Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
BERPISAH


__ADS_3

Dalam keadaan linglung, tiba-tiba Steven Lou menceletuk, "Aku tidak akan mundur. Aku tidak ada hubungannya dengan semua itu."


"Oh!" Pekikan Xiao Yauran tertahan oleh telapak tangan yang refleks menutup mulut dan matanya pun langsung berkaca-kaca.


Jiang Hun tidak tampak terkejut dengan keberanian pemuda itu, tetapi raut wajahnya semakin kaku dan di matanya tersirat jelas api amarah. Untuk sesaat suasana menjadi sangat hening karena tidak ada yang bersuara.


Karena kedua orang tuanya tidak mengatakan apa-apa, Jiang Lizqi jadi merasa serba salah. Tidak tahu harus bagaimana, akhirnya dia meraih tangan Steven Lou dan menggenggamnya erat-erat.


"Selama ini aku tidak pernah meminta apa pun pada kalian. Tapi sekarang aku punya permintaan, ijinkan aku bersama orang yang aku cintai. Yang terjadi di masa lalu tidak ada hubungannya dengan Steven."


Setelah itu, Jiang Lizqi menunduk, tidak berani bertatap muka dengan papa dan mamanya. Namun, di dalam hati merasa tidak percaya kalau barusan dirinya bisa berbicara lancar tanpa tergagap sedikit pun. Apakah ini karena kekuatan cinta?


Keberanian Jiang Lizqi bicara membuat kepercayaan Steven Lou meningkat. "Paman, Bibi, aku bersumpah akan menjaga dan menyayangi Lizqi---"


"Tidak ada cinta-cintaan! Tidak ada sumpah! Jiang dan Lin, sampai kapan pun tidak akan pernah berhubungan baik!" Jiang Hun murka, berteriak seperti gila.


"Pa, aku mohon. Ma ...." Jiang Lizqi menatap sang ibu mengiba, tetapi perempuan itu seperti tidak sanggup mengangkat kepala, menangis sesenggukan sambil menunduk dalam-dalam.


"Paman---"


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong lagi! Kamu ...." Jiang Hun menatap Steven Lou penuh kebencian. "Sekarang juga pergi dari sini! Dan kamu ...." Tatapannya beralih ke Jiang Lizqi, "tidak akan pernah pergi ke mana-mana!"


"Papa, aku mohon. Ma, sekali ini saja aku meminta. Tolong restui kami." Jiang Lizqi hendak berlutut, tetapi Steven Lou mencegah, lalu memeluknya erat-erat untuk menenangkan.


Tiba-tiba Jiang Hun bangkit dan sebelum ada yang menyadari apa yang akan dilakukannya, pelukan Jiang Lizqi dan Steven Lou terpaksa lepas. Pria paruh baya itu menarik Jiang Lizqi, hingga yang bersangkutan hampir tersungkur sebelum akhirnya mampu berdiri di sampingnya.


"Pergi sekarang!" Jiang Hun seperti anjing menyalak mengusir maling yang menyatroni rumah majikannya.


"Steven pergi, aku juga akan pergi bersamanya!"


"Coba saja kalau berani!" Sembari berteriak, Jiang Hun menempeleng pipi putrinya.


"Pa, jangan!" Xiao Yauran langsung menahan tangan sang suami yang sudah terangkat untuk memberi tamparan berikutnya.


Kemarahan Steven Lou pun serasa mencapai ubun-ubun, tetapi alih-alih berteriak atau mengamuk, dia hanya bergegas merebut Jiang Lizqi dari Jiang Hun, lalu menyembunyikan di belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Paman boleh melakukan apa saja padaku, tapi tidak pada Lizqi." Pemuda itu berbicara dengan gigi yang dikatup rapat sehingga terdengar dalam penuh penekanan. Bahkan matanya tidak berkedip terpaku pada Jiang Hun. Membuat pria paruh baya itu sesaat merasa gugup.


"Steven, tolong---"


"Maaf, Bi. Aku tidak bisa melepaskan Lizqi." Steven Lou menegaskan sembari menatap teduh Xiao Yauran.


