![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Lou Haikuan dan Paman Ping tidak menghiraukan teriakan pemududa itu.
"Paman Ping, di mana dia?" tanya Lou Haikuan sambil celingukan.
"Mari ikuti saya."
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, Ji Yu sudah menghadang. "Apa yang kalian cari?" tanyanya galak. "Seenaknya saja masuk rumah orang!"
"Ini darurat," jawab Lou Haikuan singkat dan asal-asalan sambil terus melangkah mengikuti Paman Ping.
Ji Yu tidak kuasa mencegah dan akhirnya pun mengekor keduanya berjalan tergesa-gesa ke kamar Jiang Lizqi. Saat pintu dibuka oleh Paman Ping, pemandangan yang menyapa penglihatan membuat mereka terkejut hingga hanya mampu berdiri terpaku di ambang pintu.
Melihat posisi kedua orang yang berada di sana, rasa haru sekaligus miris seketika menyelimuti hati Lou Haikuan. Steven Lou tidur dengan lelap di atas pembaringan, sementara Jiang Lizqi tidur dalam posisi duduk dengan kepala terkulai miring di tepi ranjang. Jemari tangan kiri Jiang Lizqi bertaut dengan jemari tangan kanan Steven Lou. Pemandangan manis yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya salah paham.
Apa mereka berpegangan tangan sepanjang malam? Lou Haikuan membatin.
Sebelum dia dan Paman Ping sempat melangkah masuk, tiba-tiba Ji Yu menerjang membelah keduanya, masuk dan langsung menghampiri Steven Lou dengan wajah garang.
"Apa yang dilakukan manusia songong ini di sini? Seenaknya saja tidur di ranjang sementara Qiqi tidur di bawah. Hoe, bangun!" Ji Yu berteriak kesal sambil menyentak bahu Steven Lou. Sangat jelas terlihat tidak menyukai Steven Lou. Dia dengan kasar menyingkap selimut, lalu dengan kasar pula menyentak lengannya.
Akan tetapi, sebelum tangannya yang hendak menarik kaki Steven Lou sampai pada sasaran, sudah dicegah oleh tangan kokoh yang menggenggam erat pergelangannya. Ji Yu menatap nanar Lou Haikuan. "Kenapa mencegahku? Manusia songong ini sudah keterlaluan!"
"Apa kamu tidak melihat kalau dia sedang tidur?" Lou Haikuan balik bertanya dengan suara halus karena tidak ingin membuat keributan.
Akan tetapi, Ji Yu yang sedang marah tidak peduli dan kembali gusar. "Memangnya aku peduli? Enak saja dia tidur di kasur, sedangkan Qiqi harus tidur di lantai. Perlu Anda tahu dari sejak pertama kali bertemu hingga sekarang, manusia songong arogan ini selalu menyusahakan Qiqi."
Lou Haikuan tidak bisa membantah. Dalam hati meyakini bahwa perkataan pemuda itu benar adanya, tetapi juga merasa tidak rela adik kesayangannya dikata-katai seperti itu. Untuk membalas sikap kasar pemuda berkacamata itu alih-alih berkata kasar, dia justru merendah. Sambil membungkuk kecil, Lou Haikuan berucap, "Atas nama adikku, aku minta maaf."
__ADS_1
"Enak saja minta ma---" Tiba-tiba Ji Yu berhenti bicara. Rahang mendadak kaku, mulutnya pun tetap terbuka seolah engsel macet. Tatapan marah pun seketika berubah syok.
Adik? Dia tadi bilang adik. Oh tidak. Batinnya miris sambil mengatupkan mulut, lalu meneguk ludah gugup. "A-anda, kakaknya dia?" tanyanya dengan wajah tolol memelas yang mengundang belas kasihan.
Lou Haikuan tersenyum ramah sembari mengangguk kecil. "Yups. Orang yang kamu bilang songong itu adikku. Lebih tepatnya adalah adik sepupu." Ada nada sarkas dalam perkataannya.
Menyadari bahwa Lou Haikuan sengaja mengatakan itu untuk menyindirnya, Ji Yu hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Perhatian mereka masih fokus pada Ji Yu hingga tidak ada yang menyadari kalau Steven Lou sudah bangun karena terusik oleh suara Ji Yu dan Lou Haikuan yang cukup berisik. Sejenak pemuda itu bingung karena lupa di mana berada. Dengan pandangan sedikit kabur dia menatap sosok-sosok familier yang berdiri di sekitarnya.
Dia kembali memejamkan mata ketika merasa silau dan berikutnya tertawa sarkas dalam hati kala mendengar perkataan Ji Yu, "Maaf, saya tidak bermaksud mengatai adik Anda. Hanya saja, dia ... dia ... dia memang sangat menyebalkan."
Lou Haikuan terkekeh ringan. Dia tidak menyangka pemuda berwajah culun yang sedang gugup tersebut tetap berani berkata sejujur itu setelah mengetahui bahwa dirinya adalah kakak Steven Lou.
