Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
TERIMA KASIH LIZQI


__ADS_3

Dahulu, halaman belakang ini adalah wahana bagi keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu bersama di kala senja hampir menyapa. Dirinya, suami, dan sang putra. Masih terngiang derai tawa bahagia Steven Lou kecil saat berhasil meluncur dengan mulus dari papan perosotan.


Terputar kembali kenangan kala kaki-kaki mungilnya dengan lincah berlari saat menghindar dari kejaran sang ayah. Namun, pada akhirnya kedua lutut Steven Lou menapak pada permukaan lantai area bermain karena jatuh tersungkur dan bocah itu pun menangis.


Dirinya bergegas hendak menolong, tetapi sang suami sudah mendahului, mengangkat si kecil dan mendudukkannya di bahu. Tangis Steven Lou pun seketika sirna dan berganti tawa bahagia. Kini, semua kenangan itu hanyalah tinggal kenangan yang sangat menyesakkan dada bila terlintas kesadaran bahwa segalanya tidak akan mungkin terulang.


Steven Lou-nya sudah bukan lagi bocah yang lucu dan menggemaskan. Sekarang dia adalah pemuda arogan, keras kepala, tidak banyak bicara, dan selalu bersikap dingin padanya.


Nyonya Lou, tidak pernah menyangka bahwa keputusan yang dia ambil waktu itu akan membuat dia kehilangan kasih sayang dari putranya. Padahal sejatinya, apa pun yang dia lakukan adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan Steven Lou.


Laksana terperosok ke dalam lubang yang telah digalinya sendiri, Nyonya Lou kini hanya bisa menyesali diri. Untuk menceritakan kebenarannya kepada Steven Lou terlalu sulit. Dulu dia selalu menunda-nunda dengan alasan belum siap. Sekarang, setelah Steven Lou mengetahui semuanya secara tidak sengaja, segalanya menjadi lebih buruk.


"Ibu." Suara itu berasal dari alam lamunan, tetapi Nyonya Lou tersentak seolah benar-benar mendengarnya.


"Steven." Perempuan itu bergumam sambil menoleh ke belakang.


Namun, tidak ada siapa pun di sana dan tidak mungkin ada. Karena di belakangnya adalah tembok pembatas dengan rumah tetangga.


Aku ingin menjadi, seperti ayah!


Suara Steven Lou kecil yang sebenarnya hanya berasal dari ruang memori, pun membuatnya kembali tersentak dan segera berpaling pada area bermain. Samar-samar kilasan bayang-bayang masa lalu yang terurai dari tempatnya tersimpan, kembali hadir laksana film yang diputar ulang.


Steven Lou yang masih kecil sangat mengidolakan ayahnya. Setiap kali selalu mengatakan 'aku ingin seperti ayah' atau 'aku akan menggantikan ayah'.


Tidak sanggup menahan pedih yang begitu menyiksa, akhirnya Nyonya Lou kembali menangis sejadi-jadinya.


"Semua ini salahmu! Kalau saja kamu menolak perjodohan itu, aku dan Steven tidak akan pernah mengalami semua ini!" Seperti sudah tidak sanggup menahan berat tubuh, Nyonya Lou merosot dan bersimpuh di arena bermain. Terus menangis dan menangis.


Waktu terus beranjak tanpa peduli kita siap melangkah bersamanya atau tidak. Setiap pilihan pasti ada risiko dan konsekuensinya masing-masing.


Steven Lou telah memutuskan dan bersumpah dalam hati, apa pun yang terjadi, akan konsisten dan berkomitmen dengan keputusannya tersebut.


Sesampai di apartemen sudah cukup larut karena tadi Steven Lou meminta diturunkan agak jauh dari apartemen dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Setelah mandi, Jiang Lizqi mengoleskan salep ke pipi Steven Lou yang memerah.


Sepanjang perjalanan tadi hinga sekarang, pemuda itu tidak berbicara sama sekali dan Jiang Lizqi pun tidak ingin mengusiknya. Sekarang keduanya berbaring miring saling membelakangi. Suasana hening yang biasanya tidak mereka pedulikan, mendadak terasa sangat menyedihkan, seperti ada aura melankolis bertebaran di udara. Keduanya bisa mendengar suara tarikan napas satu sama lain dengan sangat jelas dan sama-sama menyadari kalau suasana hati pun saling mempengaruhi.


