Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
TERLALU PAHIT UNTUK DITELAN


__ADS_3

Tanpa terasa, lima tahun telah terlewati. Tidak banyak warna duka dalam jalinan kisah kasih Steven Lou dan Jiang Lizqi. Keduanya hidup bersama layaknya partner yang sesungguhnya. Mereguk manisnya madu asmara tanpa ada yang menghalangi, tetapi tetap tahu batasan.


Sembari menunggu Steven Lou lulus, Jiang Lizqi bekerja di sebuah perusahaan advertising yang cukup ternama. Sebagai lulusan terbaik dan terbukti nyata memang cakap, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan itu.


Setelah lulus, Steven Lou berencana untuk melamar Jiang Lizqi. Kemudian membawanya menikah di Kanada dan menetap di sana. Namun, kenyataan tidak seindah ekspetasi. Kisah kasih yang terjalin indah selama lima tahun lebih akhirnya sampai di titik ujian yang paling rawan. Sekarang adalah saatnya bagi para pejuang cinta untuk berhadapan dengan rintangan yang sesungguhnya.


"Lizqi, kemarilah." Xiao Yauran memanggil putrinya yang tengah duduk bercengkerama dengan sang papa dan Steven Lou di ruang tengah. Di tangan perempuan itu ada cheongsam baru warna biru muda.


Kali ini Steven Lou menginap di rumah Jiang Lizqi karena Ji Yu sudah bekerja di luar kota dan tidak bisa pulang. Awalnya, Jiang Hun sempat menentang karena khawatir pada pandangan orang lain. Namun, ketika Jiang Lizqi mengatakan bahwa Steven Lou hanya datang untuk merayakan ulang tahunnya, pria itu pun mengizinkan walau dengan berat hati.


Jiang Lizqi berdiri di hadapan mamanya, menatap dengan mata menyipit dan dahi pun mengernyit. "Baju untukku?"


Hanya merayakan ulang tahun dengan makan malam bersama, kenapa mesti repot-repot membeli baju baru. Sebelum-sebelumnya pun tidak pernah, bahkan waktu masih kecil pun tidak. Xiao Yauran paham pada ekspresi wajah putrinya, tetapi hanya tersenyum misterius tanpa ada niat menjelaskan.


Namun, Jiang Hun tidak bisa menahan diri dan berkata, "Tentu saja untukmu. Baju itu ada sepasang. Pasangannya ada pada Huang Mingkun."


Mata Steven Lou langsung melebar menatap Jiang Lizqi begitu pun sebaliknya. Perasaan keduanya juga seketika tidak enak karena sudah bisa meraba ke mana arah perkataan Jiang Hun.


"Ke-kenapa aku dan dia harus memakai baju pasangan?" Sudah tahu, tetapi Jiang Lizqi masih ingin memastikan dan berharap jawaban papa dan mamanya tidak seperti yang dia pikirkan.


Karena walau bagaimanapun, setelah penolakannya waktu itu kedua orang tuanya tidak pernah lagi membicarakan soal perjodohan. Dia pikir sudah dibatalkan, ternyata malah seperti bom waktu. Menunggu saat yang tepat, saat yang sudah ditentukan untuk meledak.


Ketika Jiang Hun berkata, "Di makan malam nanti kalian akan bertunangan. Jadi wajar kalau pakai baju pasangan, kan?" Sambil bicara matanya mengerling sinis Steven Lou.


Dunia Jiang Lizqi dan Steven Lou seperti runtuh seketika. Tiba-tiba saja keduanya merasa seperti berada di ruang hampa udara, dada sesak, kepala serasa kosong dan pusing karena tidak mendapat cukup pasokan oksigen.


Keduanya sudah siap memperjuangkan cinta mereka, tetapi tidak menyangka kalau masalah itu akan muncul sebelum Steven Lou sempat mengutarakan tujuan kedatangan yang sebenarnya. Rasanya seperti segala yang sudah direncanakan jadi berantakan karena kelalaian mereka sendiri.


"Tidak!" Satu kata itu terlontar begitu saja dari mulut Jiang Lizqi.


Jiang Hun dan Xiao Yauran menatap terpaku pada Jiang Lizqi yang wajahnya kini tampak pucat.


"Ke-kenapa tiba-tiba? Kenapa tidak dibicarakan terlebih dulu?" Suara Jiang Lizqi goyah, kedua telapak tangannya mengepal. Tatapan mengiba tertuju pada Steven Lou yang wajahnya juga pucat pasi seperti tidak dialiri darah.


"Bukankah kita sudah pernah membicarakan soal itu, Lizqi?" Xiao Yauran berkata lembut sambil mengelus lengan putrinya yang gemetaran.


