![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Tidak perlu ada yang berkhianat pun, Lou Haikuan sudah bisa menduga kira-kira di mana Steven Lou sekarang berada.
Steven Lou tidak ingin ditemukan, maka tidak akan ada yang berani menemukannya, atau lebih tepatnya mereka sengaja membiarkan Steven Lou berada di tempat yang menurut dia nyaman untuk menenangkan diri.
Pada hari kedua Steven Lou meninggalkan rumah, Nyonya Lou datang ke kampus untuk menemui Jiang Lizqi. Mereka berbicara cukup lama di kantor, sebagai pemilik universitas, Nyonya Lou tentu saja memiliki satu ruangan khusus di kampus ini.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas saat meninggalkan ruangan, di dalam tas ransel gadis itu ada segepok uang tunai. Nyonya Lou bilang itu adalah untuk biaya hidup Steven Lou selama menumpang di apartemen Jiang Lizqi.
Sebenarnya sudah Jiang Lizqi tolak berkali-kali, tetapi Nyonya Lou juga memaksanya berkali-kali. Daripada tarik ulur tidak selesai-selesai, akhirnya Jiang Lizqi pun mengalah.
Sekarang, sudah hampir satu bulan Steven Lou tinggal bersama Jiang Lizqi dan mereka pun menjadi lebih akrab. Dari Jiang Lizqi, Steven Lou mempelajari beberapa hal yang selama ini tidak pernah ada dalam kamus hidupnya; kesederhanaan, kemandirian, kerendahan hati, hingga keikhlasan.
Steven Lou yang biasa bersikap arogan dan berharga diri tinggi, sedikit demi sedikit mulai bisa menekan egonya. Namun, masih tidak banyak bicara dan justru terkesan lebih pendiam.
Sudah mendengar banyak hal tentang Steven Lou dari Nyonya Lou, Jiang Lizqi pun menjadi lebih bisa memahami karakter dasar pemuda itu. Nyonya Lou bahkan juga bercerita bahwa dulu---waktu masih remaja---pernah tinggal di desa kelahiran Jiang Lizqi dan sempat berteman akrab dengan mamanya.
Dunia ini ternyata begitu sempit. Jiang Lizqi tidak pernah menyangka kalau pihak yang memberinya beasiswa adalah sahabat masa remaja sang mama. Dan sekarang, sepertinya dia juga ditakdirkan untuk terlibat dengan putra sahabat mamanya. Pemuda arogan super menyebalkan. Apakah ini cara membalas budi yang Tuhan takdirkan?
"Hei, Tukang Senyum." Steven Lou memanggil sambil berjalan ke dapur karena Jiang Lizqi sedang ada di sana.
Gadis itu mendengar, tetapi enggan menyahuti, malah asyik bersenandung dalam gumaman sambil menjemur pakaian. Berdiri di ambang pintu, Steven Lou hanya diam terpaku memperhatikan gadis manis itu tanpa berkedip.
"Mau apa? Ngomong saja." Akhirnya Jiang Lizqi bersuara karena bulu kuduknya meremang---sinyal bahwa ada mata yang sedang memandanginya. Membuat risi.
"Besok tidak usah buat sarapan juga tidak perlu antar makan siang buatku." Steven Lou kalau bicara dalam keadaan santai, suaranya justru datar tanpa intonasi. Awalnya Jiang Lizqi sebal, tetapi lama-kelamaan terbiasa juga.
"Kenapa? Mau puasa? Atau sudah bosan mengurung diri dan ingin jalan-jalan?" Ucapannya berakhir bersamaan dengan baju terakhir digantung dan langsung menoleh ke Steven Lou yang bersandar malas di kusen pintu.
"Bukan urusanmu." Steven Lou membalik badan acuh tak acuh, lalu pergi begitu saja.
"Hufh." Jiang Lizqi mencibir, lalu menirukan gaya bicara Steven Lou, "Bukan urusanmu." Kemudian mendelik ke arah pintu seolah pemuda itu masih ada di sana. "Dasar, memangnya siapa yang mengurusmu selama ini?"
"Aku mendengarmu!" Steven Lou berteriak dari ruang depan.
__ADS_1
"Lalu mau apa?! Marah?!" Jiang Lizqi balas berteriak sambil membuka pintu kulkas. "Mau minum apa? Jus apa cola?"
"Cola!" Sesaat setelah menyahut, wajah Steven Lou sedikit syok seperti teringat sesuatu, lalu bergegas bangkit dan melangkah ke arah dapur.
Sesampai di sana dia mendapati Jiang Lizqi masih membungkuk dengan kepala masuk ke kulkas sedang memilih minuman.
"Keluar, aku bisa ambil sendiri."
Dugh
"Aish! Kamu mengagetkanku ...." Suara Jiang Lizqi teredam oleh gigi yang dikatup rapat karena menahan sakit di kepala yang barusan terbentur.
Steven Lou hanya menatap datar, padahal sebenarnya kasihan hanya saja tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
"Aku ... lain kali tidak perlu lagi mengambil apa pun untukku. Kalau aku ingin bisa ambil sendiri." Setelah itu, dia segera mencomot sekaleng minuman cola yang dipegang Jiang Lizqi, lalu buru-buru pergi seperti takut si Tukang Senyum akan berubah pikiran dan merebut cola itu kembali.
"Dasar." Jiang Lizqi menggerutu sambil menggosok kepalanya yang masih sakit.
