![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Jiang Lizqi yang baru menyadari kalau di ruangan itu juga ada orang lain, wajahnya seketika memerah. Dia tersenyum malu, malu dengan keadaannya saat ini. Baru bangun tidur rambut acak-acakan dan wajahnya pasti kusut tidak karuan, belum lagi mungkin ada bekas iler di sudut bibir. Buru-buru dia mengusapnya dan langsung bernapas lega karena ternyata tidak ada jejak basah.
Gadis itu tidak tahu saja kalau wajah bangun tidurnya terlihat cukup menggemaskan dan lucu, sampai-sampai Lou Haikuan menatapnya tanpa berkedip sambil tersenyum tipis. "Selamat pagi, Jiang Lizqi. Maaf, Steven sudah merepotkanmu," ujarnya kemudian untuk memecah kebekuan.
Sepasang iris cemerlang Jiang Lizqi sejenak terlindung oleh kelopak yang berkedip dan ketika kembali terbuka tersirat jelas kebingungan, bergulir ke sana-kemari memperhatikan orang-orang yang ada di situ.
Alih-alih membalas ucapan Lou Haikuan, dia justru balik bertanya dengan linglung, "Bagaimana bisa Kuan Ge ada di sini?"
"Aku yang membukakan pintu."
Jiang Lizqi spontan menoleh dan langsung mendapati wajah masam sahabatnya lengkap dengan tatapan kesal. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain tersenyum seperti orang bodoh.
Melihat sahabat berwajah malaikat yang baginya tak lebih dari malaikat tolol itu, hati Ji Yu kembali panas. "Kamu ini bodoh atau apa, hah?"
Senyum Jiang Lizqi seketika sirna, bibirnya kini manyun dan mata menatap polos. "Aku pikir kamu sahabatku. Ternyata bukan," ujarnya dengan wajah pura-pura kecewa.
"Hah?! Dan apa itu maksudnya?" Ji Yu mendelik jengkel.
"Ya, kalau memang sahabatku tentunya kamu tahu aku ini tidak bodoh. Aku---"
Ji Yu menyela, "Kalau kamu tidak bodoh, lalu kenapa mau merendahkan diri seperti ini di depan orang yang tidak pernah bisa menghargai orang lain?"
"Bukan begitu. Kemarin itu dia---" Jiang Lizqi tidak melanjutkan. Dia tidak mau mempermalukan Steven Lou di depan Ji Yu.
Ji Yu mendengus kasar bak banteng murka. "Terserah! Aku mau berangkat ke kampus sekarang," katanya, sembari berdiri.
"Eh, eh, tunggu aku." Jiang Lizqi berniat bangun, tetapi kaki yang sudah terlalu lama dalam posisi bersila ternyata tidak bisa diajak kompromi. "Yuyu, tolong aku. Kakiku mati rasa dan kesemutan." Dia merengek dan meringis lebar hingga wajahnya tertimbun kerutan.
Sementara Ji Yu masih terus bersungut-sungut, yang lain malah tersenyum geli. Bahkan Steven Lou juga tersenyum meski sangat tipis.
Setelah melewati pagi yang cukup berisik dan seru, kini apartemen itu kembali tenang karena hanya tinggal Lou Haikuan yang menemani Steven Lou. Mereka berada di ruang makan, sedang menikmati sarapan yang tadi dibawa oleh Paman Ping.
Wajah Steven Lou terlihat lebih segar setelah mandi. Pakaian yang dia kenakan, kaus dan celana pendek adalah milik Jiang Lizqi yang over size. Dia sudah tidak peduli lagi dengan gengsi. Harga dirinya sudah jatuh saat gadis itu memandikannya kemarin.
Pemuda itu menikmati bubur putih dalam mangkuk dengan lahap, kelaparan karena dari kemarin siang tidak makan apa pun. Lou Haikuan memperhatikan dalam diam. Ada keprihatinan tersirat di matanya.
"Tidak ingin tambah?" Dia bertanya saat bubur dalam mangkuk Steven Lou telah habis dan yang bersangkutan hanya menggeleng sebagai jawaban.
