Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
PENGAMPUNAN [TAMAT]


__ADS_3

Baru saja Jiang Hun berniat untuk beranjak, tetapi sebelum niat itu sempat terlaksana sang istri sudah muncul dan menepuk bahunya, membuat pria setengah baya itu terlonjak kecil.


"Tidak baik menguping. Ayo, sebaiknya kita ke ruang makan. Biarkan saja mereka." Xiao Yauran membimbing suaminya melangkah dengan sedikit memaksa.


Jiang Hun sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak kesampaian karena sang istri tidak memberinya kesempatan. Ketika mereka baru saja sampai di ruang makan dan duduk, Jiang Lizqi muncul sambil memapah Steven Lou yang berjalan sedikit tertatih.


Xiao Yauran yang tidak mendengar isi percakapan mereka barusan, di kamar, segera bangkit kembali dengan wajah riang. "Kalian datang. Ayo, duduk. Kita makan bersama."


Jiang Lizqi sempat mengerling Jiang  Hun sebelum akhirnya bersuara, "Ma, terima kasih karena sudah merawat Steven. Tapi maaf, kami tidak ingin merepotkan Mama lagi. Sebaiknya kami makan di luar dan menginap di hotel saja."


Seperti langit yang semula cerah, lalu tertutup awan, wajah Xiao Yauran seketika menjadi muram. Mulutnya sudah terbuka hendak menyampaikan protes, tetapi Jiang Hun menginterupsi,


"Biarkan. Pergi saja jika ingin pergi."


"Pa ...." Xiao Yauran langsung bungkam saat Jiang Hun menatapnya tajam.


Kalimat Jiang Hun yang diucapkan dengan nada dingin itu bagai ribuan jarum es menghujam telak ulu hati Jiang Lizqi. Meskipun ini bukan yang pertama kali dia mendengar papanya berujar dengan nada seperti itu, tetapi dia masih belum terbiasa, rasanya tetap saja sakit.


Menguatkan hati, Jiang Lizqi pun berpamitan, "Ma, Pa, kami pergi." Tanpa menunggu respons dia segera memutar badan. "Kita pergi, Honey," ajaknya sambil menatap lembut Steven Lou.


Dengan anggukkan kecil Steven Lou setuju, lalu menekan bahu Jiang Lizqi erat nan hangat untuk memberinya dukungan.


Sebelum turut memutar badan, Steven Lou terlebih dahulu mengangguk kecil pada sang ibu mertua yang hanya berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu, dia melangkah sambil dipapah oleh Jiang Lizqi.


Namun, ayunan kaki mereka seketika berhenti kala mendengar Jiang Hun berkata, "Pintu rumah ini akan selalu terbuka, datanglah kapan pun kalian ingin datang."


Xiao Yauran serta merta menangis sambil membekap mulutnya, Jiang Lizqi dan Steven Lou serempak menoleh, sedangkan Jiang Hun terlihat tenang duduk di kursinya.


"Papa," Jiang Lizqi memanggil lirih.


"Jika permintaan maafku bisa membuat kalian tetap tinggal barang semalam saja, aku ...."


Jiang Lizqi tidak bisa mendengar kelanjutan kalimat papanya. Saking bahagianya, tanpa sadar dia segera berlari menghambur untuk memeluk pria yang selama empat tahun ini tidak sudi mengakuinya sebagai anak.


Kali ini, Jiang Lizqi tidak berniat untuk menahan air mata. Dia yang tadi memeluk sang papa dari belakang, kini sudah bersimpuh di lantai sambil mendekap kedua kakinya, dan terus mengucap kata 'maaf' di sela isak tangis.


Alih-alih membimbing putrinya bangun, Jiang Hun justru ikut bersimpuh di lantai dan memeluk putri semata wayangnya sambil menangis sesenggukan. Tidak ada kata terucap. Hanya ada isak tangis sebagai bentuk penyesalan dan pelukan hangat sebagai bukti pengampunan.


