Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
PEKERJAAN BARU


__ADS_3

Bangun dari tidur hati terasa ringan tanpa beban, Jiang Lizqi berdiri terpaku di dekat jendela yang terbuka, menatap langit biru nan cerah yang dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih. Angin berembus semilir membelai wajah manisnya yang senantiasa dihiasi senyum.


"Hari Minggu yang indah." Gadis itu memejamkan mata, menghela napas dalam-dalam, lalu perlahan mengembuskannya.


Saat kembali membuka mata, beberapa ekor burung yang sedang terbang saling berkejaran menjadi pemandangan yang menarik perhatiannya.


"Andai saja aku punya sayap," gumamnya lirih, merasa iri sekaligus mengagumi makhluk yang bisa begitu bebas terbang melayang di udara tanpa takut akan terjatuh.


Bahu Jiang Lizqi menjengit saat ponselnya berdering. Namun, dia tidak segera beranjak, tidak ada tanda-tanda hendak menerima panggilan.


Gadis yang tetap terlihat menarik meski rambutnya masih acak-acakan itu hanya melirik sekilas ke arah benda berisik yang tergeletak di atas kasur. Dia mendengus sebal disertai gelengan lemah, kemudian keluar dari kamar---sungguh-sungguh mengabaikan panggilan itu.


"Dasar manusia aneh kurang kerjaan." Sambil menutup pintu dia menggerutu.


Selama ini, papa dan mamanya, saudara atau kenalan, tidak ada yang akan meneleponnya di pagi saat baru bangun tidur. Bahkan meski di hari Minggu pun. Akan tetapi, sudah beberapa hari ini ada orang iseng yang selalu menghubungi dengan nomor yang tidak ada di daftar kontaknya. Bila sudah diterima segera dimatikan oleh si pemanggil dan bila dihubungi balik tidak diangkat. Makanya, Jiang Lizqi enggan menerima, menduga bahwa panggilan barusan pasti dari orang yang sama.


Entah siapa, tetapi Jiang Lizqi yakin orang itu mengenal dirinya dan hanya  ingin berbuat jahil. Sempat menduga bahwa Ji Yu adalah pelakunya, tetapi saat dia bertanya yang bersangkutan menyangkal. Sempat juga dia berpikir mungkin StevenLou. Namun, segera menepis pemikiran itu jauh-jauh karena sejak dari mengunjungi pemukiman waktu itu, belum sekali pun Steven Lou menjahilinya lagi. Bahkan sekarang dia jauh lebih cuek, sama sekali tidak pernah memandangnya. Ada bagusnya begitu, tetapi kadang-kadang dia justru merindukan Steven Lou yang arogan dan suka cari gara-gara, dibanding yang pendiam.


Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, Jiang Lizqi bergegas ke dapur untuk sarapan. Sambil menikmati roti oles selai cokelat, benaknya sibuk mereka-reka, siapa orang yang begitu kurang kerjaan mau-maunya melakukan keisengan semacam itu?


Aish! Biarkan saja. Biarkan saja orang itu terus beraksi, lama-lama pasti juga akan capek sendiri.


Setelah menggerutu dalam hati, tiba-tiba mulut yang masih mengulum makanan itu tersenyum lebar. Mulai sekarang, hari Minggunya tidak akan lagi berlalu sia-sia, karena Lou Haikuan telah berbaik hati mencarikannya pekerjaan tambahan sebagai tutor di sebuah tempat bimbingan belajar. Di sana Jiang Lizqi akan mengajar seni lukis dari mulai jam sembilan pagi hingga jam empat sore. Hanya di hari Minggu saja.


Jiang Lizqi sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Lou Haikuan. Bahkan juga mensyukuri pertemuannya dengan Steven Lou. Jika tidak karena ulah nakal si songong itu, mana mungkin dia bertemu Lou Haikuan. Ternyata benar, bahkan orang menyebalkan yang hadir di dalam hidup kita pun bisa jadi merupakan sebuah perantara kebaikan atau pembuka pintu rezeki.