Dia tidak tahu kalau Steven Lou sudah bertekad mulai detik ini tidak mau menyusahkannya lagi. Si arogan itu ingin belajar melakukan segala sesuatunya sendiri. Karena itulah, tadi dia bilang tidak mau lagi Jiang Lizqi membuat sarapan dan membelikannya makan siang. Dia kasihan melihat gadis itu mengurus semuanya sendiri. Dia pikir, walaupun tidak bisa membantu banyak, setidaknya jangan sampai menjadi beban.
Jiang Lizqi memang tidak mengatakan apa-apa. Namun, Steven Lou menduga bahwa sebenarnya si Tukang Senyum itu selama ini tidak pernah memasak untuk sarapan. Pemikiran tersebut lahir dari lengkapnya persediaan selai dengan berbagai varian rasa dan roti tawar yang tidak pernah alpa.
Dengan begitu berarti Jiang Lizqi mengistimewakan dirinya sebagai tamu, dan untuk menghargai ketulusannya, Steven Lou akan melahap apa pun yang sudah disediakan meski sebenarnya dia tidak suka.
Kemudian, di jam istirahat tengah hari, Jiang Lizqi akan meninggalkan kampus untuk membeli makanan lalu mengantarkan pada Steven Lou dan mereka pun makan bersama. Awalnya Jiang Lizqi kerap mengajak Ji Yu, tetapi karena Steven Lou dan Ji Yu tidak bisa akur, Jiang Lizqi pun tidak pernah lagi mengajaknya.
Di sore hari, setelah kuliah berakhir Jiang Lizqi tidak bisa langsung pulang, tetapi masih harus mengajar murid-murid les privatnya. Secepat-cepatnya Jiang Lizqi sampai di rumah, tidak pernah kurang dari pukul sepuluh malam. Pun, tidak pernah lupa membawa makanan untuk Steven Lou.
Biasanya, selagi si arogan itu menikmati makanan, Jiang Lizqi sudah menyibukkan diri dengan pakaian kotor, memasukkannya ke dalam mesin cuci, setelah itu barulah dia mandi.
Setelahnya, di saat Steven Lou bisa rebahan nyaman di kasur, Jiang Lizqi masih harus berkutat dengan tugas-tugas kuliahnya sembari menunggu mesin cuci selesai mencuci.
Sambil melemaskan persendian leher, Jiang Lizqi berjalan menghampiri Steven Lou yang sedang main ponsel di sofa ruang tamu, lalu duduk di sebelahnya dan bertanya dengan gaya basa-basi,
__ADS_1
"Kapan mulai kuliah lagi?"
"Malas kuliah."
"Terus?" Jiang Lizqi menatap Steven Lou yang lebih asyik memainkan ponsel daripada memberinya atensi.
"Tidak ada terus."
Sekarang Jiang Lizqi mengerti apa yang dimaksud Nyonya Lou dengan kesulitan membangun komunikasi dengan Steven Lou. Diajak bicara serius, tanggapannya acuh tak acuh. Malah lebih asyik bermain ponsel pula. Benar-benar menyebalkan.
"Emh, apa tidak sebaiknya kamu---"
"Kamu ingin aku segera pergi?"
Seperti bisa membaca pikiran, Steven Lou menerka dengan tepat apa yang ingin Jiang Lizqi utarakan. Paling-paling menyarankannya untuk pulang.
"Bukan begitu. Aku tidak keberatan kamu tinggal di sini. Senang malah ada teman. Tapi setidaknya pulanglah---" Suara Jiang Lizqi sempat tersangkut di kerongkongan karena tiba-tiba Steven Lou menatapnya, tetapi tetap dilanjut dengan lirih, "dulu ...." Bibirnya sampai monyong.
Setelah itu, dia duduk lurus menghadap ke depan untuk menghindari tatapan Steven Lou. Buru-buru dia menenggak cola yang sedari tadi hanya dipegangi, sambil diam-diam melirik ke samping. Tentu saja ketahuan karena Steven Lou masih terus menatapnya tanpa berkedip.
"Aku hanya menyarankan. Tidak mau ya sudah. Lagi pula itu bukan urusanku," ujar Jiang Lizqi lirih seperti sedang bicara pada diri sendiri, sambil terus menyeruput minumannya.
"Ikut aku ...."
"Huhf?" Jiang Lizqi refleks menoleh. "Maksudnya?"
"Aku akan pulang kalau kamu ikut denganku." Steven Lou berbicara tanpa intonasi juga tanpa riak di mata dan wajahnya. Seolah apa yang dia katakan barusan adalah perintah mutlak.
Wajah Jiang Lizqi langsung mengernyit dalam, sampai-sampai matanya hampir tertimbun kerutan. Sebenarnya terlihat lucu sekaligus menggelikan, tetapi sayangnya Steven Lou terlalu gengsi untuk tertawa.
"Kenapa begitu? Hanya karena aku mengijinkan kamu tinggal di sini, bukan berarti aku harus bertanggung jawab untuk mengantarmu pulang."
Steven Lou hanya menatap datar sejenak, lalu acuh tak acuh mulai memainkan ponselnya lagi. "Pura-pura jadi pacarku dan bilang pada ibu ingin segera menikah," ujarnya tidak lama kemudian tanpa memberi atensi juga dengan sangat tenang. Seolah apa yang barusan dia katakan itu sesuatu yang lumrah, seperti sedang mengajak sahabatnya makan di kantin.
__ADS_1
Jiang Lizqi hampir menyemburkan minuman yang masih ada di dalam mulut gara-gara ujaran konyol Steven Lou.
[Bersambung]