![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Pagi itu saat sedang sarapan, papa Jiang Lizqi menghubungi. Dengan sangat menyesal menyampaikan bahwa mereka tidak jadi datang, karena Wei Erhou tiba-tiba saja menghilang, meninggalkan rumah tanpa pamit, membawa serta uang yang sedianya untuk membeli tiket pesawat. Dengan begitu, Jiang Lizqi berjanji akan mengunjungi mereka di saat kuliah libur.
Ji Yu yang menjadi dalang kepergian Wei Erhou tidak pernah mengungkapkan kebenaran. Dia menyimpan rapat-rapat rahasia dirinya yang sewaktu di sekolah menengah atas pernah menjadi teman kencan satu malam Wei Erhou. Pemuda berkacamata itu mengancam akan membongkar rahasianya di hadapan seluruh penduduk desa bila Wei Erhou masih bersedia dijodohkan dengan Jiang Lizqi.
Wei Erhou adalah tipe orang yang selalu dipandang bersih, alim, bersahaja dan sangat dihormati. Sepertinya dia ingin menyelamatkan muka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Kalaupun nanti belangnya ketahuan, dia sudah tidak ada di desa lagi, juga tidak perlu menghadapi cercaan dan hujatan masyarakat.
Waktu berlalu begitu cepat. Seperti hanya dalam satu kali kedipan mata, hubungan Jiang Lizqi dan Steven Lou sudah menginjak bulan kesepuluh.
Dalam rentang waktu sepuluh bulan itu, Jiang Lizqi sudah dua kali mengajak Steven Lou pulang ke desanya, di wilayah Shanghai, pada saat liburan tahun baru umum dan perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, sudah tentu Steven Lou tidak menginap di rumah Keluarga Jiang. Pemuda itu menginap di rumah Ji Yu.
Setiap kali Steven Lou dan Ji Yu berkunjung, kedua orang tua Jiang Lizqi menyambut sangat baik, tanpa tahu bila pemuda yang diperkenalkan sebagai sahabat itu sebenarnya adalah tambatan hati sang putri.
Bahkan Jiang Lizqi juga tidak mengatakan bahwa Steven Lou adalah putra sahabat mamanya, karena berpikir Steven Lou pasti tidak ingin hal itu diungkit. Dia malah dengan bangga menceritakan bagaimana Steven Lou bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Jiang Hun dan Xiao Yauran, kedua orang tua JiangLizqi, merasa bahwa kepribadian putri mereka dan Steven Lou sangat mirip. Keduanya sangat senang karena putri mereka memiliki sahabat-sahabat yang bisa diajak saling mendukung dalam suka dan duka.
Andai saja mereka tahu hubungan macam apa yang telah dijalin Jiang Lizqi dan Steven Lou, entah apa yang akan terjadi.
Meskipun Jiang Lizqi dan Steven Lou tidak membahas, tetapi keduanya sama-sama memahami bahwa mereka memikul tanggung jawab besar untuk mendapatkan restu. Apalagi, Jiang Hun dan Xiao Yauran sudah mempunyai pemuda lain, pengganti Wei Erhou untuk dijodohkan dengan putri mereka. Pemuda teman sepermainan Jiang Lizqi sejak kecil, tetapi pindah ke daerah lain saat sekolah menengah atas.
Dua kali datang ke rumah Jiang Lizqi, Steven Lou harus menanggung rasa cemburu karena calon mertuanya malah sibuk mendekatkan pujaan hatinya dengan laki-laki lain. Untung hubungannya dengan Ji Yu sudah lebih baik, kalau tidak, si kacamata itu pasti juga akan lebih setuju Jiang Lizqi dijodohkan dengan pemuda bernama Huang Mingkun itu.
Jiang Lizqi sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa dia tidak menerima perjodohan tersebut dengan alasan ingin fokus belajar. Namun, kedua orang tuanya tetap bersikukuh dan tidak menerima penolakan. Akhirnya, sampai sekarang kedua kubu masih dengan pendirian masing-masing.
"Buka kakinya."
Steven Lou yang tengah duduk di kasur dan bersandar di kepala dipan dengan menekuk lutut sambil memainkan ponsel, hanya menaikan pandangan sekilas ketika Jiang Lizqi yang baru masuk kamar setelah mandi menepuk bahunya sambil memerintah.
Namun, dia menuruti permintaan Jiang Lizqi barusan. Sedikit beringsut lalu membuka kaki yang tadinya rapat, gadis itu pun segera duduk di antara kaki Steven Lou, lalu menyamankan diri di dadanya.
"Dingin, peluk." Dengan seenaknya Jiang Lizqi menyambar ponsel Steven Lou, lalu melemparkannya ke kasur begitu saja.