"Aku tahu. Tapi percayalah, dia sebenarnya tidak seburuk itu."
Ji Yu mencibir sambil menggerutu, "Tidak seburuk itu apanya? Mengerikan malah."
Tanpa sadar dia mengepalkan kedua tinjunya. Pada saat itulah Steven Lou baru menyadari kalau ada yang sedang menggenggam jemari tangan kanannya. Perlahan dia membuka mata, lalu mengarahkan pandangan ke samping kanan. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendapati tangannya sedang berpegangan dengan tangan Jiang Lizqi. Namun, sebelum dia sempat menghela napas juga melepaskan tangan, suara Paman Ping sudah mengundang yang lain untuk memberi atensi padanya.
"Tuan Muda, Anda sudah bangun."
Steven Lou refleks menarik tangannya dengan kasar, lalu meletakkannya di atas perut. Matanya menatap tidak fokus ke orang-orang yang berdiri mengelilinginya. Sebentar memandang Ji Yu, kemudian beralih ke Lou Haikuan, Lalu ke Paman Ping. Begitu terus berlangsung hingga Lou Haikuan menghampiri dan duduk di sampingnya.
Ji Yu tidak peduli pada Steven Lou atau apa yang telah terjadi padanya, juga alasan bagaimana dia bisa berada di apartemen Jiang Lizqi. Pemuda itu segera menghampiri sang sahabat dan berjongkok di sampingnya.
"Qiqi, bangun."
__ADS_1
Dia menepuk-nepuk punggung Jiang Lizqi berusaha membangunkannya. Akan tetapi, yang bersangkutan bergeming sama sekali. Semua mata kini tertuju kepada Jiang Lizqi yang tampak pulas dengan mulut sedikit terbuka.
Steven Lou bangun dari baring dengan bantuan Lou Haikuan. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, tetapi dia tidak mengaduh ataupun merintih karena tidak ingin menarik simpati siapa pun. Saat menatap wajah letih Jiang Lizqi, hatinya terenyuh. Walaupun tidak sepenuhnya sadar, tetapi dia tahu kalau semalaman si Tukang Senyum itu sudah merawatnya.
"Masalah apa yang sudah kamu berikan padanya, hah?"
Steven Lou tersentak saat suara Ji Yu tiba-tiba menggelegar. Dia menatap tajam dengan wajah angkuh untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Membuat Ji Yu semakin kesal karena merasa Steven Lou sama sekali tidak memiliki kerendahan hati.
"Lihatlah dirimu ... di atas, sementara dia seorang gadis harus tidur dengan cara seperti ini! Memangnya kamu siapa?! Dia punya hutang apa padamu?! Dasar arogan songong, selalu saja menyusahkannya!"
Walaupun dalam hati mengakui Steven Lou pantas dimarahi, tetapi Lou Haikuan merasa tidak terima adik sepupunya dikata-katai seperti itu. Baginya, perkataan Ji Yu sudah keterlaluan. Padahal pemuda itu tidak tahu akar permasalahannya.
Lou Haikuan sudah hendak berbicara, tetapi urung karena Paman Ping mendahuluinya, "Anda tidak boleh berkata begitu. Tuan muda tidak seburuk yang Anda kira. Dia perhatian terhadap---"
"Cukup Paman!"
Steven Lou hanya bermaksud berkata tegas untuk menghentikan ocehan pak sopir, tetapi nada yang terlontar justru tinggi seperti orang marah dan berhasil mengusik tidur Jiang Lizqi.
Gadis itu mengerang kecil, kemudian perlahan membuka mata. Sayu, menatap lurus ke depan sejenak. Dia sempat merasa seperti ada yang kurang, tetapi karena masih mengantuk akhirnya kembali memejamkan mata.
Ji Yu dan yang lain hanya menatap dalam diam, menunggu apa yang akan terjadi pada gadis itu. Kembali tidur atau bangun. Beberapa detik kemudian mereka mendapatkan jawabannya.
Jiang Lizqi mendadak mengangkat kepala dan menegakkan tubuh sambil berseru panik, "Astaga, Steven! Di mana di---"
Sisa kalimatnya menguap begitu saja ketika matanya bersitatap dengan orang yang sedang dicarinya. Sembari menepuk dada yang rasanya seperti digedor dari dalam, dia mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Aku pikir kamu hilang."
__ADS_1
Steven Lou rasa-rasanya ingin menangis melihat orang yang selama ini dia benci tampak begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun, ego tidak mengizinkan air matanya jatuh. Dia hanya menatap kaku tanpa ekspresi seperti biasanya, apalagi di dalam sana rasa malu otomatis menggerayangi sanubari ketika teringat Jiang Lizqi sudah melihat dan menyentuh tubuhnya yang tanpa busana.
[Bersambung]