Lou Haikuan mengembuskan napas kasar. Setelah meletakkan sendok yang sedari tadi dipegangnya kembali ke dalam mangkuk, dia bertanya, "Sejak kapan mulai suka mabuk?" Ada nada kecewa dalam suaranya.
"Kamu menuduhku?" Kekecewaan bukan hanya saja ada pada nada suara Steven Lou, tetapi juga tersirat jelas di mata dan wajahnya. "Kalau begitu, anggap saja aku memang pema---"
__ADS_1
Lou Haikuan menyela, "Aku bertanya. Apa kamu sudah tidak bisa membedakan antara menuduh dan bertanya?"
"Kamu kira aku bodoh sampai tidak memahami nada suara dan arti tatapanmu itu?!" Suara Steven Lou meninggi.
Lou Haikuan yang biasanya sabar dan kalem, kini terlihat gusar. "Tidak bisakah bersikap sopan terhadap yang lebih tua, sedikit saja?"
Ucapannya membuat Steven Lou bungkam. Meski banyak kata yang ingin dilontarkan, tetapi dia tidak melakukannya. Dia tahu Lou Haikuan sangat menyayanginya. Namun, juga menyadari kalau kakak sepupunya itu bukanlah sang ibu yang meski dia bersikap dan bertindak sesuka hati akan tetap tulus mencintainya.
Lou Haikuan bisa saja merasa kesal dan bosan, lalu tidak mempedulikannya lagi. Dia tidak mau itu terjadi. Steven Lou menunduk, tidak berani menatap Lou Haikuan yang tengah menatapnya tanpa berkedip.
Kembali menghela napas dalam lalu mengembuskan kasar, Lou Haikuan membenci hatinya yang lemah. Lemah karena rasa sayang yang terlalu besar terhadap adik sepupu bungsu yang sangat keras kepala dan egois ini. Namun, dia juga tidak bisa seratus persen menimpakan semua kesalahan padanya.
"Maaf. Aku terbawa suasana." Sekali lagi akhirnya Lou Haikuan yang mengalah.
"Bukankah seharusnya kamu ada di luar negeri?" tanya Steven Lou lirih masih sambil menunduk. "Apa Jiang Lizqi menghubungimu? Apa kamu kembali gara-gara aku?"
Nada bersalah dalam suara Steven Lou membuat hati Lou Haikuan terenyuh. Sebelum dia sempat menjawab, Steven Lou sudah kembali bersuara, "Ini yang pertama. Aku belum pernah minum sampai mabuk sebelumnya. Aku bodoh karena menerima tantangan orang-orang brengsek itu."
"Ya, aku rasa itu sebuah kebodohan besar. Untuk apa menerima tantangan minum?" Lou Haikuan menanggapi santai.
"Bukan. Aku kalah dalam permainan skateboard dan harus mentraktir dia dan teman-temannya minum."
"Shen Jiaying, Shi Yijie dan gengnya." Steven Lou menyebut nama-nama itu dengan suara menggeram.
Mata Lou Haikuan yang tadinya menyipit seketika melebar. "Bukankah Shi Yijie itu pacar Shen Jiaying? Setahuku pembalap juga, kan?"
"Hm."
"Sepertinya memang sudah direncanakan." Kalimat ini diucapkan dalam gumaman. Lou Haikuan berbicara lebih pada diri sendiri, tetapi Steven Lou jelas mendengarnya.
"Apa maksudnya?"
Lou Haikuan bimbang, menatap Steven Lou prihatin. Rasanya tidak tega untuk menyampaikan kabar menyakitkan yang jauh-jauh dia bawa dari Singapura. Akan tetapi, dia harus menyampaikannya walaupun setelah mendengar Steven Lou akan merasa kecewa, marah, dan hancur.
"Ehem, ehem ...." Lou Haikuan berdeham hanya untuk basa-basi, lalu melanjutkan, "Kemarin Phak Weng menghubungimu. Karena kamu tidak juga menerima panggilan, akhirnya dia menghubungiku. Dia bilang kalau sampai jam lima sore kamu masih tidak bisa dihubungi, maka ...." Lou Haikuan menjeda. Matanya menatap sendu.
