Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
SHEN JIAYING MENCARI STEVEN


__ADS_3

Sejak memutuskan untuk mandiri, Steven Lou pun tidak pernah lagi merepotkan Paman Ping. Namun, di saat Jiang Lizqi sakit seperti sekarang, mau tidak mau dia sangat membutuhkan bantuannya.


Sudah duduk di atas sepeda motor, tetapi masih berada di tempat parkir, dia menghubungi Paman Ping. "Apa Paman ada waktu?"


"Tentu saja ada. Untuk Anda saya selalu ada waktu." Suara Paman Ping sangat antusias. Pria itu terlalu bersemangat saking bahagianya. Bahagia karena sang tuan muda akhirnya membutuhkan tenaganya lagi. "Apa yang harus saya lakukan?"


"Lizqi sakit, tolong antar ke dokter. Aku harus kerja---"


Paman Ping menyela, "Siap, Tuan Muda. Tidak masalah, saya berangkat sekarang."


"Terima kasih, Paman. Satu lagi ...."


"Iya, Tuan Muda ...."


"Tolong bawakan bubur olahan Bibi Rou." Bubur olahan istri Paman Ping memang luar biasa enak dan sudah menjadi salah satu makanan favorit Steven Lou.


Mendengar itu, Paman Ping terkekeh senang. "Tentu, tentu. Ada lagi?"


"Itu saja. Tolong ya, Paman."


"Tentu saja. Anda bisa mengandalkan saya."


"Terima kasih, Paman."


"Jangan ucapan itu seolah Anda berhutang pada saya. Anda bisa menggunakan tenaga saya kapan pun. Dua puluh empat jam kali tujuh hari tanpa batas. Saya rasa itu pun masih belum cukup untuk membayar semua kebaikan yang sudah Anda lakukan pada keluarga kami."


Mengharukan. Bibir Steven Lou berkedut, seulas senyum tipis pun muncul. "Baiklah, Paman. Aku berangkat kerja dulu."


"Iya, Tuan Muda. Hati-hati, jangan ngebut."


Steven Lou segera memutus sambungan, lalu termenung. Dalam hati dia bersyukur karena dulu pernah melakukan satu kebaikan yang di kemudian hari bisa membawa karmaphala baik untuknya dan orang yang disayang.


Terima kasih untuk diriku yang masih usia dua belas tahun. Karena sudah berbuat baik, dia membatin sambil mengenakan helm, kemudian melaju dengan hati yang jauh lebih tenang. Ini bukan berarti dia tidak mempercayai Ji Yu. Hanya saja, mempercayakan gadis kesayangan di tangan Paman Ping jauh lebih bisa membuat hatinya lega.


Hubungan baik di antara mereka tidak terjalin begitu saja. Semua berawal di musim dingin tujuh tahun yang lalu saat Steven Lou berusia dua belas tahun. Waktu itu, sopir pribadi yang biasa menjemputnya pulang sekolah tiba-tiba izin karena istrinya sakit. Steven Lou tidak marah ataupun kecewa walaupun harus menunggu sedikit lebih lama sampai Lou Haikuan datang menjemput. Bocah itu memiliki rasa hormat dan respek tersendiri untuk orang-orang yang mau meninggalkan pekerjaan demi anggota keluarganya, atau bisa dikatakan menempatkan kepentingan keluarga di atas segalanya.


Dia meninggalkan area sekolah dan pergi ke taman terdekat untuk bermain salju. Pukul empat sore taman itu sudah teduh, tetapi sepi karena sedang hujan Salju. Di situ dia bertemu anak laki-laki kisaran usia tujuh tahun, sedang membuat manusia salju sendirian. Anak itu menghampiri Steven Lou tanpa takut.


"Gege kenapa tidak pulang? Nanti dicariin mamanya loh." Cara anak itu bicara seperti orang dewasa dan entah kenapa sorot matanya yang cemerlang mampu membuat Steven Lou terpikat.

__ADS_1


"Kamu sendiri kenapa di sini sendirian? Tidak takut dicariin mama terus dimarahi?"


Bocah itu menunjuk ke arah sebuah rumah makan yang ramai pengunjung. "Ibuku bekerja di sana dan aku sudah terbiasa menunggunya di sini sepulang sekolah."


Steven Lou menatap prihatin, teringat dirinya saat masih usia enam tahun sangat takut gelap dan hampir tidak pernah bermain di luar rumah. "Kamu tidak takut?"


"Tidak takut. Aku harus bisa menjaga diriku sendiri karena ayah dan ibu sibuk mencari uang untuk biaya sekolahku."


Steven Lou sejenak terpaku karena cukup kaget dan terharu oleh sikap bocah tersebut, lalu berkata riang, "Mau main bersama?"


"Tentu saja mau." Anak itu pun kegirangan.


Pada saat bermain bersama bocah bernama Ping Dong itu Steven Lou merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Dia merasa kembali ke usia lima tahun yang mana ayahnya masih hidup dan sering menemaninya bermain di playground pribadi. Namun, ketika mereka sedang asyik bermain tiba-tiba anak itu mengeluh sakit perut, sampai-sampai wajahnya pucat dan berkeringat.


Pada saat Steven Lou tengah kebingungan, datanglah perempuan membawa sebungkus pao. Perempuan itu menjerit panik saat melihat si bocah kesakitan. Ternyata dia adalah ibu bocah tersebut, Bibi Ping Rou.  Mungkin memang sudah takdir mereka, di saat yang tepat pula datanglah Lou Haikuan dan langsung membawa anak itu ke rumah sakit terdekat.


