yang sangat sesuai. Gelas terbalik ini benar-benar bisa memvisualisasikan maksudnya."
Terlihat seperti payung yang artinya tempat untuk berteduh atau singgah, sedangkan gelas berkaki langsing dan panjang melambangkan tempat tersebut adalah sebuah tempat yang menyediakan atau menyajikan minuman. Dari gambar itu bisa langsung diketahui bahwa tempat tersebut adalah sebuah kafe. Dan dari gambar buah-buahan yang ada di permukaan dinding gelas, orang bisa mengetahui bahwa yang disediakan di kafe adalah minuman jus buah segar. Juice Place.
Tentu saja Jiang Lizqi tahu itu semua. Dia membuat logo itu dengan teliti dan penuh perhitungan. Sama persis seperti yang dikatakan dosennya.
"Kerja bagus, Steven." Dosen memuji lagi.
Semua mata serempak kembali terarah ke StevenĀ Lou yang hanya mengangkat bahu tak acuh. Tidak ada yang bisa dia banggakan atas semua pujian dari dosen karena logo itu bukanlah hasil karyanya. Senyum sarkas yang menghiasi wajah Jiang Lizqi membuatnya geram, dia pun membalasnya dengan seringai mencemooh.
[Bersambung]
__ADS_1