Perasaan Steven Lou langsung tidak enak. "Jangan katakan kalau dia membatalkan keikutsertaanku!" katanya emosional. Marah lebih pada diri sendiri karena telah lalai meninggalkan ponselnya di rumah.
Lou Haikuan bisa mengerti perasaan adik sepupunya, dengan lembut dia berkata, "Jangan menyalahkan diri sendiri. Meski kamu membawa ponsel, akhir cerita akan tetap sama."
Steven Lou menjatuhkan bahu lemas. Tanpa jawaban jelas pun, dia sudah memahami apa yang dimaksud dengan 'akhir cerita tetap sama'.
__ADS_1
"Jadi benar, aku sudah tidak punya peluang? Kenapa? Apa alasannya?"
"Phak Weng berniat mengundangmu datang ke perundingan. Dia berusaha mempertahankan kamu dengan meminta waktu pada pihak sponsor. Tapi gagal karena kamu tidak bisa dihubungi."
"Lalu?"
"Sejak mendengar kalau dia yang akan menggantikanmu, aku sudah menduga ada permainan kotor," ujar Lou Haikuan geram.
"Siapa?"
Lou Haikuan tidak langsung menjawab. Dia menatap Steven Lou dengan sorot mata rumit, suasana hatinya pun tidak kalah rumit.
Steven Lou mendesak. "Katakan sekarang."
Setelah memenangkan hati dengan mengatur napas, akhirnya dia berkata singkat dan jelas, "Shi Yijie."
"Hah?!" Steven Lou membeku dengan mata dan mulut terbuka lenar. Perlahan dan pasti mata dan wajahnya memerah hingga akhirnya tampak lebih padam.
Sekarang dia mengerti kenapa tiba-tiba Shen Jiaying menantangnya. Bukan sekadar ingin mengerjainya, tetapi untuk mengincar target yang lebih besar.
Steven Lou bukan pribadi yang diprogram dengan fitur pengendalian diri yang baik. Dia baru saja berniat untuk mengikuti program latihan balap, dan sebelum niat itu terlaksana, pintu harapan sudah tertutup. Amarahnya seketika itu juga meluap tanpa bisa dicegah. Benda-benda yang ada di atas meja berjatuhan ke lantai disapu tangan mautnya.
"Shi Yijie keparat! Shen Jiaying Bangsat!Aaarrrggghhh!!!"
Lou Haikuan segera bangkit dari duduk dan mencekal lengan Steven Lou erat-erat, mencegahnya pergi. "Mau ke mana kamu?! Jangan gegabah!"
"Lepaaas!" Steven Lou menyentak tangannya, lalu mendorong Lou Haikuan.
Dia yang sedang kalap mirip banteng mengamuk, sangat sulit ditundukkan. Pemuda itu menghambur ke arah pintu utama dengan tekat ingin membuat perhitungan dengan Shi Yijie ataupun Shen Jiaying.
Suara memanggil dari arah belakang sudah tidak mampu menerobos gendang telinganya. Lou Haikuan yang tertinggal beberapa langkah di belakang sudah khawatir nyaris panik saat Steven Lou sudah mencapai pintu.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Pintu tiba-tiba mengayun terbuka dari luar dengan kencang dan langsung menghantam wajah Steven Lou yang tidak sempat menghindar.
"Aaarrrggghhh!" Pemuda itu seketika jatuh terjengkang, meraung kesakitan sambil membekap hidupnya yang sakit luar biasa.
Dari balik pintu, muncul Jiang Lizqi dengan wajah kuyu dan mata layu serta menguap. "Ada apa ini? Kenapa dia berbaring di situ?" tanyanya tanpa dosa sambil garuk-garuk kepala.
Lou Haikuan terbengong, menatap dengan wajah tolol antara Steven Lou yang masih mengerang kesaktian di lantai dan Jiang Lizqi yang loyo seperti orang mabuk.
[Bersambung]
__ADS_1