Ping Dong dinyatakan menderita tipus dan harusp dirawat inap, tetapi karena keterbatasan ekonomi, si ibu ingin membawa anaknya pulang untuk dirawat di rumah. Steven Lou kasihan dan merengek pada Lou Haikuan untuk membantu ibu dan anak itu. Uang bukan masalah besar untuk keluarga Lou, akhirnya Lou Haikuan pun setuju.


Sementara si anak sudah mendapat perawatan inap, Lou Haikuan dan Steven Lou mengantar ibu itu kembali ke tempat kerjanya. Namun, karena sudah meninggalkan pekerjaan tanpa izin, si bos pun marah besar dan langsung memecat ibu itu tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


Melihat ibu itu menangis, Steven Lou pun sekali lagi merengek pada Lou Haikuan untuk memberi ibu itu banyak uang supaya tidak perlu lagi bekerja dan bisa fokus menjaga anaknya. Lou Haikuan mengerti kenapa Steven Lou seperti itu. Sepupunya itu tidak ingin melihat ada anak lain yang menderita karena kekurangan kasih sayang dari ibu, seperti dirinya.


Sebagai ungkapan terima kasih, ayah bocah itu yang ternyata adalah sopir taksi, bersedia mengantar jemput Steven Lou. Dari situlah hubungan baik itu terjalin di antara mereka. Dulu Steven Lou pun sering makan di kantin Bibi Rou dan bermain bersama Ping Dong, tetapi lambat laun dia semakin sibuk dengan kegiatannya sendiri dan tidak pernah datang lagi. Namun, Paman Ping tetap setia dan siap sedia kapan pun dibutuhkan.


Pukul sembilan lewat ketika Steven Lou sampai di tempat kerja, salah seorang rekan kerja berbadan kurus mendatanginya di ruang ganti.


"Steven, tadi ada gadis datang mencarimu."


Tangan Steven Lou yang sudah menyentuh baju seragam kerja terpaku sejenak, yang terpikirkan olehnya adalah Shen Jiaying. Karena dia tidak pernah berhubungan dengan gadis lain selain dia dan Jiang Lizqi. Maksudnya berhubungan dekat yang sampai membuat gadis itu memiliki kepercayaan diri untuk datang mencarinya.


"Apa katanya?" Dia bertanya acuh tak acuh sembari mengenakan seragamnya.


"Tidak ada. Dia sempat menunggu sambil sarapan, tidak lama kemudian tahu-tahu tidak kelihatan lagi."


"Thanks," ujar Steven Lou datar.


Seharusnya rekan kerja Steven Lou itu segera pergi setelahnya, tetapi malah tetap berdiri di situ sambil menatap Steven Lou lekat-lekat. Yang bersangkutan pun menoleh dan mengernyitkan dahi.


"Ada lagi?"

__ADS_1


"Boleh aku memberikan pendapat?"


Dahi Steven Lou mengernyit semakin dalam. "Soal apa?"


"Soal cinta segitiga. Sebagai orang luar aku memang tidak berhak ikut campur kamu mau dekat dengan gadis mana pun atau berapa banyak gadis sekaligus ...."


"Hem, lalu?" Steven Lou menatap datar, padahal hatinya merasa tergelitik oleh ocehan pemuda kurus banyak bicara itu.


"Yang tadi itu sepertinya bukan gadis baik-baik. Sebaiknya jangan terlibat apa pun dengannya."


"Kalau begitu aku harus dengan siapa?" Steven Lou bertanya hanya untuk menjahili rekannya tersebut.


Wajah pemuda kurus itu tiba-tiba berbinar. "Yang biasa datang menungguimu sampai pulang kerja itu. Dia sepertinya gadis baik-baik."


Yang dipuji Jiang Lizqi, tetapi yang merasa tersanjung Steven Lou. Sampai-sampai wajah kakunya mendadak dihiasi senyum tipis. "Aku setuju. Penglihatanmu bagus," ujarnya sambil berlalu begitu saja.


Temannya mengejar. "Apa kubilang. Kalau gadis itu datang lagi jangan ditemui."


"Tidak akan."


Keduanya melangkah beriringan menuju tempat penjualan. Sesampai di sana dibuat terkejut oleh Shen Jiaying yang sedang berdiri menunggu pesanan sambil menyandar di dinding pembatas ruang staff dan area pelanggan.


"Ha---" Gadis itu baru hendak menyapa, tetapi Steven Lou sudah berpaling, berbicara dengan rekan yang akan bertukar sif dengannya.


Si kurus tiba-tiba menyeletuk seperti orang bodoh, "Oh, ini kan Nona yang tadi mencari Steven?" Kemudian dia mencondongkan badan ke depan, ke arah Shen Jiaying, lalu berkata, "Tapi Nona, Steven bilang tidak ingin bertemu denganmu. Perlu Nona tahu saja, dia itu sudah punya pacar sangat cantik. Sebaiknya menyerah saja."


Wajah Shen Jiaying seketika merah padam. Walaupun tempat itu masih sepi, tetapi tetap saja malu jika dibegitukan langsung di tempat umum. Apalagi si kurus itu sama sekali tidak mengurangi volume suaranya yang cempreng.


Shen Jiaying melirik Steven Lou yang tengah serius mengelap nampan-nampan. Pemuda itu benar-benar seperti ada di dunianya sendiri, tidak hirau pada sekitar. Shen Jiaying merasa telah dipermalukan.


"Sok tahu. Aku datang hanya mau menyampaikan ini." Gadis itu mengambil sebuah amplop putih dari tasnya, lalu membantingnya ke meja pengambilan pesanan. "Baca, setelah itu hubungi aku."


Tanpa menunggu respons dari Steven Lou, Shen Jiaying langsung memutar badan dan pergi dengan langkah-langkah lebar.


"Wah, apa ini?"


Si kurus hendak mengambil surat itu, tetapi tangan Steven Lou jauh lebih cepat.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2