Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
KAMU TIDAK AKAN KE MANA-MANA


__ADS_3

Nyonya Lou menangis sejadi-jadinya, seperti gila. "Haikuan, bagaimana ini?"


"Aku akan mengejarnya." Tanpa banyak kata, Lou Haikuan bergegas masuk ke mobil.


Steven Lou hanya berhenti sejenak di tikungan untuk memeriksa kakinya kalau-kalau masih ada pecahan kaca yang masih menancap. Setelah yakin tidak ada, dengan segera mengenakan sepatu, tanpa peduli darah masih terus merembes keluar dari luka dan membasahi kaus kaki hitam yang dia kenakan. Setelah itu, dengan sedikit terpincang-pincang melangkah menjauh ke arah berlawanan dari mobil Lou Haikuan yang baru saja berbelok ke arah kiri.


Sekali lagi, Steven Lou keluar dari rumah tanpa membawa ponsel. Kali ini kedua-duanya tidak ada yang dibawa karena tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan kabur seperti ini. Dompetnya ada di saku dan berisi lebih dari cukup uang tunai bila hanya untuk membayar ongkos bus atau taksi, tetapi dia tidak melakukannya. Saat ini yang dia inginkan adalah menggunakan kakinya yang terasa berdenyut-denyut sakit itu untuk terus melangkah.


Dia berharap rasa sakit di kaki itu bisa mengalihkan rasa sakit yang saat ini sedang menggerogoti jiwanya. Jiwa seorang anak kandung yang oleh ibunya sengaja diabaikan demi anak lain. Anak yang merupakan darah daging perempuan yang telah menjadi madunya selama ini.


Bagi Steven Lou, itu jauh lebih menyakitkan dari kehilangan peluang berlaga di arena balap. Akan tetapi, tetap saja meninggalkan luka yang sama di dalam hatinya, luka akibat pengkhianatan. Orang-orang yang pernah dia harap akan selalu bersamanya dalam suka dan duka ternyata justru menoreh luka yang entah bisa disembuhkan atau tidak.


Kekasihnya, ibunya, ayahnya. Bahkan kakak sepupu yang selama ini selalu bisa membuat dirinya merasa diperhatikan dan nyaman, ternyata juga bersekongkol dengan ibunya menyembunyikan kebenaran. Sekarang dia sendirian, tidak ada lagi yang bisa dijadikan tempat mengadu dan berbagi. Bahkan sekarang pun dia tidak punya tujuan.


Tertatih-tatih dia terus melangkah. Meski kaki sudah merasa lelah, Steven Lou masih terus memaksa diri melangkah. Entah sudah berapa jauh dia meninggalkan rumah dan sudah berapa lama waktu terlewati. Yang jelas, sekarang matahari sudah berada tepat di atas kepala, menandakan tengah hari sudah tiba. Sinar teriknya menyengat kulit putih pemuda itu hingga menjadi kemerahan. Peluh mengalir deras dari dahi dan pelipis membasahi wajahnya.


Dengan pikiran kalut yang terus mengembara, tanpa sadar Steven Lou membelokkan langkahnya memasuki pintu gerbang sebuah kompleks apartemen.


"Tuan Muda Lou!"


Seseorang memanggilnya. Steven Lou tersentak dan seketika berhenti melangkah. Dengan wajah bingung dia menoleh ke segala arah dan ketika sudah mengenali tempat tersebut dia mendadak merasa bodoh. Paman Ping yang tadi berjalan tergesa kini sudah berdiri di hadapannya. Di salah satu tangan menenteng sebuah bungkusan yang isinya pastilah makanan untuk Jiang Lizqi.


"Tuan Muda, kenapa berada di sini? Tuan Lou Haikuan barusan menghubungi saya. Dia sedang kebingungan mencari Anda."


Mendengar nama kakak sepupunya disebut, wajah Steven Lou langsung angker. "Jangan coba-coba memberi tahu dia kalau aku di sini," katanya dengan nada mengancam.


Sopir taksi langganan yang sudah terbiasa dengan sikap Steven Lou yang sering angin-anginan, hanya tersenyum maklum. "Saya tidak akan bilang. Ayo, masuk. Nona Jiang sudah menunggu makan siangnya, tadi sebelum ke sini saya menelepon terlebih dahulu."


Steven Lou tercengang, tidak percaya pada apa yang sudah dilakukannya. Dia sukses berjalan sejauh ini dengan kaki dalam kondisi sakit. Jarak dari rumahnya ke apartemen Jiang Lizqi tidak dekat. Dengan mobil saja harus memakan waktu sekitar dua puluh menit.


Lagi pula, kenapa dia harus mendatangi tempat ini sementara masih banyak tempat lain yang bisa dijadikan sebagai wahana menenangkan diri?

__ADS_1


Steven Lou sungguh tidak mengerti pada dirinya sendiri dan sebelum dia mampu memahami, lengannya sudah dicekal oleh Paman Ping. Anehnya dia tidak berusaha menolak ketika sopir taksi itu menariknya melangkah menuju ke lobi apartemen.


Tidak sampai lima menit kemudian, Jiang Lizqi yang membuka pintu seketika membatu saat melihat Steven Lou. Membuat yang bersangkutan kembali merasa bodoh, malu, dan merutuki diri sendiri dalam hati. Dia sudah hendak melangkah pergi, tetapi Jiang Lizqi segera mencegahnya.


"Hei, kamu mau ke mana? Sudah datang kenapa tiak masuk saja?"