"Aku ingin bekerja," ujar Steven Lou tiba-tiba dengan suara lirih dan parau.

__ADS_1


"Bagaimana kuliahmu."


Jiang Lizqi pikir, Steven Lou akan tersinggung bila ditanya tentang kompetensi apa yang dimilikinya sehingga berani mengatakan ingin bekerja. Jadi, dia menanyakan hal lain yang berkaitan, tetapi tidak berpotensi menyinggung.


"Aku akan pindah kuliah di tempat lain."


Jiang Lizqi perlahan berbalik menghadap punggung Steven Lou, lalu berkata, "Lakukan apa pun yang kamu mau, asal tujuannya baik. Kamu harus bisa membuktikan ucapanmu."


Akhirnya Steven Lou pun berbalik dan kini mereka berhadapan, saling menatap. Dari tarikan napasnya yang berat dan terasa goyah saat diembuskan, Jiang Lizqi tahu pemuda itu sedang mencoba menahan diri untuk tidak menangis. Dia benar-benar berusaha tegar sampai-sampai matanya yang menyimpan lara itu tidak berembun sama sekali.


Menuruti iba hati, Jiang Lizqi perlahan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi putih Steven Lou yang masih ada cap empat jari. "Kamu tidak sendiri, karena aku akan selalu menemanimu. Atau setidaknya, setiap kali kamu butuh aku pasti ada."


Tiba-tiba Steven Lou merasa dadanya membengkak hingga rasanya menyumbat leher. Perlahan dia menangkup tangan Jiang Lizqi yang ada di pipinya, lalu menggenggam erat-erat.


"Maaf," ujarnya lirih dengan suara goyah. Kali ini dia tidak sanggup lagi menahan air matanya. "Sudah menyusahkan ...." Suaranya tersekat di kerongkongan dan tidak mampu lagi bicara.


Jiang Lizqi tersenyum tulus. "Anggap tidak pernah terjadi. Lupakan saja semua yang tidak menyenangkan. Mulai hidup baru."


Tidak sanggup berkata-kata, Steven Lou hanya bisa meremas jemari Jiang Lizqi erat-erat, seolah mempercayakan diri sepenuhnya pada pegangan paling kukuh yang tidak akan pernah patah dan mengkhianatinya.


Sudah susah payah menahan isak, tetapi karena pertanyaan konyol itu akhirnya tangis Steven Lou pecah bersamaan dengan dengkusan yang terlontar. Pada akhirnya, toh, dia benar-benar membenamkan diri dalam pelukan Jiang Lizqi dan mencoba menata perasaan serta mengendalikan tangisnya.


Mulai dari titik inilah kehidupan baru Steven Lou dimulai. Dia menjadikan hobinya sebagai ladang uang, balap, skateboard, dan nge-dance. Bahkan dia juga mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah rumah makan cepat saji.


Setelah berdiskusi dengan Jiang Lizqi, akhirnya dia memutuskan untuk kuliah mulai dari semester awal di tahun ajaran baru nanti, dengan mengambil jurusan bisnis manajemen. Steven Lou benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan Nyonya Lou. Namun, masih mau bertemu Lou Haikuan.


Seminggu kemudian, Lou Haikuan datang untuk memberikan sepeda motor serta skateboard baru sebagai hadiah. Awalnya Steven Lou menolak keras, tetapi ketika Lou Haikuan mengatakan bahwa itu adalah hadiah sekaligus kenang-kenangan darinya sebelum pindah dan menetap di Singapura, Steven Lou pun bersedia menerimanya.


Jiang Lizqi sempat berpikir, setelah peristiwa itu, Nyonya Lou bakal mendatanginya di kampus seperti waktu itu. Namun, setelah sebulan berlalu, ternyata dia tidak pernah muncul.


