Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
ULANG TAHUN


__ADS_3

Steven Lou meraih tangan Jiang Lizqi, lalu mengecupnya cukup lama sambil memejamkan mata. Dia sedang berusaha menetralkan perasaannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Lupakan, lupakan, anggap aku tidak pernah mengatakannya." Jiang Lizqi menarik Steven Lou ke dalam pelukan hangat. "Sorry," bisiknya lembut.


"Aku tidak apa-apa. Jangan minta maaf terus nanti aku marah." Suara Steven Lou goyah, tetapi sepertinya bersikeras untuk menyamarkan. "Kamu segalanya untukku. Berjanjilah, apa pun yang terjadi kamu tidak akan pernah pergi dariku. Berjanjilah untuk selalu berjuang bersamaku."


"Tentu." Jiang Lizqi mendekap Steven Lou semakin erat. "Sesulit apa pun rintangannya, aku tidak akan mundur asal bersamamu."


Steven Lou perlahan menarik diri, lalu menatap kekasihnya dengan sorot mata sayu. Senyum tipis pun tersungging lembut. "Apa pun yang kamu katakan, aku tandai sebagai janji seumur hidup. Kamu tidak boleh ingkar."


"Tidak akan pernah." Jiang Lizqi mengikis jarak, lalu mengulum bibir bawah Steven Lou dengan lembut penuh perasaan. "Kamu juga segalanya untukku," bisiknya dengan bibir yang masih menempel di bibir Steven Lou.


Jiang Lizqi sangat tahu, di dalam hidupnya, Steven Lou paling benci dikhianati dan paling takut dengan yang namanya kekecewaan. Setelah mengetahui kisah hidup Steven Lou dari Lou Haikuan, Jiang Lizqi berjanji dalam hati untuk tidak mengkhianati dan mengecewakan pemuda yang telah mencuri hatinya itu.


"Love you," ungkap Jiang Lizqi di sela cumbuan lembut Steven Lou.


"Love you more," balas Steven dengan suara parau sambil menatap sayu penuh nafsu, lalu kembali mengikis jarak untuk menghujani wajah Jiang Lizqi dengan ciuman.


Saat ini, kedua muda-mudi itu hanya mendedikasikan hidup mereka untuk mencintai satu sama lain. Apa pun yang akan terjadi di masa mendatang tidak ingin mereka pikirkan sekarang. Perjalanan masih panjang. Masih banyak waktu untuk mereka menikmati indahnya pelangi asmara yang baru saja terbina selama sepuluh bulan. Harapan tidak akan ada kendala, tetapi kalaupun ada mereka pasti hadapi bersama-sama.


Pada hari Sabtu tanggal lima Agustus, sebelum berangkat bekerja, Steven Lou dan Jiang Lizqi pergi mengantar kue dan makanan yang mereka buat sendiri di pagi-pagi buta, ke anak-anak perkampungan kumuh. Mereka hanya beramah tamah sebentar karena tidak punya banyak waktu. Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, Steven Lou harus mengantar Jiang Lizqi ke tempat bimbingan belajar yang baru.


Gadis tersebut sekarang bekerja di dua tempat bimbingan belajar yang berbeda. Untuk itu, dia terpaksa harus memutus beberapa anak didik yang les privat di rumah.


Setelah mengantar Jiang Lizqi, Steven Lou harus langsung melaju ke tempat kerjanya. Ketika dia memasuki ruang loker untuk berganti pakaian, si kurus menghampiri sambil membawa kotak karton bungkus kue.


"Steven, ada titipan untukmu."


Saat melihat kotak karton bertuliskan nama salah satu toko kue ternama, alis Steven Lou langsung bertaut. Detak jantungnya pun seketika menggila karena ingatannya otomatis tertuju pada sang ibu.


"Dari?" Suaranya lirih dan parau.


"Seorang perempuan. Kalau aku perhatikan, wajahnya mirip sekali denganmu. Tapi dari penampilan sepertinya dia orang kaya. Masak iya---"


"Di mana dia sekarang?" Steven Lou menatap tajam sampai-sampai rekannya gelagapan.


"Sepertinya sudah per---"


"Kapan?"


"Be-belum lama ...."