"Bukankah waktu itu aku sudah menolaknya? Ma, aku belum siap---"


"Lalu kapan kamu akan siap, huh?" Jiang Hun bangkit, lalu menghampiri istri dan putrinya.


Steven Lou pun perlahan bangkit, tetapi hanya berdiri siaga di tempat. Dia pikir, dirinya dan Jiang Lizqi sudah berjanji untuk berjuang bersama. Jadi, apa pun yang akan terjadi dia harus siap maju untuk melindungi pujaan hatinya.

__ADS_1


Lagi pula, bukankah tujuannya datang kali ini memang untuk melamar Jiang Lizqi? Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengutarakan maksudnya.


"Aku tidak mencintai Huang Mingkun, aku yakin dia juga tidak mencintaiku. Kami pernah tumbuh bersama seperti saudara---"


"Omong kosong apa itu?!" Jiang Hun meninggikan suaranya. Jiang Lizqi dan Xiao Yauran sampai menjengit, sedangkan Steven Lou refleks melangkah menghampiri Jiang Lizqi dan berdiri di sampingnya.


Kehadiran Steven Lou di dekatnya adalah hal biasa dan saling menggenggam tangan pun sudah kebiasaan. Refleks dan seirama, begitu saling berdekatan tangan keduanya pun langsung bertaut. Membuat JiangĀ  Hun dan Xiao Yauran menatap nanar.


"Jadi benar dugaanku. Mana ada laki-laki dan perempuan bersahabat sampai seperti kalian? Kalian pikir aku bodoh?!" Jiang Hun mendekat dengan wajah memerah, sedangkan Xiao Yauran berdiri gemetar di tempat.


Perempuan itu sebenarnya sudah lama merasa ada yang aneh dengan hubungan Jiang Lizqi dan Steven Lou. Namun, tetap diam dan terus mencoba berpikir bahwa mereka sungguh-sungguh hanya sebatas sahabat.


"Paman, sebaiknya kita bicara sambil duduk biar lebih santai."


Jiang Lizqi menatap Steven Lou dengan sorot mata penuh kekaguman. Sementara dirinya sendiri sudah gemetaran hanya dengan tatapan tajam papanya, Steven Lou malah terlihat sangat tegar. Suaranya tidak goyah sedikit pun, bahkan cenderung tegas dan tetap tersirat rasa dingin.


Tanpa mengatakan apa pun Jiang Hun membalik badan, lalu melangkah menuju sofa. Jiang Lizqi dan Steven Lou mengikuti sambil berpegangan tangan, sedangkan Xiao Yauran masih terpaku di tempat, seperti enggan bergabung dalam percakapan.


Baru saja Jiang Hun menyamakan diri di sofa, sedangkan Steven Lou dan Jiang Lizqi masih melangkah, tiba-tiba kehebohan terjadi.


"Lizqi! Lizqi!" Seorang gadis menghambur masuk sambil berteriak-teriak sekaligus menangis histeris.


Tanpa menghiraukan Jiang Hun yang terperangah, gadis itu langsung mendatangi Jiang Lizqi, lalu memegangi kedua lengannya hingga membuat Steven Lou tersapu minggir.


Jiang Hun dan Xiao Yauran syok sampai tidak bisa berkata-kata. Gadis itu adalah teman masa kecil Jiang Lizqi juga, namanya Lingling.


"Lingling, tenanglah. Aku baru saja tahu rencana mereka. Aku tidak pernah ingin menikah dengan Huang Mingkun."


Gadis itu segera melepaskan diri dari pelukan Jiang Lizqi, lalu menatapnya dengan mata basah yang berbinar. "Kamu menolaknya? Itu bagus! Lizqi, kamu memang sahabat terbaikku!" Lingling memeluk Jiang Lizqi erat-erat sambil menangis bercampur tawa.


"Lingling!" Seorang laki-laki muda menerobos masuk, begitu melihat orang-orang yang berada di ruang tengah, dia langsung terpaku di tempat. "Pa-paman, Bibi ...." Dialah Huang Mingkun.


"Jelaskan! Bagaimana bisa jadi seperti ini?! Bukankah kamu sudah setuju untuk menunggu Lizqi?!" Jiang Hun murka, sampai-sampai tubuh gemetaran dan wajahnya merah padam.


Pemuda yang postur tubuhnya lebih kecil dari Steven Lou itu membungkuk khusuk. "Maafkan aku, Paman. Awalnya aku pikir tidak apa-apa menunggu. Tapi kemudian aku merasa tidak ada gunanya menunggu seseorang yang tidak pernah mencintaiku."


"Lalu kenapa tidak mengatakannya?! Kenapa membiarkan aku dan orang tuamu tetap melakukan persiapan hanya untuk sesuatu yang sia-sia?!" Jiang Hun seperti mau meledak saja rasanya.


