![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Bagi Steven Lou, Jiang Lizqi itu adalah mataharinya. Hangat menyinari hati yang selama ini kedinginan di dalam palung musim dingin yang tiada berujung. Dia juga laksana lilin, memberi cahaya tanpa peduli tubuhnya sendiri meleleh karena terbakar.
Meski kisah awal pertemuan mereka jauh dari kata menyenangkan, tetapi lambat laun keduanya mampu saling memahami, hingga akhirnya baik Jiang Lizqi maupun Steven Lou sama-sama terjerat dan tidak bisa dipisahkan lagi. Sampai-sampai Jiang Lizqi berani menolak tegas saat dijodohkan oleh orang tuanya.
Kelak siapa pun akan mengerti, kenapa Steven begitu memuja Jiang Lizqi dan rela melakukan apa pun demi kebahagiaannya. Semuanya berawal dari sini, di sebuah perguruan tinggi jurusan design grafis, Universitas Lou Xiehan Beijing.
Jiang Lizqi yang tidak tahan menganggur selalu memiliki kegiatan untuk dilakukan. Kemarin malam dia pulang cukup larut karena harus memberil les privat, sampai di rumah masih harus mengerjakan tugas kuliah, lewat tengah malam baru bisa istirahat. Lupa mengaktifkan alarm, paginya bangun sedikit terlambat dari biasa, melakukan aktivitas sebelum berangkat kuliah seperti orang kesetanan.
Untung saja apartemennya tidak jauh dari kampus, lima belas menit berjalan kaki sudah sampai. Setelah persiapan selesai, Jiang Lizqi bergegas meninggalkan apartemen. Sembari menyantap roti selai cokelat, dia berjalan dengan langkah-langkah lebar.
Sesampai di pelataran kampus, baru dia bisa melangkah lebih santai, sembari tak henti-henti menebar senyum manis serta menyapa siapa saja yang jumpainya. Cerahnya langit dan hangatnya sinar matahari seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keceriaan dan kehangatan yang menguar dari aura gadis tersebut.
"Hai, Lizqi."
"Selamat pagi, Lizqi."
"Pagi, Lizqi."
"Apa kabar, Lizqi?"
"Apakah semalam tidurmu nyenyak, Lizqi?"
Semua salam dijawab satu per satu diiringi senyum lebar, sampai-sampai pipinya terasa pegal dan gigi kering, tetapi tidak apa-apa, Jiang Lizqi senang semua orang baik padanya.
Kaki jenjangnya terus melangkah menuju ke gedung fakultas yang berada di seberang area parkir outdoor. Selagi asyik berjalan, dari arah belakang samar-samar dia mendengar suara berderak.
Karena sedang tergesa-gesa, dia tidak terlalu peduli. Namun, ketika salah satu kakinya sudah menginjak anak tangga koridor, tiba-tiba suara berderak itu berhenti tepat di belakangnya dengan suara kasar mengejutkan.
Brak tak!
Spontan memutar badan untuk mencari tahu suara apa itu sebenarnya, seketika itu juga dia jatuh terduduk. Terkejut karena langsung berhadapan dengan seseorang yang berdiri sangat dekat. Pucuk hidung mereka tidak saling bersentuhan pun masih untung.
Sembari meringis, Jiang Lizqi menatap pemuda yang sudah menyebabkannya terjatuh. Gayanya super cuek, berdiri mengumbar senyum miring menyebalkan. Sudah begitu, tanpa basa-basi meminta maaf, langsung pergi sambil menenteng skateboard-nya.
Uhf! Dasar tidak punya akhlak! Jiang Lizqi mengembuskan napas kasar.
"Siapa sih? Sepertinya belum pernah lihat." Mulutnya baru saja mengatup, tiba-tiba satu telapak tangan terjulur di atas bahu kiri tepat di sisi wajahnya.
"Berkenalan?"
__ADS_1
Aish, astaga! Jantung Jiang Lizqi rasanya mau lompat ke luar.
Dengan gerakan perlahan dan kaku gadis itu menoleh lalu mendongak, menatap orang yang dia pikir sudah jauh berlalu, tetapi sekarang justru sedang berdiri setengah membungkuk di hadapannya dengan tanggan kanan terulur.
Wajahnya sangat tampan, matanya hitam dan jernih, hidung mancung mungil di bagian pucuk, bibirnya merah merona dan ....
Aish! Apa-apaan aku ini? Jiang Lizqi tersentak dengan apa yang barusan terlintas di benaknya. Harusnya, kan kesal karena sudah dibuat terjatuh. Kenapa malah mengagumi?
"Sambut tanganku, berdirilah. Sampai kapan mau terus duduk di sini?"
"Eh?"
"Cepetan, kelas sebentar lagi dimulai. Mahasiswa teladan sepertimu tentu tidak ingin terlambat, bukan?"