__ADS_1


Tidak jadi ganti pakaian, Steven Lou segera menghambur ke luar, pun tidak hirau pada teriakan rekan kerjanya. Steven Lou berlari ke pelataran dan celingukan, tetapi tidak mendapati apa yang dicarinya. Masih berharap ada kesempatan, dia melebarkan langkah ke trotoar, tetapi sejauh mata memandang area itu masih cukup sepi, tidak banyak yang melintas.


Ketika menyadari bahwa tidak ada mobil ibunya di antara beberapa mobil yang terparkir di pelataran, Steven Lou langsung menjatuhkan bahu. Dia yakin yang datang pasti ibunya. Walaupun tidak bertemu, hanya dengan keyakinan itu saja hatinya sudah meletup-letup bahagia, tetapi rasa kecewa tidak bisa dihindari karena tidak bisa bertemu.


"Tuan Muda!"


Steven Lou spontan menoleh ke asal suara. "Paman Ping," gumamnya, lalu buru-buru menghampiri pria yang tengah berdiri di samping taksi yang parkir di bahu jalan, sedikit jauh dari tempatnya berada.


Begitu Steven Lou sampai, Paman Ping langsung mengusap matanya yang sudah berair. "Akhirnya bisa bertemu Anda lagi. Rasanya seperti mimpi."


Sopir taksi yang sudah menjadi langganan Steven Lou semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu sangat menyayangi bos mudanya. Dia adalah salah satu saksi perjalanan hidup Steven Lou yang cukup rumit.


"Kenapa Paman ada di sini?" Sambil bertanya Steven Lou celingukan. Dalam hati berharap Paman Ping'lah yang mengantar ibunya. Dengan pria itu yang masih ada di sini, dia berharap ibunya juga masih ada di sekitar sini.


Paman Ping menunduk, ekspresinya penuh rasa bersalah karena sudah ingkar janji. "Saya, saya mengantar nyonya besar---"


"Sekarang dia di mana?" Pipi Steven Lou merona, kelopak yang biasanya terkulai seolah di dunia ini tidak ada yang menarik minatnya, tiba-tiba mengencang sehingga matanya terbuka lebih lebar.


Melihat antusiasme itu, Paman Ping cukup terkejut. "Anda tidak marah saya---"


"Di mana dia?" Suara Steven Lou meninggi dan matanya menatap tajam.


Steven Lou refleks memutar badan dan langsung berhadapan dengan perempuan yang tengah dicari-cari. Tubuhnya mendadak kaku dan lidah pun kelu. Hati berhasrat ingin memeluk, tetapi kakinya malah seperti terpancang di tempat.


"Jangan salahkan Paman Ping. Ibu yang memaksanya." Suara Nyonya Lou goyah dan parau.


Penampilan Steven Lou secara fisik tidak banyak berubah, kecuali kulitnya yang tampak lebih gelap. Selama ini, Nyonya Lou hampir tidak pernah absen mengawasi putra semata wayangnya itu. Jadi dia tahu apa saja yang dilakukannya.


Dia pikir dengan cara itu sudah cukup untuk mengobati kerinduannya. Namun, saat langsung berhadapan seperti ini ternyata rasa rindu yang menggunung di hatinya tidak pernah benar-benar terpuaskan. Nyonya Lou ingin sekali memeluk putranya, tetapi tidak berani.


"Maaf. Seharusnya ibu langsung pergi, tapi---"


"Terima kasih," ucap Steven Lou sangat lirih, hampir tidak terdengar karena suaranya seperti tersekat di kerongkongan dan parau.


Melihat mata Steven Lou berembun, Nyonya Lou tanpa sadar maju, lalu melemparkan diri ke dadanya dan mulai menangis sambil terus mengucapkan kata maaf.


Orang yang sangat dirindukannya sudah begitu dekat, Steven Lou pun tidak ragu lagi untuk memeluknya erat-erat. Steven Lou sudah mendengar kisah yang sebenarnya dari Lou Haikuan bahwa Nyonya Lou tidak pernah menduakannya.


Kenyataanya, walaupun segala kebutuhan dicukupi, tetapi anak ayahnya itu dititipkan di panti asuhan. Sementara itu, kunjungan rutin Nyonya Lou ke Singapura murni untuk urusan pekerjaan. Perusahaan hampir gulung tikar karena begitu suaminya meninggal, terjadi banyak sabotase dan pengkhianatan sehingga banyak investor menarik diri, bahkan sebagian besar uang perusahaan juga dikorupsi.