Perempuan itu tidak sanggup berkata-kata lagi dan hanya bisa berlinang air mata sambil mengelus dada yang terasa sangat sesak.


"Kemasi barang-barangmu," tegas Jiang Hun.


"Papa!"


Jiang Hun tidak menghiraukan teriakan putrinya. Dengan tenang melangkah pergi sambil menggandeng istrinya.


"Apa kalian tahu siapa yang memberi aku beasiswa?!" Jiang Lizqi berteriak nyaris histeris. "Dia adalah ibunya Steven!"


Jiang Hun dan Xiao Yauran terpaku di tempat. Sementara Xiao Yauran terkejut, wajah Jiang Hun semakin merah padam. Akan tetapi, ketika menoleh ke putrinya, dengan nada dingin dia berkata, "Bahkan jika seluruh hartanya diberikan kepadaku tetap tidak akan cukup untuk menebus dosanya." Setelah itu, kembali melangkah.


"Steven." Jiang Lizqi putus asa dan mengubur wajahnya di dada sang kekasih. "Aku tidak peduli---"


Jiang Lizqi sesenggukan dan memeluk Steven Lou semakin erat seolah tidak mau lepas. "Aku tidak mau ditinggal sendiri. Aku akan pergi bersamamu."


Steven Lou melepaskan pelukan, lalu membingkai wajah Jiang Lizqi. Menghapus air matanya, menciumi wajahnya penuh kelembutan. Setelah itu menatapnya lekat-lekat.


"Aku mohon dengarkan aku sekali ini saja. Aku pulang untuk menjemput ibu."


Wajah basah Jiang Lizqi seketika semakin muram. "Jika ibumu datang, apa situasinya tidak akan bertambah runyam?"


"Semua berawal dari dia, jadi dia harus datang untuk menyelesaikannya. Aku tidak pernah mengenal kakek dan nenek dari pihak ibu. Mungkin itu adalah caranya untuk menjauhkan aku dari hal-hal buruk yang berasal dari mereka."


Steven Lou mencium Jiang Lizqi dalam-dalam penuh kehangatan, seolah meneguhkan ikrar bahwa dia akan secepatnya kembali untuk melamarnya. Hari itu, tepat di hari ulang tahun Jiang Lizqi, mereka berpisah sementara demi masa depan yang lebih baik.


Namun, takdir berkata lain. Sepertinya takdir masih ingin menguji kesungguhan dan kebesaran cinta mereka. Keesokkan harinya begitu sampai di Beijing, Steven Lou harus menghadapi kenyataan pahit. Dia mendapat kabar bahwa ibunya mengalami kecelakaan di Kanada dan kondisinya kritis.


Dia mencoba menghubungi Jiang Lizqi untuk memberi kabar, tetapi ponsel gadis itu ternyata tidak aktif. Berapa kali pun dia mencoba selalu gagal. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Ji Yu. Merasa hubungannya dengan pemuda berkacamata itu sudah membaik dia pun meminta Ji Yu untuk memberitahukan tentang kepergiannya ke Kanada.

__ADS_1


Namun, ternyata Ji Yu tidak terlalu peduli. Dia yang saat itu sedang bermain game tidak fokus mendengarkan Steven Lou bicara. Jadi, setelahnya pun lupa bahwa Steven Lou pernah menelepon.


Tanpa mengetahui itu, dengan hati yang lebih tenang karena merasa sudah menitipkan pesan pada orang yang tepat, Steven Lou pun berangkat ke Kanada. Sesampai di sana, dia harus menelan pil yang lebih pahit karena sang ibu ternyata sudah dibaringkan di dalam peti di rumah persemayaman. Hanya menunggu kedatangannya untuk kemudian dikremasi.


Di saat-saat seperti itu tanpa Jiang Lizqi di sisinya, Steven Lou merasa beban batinnya begitu dalam dan berat. Beruntunglah masih ada Lou Haikuan yang cukup bisa menguatkannya.


