Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
SYARAT


__ADS_3

Sementara Jiang Lizqi tetap bersemangat untuk beraktivitas di hari Minggu, lain halnya dengan Steven Lou. Sudah pukul sembilan lebih dan dia masih bermalas-malasan di tempat tidur. Betah menempel di atas pembaringan seperti enggan lepas.


Dalam posisi tengkurap bergelung dalam selimut, matanya yang sudah terbuka lebar menatap menerawang ke arah dua ponsel yang tergeletak di samping bantal. Jemarinya asyik mengetuk-ngetuk permukaan salah satu ponsel yang sepertinya barusan dia pergunakan.


Tok tok tok


Kelopak matanya refleks mengerjap saat terdengar suara ketukan di pintu dan buru-buru memejamkannya, berpura-pura tidur.


"Steven, ini ibu! Steven!"


Tidak juga mendapat sahutan, Nyonya Lou memberanikan diri untuk membuka pintu. Steven Lou bisa mendengar suara ceklikan halus saat gagang pintu ditekan sangat berhati-hati. Ketika entakan langkah kaki yang hampir tidak menimbulkan bunyi itu menghampiri, detak jantungnya entah mengapa jadi berpacu. Rasanya seperti sedang bermain petak umpet dan sekarang menyadari bahwa posisi persembunyiannya sudah diketahui oleh lawan.


Tanpa melihat pun, Steven Lou tahu bahwa sang ibu sudah ada di hadapannya dari beban yang menindih tepi kasur serta aroma harum segar pewangi yang selalu digunakannya.


Sangat pelan, Nyonya Lou menyingkap selimut yang menutup kepala Steven Lou. Membelai lembut rambutnya, juga mengelus dahi dan pipi. Sudah sangat lama Steven Lou tidak pernah merasakan belaian selembut ini. Dia sungguh sangat merindukannya. Sentuhan itu membuat kalbunya terasa hangat dan tentram.


"Sayang, sudah siang. Ayo, bangun." Sambil berbisik, Nyonya Lou mendaratkan satu kecupan di dahi putranya.


Steven Lou sebenarnya tidak ingin merespons, tetapi bila tetap diam maka air matanya bisa merembes kapan saja. Akhirnya dia berpura-pura mengerang malas sambil mengubah posisi kepala menjadi membelakangi ibunya. Setelah itu, beruntun mengedipkan kelopak mata untuk mengusir cairan bening yang sudah mengintip hendak keluar.


Nyonya Lou yang tidak menyadari hal itu dan kembali berbisik lembut, "Steven. Mau sampai kapan terus tidur. Ayolah, bangun. Temani ibu belanja."


"Malas." Suara Steven Lou teredam bantal.


Seulas senyum menghiasi bibir Nyonya Lou yang meski tanpa polesan tetap merah merona. "Sudah bangun rupanya."


Steven Lou bergeming. Meski hatinya merasa sedikit hangat karena sentuhan lembut sang ibu, tatapi dia masih enggan beramah-tamah. Masih kesal karena selalu diabaikan. Dia bahkan menepis tangan ibunya.

__ADS_1


Nyonya Lou tersenyum maklum. Tidak peduli pada penolakan,  jemarinya tiada henti mengelus rambut putranya. "Bukankah kamu selalu mengeluh kalau ibu ini tidak pernah peduli padamu? Ayolah, kita jalan-jalan, mumpung ibu ada waktu."


Mendengkus kasar, Steven Lou kembali menarik selimut menutup kepala. Bukan ini yang dia harapkan. Dia ingin menjadi prioritas, bukan malah seperti mainan di waktu senggang.


"Aku tidak punya waktu," ujarnya ketus.


Nyonya Lou tersenyum lembut. "Hanya tidur-tiduran, bagaimana bisa tidak punya waktu, huh?"


"Aku tidak punya waktu untuk orang yang tidak pernah punya waktu untukku!" Steven Lou menggeser diri, menjauhi sang ibu.


Menghela napas berat karena sekali lagi hatinya harus menanggung rasa sakit. Ingin berbicara baik-baik layaknya ibu dan anak, tetapi yang terjadi justru Steven Lou selalu, seperti sengaja ingin mempertebal dinding pemisah di antara mereka.


"Aku ingin tidur!"


"Kalau begitu, ibu ingin bicara seben---"


Masih mencoba bersabar, Nyonya Lou tetap bertahan. "Ibu cuma mau mengucapkan selamat. Mister Kwong bilang, kamu mendapat nilai bagus di mata kuliah Mister Yo."


"Tidak ada yang perlu dibanggakan." Steven Lou sinis, pun masih dengan bantal menutup telinganya.


