Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
PROVOKASI


__ADS_3

Steven Lou terdiam, bahkan suara isakannya pun seketika berhenti. Belum tahu apa syaratnya, tetapi hati sudah kesal.


"Haruskah?" Nada suaranya sinis.


Nyonya Lou menyergah, "Ibu mohon jangan salah paham dulu," dengan segera meraih jemari putranya, kemudian meremas lembut, "dengarkan dulu," tambahnya.


Hati sudah kehilangan rasa, Steven Lou hanya menatap tanpa minat. Antusiasmenya telah otomatis berkurang saat sang ibu menyebut syarat. Berdasarkan pengalaman selama ini, apa pun yang bersyarat itu selalu identik dengan sesuatu yang tidak mengenakkan.


"Katakan."


Nyonya Lou tersenyum maklum. Kini tangannya mengelus-elus punggung tangan sang putra penuh kelembutan. Manik kecokelatan miliknya menatap teduh nan sendu.


"Ibu mohon, selesaikan dahulu kuliahmu---"


Steven Lou gusar. "Tidak! Aku ke Singapura untuk belajar. Lalu apa gunanya aku ke sana kalau sudah lulus?"


Nyonya Lou terlihat putus asa. "Dengarkan dulu. Ibu belum selesai bicara."


Karena kesal, Steven Lou segera membuang muka. "Aku tidak mau," ujarnya dengan bersungut-sungut.


"Hanya sampai akhir tahun ajaran ini saja. Ibu ingin kamu memiliki sedikit bekal tentang dunia desain...."


"Untuk apa?!" Steven Lou membentak hingga menyebabkan ibunya terlonjak kaget.


Namun, kali ini tersirat jelas tekad di mata dan wajah Nyonya Lou yang terbingkai oleh garis rahang tegas. "Ibu sudah menyetujui keinginanmu. Tidak bisakah kamu memenuhi satu syarat kecil itu?”


"Kecil ibu bilang? Itu terlalu lama!"


"Untuk kali ini ibu tidak bisa mengalah, Steven. Terserah padamu. Menyetujuinya atau tidak sama sekali."


Perkataan sang ibu membuat Steven Lou membeku. Sama, seperti dirinya, perempuan yang telah melahirkannya itu juga memiliki sifat keras kepala yang cukup sulit ditaklukkan. Atau lebih tepat dikatakan bahwa dari sang ibulah dia mewarisi tabiat tersebut.

__ADS_1


Bila selama ini Nyonya Lou terkesan lunak pada Steven Lou, itu karena dia sengaja mengalah. Semua karena rasa bersalah dan cinta, juga karena kasih yang begitu besar terhadap putra semata wayangnya.


Mulut Steven Lou terkatup rapat. Garis rahang tegasnya menonjol jelas dan dari bibir yang hampir tidak bergerak itu terdengar suara lirih penuh penekanan, "Baik. Kalau begitu tidak ke Singapura juga tidak apa-apa! Ajak Kuan Ge saja! Aku mau tidur!"


Setelah itu, dia segera membanting diri ke kasur dan menarik selimut hingga menutup seluruh tubuh. Steven Lou sungguh tidak mengerti, kenapa sang ibu melarangnya ke Singapura. Padahal mereka punya rumah di sana, salah satu perusahaan pun ada di sana, bahkan sang ibu pun lebih sering berada di sana, dan ayahnya pun meninggal di sana. Kenapa sepertinya hanya dia yang tidak diizinkan untuk menginjakan kaki di Negeri Singa itu?


Nyonya Lou menatap sedih. Lagi-lagi dia tidak berdaya menghadapi kelakuan putra tunggalnya. Akan tetapi, demi kebaikan, sekali lagi dia harus tega dan tegas. Walau bagaimanapun, sesungguhnya dia masih tidak rela Steven Lou ke Singapura. Ada terlalu banyak hal yang dia tidak ingin putranya tahu. Negeri Singa itu menyimpan banyak kenangan pahit juga merupakan saksi bisu atas peristiwa besar tentang suaminya dan seseorang yang lain, serta kecelakaan maut yang telah merenggut nyawa mereka.


Setelah mengembuskan napas lelah, sembari menepuk lembut bahu putranya, dengan sabar Nyonya Lou berkata, "Kakakmu sedang di luar negeri. Mungkin satu atau dua minggu lagi baru kembali. Baiklah, tidak apa kalau kamu tidak mau menemani ibu. Sebaiknya bersenang-senanglah, nikmati hari liburmu. Ibu pergi dulu."


Steven Lou bergeming. Di bawah, selimut tinjunya mengepal erat dan gigi bergemeratak. Dia sedang mencoba menahan diri agar tidak berteriak marah. Dia benar-benar geram, seharusnya tadi tidak boleh terlalu cepat merasa senang. Seharusnya dia belajar dari pengalaman, ibunya tidak mungkin mengabulkan keinginannya dengan cuma-cuma.