Steven Lou bingung, antara ingin pergi atau tinggal. Lagi-lagi hatinya yang hanya satu itu melakukan pertentangan, membuatnya gemas setengah mati dan rasanya ingin berteriak mengumpat.


Setelah memberi kode kepada Jiang Lizqi dengan kedipan mata, Paman Ping menggandeng tangan Steven Lou, lalu membimbingnya masuk. Pemuda itu hanya menurut, dengan wajah tertunduk dia melewati Jiang Lizqi.


Ada apalagi ini? Kenapa dia terlihat sangat sedih dan tidak bersemangat? Jiang Lizqi membatin.


Selagi kedua tamunya melepas sepatu, Jiang Lizqi menutup pintu. Saat berbalik, tatapannya terarah ke lantai dan seketika berseru, "Steven, kakimu kenapa?"


Steven Lou seketika membeku. Dalam hati kembali merutuki kebodohan dan kecerobohannya. Bagaimana dia bisa lupa kalau kakinya terluka padahal rasa sakitnya saja masih terasa.


"Tuan Muda, apa yang sebenarnya terjadi?" Sembari bertanya, Paman Ping menggandeng tangan Steven Lou, lalu mendudukkannya di sofa.


Steven Lou hanya membisu. Bahkan saat pria itu melepas kaus kakinya, dia tetap bergeming. Paman Ping dan Jiang Lizqi terkejut ketika melihat luka memajang terbuka cukup lebar di telapak kaki Steven Lou.


"Tuan Muda, tadi Tuan Lou Haikuan bilang kaki Anda terkena pecahan kaca, saya pikir tidak akan separah ini." Paman Ping menatap prihatin.


Tiba-tiba, sambil terisak Steven Lou berkata, "Paman, jangan pernah mengkhianati aku."


Mendengar itu, Paman Ping tercengang. Bahkan Jiang Lizqi yang baru hendak masuk sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk, langsung berhenti melangkah. Gadis itu tetap berdiri di tempatnya. Meski tahu menguping itu perbuatan tidak terpuji, tetapi dia tetap ingin mencuri dengar.


"Kenapa Anda berkata seperti itu. Saya tidak mungkin mengkhianati Anda, dengan alasan apa pun."


"Kalau begitu, jangan memberi tahu siapa pun aku ada di sini."


"Tuan Lou Haikuan termasuk?"

__ADS_1


Steven Lou mengangguk lemah. "Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Setelah dari sini tolong antar aku ke hotel."


Jiang Lizqi dapat merasakan keputusasaan dan rasa sakit dalam suara Steven Lou. Entah kenapa, suasana hatinya mudah sekali terpengaruh oleh si arogan itu. Setelah menarik napas dan mengembuskan kasar, dia segera melangkah masuk.


"Kamu tidak akan ke mana-mana."


Steven Lou mendongak, menatap tanpa semangat. "Aku tidak butuh belas kasihan darimu," ujarnya malas, tetapi pedas.


Jiang sudah membuka mulut hendak mengatakan bahwa dia hanya ingin membalas budi atas kebaikan Steven Lou yang sudah memberinya kemudahan akhir-akhir ini. Akan tetapi urung, karena fakta bahwa dia sudah mengetahui orang yang membantunya adalah pemuda itu merupakan rahasia antara dirinya dan Paman Ping.


Tidak ingin terlihat konyol dengan mulut terbuka, akhirnya dia berkata, "Ish, terserah kamu mau bilang apa."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


Steven Lou refleks menarik kaki saat Jiang Lizqi yang baru saja meletakkan baskom di atas meja tiba-tiba berjongkok dan mengangkat kakinya yang sakit.


"Aku hanya ingin membersihkannya. Kalau tidak dibersihkan, bisa infeksi." Jiang Lizqi berujar dengan sabar.


"Non, biar saya saja yang melakukannya."


"Tidak perlu, Paman. Biar aku saja, hitung-hitung sebagai permintaan maaf atas kejadian tadi pagi."


Steven Lou menatap Jiang Lizqi intens. Dia tidak tahu harus senang atau merasa terhina atas perkataan si Tukang Senyum itu. Akan tetapi, dia tidak menolak ketika Jiang Lizqi kembali meraih kakinya.


Jiang Lizqi tahu kalau Steven Lou sedang menatapnya dan itu membuatnya tidak nyaman. Namun, alih-alih protes, dia justru bersikap masa bodoh dan membersihkan kaki Steven Lou dengan hati-hati.


Sementara itu di kediaman Lou, sang nyonya besar tengah duduk termenung di tepi pembaringan. Lou Haikuan baru saja menghubunginya, menyampaikan bahwa dia belum menemukan Steven Lou.


Perempuan itu *******-***** jemarinya di atas pangkuan. Hatinya gemas, ingin sekali dia berteriak memanggil nama putranya sekencang mungkin. Juga mengutuk suaminya yang telah membuat dirinya berada dalam posisi yang sangat rumit. Namun, yang bisa dia lakukan hanya merintih dalam hati.


Aku yang tersakiti, aku yang dikhianati, aku juga yang harus mengasuh dan membesarkan anak dari perempuan yang aku benci. Tapi, kenapa tidak ada satu kebaikan pun yang aku peroleh. Dosa apa yang telah aku perbuat, hingga sampai detik ini sepertinya Tuhan masih belum puas menghukumku.

__ADS_1


"Steven anakku. Ibu mohon pulanglah, Nak." Sembari terisak Nyonya Lou menggumam. Air matanya mengalir berderai hingga berjatuhan ke pangkuan.


[Bersambung]


__ADS_2