Nyonya Lou tersenyum. Dia berpikir kalau putranya masih terlalu marah sehingga tidak ingin menjadikan satu prestasi itu sebagai sesuatu yang perlu disanjung ... atau ... mungkin merasa malu mengakui telah terjadi perubahan lebih baik dalam dirinya, setelah selama ini selalu berusaha terlihat buruk dengan membangkang.


"Itu prestasi, Sayang. Ibu sangat bangga---"


"Aku mencuri tugas milik Jiang Lizqi! Aku ingin mencoreng reputasinya! Puas?!" Tega, dia sengaja mengatakan itu semua untuk menyakiti hati ibunya.


Nyonya Lou syok luar biasa. "Astaga! Kenapa kamu tega melakukan itu?"

__ADS_1


Berhasil. Steven Lou telah sukses melukai perasaan ibunya. Perempuan itu mengelus dada berkali-kali.  Mengulum bibir, susah payah menahan isak.


Nyonya Lou sungguh merasa prihatin sekaligus merasa bersalah pada Jiang Lizqi. Gara-gara dirinya, gadis yang tidak tahu apa-apa itu harus mendapatkan kebencian dari putranya.


Dengan wajah muram, perempuan itu berkata, "Steven. Kenapa kamu tega melakukan itu, Nak? Jiang Lizqi tidak bersalah apa-apa. Ibulah yang pantas disalahkan---"


"Ya!" Steven Lou menyergah. "Aku memang menyalahkan Ibu, tapi aku juga tidak bisa menahan diri untuk tidak membencinya. Tidak ada anak yang akan merasa bahagia jika terus dibandingkan dengan anak orang lain. Tidak ada anak yang akan bersorak gembira saat mendengar ibunya memuji anak lain, tapi merendahkan anaknya sendiri. Ibu yang sudah membuatku membencinya. Membenci orang yang tidak seharusnya aku benci." Pemuda arogan itu berkeras. Keangkuhan kembali menguasainya.


"Steven. Ibu tidak pernah bermaksud merendahkanmu, Nak." Meski suaranya sudah bergetar, tetapi Nyonya Lou tetap mencoba bertahan agar tidak menangis.


Perempuan itu meraih tangan putranya, lalu meremas lembut. "Maafkan, Ibu." Pada titik ini, Nyonya Lou tak lagi mampu mencegah air matanya menetes. "Ibu menyayangimu dan mungkin karena harapan ibu yang terlalu tinggi, tanpa sadar ibu telah mengekangmu. Mulai sekarang, ibu tidak akan melarang apa pun yang akan kamu lakukan. Ibu hanya ingin kamu bahagia. Tersenyumlah pada ibu, seperti Steven Lou yang dulu."


Steven Lou hanya terpaku menatap ibunya yang tersedu-sedu sambil bertutur. Di lubuk hati yang paling dalam, dia sungguh merasa tidak tega. Rasanya ingin sekali menarik perempuan yang telah melahirkannya itu ke dalam pelukan, tetapi entah mengapa tubuhnya seperti enggan bergerak. Mungkin karena ada terlalu banyak prasangka buruk yang menyebabkan jiwanya terantai.


Nyonya Lou menghapus air matanya, lalu menatap sendu Steven Lou. Bibirnya yang bergetar; berkedut mengukir senyum tulus, kemudian berkata, "Kalau ibu mengizinkanmu ke Singapura, apakah kamu mau memaafkan ibu dan akan kembali tersenyum pada ibu?"


Steven Lou terperangah. "Bu. Sungguh? Ibu sungguh-sungguh, kan?" tanyanya antusias.


Nyonya Lou tidak mampu berkata-kata. Hanya mengangguk beruntun sebagai jawaban dan keengganan Steven Lou seketika sirna. Segera dia membawa sang ibu kedalam pelukan hangat dan berulang kali membisikkan terima kasih, Bu.


Suaranya lirih hampir tidak terdengar, tetapi Nyonya Lou tetap berusaha mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, "Ibu menyayangimu. Hanya ingin yang terbaik untukmu, tapi sepertinya ibu lupa kalau yang terbaik menurut ibu belum tentu akan membuatmu bahagia. Maafkan ibu."


Di sela isak tangis yang terasa mencekik lehernya, Steven Lou terus mengucap terima kasih dan maaf.


Nyonya Lou mengelus dan menepuk lembut punggung putranya. Dengan hati-hati dia berkata, "Boleh ibu mengajukan satu syarat?"


Seketika itu juga Steven Lou melepaskan pelukan dan menarik diri. Hati kecilnya solah berseru nah kan! Pasti ada tetapinya! Setelah sembilan belas tahun selalu dikecewakan, rasanya memang mustahil tiba-tiba diberi kado istimewa.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2