"Aku tahu aku salah Paman, tapi---"


"Pergi! Bilang pada orang tuamu untuk tidak pernah muncul lagi di hadapanku! Pergiii!"

__ADS_1


Jiang Hun yang sedang meradang seperti ini, siapa pun tidak akan ada yang berani mendekatinya. Huang Mingkun pun seperti menciut dan buru-buru membawa Lingling pergi.


Sepeninggal mereka, Jiang Hun menatap Jiang Lizqi sejenak, lalu beralih menatap Steven Lou lekat-lekat. Mata laki-laki paruh baya yang biasa menatap Steven Lou dengan kekaguman, tiba-tiba berubah seperti mata monster yang menatap mangsa buruan.


"Kamu," ujarnya penuh penekanan dengan seluruh tubuh gemetar. "Selama ini aku membiarkanmu berteman dengan Lizqi karena aku pikir kamu tidak bersalah. Tapi ternyata aku salah. Kamu sama saja seperti ibumu. Pembawa bencana dalam keluarga Jiang."


Steven Lou membeku. Kata-kata Jiang Hun membuat hatinya gelisah karena ada rasa tidak terima tiba-tiba ibunya yang tidak tahu apa-apa dibawa-bawa dalam hal ini. Dia sungguh tidak mengerti.


Xiao Yauran mengelus lengan suaminya. "Pa, mama mohon jangan---"


Pria yang sedang dikuasai amarah itu membentak, "Dia harus tahu kalau keturunan Lin tidak akan pernah diterima di Keluarga Jiang!"


Xiao Yauran sampai terlonjak, begitu pun Jiang Lizqi, tetapi Steven Lou tidak. Pemuda itu menatap Jiang Hun lekat tanpa berkedip. "Margaku Lou, bukan Lin," ujarnya datar.


Jiang Hun tersenyum sinis. "Aku tidak peduli pada margamu. Yang aku tahu, Lin yang darahnya mengalir dalam tubuhmu adalah orang-orang yang sudah membunuh adik laki-lakiku!"


"Pa---"


Jiang Lizqi menyela mamanya, "Apa hubungan Keluarga Lin dan Steven, Pa? Steven bahkan tidak mengenal mereka."


Lagi-lagi Jiang Hun tersenyum sinis. "Kamu tidak tahu siapa nama ibumu?"


Steven Lou merasa seperti sedang diadili dan begitu menyadari bahwa Lin adalah marga keluarga ibunya, dia seperti langsung mendengar suara ketuk palu putusan bersalah tanpa tahu apa kesalahannya.


"Sudah tahu sekarang?" Jiang Hun menatap nanar. "Lin Yunlian adalah perempuan yang dicintai adikku. Tentu saja mereka saling mencintai."


Nada bicara pria itu penuh dengan sarkasme dan cemoohan, membuat Steven Lou bisa merasakan luka dari harga diri yang telah dikoyak, juga dendam dari rasa sakit yang sangat dalam. Apakah ibunya sudah berkhianat demi bisa menikah dengan ayahnya?


"Kakek dan nenekmu yang rakus harta, memisahkan mereka dan menikahkan putrinya dengan putra seorang pengusaha kaya-raya dari kota."


"Steven tidak tahu apa-apa. Papa tidak bisa---"


"Lizqi, cukup!"


Jiang Lizqi bungkam, tidak melanjutkan perkataannya bukan karena peringatan sang mama, melainkan karena tatapan papanya yang tajam seperti ingin mencabik-cabik itu terarah padanya. Gadis itu menelan ludah dengan suyah payah dan semakin merapat pada Steven Lou.


"Tahu atau tidak, selama darah Lin mengalir dalam tubuhnya, dia tidak diterima di Keluarga Jiang! Apa kamu tahu apa yang sudah kakek nenekmu lakukan? Untuk memaksa putrinya menikah, mereka menggunakan adikku sebagai alat untuk mengancam. Tapi setelah putrinya setuju untuk menikah, nyawa adikku tetap diambil. Mereka membunuhnya, tapi dibuat seolah-olah seperti kecelakaan."


Mendengar semua itu, Steven Lou tiba-tiba merasakan tubuhnya seperti balon udara. Ringan melayang-layang. Dia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Ibunya, sekali lagi perempuan itu dengan tidak sengaja telah menempatkannya dalam masalah rumit yang berpotensi besar membuatnya kehilangan seseorang yang sangat dia cintai.


Sepertinya, perempuan itu melahirkan Steven Lou bersama dengan banyak kutukan. Kutukan atau karma dari perbuatan jahat kakek neneknya.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2