"Eh?"
"Eh, eh, terus! Tidak paham bahasa manusia?!"
"Emh, aku---"
"Qiqi!"
Seseorang menginterupsi. Seorang pemuda bertampang culun, berkacamata tebal, namanya Ji Yu, sahabat Jiang Lizqi, datang sembari berlari-lari kecil.
Ditanya seperti itu, ketika kembali melihat tangan StevenLou, Jiang Lizqi refleks meraihnya dan dijadikan pegangan saat bangkit dari duduk.
"Thanks. Aku JiangLizqi." Sudah berjabat tangan tidak ada salahnya sekalian berkenalan, begitulah pikir gadis itu.
"Steven Lou." Singkat, padat, lugas. Setelah itu, memutar badan dan langsung meluncur di atas skateboard-nya.
"Arogan sekali." Ji Yu mencela.
"Aish! Jangan pernah mengatai orang di belakangnya."
"Terus, kamu ingin aku mengatai di depannya? Cari masalah itu namanya."
Jiang Lizqi tergelak sambil merangkul bahu sahabatnya itu. Bersama melangkah ke kelas sambil bercengkerama.
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Seperti yang kamu tau, namanya StevenLou. Mahasiswa di sini juga, tapi baru hari ini masuk."
"Kenapa?"
"Menurut kabar yang aku dengar, sih, sakit."
Alis Jiang Lizqi bertaut. "Marganya Lou. Apa mungkin dia putra pemilik kampus ini?"
"Mana aku tahu. Lagi pula marga Lou bukan hanya milik satu garis keturunan saja, kan?"
Jiang Lizqi tidak menanggapi perkataan Ji Yu. Dia justru menghentikan langkah, berdiri terpaku di ambang pintu menatap lurus pada kursi yang biasa dia duduki. Di sampingnya, Ji Yu mengembuskan napas jengah.
"Mimpi apa aku semalam sampai harus bertemu dengan manusia menyebalkan itu?"
Tersenyum tulus, Jiang Lizqi menepuk bahu sahabatnya. "Tidak apa. Aku bisa duduk di tempat lain. Ayo, masuk."
"Aku ikut denganmu. Malas duduk bersebelahan dengan manusia songong."
Jiang Lizqi bertanya dalam bisikan, "Kenapa sepertinya kamu tidak menyukai dia, baru pertama kali bertemu, kan?"
"Auranya negatif, gelap, menyebalkan, dan mengerikan," jawaban Ji Yu membuat Jiang Lizqi meledak tertawa dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Steven Lou---yang sedari semula memang sudah memaku tatap padanya.
Melihat Jiang Lizqi hendak berjalan melewatinya, Steven Lou segera menjulurkan kaki. Jiang Lizqi yang tidak menduga akan dikerjai, pun tidak sempat menghindar dan jatuh tersungkur.
Brugh!
Ji Yu geram bukan kepalang. "Apa masalahmu, hah? Tadi di luar kamu sengaja mengagetkannya sampai jatuh terduduk dan sekarang lagi ...."
Menatap tak acuh pada pemuda berkacamata yang sudah meradang siap perang, Steven Lou hanya tersenyum miring, mencemooh.
"Sudahlah, tidak usah diributkan. Aku tidak apa-apa." Jiang Lizqi yang barusan bangkit dari jatuh segera menepuk bahu sahabatnya. Ji Yu mendengkus kesal pada JiangLizqi, lalu mendelik sangar ke StevenLou.
"Dia yang jatuh, kenapa kamu yang marah?" Benar-benar cari perkara, sudah tahu salah karena sengaja membuat Jiang Lizqi terjatuh, malah pasang wajah songong menantang.
Sebenarnya Ji Yu sudah hendak membalas perkataanSteven Lou, tetapi Jiang Lizqi mencegah, "Cukup. Ayo, duduk. Sebentar lagi dosen datang."
Baru saja Jiang Lizqi hendak melangkah, tangannya sudah dicekal oleh Steven Lou. "Duduk!" Cara bicaranya tenang, tetapi penuh penekanan, seperti majikan tak berakhlak memerintah bawahan.
Ji Yu sudah membuka mulut mau protes, tetapi Steven Lou membungkamnya dengan berkata sinis, "Aku tidak bicara denganmu."
__ADS_1
Wajah Ji Yu seketika merah padam, campuran malu dan marah. Jiang Lizqi memcengkeram lengan sang sahabat, mencegahnya bertindak brutal. Ji Yu ini hanya tampangnya saja yang tidak meyakinkan, tetapi kelakuan tetap saja laki-laki sejati. Sangat jelas terlihat kalau dia sudah tidak sabar ingin menyerang Steven Lou. Sementara Steven Lou sendiri tampak tenang dan tak acuh.
[Bersambung]