Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
MANDI


__ADS_3

Jiang Lizqi tercengang dan buru-buru melihat ke layar ponsel untuk memastikan. Setelah yakin dirinya tidak salah, dengan segera berkata, "Kuan Ge sedang di luar negri?"


Mendengar perkataan gadis itu, wajah pak sopir menegang dan gugup. Jiang Lizqi yang tidak menyadari perubahan itu terus berceloteh, "Kuan Ge sedang di luar negri, tapi masih sempat berbaik hati mengirim taksi untuk mengantar dan menjemput aku."


Sopir taksi itu menelan ludah dengan susah payah dan ketika tiba-tiba Jiang Lizqi menatapnya, lutut mendadak terasa lemas. Suasana sangat hening karena Jiang Lizqi sedang terdiam mendengarkan Lou Haikuan berbicara.


Tidak lama kemudian gadis itu berkata, "Iya, itu dia. Emm, jadi begitu. Iya, Steven ada di sini, Kuan Ge tidak perlu khawatir." Sembari berbicara, mata Jiang Lizqi terpaku pada pak sopir yang tampak semakin gugup, sampai-sampai tangannya gemetar.


"Terima kasih. Begitu sampai di Beijing, aku akan langsung ke apartemenmu. Mengenai Paman Ping, maksudku sopir taksi itu, jangan menyalahkan dia. Aku yakin semua itu ulah, Steven. Entah apa yang sedang direncanakan bocah itu."


"Aku mengerti. Baiklah, Bye."


Begitu Jiang Lizqi mematikan sambungan, pak sopir segera membungkuk dan berkata, "Maafkan saya karena sudah berbohong."


Jiang Lizqi menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar. Sekarang dia tahu, kenapa pak sopir ini terlihat khawatir dan sempat memohon untuk tetap tinggal. Si arogan itu ternyata bisa juga membuat Jiang Lizqi terharu dan berpikir bahwa Steven Lou tidak seburuk yang terlihat.


"Jawab dengan jujur. Jadi, apa bener Steven yang telah menyuruh Paman?"


Pria itu mengangguk cepat. "Iya, benar. Saya mohon jangan bilang pada tuan muda kalau Anda sudah mengetahuinya. Saya mohon."


"Kenapa? Apa Steven akan memarahi Paman?"


"Tidak, tidak. Tuan muda bukan pemarah. Saya hanya tidak ingin dia merasa malu."


Jiang Lizqi mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata. "Malu? Maksudnya?"


Sopir taksi itu menatap Jiang Lizqi dengan sorot mata sendu. "Tuan muda menolong Nona secara diam-diam. Saya tidak tahu apa alasannya. Tadi Nona sempat mengatakan 'walau satu kampus dan juga duduk bersebelahan, tapi kalian tidak berteman'. Jadi saya pikir, sebenarnya tuan muda peduli pada Nona hanya saja tidak punya cukup keberanian untuk menunjukkan secara terang-terangan. Maka itu, sebaiknya biarkan---"


Setelah mendengar dan mencoba mencerna semua yang dikatakan sopir taksi itu, di titik ini, Jiang Lizqi menyela,"Saya mengerti. Paman tidak perlu khawatir, tapi maukah Paman sedikit bercerita."


"Bercerita? Tentang apa?"


"Steven."

__ADS_1


Bugh


Keduanya terperanjat oleh suara benda jatuh yang berasal dari arah dalam kamar JiangLizqi. Sesaat mereka hanya saling menatap dengan mata melebar, tetapi segera bergegas mendatangi ketika terdengar suara orang sedang muntah.


"Steven!"


"Tuan Muda!"


Begitu pintu terbuka mereka berseru serempak karena mendapati Steven Lou tengah terbaring miring di lantai sedang muntah-muntah. Wajah pemuda itu merah padam, lelehan cairan kental bergelantungan di bibirnya bagai benang. Sementara di lantai---tepat di bawah wajahnya yang sedang menunduk---terdapat muntahan berupa cairan kekuningan beraroma alkohol. Tanpa merasa jijik, Jiang Lizqi segera menghampiri, lalu membantunya duduk.


"Nona Jiang, sebaiknya Anda membawa Tuan muda ke kamar mandi. Lantai ini biar saya yang membersihkan."


"Eh eh eh, Paman saja yang bawa dia---"


"Cepatlah, Non. Saya mau ambil koran bekas dulu di lobi." Sopir itu berbicara sambil berlari keluar dari kamar, tidak hirau pada teriakan Jiang Lizqi.


"Aish, bagaimana ini?" Jiang Lizqi menatap sedih Steven Lou. "Masa iya aku yang bantu dia di kamar mandi." Wajahnya memelas, seperti orang merana karena putus cinta.


"Hugh!" Steven Lou bersendawa.


Saat Jiang Lizqi melingkarkan tangan ke punggungnya, Steven memaksakan diri untuk mengangkat kepala, menatap dengan mata layu.


"Ka---mu ...." Suaranya begitu lirih, lemah, dan hanya mampu mengucap satu kata itu saja.


"Aku tahu kamu tidak menyukaiku. Tapi sebaiknya untuk sementara kamu singkirkan jauh-jauh dulu perasaan itu. Kamu tidak dalam kondisi yang tepat untuk menolak bantuanku. Kamu pikir aku suka berdekatan denganmu yang bau muntahan. Aku bisa tahan denganmu yang bau, jadi terima saja kalau aku bawel."