Setelah mendengar suara pintu menutup, Steven Lou segera menyingkap selimut. Entah apa yang ada di benaknya, dengan tergesa dia bangun lalu melompat turun dari pembaringan dan terus melaju menuju ke kamar mandi. Setelah beberapa saat terdengar suara menggosok gigi dan kumur-kumur serta gemericik air, sosoknya muncul kembali dengan wajah yang lebih segar. Bahkan pucuk hidungnya yang mungil dan bersemu merah muda tampak berkilau.


Setelah mengganti baju tidurnya dengan pakaian kasual sporty berupa kaus berwarna kuning gading dan celana pendek selutut. Mengenakan topi serta kaus kaki dengan terburu-buru dan sebelum menghambur ke pintu, yang terakhir diraihnya adalah  skateboard.


Dengan lincah kaki berbetis langsing, tetapi berotot itu melompat-lompat menuruni anak tangga. Meski tanpa senyum, wajahnya tampak berbinar penuh gairah. Sesampai di anak tangga paling bawah dia berpapasan dengan sang ibu. Namun, tidak mengindahkannya.


Nyonya Lou yang sudah hendak menyapa pun urung karena Steven Lou terus berlalu sembari berlari-lari kecil, seolah sengaja menghindarinya.


Sesampai di depan pintu gerbang, sebuah taksi sudah menunggu. Steven Lou segera masuk. "Paman tidak menyebut namaku, kan?" tanyanya begitu sudah duduk menyamankan diri di kursi belakang kemudi.


Sopir taksi yang ternyata adalah orang yang sama dengan yang tadi menjemput Jiang Lizqi tersenyum bangga. "Anda tidak perlu khawatir. Seperti yang Anda minta, saya mengatakan kalau saya adalah utusan Tuan Lou Haikuan."


Senyum tipis merekah, menyulap berbagai aura negatif yang biasanya menghiasi wajah Steven Lou, sesaat membuatnya terlihat teduh, tulus, dan penuh kehangatan.


Entah apa yang sedang dia pikirkan ketika dengan sadar atau tidak menggigit bibir bawahnya. Karena hal itu biasanya hanya akan dia lakukan bila sedang memikirkan sesuatu yang sangat mendalam.


"Anda ingin diantar ke mana, Tuan Muda?"


Pertanyaan yang diucapkan dengan nada biasa itu cukup mampu membuat Steven Lou yang dalam kondisi sedikit melamun terlonjak kaget. Namun, segera bisa menguasai diri, lalu dengan tak acuh menjawab, "Tempat biasanya."

__ADS_1


"Baik. Dijemput jam berapa?"


"Tidak perlu. Setelah ini sebaiknya Paman pulang dan jam empat nanti jemput si Tukang Senyum itu saja."


"Baik, Tuan Muda."


Sekitar lima belas menit kemudian, taksi berhenti di mulut gang yang menuju ke area khusus bermain skateboard. Steven Lou turun dan setelah mewanti-wanti si sopir supaya jangan lupa menjemput si Tukang Senyum, dia segera berlalu.


Sesampai di tempat tujuan, Steven Lou seketika kehilangan semangat karena ternyata Shen Jiaying juga berada di sana, begitupun  dengan kekasihnya. Dia sudah memutar badan dengan niat hendak pergi, tetapi urung saat suara yang sangat familier itu berteriak padanya,


"Aku menantangmu, Steven Lou!"


Hati Steven Lou geram bukan kepalang. Sehebat apa pun dia bisa bermain skateboard, tetapi cukup sadar diri kalau kemampuannya masih jauh di bawah Shen Jiaying. Mantan pacarnya tersebut tahu betul tentang hal itu. Seorang pakar biasanya tidak akan tertarik bertanding dengan yang kemampuannya tidak selevel. Kecuali karena dia memiliki suatu tujuan.


"Apa yang bisa kamu banggakan jika menang dariku yang tidak mahir ini? Katakan saja, apa tujuanmu sebenarnya tidak usah bertele-tele."


Shen Jiaying terkekeh sarkas. "Hei, Steven. Bersikap sopanlah, jangan memunggungi orang yang sedang berbicara padamu."


"Aku tidak berminat." Setelahnya, Steven Lou sudah hendak mengayun kaki, tetapi kembali urung kala suara itu melontarkan provokasi.


"Hooo, ternyata selain anak mami, kamu juga seorang pengecut dan pecundang."


Serta-merta Steven Lou memutar badan, dengan wajah garang dan mata nanar menatap Shen Jiaying yang sedang menyeringai puas juga licik.


"Taruhannya apa?" pertanyaan itu meluncur dari antara gigi yang terkatup rapat.


Masih dengan seringai yang menghiasi bibirnya, Shen Jiaying menjawab, "Jika aku menang, maka kamu harus mentraktir aku dan teman-temanku minum di bar langganan kami dan ... kamu juga harus minum bersama kami."


Steven Lou tersenyum sinis. "Yakin sekali. Jangan meremehkan aku."


"Well. Buktikan kalau begitu dan jika kamu bisa mengalahkan aku, minta saja apa yang kamu inginkan."

__ADS_1


Steven Lou tidak berkata apa-apa. Matanya saja yang menatap penuh kebencian dan jujur saja hatinya meragukan diri sendiri. Lebih tepatnya meragukan kemampuannya.


[Bersambung]


__ADS_2