![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Angin malam hanya sepoi-sepoi, tetapi ketika sepeda motor itu melaju kencang, rasa-rasanya mereka seperti hendak diterbangkan angin topan. Jiang Lizqi semakin mengeratkan pelukan yang membuat Steven Lou merasakan sesak. Namun, tidak jadi penghalang untuk terus melaju.
Kabur dari orang-orang itu bukan karena takut, dia hanya tidak ingin Jiang Lizqi terlibat masalah. Lagi pula, sangat mengherankan kenapa Shen Jiaying dan sang kekasih tiba-tiba tertarik untuk mengusiknya, padahal dia sudah berniat merelakan semua untuk memulai hidup baru yang lebih tertata bersama Jiang Lizqi.
Namun, dengan kejadian ini Steven Lou jadi merasa punya tanggung jawab untuk menuntaskan segala sesuatu yang masih belum tuntas, supaya ke depannya tidak ada lagi kerikil yang menghadang di jalan yang akan dilaluinya.
Kedua sepeda motor itu masih terus mengejar, tetapi pada akhirnya sang pengemudi harus gigit jari karena Steven Lou membelok ke tikungan yang ternyata adalah jalan akses ke area parkir pribadi kompleks apartemen. Setelah melewati palang pintu yang hanya bisa dibuka menggunakan kartu pass, bisa dijamin orang-orang itu tidak akan bisa mengejar lagi.
Kecepatan laju sepeda motor berkurang, Jiang Lizqi langsung mengembuskan napas lega dan menempel lemas pada punggung Steven Lou. Dia tetap bergeming meskipun sudah parkir dan mesin pun sudah dimatikan.
"Jiang Lizqi." Steven Lou memanggil sambil melepaskan helm. Wajah putihnya tampak memerah dan rambut sedikit lepek karena basah oleh keringat.
Karena Jiang Lizqi tidak merespons, dia pun menoleh untuk memeriksa, khawatir terjadi apa-apa padanya. Gadis itu masih memeluknya erat-erat, tangannya gemetaran, dan wajahnya masih terbenam di punggung Steven Lou.
"Hei, kamu oke, kan?" Steven Lou perlahan turun, Jiang Lizqi mau tidak mau melepaskan pelukannya, dan begitu pemuda itu sudah berdiri, dia memeluknya lagi.
"Kalau oke yang kamu maksud aku belum mati. Ya, aku oke. Tapi jantungku tidak oke sama sekali." Suara Jiang Lizqi teredam karena dia membenamkan wajah di dada Steven Lou.
Pemuda itu melingkarkan kedua tangan ke punggung Jiang Lizqi, lalu mendekapnya erat. "Sorry, lain kali tidak akan terjadi lagi." Saat mengatakan itu, tatapan Steven Lou tajam jauh ke depan. Kalian jual, aku beli. Itu mau kalian.
"Apa mereka orang-orang yang sama dengan yang di rumah makan?" Jiang Lizqi mendongak dan ketika Steven Lou menurunkan pandangan, mata bertemu mata, Jiang Lizqi pun langsung bisa merasakan kegelisahan Steven Lou. "Sebenarnya mereka mau apa?"
"Mana aku tahu," ujar Steven Lou santai. "Ayo, naik." Dia membantu Jiang Lizqi turun dari sepeda motor, lalu membopongnya tanpa disangka-sangka.
"Aish, turunkan aku ...."
"Tidak mau. Lututmu masih gemetaran. Jatuh malah lebih merepotkan." Steven Lou berkata acuh tak acuh sambil menatap lurus ke depan.
"Dasar." Jiang Lizqi menggerutu, tetapi tidak menolak lagi, malah tanpa ragu menyamankan kepala di dada Steven Lou.
Status hubungan keduanya memang belum jelas. Namun di keseharian, baik dalam bersikap maupun bertutur kata, mereka sudah menunjukkan peningkatan. Tidak canggung lagi dan kerap melakukan segala sesuatu bersama. Bahkan Ji Yu kerap dengan sarkas menjuluki mereka pasangan suami istri.
Perlu digarisbawahi. Meskipun hubungan Jiang Lizqi dan Steven Lou sudah lebih mesra, tetapi bukan berarti Steven Lou dan Ji Yu juga bisa berteman baik. Tidak sama sekali. Mereka masih saja seperti kucing dan anjing, setiap kali bertemu ada saja yang membuat keduanya saling melotot atau saling mencela.