Hari Jumat, Jiang Lizqi selalu pulang lebih awal. Begitu keluar dari lift, dia langsung dikejutkan oleh Nyonya Lou yang tengah berdiri di depan pintu unit apartemennya. Suara denting lift dan pintu bergeser menarik perhatian Nyonya Lou. Keduanya pun seketika saling menatap.


"Jiang Lizqi." Wajah Nyonya Lou tampak berseri-seri.


"Bibi Lou, kalau mau datang kenapa tidak telpon dulu?"


"Aku ...."

__ADS_1


Nyonya Lou tidak melanjutkan perkataannya, tetapi Jiang Lizqi tidak ambil peduli. Dia mengajak Nyonya Lou masuk, mempersilahkannya duduk, lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman.


"Maaf sudah merepotkanmu," ucap Nyonya Lou lirih saat Jiang Lizqi sudah duduk di hadapannya.


"Tidak Bi. Steven sama sekali tidak merepotkan. Dia yang sekarang sudah banyak berubah. Sangat berbeda."


"Aku tau." Sedih dan bahagia membaur menjadi satu sehingga wajah Nyonya Lou terlihat mencebik. "Aku sudah melihatnya."


Perempuan itu memang tidak pernah muncul di hadapan Steven Lou maupun Jiang Lizqi, tetapi secara diam-diam memantau menggunakan jasa seseorang, dan terkadang juga turun langsung untuk melihat aktivitas putranya.


Dia bahagia karena Steven Lou sudah berubah menjadi lebih baik, tetapi juga sedih melihatnya bekerja keras mencari uang. Harta berlimpah yang selama ini dia kumpulkan adalah semata-mata demi putranya. Lantas, apa gunanya semua itu jika sekarang Steven Lou malah minggat dari rumah dan mencari uang dengan caranya sendiri?


Tidak ingin berlama-lama dan akhirnya kepergok Steven Lou, Nyonya Lou buru-buru menyampaikan maksudnya. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan amplop cokelat yang sangat tebal dari dalam tasnya, lalu meletakkan di atas meja.


"Ini. Gunakan sebagai biaya hidup, tapi jangan sampai Steven tahu." Perempuan itu menatap Jiang Lizqi penuh harap.


"Sebentar." Jiang Lizqi tiba-tiba berdiri, lalu melangkah ke dalam. Tidak lama kemudian kembali membawa amplop cokelat yang jauh lebih tipis dari milik Nyonya Lou.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Ini adalah sisa uang yang Bibi berikan waktu itu." Jiang Lizqi meletakkan amplopnya di atas amplop Nyonya Lou.


Perempuan itu megap-megap, untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa, dan saat bisa bicara hanya mampu mengucap satu kata dengan suara bergetar, "Kenapa?"


"Steven sudah memutuskan untuk hidup mandiri. Kalau aku menerima bantuan dari Bibi, itu sama saja aku sudah mengkhianatinya. Tidak menghargai keputusan dan usahanya. Aku tidak mau menghancurkan kepercayaannya."


Air mata Nyonya Lou seketika jatuh berderai. Perempuan itu terisak-isak sampa tidak bisa berkata-kata untuk waktu yang lama.


"Bibi Lou, aku tidak bermaksud mengusir, tapi Steven sebentar lagi pulang ...."


Nyonya Lou mengangguk, lalu menatap Jiang Lizqi intens. "Aku mengerti. Terima kasih sudah menjaganya. Apa pun hubungan kalian, aku merestui. Tolong jaga Steven ...."


"Bibi Lou, aku ...." Jiang Lizqi tidak mampu melanjutkan kata-katanya saat Nyonya Lou tiba-tiba memeluknya erat-erat dan terus meracau, tolong jaga dia, tolong jaga dia ....


Sementara itu di luar pintu, Steven Lou berdiri terpaku mendengarkan obrolan mereka. Bibirnya melengkung tipis. Dia bahagia karena telah mempercayai orang yang tepat. "Terima kasih, Lizqi." Dia berguman, kemudian buru-buru beranjak, kembali turun ke lantai dasar, lalu duduk di kursi taman dekat lobi.


Dia membungkuk, sambil menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan dan berucap, "Terima kasih, Lizqi. Terima kasih ...."


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2