Tanpa ponsel di tangan, pemuda itu segera membingkai wajah sang kekasih dan menghujaninya dengan kecupan. Dahi, mata, alis, hidung, pipi, dan akhirnya parkir di bibir. Saling mengulum dan menghisap sebentar, lalu melepaskan tautan untuk saling menatap penuh cinta.
"Rambutmu masih lembab." Steven Lou mengacak rambut Jiang Lizqi penuh sayang.
Gadis itu menarik diri sedikit untuk meraih hairdryer yang berada di atas meja lampu baca, lalu memberikannya pada Steven Lou.
"Tugasmu," ujarnya sambil tersenyum lebar. Saking lebarnya sampai-sampai kerutan menumpuk di bawah matanya.
__ADS_1
Steven Lou mencuri satu kecupan di bibir sebelum akhirnya meraih hairdryer tersebut, lalu menunaikan kewajibannya. Jiang Lizqi melingkarkan kedua tangannya ke leher pemuda itu, matanya intens memandangi wajah sang pujaan hati yang meskipun tampan, tetapi selalu saja tampak serius. Senyumnya sangat mahal.
"Apa yang kamu lihat, huh?"
Alih-alih menjawab, Jiang Lizqi malah dengan jahil menarik kedua ujung bibir Steven Lou, kemudian menggoyang-goyangkannya.
"Sakit, Lizqi." Steven Lou mematikan hairdryer, meletakkannya ke meja, lalu merengkuh tubuh Jiang Lizqi erat-erat. "Mau ngomong apa? Katakan saja."
"Janji tidak marah." Jiang Lizqi sekarang menjewer kedua pipi Steven Lou, membuat wajah sang kekasih terlihat aneh dan lucu.
Nyaris satu tahun bersama memang belum bisa dibilang lama, tetapi baik Jiang Lizqi maupun Steven Lou sudah cukup akrab dan hafal tabiat satu sama lain.
Kalau Jiang Lizqi sudah menunjukkan sisi genit dan manja seperti ini biasanya ada sesuatu hal serius yang ingin disampaikannya, dan Steven Lou hanya mengangguk untuk menanggapi. Dia enggan bicara dengan pipi yang terasa ketat karena dijewer Jiang Lizqi.
Begitu berhasil membuat Steven Lou berjanji, Jiang Lizqi segera melepaskan jewerannya, lalu beralih mengelus-elus lembut. Membuat Steven Lou semakin yakin bahwa si Tukang Senyum itu pasti ada maunya.
"Emh, sebentar lagi kan kamu ulang tahun. Bagaimana kalau kita rayakan bersama anak-anak kampung itu ...."
Jiang Lizqi sudah selesai bicara, tetapi Steven Lou merasa kalau maksud yang sebenarnya belum tersampaikan. Itu terlihat jelas dari senyum cengengesan yang Jiang Lizqi tunjukkan. Rasanya seperti ada yang dia sembunyikan dan oleh karenanya merasa bersalah. Semudah itulah Steven Lou bisa menebak Jiang Lizqi.
"Lalu apa lagi?" Steven Lou terlihat tenang dan santai, tetapi menanggapi penuh perhatian sambil telapak tangannya membingkai wajah Jiang Lizqi serta mengelus pipi menggunakan ibu jari.
Sungguh manis dan lucu. Steven Lou tidak pernah menyangka akan ada saat di mana dia bisa melihat sisi lain Jiang Lizqi. Sisi manja, genit, perayu ulung yang selalu disembunyikan di balik sikap tegas, tegar, mandiri dan keras kepala.
"Iya janji." Steven Lou tidak bisa menahan senyum, bibirnya pun melengkung tipis.
Melihat senyumnya, hati Jiang Lizqi terasa sejuk, lalu tanpa ragu berkata, "Apa tidak sebaiknya di hari bahagia itu kita mengundang ibumu untuk makan malam ...."
Jiang Lizqi berhenti bicara dan menatap Steven Lou intens. Dia ingin melihat bagaimana reaksinya, tetapi ternyata kekasihnya itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Wajahnya tetap datar dan tatapan pun tanpa riak. Tidak terlihat marah juga tidak terlihat senang.
Kesejukan di hati Jiang Lizqi seketika berubah, terasa kering dan gersang. Tiba-tiba dia menyadari kalau seharusnya tidak membawa topik ini dan merasa pantas dimarahi.
Dia menggigit bibir sambil bergumam, "Sorry." Lalu merebahkan kepala di dada Steven Lou. "Tapi kamu sudah berjanji tidak akan marah." Seperti anak kecil sedang merengek, dia bicara sambil mencubit-cubit ujung lengan piyama Steven Lou.
