Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
MANTAN


__ADS_3

Mata Steven kembali berbinar. "Kuan Ge, apa ini nyata? Kamu menyarankan aku untuk mengikuti kompetisi Freestyle Dance dan balapan, padahal tahu kalau ibu selalu menentangku melakukan keduanya."


Lou Haikuan tersenyum penuh arti. "Kamu tenang saja, aku sudah minta izin pada ibumu ...."


"Huh, dan ibu mengizinkan begitu saja?"


"Tentu saja tidak. Aku sedikit memberi tekanan dengan mengungkit soal keinginanmu pergi ke Singapura." Wajah Lou Haikuan sendu, tatapannya sayu, saat berbicara pun tidak antusias.


Steven Lou memaklumi. Bagi seorang Lou Haikuan, perbuatannya itu pastilah sangat bertentangan dengan hati nurani. Dia terpaksa melakukannya demi kebaikan semua, terlebih untuk Steven Lou yang sejak kecil memang kurang kasih sayang.


"Sepertinya kamu ingin membangun hutang budi di pundakku. Iya, kan?" Steven Lou bermaksud untuk bercanda, tetapi cara bicaranya tidak luwes sehingga malah seperti menghardik.


Lou Haikuan tersenyum jahil dan tidak menyangkal tuduhan tersebut. "Anggap saja begitu, dan aku akan dengan senang hati melakukan apa pun, asal kamu mau berjanji untuk serius belajar. Buktikan kalau kamu bisa melebihi Jiang ...." Teringat kalau nama itu sangat sensitif untuk disebut, Lou Haikuan seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Aku pasti melakukannya," ujar Steven Lou tanpa disangka-sangka. Dia mengucapkan dengan sungguh-sungguh.


"Huh? Serius?" Lou Haikuan menatap tak percaya.


"Jangan pasang wajah seperti itu. Konyol."


Perlahan, tapi pasti bibir Lou Haikuan mengembangkan senyum lebar karena hatinya diliputi rasa syukur dan haru. Lembut dia menarik bahu Steven Lou, membawanya ke dalam pelukan.


"Aku pegang kata-katamu," bisiknya, dan Steven Lou hanya menanggapi dengan anggukan.


"Steven ...."


Suara memanggil itu membuat Steven Lou serta-merta manarik diri dari lilitan kedua lengan kakak sepupunya. Menoleh ke arah dari mana suara tadi berasal, wajah yang tadinya semringah seketika berubah suram. Steven Lou benci pada gadis dewasa yang sedang melangkah mendekat.


"Kamu masih berhubungan dengannya?" Ada nada tidak suka dalam suara Lou Haikuan.

__ADS_1


"Sudah berakhir." Steven Lou menjawab sinis.


"Aku percaya kamu pasti bisa menjaga diri." Lou Haikuan berkata sembari bangkit dari duduk. "Sebaiknya aku pergi sekarang. Ingat baik-baik bulan serta tanggal balapan, juga kompetisi dance itu."


"Hai, Kuan Ge," sapa si gadis yang baru datang.


"Hai," balas Lou Haikuan singkat, tetap terlihat ramah meski nada dalam suaranya tanpa antusiasme. Dia bahkan tidak menyebut nama si penyapa walau sebenarnya mengetahui. Hal itu mengindikasikan bahwa pria usia tiga puluh tahun itu enggan beramah-tamah dengan yang bersangkutan.


"Sudah mau pergi?" Gadis itu kembali bertanya dengan sok akrab, dan Lou Haikuan hanya membalas dengan anggukan.


"Aku ikut denganmu," ujar Steven Lou.


"Steven, jangan pergi dulu. Ada yang ingin aku bicarakan."


"Aku tidak berminat."


Tak acuh, Steven Lou hendak melangkah pergi, tetapi gadis itu segera mencengkeram lengannya.


"Shen Jiaying , lepas!" Steven Lou menghardik.


Aura yang menguar darinya terasa jauh lebih dominan dibandingkan saat berhadapandengan Jiang Lizqi, seakan mengintimidasi jiwa Shen Jiaying hingga tanpa sadar gadis itu refleks melepaskan tangan Steven Lou. Namun, ketika Steven Lou hendak melangkah, dia kembali bergegas menahanya, dan ....


Dugh!


Tanpa basa-basi, Steven Lou mendorong Shen Jiaying. Sebenarnya tidak kasar, tetapi gadis itu oleng dan kehilangan keseimbangan, lalu jatuh di dekat bangku.


"Agrh, Sakit! Steven sialan." Gadis itu mengaduh sembari menggosok-gosok sikunya.


"Itu sebagai peringatan awal. Kalau kamu masih terus menggangguku, jangan salahkan jika aku akan bertindak lebih barbar dari ini. Dasar gila."