Steven Lou dan Xiao Yauran hanya memaku diri di tempat, menyaksikan adegan tersebut dengan dada yang terasa penuh sesak, tanpa ada niat untuk menginterupsi. 

__ADS_1


Kedua sudut bibir Steven Lou sedikit tertarik ke samping—mengukir senyum tipis—senyum bahagia juga bangga karena usahanya tidak sia-sia.


Xiao Yauran akhirnya tidak tahan juga hanya menonton. Perempuan itu bergegas menghampiri kedua orang terkasihnya, bergabung duduk di lantai dan memeluk mereka erat-erat.


"Selamat datang kembali, Nak. Kamu dan suamimu diterima di rumah ini." Di sela isak tangis, suara Xiao Yauran terdengar serak, goyah dan tersendat-sendat.


Pemandangan yang sangat mengharukan. Steven Lou tidak ingin melewatkan momentum itu begitu saja. Diam-diam dia mengambil ponsel Jiang Lizqi dari saku mantel yang dikenakannya, lalu mengambil beberapa gambar dan satu video dengan durasi kurang dari lima menit.


Akhirnya malam itu, Jiang Lizqi dan Steven Lou tidak jadi menginap di hotel. Setelah makan malam yang penuh kehangatan dan kebahagiaan usai, mereka menyempatkan diri untuk bercengkerama sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing.


Sekarang, selagi Jiang Lizqi tertidur lelap di sampingnya, Steven Lou masih tetap terjaga. Beberapa detik lagi jarum jam itu akan sampai di puncak malam. Dia ingin menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat ulang tahun untuk istri terkasihnya.


Seiring jarum jam yang terus bergerak, dia turut berhitung dalam hati, sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu ....


"Happy birthday my honey, my sweetheart, my world, my life, and my everything. I love you."


Steven Lou berbisik lembut tepat di telinga Jiang Lizqi, tanpa ada niat untuk membangunkannya. Setelah mengecup dahi, mata, pipi, hidung serta bibirnya, dia pun turut berbaring, kemudian membawa sang terkasih ke dalam dekapan.


Janji seumur hidup mereka sudah ditepati, tetapi perjalanan hidup keduanya masih panjang. Mereka masih harus menjaga baik-baik apa yang sudah dicapai supaya tidak goyah dan tetap teguh.


Setelah empat tahun yang membuat senyum Jiang Lizqi tidak lagi tulus, akhirnya cahaya itu kembali bersinar di jiwanya dan turut menghangatkan hati Steven Lou.


Namun, sebelum itu, tepatnya empat tahun yang lalu, Jiang Lizqi sudah menepati janji seumur hidupnya terlebih dahulu. Janji untuk tetap berada di sisi Steven Lou dalam suka dan duka walaupun untuk itu harus dianggap mati oleh papanya.


Jiang Lizqi tetap memilih berdiri kukuh di samping Steven Lou meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Keduanya melewati masa-masa sulit bersama. Saling memapah dan mendukung, menutup luka satu sama lain, menangis dan tertawa bersama, tetap optimis menghadapi hidup meski ada yang cacat dalam cinta dan kehidupan mereka.


Semua itu tanpa disadari telah membuat cinta dan ikatan hati di antara mereka semakin kuat dari hari ke hari. Mereka dipisahkan dengan orang tua karena cinta yang dalam satu sama lain, tetapi kemudian disatukan kembali dengan orang yang telah mengganggap mereka mati juga oleh cinta.


Selagi masih ada cinta, pintu pengampunan pasti selalu terbuka. Jika pintu pengampunan telah terbuka, maka dendam dari masa lalu pun tidak akan mampu lagi bertakhta. 


TAMAT


SEDIKIT EKSTRA


Malam sudah larut, tetapi Jiang Lizqi masih di ruang kerja sibuk mengetik. Beberapa waktu lalu ketika melihat jam baru menunjukkan pukul sepuluh, dia hanya berniat mengetik sedikit lagi sambil menunggu Steven Lou pulang dari perjalanan luar kota.