Bila kondisinya tidak separah itu, Steven Lou pasti sudah membalas perkataan Jiang Lizqi dengan kata-kata yang lebih pedas, atau malah mengajaknya berantem. Namun, dengan kondisinya yang sekarang, dia hanya bisa tersenyum miring meski hati mendongkol.


Ketika Jiang Lizqi mengajaknya melangkah, dia hanya menurut. Bahkan saat gadis itu mendudukkannya di atas toilet dan melepas kausnya, dia juga tidak bereaksi. Setelah tubuh bagian atas Steven Lou tanpa busana, Jiang Lizqi tiba-tiba tersentak kaget sendiri.


Ya, Tuhan. Apa yang aku lakukan? Dia merintih konyol dalam hati, tetapi matanya menatap bagian perut Steven Lou yang berpetak-petak tanpa berkedip.


"Apa yang kamu lakukan? Aku kedinginan, bodoh." Dengan suara lemah, Steven Lou menggerutu.

__ADS_1


Jiang Lizqi sebenarnya malu hati, tetapi tidak menunjukkannya dan malah mengomel, "Kamu ini. Sudah tidak berdaya juga masih marah-marah. Masih untung aku mau menolong. Kamu bau sekali, jangan salahkan aku kalau terpaksa memandikanmu. Oke, anggap saja aku bodoh, dan kelak kamu harus mencatat dalam sejarah hidupmu bahwa orang bodoh ini adalah orang yang sangat berjasa memandikanmu saat kamu teler."


Steven Lou tidak bereaksi, tidak punya cukup tenaga walau hanya sekadar untuk protes saat Jiang Lizqi menggosok tubuh bagian atasnya dengan kain basah. Air, sabun, sampo, dan kain basah, sukses melunturkan harga dirinya di hadapan gadis yang tidak dia sukai.


Semua itu gara-gara Shen Jiaying dan kekasihnya. Wajah mereka saat terbahak-bahak sambil terus menuangkan minum ke dalam gelasnya, seolah berenang di pelupuk mata. Rasa geram pun mampu mengikis rasa malu.


Ketika air dingin mengguyur kepalanya, rasa sejuk seolah menjalar hingga ke dalam rongga kepala dan merambat turun untuk mendinginkan hati yang sedang marah. Remasan jemari lentik Jiang Lizqi saat mencuci rambutnya terasa begitu nyaman bagai pijatan relaksasi. Steven Lou sangat menikmati dan merasa kecewa saat gadis itu menyudahinya dan mengganti dengan guyuran air.


Mata Steven Lou sedari tadi terpejam, perlahan membuka ketika tidak lagi merasakan air mengguyur tubuhnya. Dia mendapati Jiang Lizqi sedang membentang handuk hendak mengeringkan tubuhnya.


Jiang Lizqi yang tidak menyadari bila Steven Lou sedang memperhatikannya, melakukan aktivitas tanpa merasa canggung. Gadis itu sebisa mungkin mencegah tangannya jangan sampai menyentuh area sensitif Steven Lou.


Akan tetapi, usahanya sia-sia karena saat dia hendak membantunya  melepaskan celana, tanpa sengaja justru menyentuh bagian itu. Sumpah demi apa pun, sebenarnya Jiang Lizqi sangat malu, grogi, juga gemetar, tetapi berpura-pura tetap tenang dan acuh tak acuh. Dia tahu, di balik ****** ******** pipa pendek Steven Lou mengeras. Buru-buru ditutupnya bagian itu menggunakan handuk.


Sial. Steven Lou merutuk dalam hati dan tanpa sadar mencengkeram lengan Jiang Lizqi, membuat gadis itu serta-merta menghentikan gerakan tangan yang sedang mengelap bagian dada.


"Oke, sudah cukup. Pakailah bathrobe ini. Aku rasa kamu butuh privasi, sebaiknya aku keluar. Panggil aku kalau sudah selesai."


Bagi Steven Lou, ini jauh lebih memalukan dari pengalaman memalukan yang pernah dialaminya. Dia bukan pemuda polos yang tidak memahami bahasa kiasan yang dilontarkan oleh JiangLizqi.


Sebelum gadis itu sempat beranjak, Steven Lou segera mencekal bajunya. "Bantu aku," pintanya dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.


”Hah! Kamu gila!" Jiang Lizqi memekik syok sambil mundur. Dia pikir Steven Lou sedang meminta bantuannya untuk melepaskan hasrat.


"Dasar bodoh." Steven Lou menggerutu, lalu kembali berkata, "Bantu aku keluar dari sini."


Wajah Jiang Lizqi seketika berubah bodoh. "Oh, aku kira ... lalu bagaimana dengan---"


Karena kesal, suara Steven Lou pun sedikit meninggi. "Untuk menggerakkan tangan saja aku kesulitan! Bagaimana bisa melakukan itu? Aku ingin tidur!"


"Aish, kamu ini cepat sekali marah," ujar Jiang Lizqi sambil membantunya berdiri.


"Diam ...." Steven Lou mendesis dan Jiang Lizqi menertawakannya.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2