Waktu itu, perusahaan di bidang advertising yang mereka miliki adalah satu-satunya aset. Kalau perusahaan itu bangkrut, maka mereka tidak akan punya apa-apa lagi. Bahkan universitas yang dinaungi oleh perusahaan pun hampir ditutup juga.

__ADS_1


Demi masa depan putranya, Nyonya Lou berjuang mati-matian untuk membangun perusahaan itu kembali. Dan untuk semua itu sudah tentu membutuhkan banyak pengorbanan. Tidak hanya Steven Lou yang menderita, Nyonya Lou juga sangat menderita.


Di penghujung hari itu, Nyonya Lou bersama Steven Lou dan Jiang Lizqi mengadakan pesta kecil-kecilan di apartemen.


"Terima kasih untuk makan malamnya." Berdiri di depan pintu, sudah hendak pulang, Nyonya Lou kembali memeluk Steven Lou dan Jiang Lizqi bergantian. "Terima kasih sudah menjaga putraku," ucapnya saat memeluk Jiang Lizqi.


"Bulan September sudah mulai kuliah. Kurangi jam kerjamu." Dia menatap Steven Lou penuh keprihatinan. "Kalau kamu masih bersikeras untuk mandiri, ibu tidak apa-apa. Tapi perhatikan juga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan."


Steven Lou hanya mengangguk. Sebenarnya soal uang dia tidak perlu khawatir karena Lou Haikuan secara diam-diam selalu mengisi rekeningnya. Bahkan untuk hadiah ulang tahun dia sudah mengirim amplop merah yang jumlahnya bisa untuk biaya kuliah sampai lulus. Dia tetap bekerja karena ingin terlihat keren di mata Jiang Lizqi.


[Amplop merah adalah istilah untuk uang hadiah]


"Yang di Singapura sudah diurus kakak-kakakmu. Sekarang ibu akan fokus mengurus bisnis yang di Kanada. Sepertinya ibu akan lebih sering di sana. Kalau ada waktu, pulanglah sesekali."


"Tentu saja kami akan berkunjung, Bi."


Nyonya Lou tersenyum sambil menepuk lembut bahu gadis itu. "Steven benar-benar beruntung bertemu denganmu. Baik-baiklah kalian. Bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik."


Setelah cukup berbasa-basi, akhirnya Nyonya Lou pun benar-benar berpamitan meskipun sebenarnya enggan. Duduk di mobil sambil menatap ke luar, senyumnya terus terpatri. Jiwanya serasa lega luar biasa karena kesalahpahaman telah diluruskan dan Steven Lou kembali memanggilnya ibu.


Sementara itu di apartemen Jiang Lizqi, sambil duduk di tepi pembaringan, Steven Lou tampak sedang melihat-lihat beberapa kertas dokumen. Jiang Lizqi yang duduk di sampingnya melebarkan mata dan bibirnya juga melongo.


"Kado ulang tahun yang menakjubkan. Ibumu benar-benar sudah bekerja sangat keras. Dia tidak pernah mengijinkanmu ke Singapura karena alasan yang masuk akal. Dan ternyata sudah menyiapkan aset yang jauh lebih besar di Kanada untukmu."


"Aku tidak ingin berurusan dengan apa pun yang berhubungan dengan Singapura. Aku akan menganggap negara itu tidak pernah ada."


"Hum. Lebih baik begitu."


Steven Lou menatap Jiang Lizqi yang tengah mengangguk penuh semangat. Benar kata ibunya, bertemu si Tukang Senyum ini adalah keberuntungan besar.


"Lizqi."


Jiang Lizqi menoleh. "Yah," sahutnya sambil menatap polos.


"Mana kado untukku?"


Gadis itu tersenyum lebar, lalu melemparkan diri ke pelukan Steven. Sambil mendekap erat-erat dia berkata,  "Cinta dan jiwa raga Jiang Lizqi adalah kado istimewa untukmu."


Dengan senyum terkembang lebar, wajah Steven Lou tampak berseri-seri  dan mata pun berbinar ceria. "Thank you," bisiknya sembari mendekap Jiang Lizqi erat nan hangat.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2