Namun, setelah yang ditunggu pulang,  bahkan sudah selesai mandi, dia malah merasa enggan untuk meninggalkan ketikannya. Jiang Lizqi begitu fokus sehingga tidak hirau saat mendengar pintu ruang kerjanya dibuka.


"Sudah hampir tengah malam, Beib." Steven Lou menghampiri, lalu memeluk Jiang Lizqi dari belakang dan mengecup pipinya. "Ayo, tidur."

__ADS_1


Menghentikan jemari yang sedari tadi asyik menari di atas keyboard, lalu mengayun tangan kebelakang untuk meraih tengkuk Steven Lou, Jiang Lizqi mendongak dan memajukan bibirnya. Tanpa ragu, Steven Lou mengecupnya dan ketika Jiang Lizqi membuka mulut, kecupan pun menjelma menjadi ciuman hangat.


"Sedikit lagi," ujar Jiang Lizqi setelah tautan bibir mereka terurai.


Steven Lou tersenyum teduh, lalu mengerling layar laptop. "CINTA [TAK] SEMPURNA." Dia membaca tiga kata yang ditulis menggunakan huruf kapital dan bold.


"Huum." Jiang Lizqi menyandarkan kepala di bahu Steven Lou, sementara yang bersangkutan menumpukan dagu di bahunya. Pemandangan yang indah, manis dan romantis. "Ini kisah kita. Aku ingin orang lain membacanya dan mungkin akan terinspirasi."


"Kamu ingin menerbitkannya?"


Jiang Lizqi mengangguk. "Aku ingin orang lain mengetahui perjalanan cinta kita."


"Kenapa kata TAK ada di dalam kurung?"


"Itu artinya, bisa dilibatkan juga bisa dihilangkan. Kita mengawali kehidupan pernikahan dengan cinta yang cacat, tetapi sekarang, dengan restu mereka cinta kita telah menjadi sempurna."


"Kamu yang terbaik. Love you, Beib."


"Love you more, Honey."


Setelahnya, mereka pun kembali menautkan bibir dan selanjutnya saling menginvasi penuh hasrat.


Masa-masa sulit telah mereka lewati. Sekarang saatnya menikmati buah manis yang tercipta dari timbunan pahit yang mereka reguk selama empat tahun ini.


Setelah hubungan mereka dengan kedua orang tua Jiang Lizqi membaik, kebahagiaan demi kebahagiaan bisa mereka raih dengan cukup mudah. Seolah mengukuhkan fakta bahwa restu orang tua adalah restu semesta juga.


Satu tahun kemudian, tepat di hari ulang tahun Jiang Lizqi yang ke dua puluh sembilan, Jiang Hun dan Xiao Yauran datang berkunjung. Saat melihat foto Nyonya Lou yang dipajang di ruang keluarga, Jiang Hun dan Xiao Yauran sempat tercengang.  Namun dengan cepat bersikap biasa saja. Mereka telah sepakat untuk melupakan semua yang tidak menyenangkan. Jadi, harus benar-benar bisa mengikhlaskan yang sudah terjadi.


Dua hari setelah perayaan ulang tahun,  Jiang Lizqi tiba-tiba pingsan saat tengah berjalan-jalan di taman sekitar rumah. Setelah diperiksakan, ternyata di dalam perutnya ada kehidupan baru yang sedang tumbuh. Penantian selama lima tahun akhirnya berakhir juga.


Akhir manis yang bahkan Jiang Lizqi dan Steven Lou sendiri tidak pernah berani membayangkan. Namun bisa meraka capai karena memang mereka layak mendapatkannya.


Bahkan karier Steven Lou yang pernah menjadi pemimpin perusahaan termuda pada masanya dan sempat diragukan banyak pihak, sekarang semakin cemerlang dan berhasil mendirikan perusahaan cabang di beberapa negara tetangga.


Selagi masih bernapas, cobaan pasti selalu ada. Namun, setidaknya keteguhan cinta mereka telah teruji.


...**********...


...Terima Kasih sudah membaca cerita ini dan memberi dukungan. ...

__ADS_1


__ADS_2