__ADS_1


"Kamu yang gila! Aku hanya ingin bicara ...."


"Aku tidak peduli!"


Tanpa memedulikan berbagai umpatan yang terlontar dari mulut Shen Jiaying, Steven Lou menarik lengan Lou Haikuan sedikit kasar, mengajaknya pergi dengan langkah-langkah lebar.


"Baguslah kalau kamu sudah tidak lagi berhubungan dengannya," ujar Lou Haikuan penuh kelegaan sembari mengenakan sabuk pengaman.


Steven Lou hanya terdiam dengan arah pandang terpaku ke luar kaca jendela mobil. Dia geram. Rasa sakit hati terhadap Shen Jiaying tidak akan pernah pudar. Gadis yang usianya tiga tahun lebih tua itu adalah bajingan yang telah memorak-porandakan hati dan hidupnya.


Dulu, karena sering kesepian dan kurang kasih sayang karena ibunya selalu sibuk bekerja---bahkan kerap melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri---membuat Steven Lou berpikir untuk mendapatkan kesenangan dan kasih sayang dari orang-orang yang bersedia memberikan.


Dulu waktu masih di sekolah menengah atas, dia pernah bergabung dengan klub skatboard, klub balap motor, dan sebuah grup tari modern, Freestyle Modern Dance. Di klub skatboard dan klub balap motor dia bertemu Shen Jiaying.


Steven Lou cepat akrab dengan Shen Jiaying karena gadis itu memperlakukannya dengan sangat baik. Gara-gara dia, Steven Lou bisa memiliki banyak teman, merasa diterima dan disayang, nyaman sampai enggan pulang. Hubungannya dengan Shen Jiaying terjalin begitu saja karena dia sering menghabiskan waktu di klub atau apartemen gadis itu.


Bersama Shen Jiaying, Steven Lou merasa berlimpah kasih sayang dan kehangatan, sehingga dengan berani memutuskan untuk menjadikan gadis itu sebagi rumah untuk pulang. Laki-laki dan perempuan sering tinggal berduaan, membuat mereka tidak segan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh yang bukan pasangan suami istri.


Semakin lama semakin lengket, Steven Lou pun sering membawa kekasihnya itu pulang ke rumah, hingga pada akhirnya kepergok oleh Nyonya Lou saat sedang bercumbu.


Nyonya Lou murka luar biasa, tetapi kemarahannya justru membuat Steven Lou semakin membangkang, lalu kabur dari rumah dan tinggal bersama Shen Jiaying. Dalam hal ini, Lou Haikuan yang berperan besar membawa Steven Lou kembali pulang. Namun, meski sudah dilarang juga dinasehati macam-macam, Steven Lou masih saja terus melanjutkan hubungannya dengan Shen Jiaying.


Hingga sekitar empat bulan yang lalu ketika Steven Lou datang ke apartemen gadis itu tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dia memergoki kekasihnya tersebut sedang bercinta dengan pria lain. Saat itu Steven Lou tidak hanya marah, tetapi juga mengamuk. Dia menghajar pasangan Shen Jiaying yang masih dalam keadaan telanjang, sembari melontarkan sumpah serapah hingga akhirnya terucaplah kata putus.


Dia pikir, pengkhianatan itu adalah satu-satunya hal paling menyakitkan yang sudah dilakukan Shen Jiaying, tetapi nyatanya masih ada yang lebih menyakitkan dari itu. Suatu hari, dia datang ke klub skatboard untuk mengemasi beberapa barangnya yang masih tersimpan di locker, tidak disangka malah mendengar fakta menyakitkan itu. Ternyata selama ini mereka tidak ada yang tulus. Mereka hanya memanfaatkan Steven Lou yang anak orang kaya dan royal.


Gara-gara pengkhianatan dan tipu daya itu, Steven kembali hancur dan merasa hidupnya tidak berarti. Merasa tidak ada yang benar-benar menyayangi, hingga akhirnya bertindak bodoh; berniat bunuh diri dengan menegak banyak obat penenang, untung saja segera diketahui oleh salah satu pengurus rumah tangga. Gara-gara hal itu jugalah dia harus menjalani pengobatan serta pemulihan, dan akibatnya tidak bisa mengikuti kuliah dari tahun ajaran baru dimulai. Ditambah lagi tiba-tiba terserang tifus, jadi bertambah panjanglah masa absennya.


Sampai saat ini, baik kepada Nyonya Lou ataupun Lou Haikuan, Steven Lou tidak pernah mengatakan alasan sebenarnya kenapa sampai nekat ingin mati. Membuat Nyonya Lou berasumsi bahwa gara-gara dirinyalah Steven Lou jadi seperti itu.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2