Untungnya Steven Lou dan Ji Yu sangat jarang bertemu karena Steven Lou sudah tidak kuliah lagi dan kesibukan bekerja di rumah makan menyita hampir seluruh waktunya .
Uang dari hasil balap, event dancing, dan taruhan di arena skateboard memang lumayan, tetapi tidak setiap saat ada acaranya dan belum tentu selalu menang. Jadi, Steven Lou pun lebih fokus mencari uang dengan cara yang lebih jelas dan sudah pasti menghasilkan uang.
Setiap hari dia mengambil dua sif sekaligus, seizin manajernya. Bahkan adakalanya lembur untuk mengantikan rekan sif malam yang karena sesuatu hal tidak bisa datang tepat waktu. Sangat melelahkan memang, tetapi Steven Lou yang sudah berjanji untuk hidup mandiri, justru menganggap semua itu sebagai berkah. Cara pandangnya terhadap hidup dan dunia sudah berubah, tetapi kekerasan hatinya masih sama seperti Steven Lou yang dulu.
Sesampai di depan pintu, Jiang Lizqi turun supaya Steven Lou bisa membuka pintu dengan leluasa. Begitu masuk, Steven Lou melemparkan tas ke sofa, kemudian membantu Jiang Lizqi menarik tasnya dari punggung, lalu melemparkannya juga ke sofa.
__ADS_1
"Kamu mandi dulu," ujar Steven Lou sembari melangkah ke dapur untuk mengambil handuk yang digantung di jemuran, lalu meletakkannya di bahu Jiang Lizqi. Setelah itu, dia melangkah ke kamar.
Jiang Lizqi hanya menurut saja karena sudah terbiasa dengan perlakuan Steven Lou yang sekarang. Dengan kaki yang masih sedikit lemas, dia berjalan ke kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur tanpa membawa baju ganti, karena Steven Lou sedang mengambilkan untuknya.
Tidak lama kemudian pemuda itu kembali membawa piyama milik Jiang Lizqi dan mengetuk pintu kamar mandi. "Lizqi, keluarkan keranjang baju kotornya."
"Dicuci besok saja. Sekarang sudah terlalu malam." Bukan malam lagi, tetapi sudah masuk dini hari. Sudah pukul dua belas lewat.
"Buka pintu."
Pintu kamar mandi dibuka sedikit, Jiang Lizqi hanya mengeluarkan kepala dan tangan kanannya. "Sini bajunya."
Alih-alih memberikan, Steven Lou malah bergeming dan menatap dengan mata menyipit. "Mana keranjang baju kotor?" ulangnya.
"Aku bilang besok saja."
"Minggir."
"Ee, ee, ee! Steven! Aish, kamu ini!"
Steven Lou mendorong pintu, memaksa Jiang Lizqi mundur dan terhimpit di balik pintu. Setelah itu dengan santai dia meletakkan baju gadis itu di rak, lalu keluar sembari membawa keranjang baju kotor.
Jiang Lizqi buru-buru menutup pintu sambil menggerutu, "Dasar keras kepala. Lupa ya kalau kamu itu laki-laki?"
Mendengar itu Jiang Lizqi hanya terkekeh geli, lalu melanjutkan mandi. Sepuluh menit kemudian, saat keluar, dia melihat Steven Lou sedang sibuk di dapur mencuci beberapa peralatan masak kotor yang belum sempat di cuci tadi pagi.
"Biar aku saja. Sana mandi."
Steven Lou menggantung spatula, barang terakhir yang dicucinya, lalu berbalik menghadap Jiang Lizqi. "Selesai," ujarnya, sambil mengacak poni basah gadis itu dan berkata, "Keringkan sampai benar-benar kering baru tidur." Kemudian beranjak pergi.
Jiang Lizqi tersenyum lembut. Perhatian Steven Lou membuat jiwanya seperti dihinggapi musim semi, terasa sangat sejuk dan segar penuh wangi bunga. Terkadang Jiang Lizqi bertanya dalam hati, sebenarnya bagaimana kelanjutan dari kesepakatan mereka waktu itu.
Dulu dia memang hanya bercanda, tetapi akhir-akhir ini terbersit sedikit rasa sesal. Kenapa waktu itu tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh? Steven Lou memang baik dan perhatian, tetapi Jiang Lizqi tidak berani mengartikan lebih sikapnya.