Sisi inilah yang Steven Lou suka dari Jiang Lizqi. Jiang Lizqi yang lemah dan manja, bukan Jiang Lizqi yang superior, super mandiri dan lebih baik dari dirinya dalam segala hal. Jadi, dia diam bukan karena marah, melainkan menunggu Jiang Lizqi mengeluarkan senjata andalan untuk melemahnya.
Lagi pula, sebenarnya Steven Lou sudah lama melupakan amarahnya. Dia tidak membenci ibunya lagi. Hidup bersama orang seperti Jiang Lizqi yang memiliki banyak energi positif, bagaimana mungkin Steven Lou betah menyimpan kebencian itu lama-lama di hati.
Namun, dia masih tidak ingin kembali ke rumah. Niatnya untuk hidup mandiri tidak surut sedikit pun. Dia ingin menjadi kekasih yang bisa dibanggakan Jiang Lizqi, seperti dia sangat bangga pada gadis itu.
__ADS_1
Steven Lou mengelus rambut Jiang Lizqi dan mengecup ubun-ubunnya. "Bukannya aku tidak mau," ujarnya lirih.
Jiang Lizqi langsung mendongak, menatapnya dengan percik penasaran. "Lalu?"
Steven Lou kembali membingkai wajah gadis itu, mengecup lembut bibirnya, lalu berkata, "Aku ingin tahu apakah dia mengingat kapan aku lahir. Aku ingin dia yang datang padaku."
Jiang Lizqi tersenyum lebar. "Ibumu pasti ingat dan pasti akan datang menemuimu."
Mata Steven Lou menyipit. "Aku percaya kamu tidak akan ikut campur. Aku percaya kalaupun dia datang itu karena inisiatifnya sendiri, bukan atas idemu," ujarnya kemudian sambil mencubit pucuk hidung Jiang Lizqi.
"Kamu menuduhku?"
"Tidak. Hanya saja aku tau kamu terlalu baik dan hatimu tidak tegaan. Aku mohon, jangan lakukan."
Jiang Lizqi mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V. "Janji. Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kamu suka. Tapi aku yakin ibumu pasti datang. Mau taruhan?"
Alih-alih menjawab, Steven Lou malah membawa tubuh Jiang Lizqi berbaring, lalu mendekapnya erat-erat sampai sulit bergerak.
"Steven, lepas, lepas, lepas. Sesak." Sambil tergelak, Jiang Lizqi memukul-mukul dada Steven Lou.
"Tidur," bisik Steven Lou sambil menekan kepala Jiang Lizqi, sehingga wajah si manis itu semakin dalam terbenam di dadanya, supaya tidak bisa melihat wajahnya yang layu dan suram.
Rasa marah, benci, dan kecewa dalam hati Steven Lou telah terkikis habis. Sekarang yang bercokol di sana adalah rasa rindu. Dia sangat merindukan jemari lentik berhiaskan cincin berlian itu mengelus rambut, membelai wajah, menepuk lembut punggung dan bahunya.
Sudah sejak lama Steven Lou ingin bertemu Nyonya Lou, tetapi egonya melarang. Memang sempat terbersit harapan sang ibu akan datang di hari ulang tahunnya nanti, tetapi dia sudah menghapus harapan itu karena takut akan kecewa lagi.
Lagi pula, bukankah dia sendiri yang sudah mengatakan supaya tidak saling bersinggungan di masa depan. Sekarang, menyesal pun tidak ada gunanya.
"Aku menyayangimu." Saat tengah memikirkan ibunya, tanpa sadar Steven Lou mengucapkan kalimat itu seolah ditujukan untuk Jiang Lizqi, padahal untuk ibunya.
"Aku juga menyayangimu. Jadi tolong lepaskan dulu, aku tidak bisa bernapas, Steveeen!"
Steven Lou segera mengendurkan pelukan dan Jiang Lizqi pun cepat-cepat menjauh, lalu meraup udara banyak-banyak. "Kamu hampir membunuhku," ujarnya setelah mengembuskan napas kasar.
Steven Lou hanya menatap terpaku dengan perasaan carut-marut karena wajah sedih ibunya terus membayang di pelupuk mata. Dadanya serasa mengembang dan perlahan menjadi sesak.
Embusan napas pelan bergelombang yang terasa penuh lara menarik perhatian Jiang Lizqi yang masih sibuk menepuk-nepuk dada. Melihat mata Steven Lou sedikit memerah dan berkabut, dia pun terkejut.
"Kenapa?" Dia buru-buru menyentuh pipi Steven Lou yang juga mulai merona.
__ADS_1
[Bersambung]