Seminggu setelah acara pemakaman, Steven Lou mulai dituntut untuk sibuk mengurus pekerjaan. Perusahaan yang dibangun ibunya adalah perusahaan yang memproduksi piranti lunak untuk salah satu ponsel dengan merek cukup ternama.


Proses pengambilalihan kekuasaan memakan cukup banyak waktu dengan agenda pertemuan yang sangat padat. Proyek-proyek yang sedang berlangsung dan butuh penyelesaian segera, pun menjadi kendala bagi Steven Lou untuk bisa segera kembali ke Shanghai.


Bersama Lou Haikuan, dia bahu membahu mengukuhkan perusahaan yang sempat goyah. Goyah karena para investor banyak yang tidak yakin pada kemampuan Steven Lou dalam memimpin perusahaan.


Kesibukan itu belum juga mereda sampai dua bulan kemudian, membuat Jiang Lizqi merasa seperti hidup dalam penantian yang sangat panjang. Jiang Lizqi yang tidak bisa menghubungi Steven Lou karena ponselnya disita oleh sang ayah, hanya bisa mencurahkan isi hatinya di buku harian.


Sebenarnya bisa saja dia kabur dari rumah. Namun, dia sudah berjanji pada Steven Lou untuk patuh dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat ayahnya tambah marah. Jiang Lizqi tidak pernah meragukan cinta dan kesetiaan Steven Lou. Jadi, meskipun pemuda itu belum datang juga hingga sekarang, dia tetap menunggu dengan kepercayaan yang tidak goyah sedikit pun.


Dia justru merasa khawatir kalau-kalau hal buruk telah terjadi. Sesuatu hal yang membuat Steven Lou tidak bisa segera datang. Selama dua bulan lebih Jiang Lizqi hanya menghabiskan waktu untuk membantu orang tuanya mengurus pertanian dan sisanya untuk termenung memikirkan Steven Lou dan menulis buku harian. Hingga tahun berganti Steven Lou belum juga ada kabar.


Di pertengahan bulan Januari, di mana hujan salju terus turun, tiba-tiba saja Ji Yu datang mengunjunginya. Walaupun tidak sebahagia bila Steven Lou yang datang, Jiang Lizqi tetap merasa ada suasana baru yang patut disyukuri.


Xiao Yauran yang berpikir Steven Lou sudah menyerah, diam-diam mengasihani putrinya yang terus muram, dan merasa senang ketika kehadiran Ji Yu bisa membuat Jiang Lizqi tersenyum lagi. Sementara itu, Jiang Hun tidak terlalu ambil pusing. Siapa pun yang datang tidak masalah asalkan bukan Steven Lou.


"Kamu kurus sekali. Apa bajingan itu sudah membuatmu makan hati, huh? Di mana dia? Aku kira sesampai di sini bakal langsung lihat tampang songongnya." Meski sudah bukan musuh lagi, tetapi Ji Yu masih kerap bersikap dan berbicara seolah mereka adalah musuh abadi.


Di rumah hanya berdua karena kedua orang tua Jiang Lizqi sedang pergi berbelanja di kota. Ji Yu berbicara lantang tanpa takut ada yang mendengar. Dia bahkan sepertinya lupa kalau Steven Lou pernah menghubunginya untuk minta tolong.


Udara bulan Januari yang berhiaskan butiran-butiran salju sungguh membekukan. Meringkuk di sudut sofa terbungkus selimut tebal, Jiang Lizqi mendelik pada Ji Yu.


"Dia di Beijing menjemput ibunya." Jiang Lizqi membalas dengan bersungut-sungut.


"Beijing?" Ji Yu tiba-tiba merasa seperti sudah melewatkan sesuatu. Seperti ada yang pernah singgah di ingatan, tetapi terlupakan begitu saja. Namun, sesaat kemudian tiba-tiba dia menceletuk, "Bukannya dia di Kanada?"


"Mana aku tau?" Setelah ucapan spontan itu, tiba-tiba wajah Jiang Lizqi menegang. "Bagaimana kamu bisa berpikir kalau dia di Kanada?"


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2