Gadis itu duduk termenung di sofa kamar sambil memegang alat pengering rambut. Tidak dinyalakan, hanya dipegangi saja dan pikirannya mengembara.
"Apa yang kamu lakukan?"
Larut dalam lamunan, Jiang Lizqi sampai tidak menyadari kalau Steven Lou sudah masuk ke kamar.
"Aku ...." Jiang Lizqi tidak tahu harus berkata apa dan pasrah saja ketika Steven Lou mengambil alih hairdryer, lalu membantunya mengeringkan rambut.
__ADS_1
Selama mesin pengering rambut itu berdengung, keduanya hanya membisu. Namun, ketika sudah sama-sama berbaring telentang di tempat tidur, Steven Lou tidak bisa diam saja karena merasa kalau Jiang Lizqi sepertinya sedang gelisah.
"Ada apa?"
Dia menoleh pada Jiang Lizqi yang berbaring sopan dengan kaki lurus dan rapat serta tangan saling bertumpu di atas perut, sedangkan dia sendiri tangan ada di belakang kepala, kakinya satu lurus dan yang satu menekuk ke samping.
Jiang Lizqi pun menoleh, tetapi tidak menjawab pertanyaan Steven Lou. Dia menatap lekat wajah tampan yang dalam beberapa bulan terakhir ini terlihat jauh lebih dewasa dan berkarisma.
Karena gadis itu tidak menjawab, Steven Lou akhirnya berbaring miring, lalu menarik bahu Jiang Lizqi supaya mereka berhadapan. "Soal mereka, tidak usah dipikirkan."
Jiang Lizqi menatap lekat-lekat seolah ingin menguak rahasia yang tersembunyi di balik tatapan teduh Steven Lou. "Apa mungkin Shen Jiaying masih menyukaimu?"
"Kalaupun iya, itu masalah dia bukan masalahku." Steven Lou tampak acuh tak acuh, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Tidak usah berpikir yang tidak-tidak, mending cepat tidur."
Jiang Lizqi tersenyum teduh. "Oke. Ayo, tidur."
Senyum itu hanya pemanis, padahal hatinya sedang khawatir. Bukan khawatir kalau-kalau Steven Lou masih memiliki rasa terhadap mantan kekasihnya. Dia khawatir tentang dirinya sendiri, tentang perasaannya yang semakin hari semakin nyaman berada di sisi Steven Lou.
Jiang Lizqi sudah hendak menarik selimut, tetapi Steven Lou mencekal tangannya. "Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?"
Steven Lou tampak tertekan. Sejak Jiang Lizqi mengatakan bahwa dia akan selalu ada untuknya, maka dari detik itu jugalah Steven Lou bersumpah dalam hati, sekarang maupun di masa depan dan tidak peduli apa pun yang terjadi, Jiang Lizqi adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah disakitinya dengan sengaja. Sekarang gadis itu tiba-tiba tampak tidak bahagia, dia jadi khawatir.
"Tentu saja tidak." Jiang Lizqi kembali tersenyum teduh.
"Lalu kenapa sepertinya kamu tidak bahagia?"
"Apa begitu kentara?"
Steven Lou mengangguk, lalu meraih tangan Jiang Lizqi dan meremasnya lembut. "Jangan sembunyikan apa pun."
Lagi-lagi Jiang Lizqi tersenyum dan jemarinya pun membalas remasan jemari Steven Lou. Dalam genggaman pemuda itu, dia selalu merasa aman, nyaman, karena yakin jemari kukuh itu akan selalu menjaganya apa pun yang terjadi.
Oleh karena itu, dia pun tanpa ragu bertanya, "Apa kamu nyaman bersamaku?"
Steven Lou spontan mengangguk dan Jiang Lizqi kembali bertanya, "Bahagia?"
Kali ini Steven Lou hanya diam terpaku sambil menatap intens, bahkan dahinya sedikit mengernyit. Seperti rembulan tertutup awan, wajah Jiang Lizqi seketika suram. "Kenapa tidak menjawab?"
"Bersama kekasih tentu saja aku bahagia."
"Huh?"
__ADS_1
Jawaban Steven Lou yang tidak Jiang Lizqi sangka-sangka sukses membuat gadis itu melongo dengan mata berkedip-kedip seperti lampu bohlam sekarat.
[Bersambung]