Jam yang tergantung di dinding atas kulkas sudah menunjuk angka delapan. Jiang Lizqi segera menghabiskan sarapan dan sepuluh menit kemudian sudah melangkah keluar dari pintu lobi apartemen, sembari mengoperasikan ponsel untuk melihat daftar riwayat panggilan yang dipenuhi oleh nomor yang tidak ada dalam daftar kontak.


"Benar-benar kurang kerjaan," gerutunya sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana.

__ADS_1


Kaki jenjang melangkah ringan, senyum pun terus terkembang, menyapa siapa saja yang dikenal penuh kehangatan. Jiang Lizqi keluar dari pelataran kompleks apartemen hendak menuju halte bus. Namun, sesampai di pintu gerbang malah di hadang oleh sebuah taksi.


"Apakah Anda yang bernama, Nona Jiang Lizqi?" Si sopir bertanya tanpa turun dari mobil. Hanya melongok dari kaca jendela yang terbuka.


Dengan dahi mengernyit, Jiang Lizqi mengangguk lemah. "Dari mana Paman tahu namaku?"


Si sopir mengembuskan napas lega. Sembari keluar dari mobil nyerocos, "Syukurlah, akhirnya saya menemukan orang yang benar. Sedari tadi, setiap orang yang memiliki ciri-ciri seperti Anda keluar dari kompleks ini pasti saya tanyai. Saya hampir putus asa dan sudah hendak pergi."  


Itu gara-gara orang yang memberi perintah hanya menyebutkan ciri-ciri tanpa memberinya foto. Benar-benar menyusahkan, tapi apa mau dikata. Bos mana pernah salah. Iya, kan?


Kerutan di dahi Jiang Lizqi semakin dalam. Dia benar-benar tidak mengerti, bisa jadi sopir ini salah orang. "Maaf, Paman. Tapi aku tidak pernah memesan taksi dan dari mana Paman tahu namaku?"


"Memang bukan Anda yang memesan, tapi seseorang bernama Tuan Lou Haikuan."


Kuan Ge?


Baru saja Jiang Lizqi membuka mulut hendak bertanya, si sopir sudah mendesaknya. "Mari, silakan naik, Non. Tuan Lou tadi sudah memperingatkan, jangan sampai Anda terlambat ke tempat mengajar."


Jiang Lizqi tidak bisa menolak, si sopir perlahan mendorongnya masuk ke dalam mobil---di kursi samping sopir.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan soal pembayaran, Tuan Lou sudah mengaturnya." Pria itu berlari-lari kecil memutari mobil untuk kembali pada posisinya.


Hati Jiang Lizqi diliputi rasa syukur dan haru. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu baik? Sudah mencarikan pekerjaan dan sekarang memfasilitasinya dengan kendaraan. Padahal, mereka baru dua kali bertemu.


"Apakah Paman bertemu langsung dengan, Kuan Ge?"


"Tidak. Hanya lewat telepon." Si sopir menjawab sembari melajukan mobil.


Setelah itu, Jiang Lizqi tidak bertanya apa-apa lagi. Selama dalam perjalanan terus termenung memikirkan betapa mulia hati Lou Haikuan, sangat kontras dengan tabiat adik sepupunya.

__ADS_1


Mobil berhenti di tempat tujuan, barulah Jiang Lizqi tersadar bahwa tadi tidak mengatakan kepada pak sopir harus berhenti di mana. Namun, rupanya Lou Haikuan juga sudah memberi tahu sopir taksi ini supaya mengantar Jiang Lizqi kemari.


Setelah berbasa-basi sebentar dengan si sopir, Jiang Lizqi segera beranjak dan taksi itu pun berlalu. Sambil membuka pintu tempatnya mengajar, Jiang Lizqi melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul sembilan kurang lima belas menit. Di ruang tunggu tempat itu sudah cukup banyak anak beserta para pengantar yang duduk menunggu.


"Halo .... Selamat pagi, Miss Jiang," sapa seorang perempuan muda yang duduk di balik meja resepsionis sedang sibuk mengoperasikan komputer.


"Selamat pagi juga, Miss Chu." Jiang Lizqi membalas riang.


Perempuan itu tersenyum semringah sembari berdiri. "Mari, saya tunjukkan ruangan tempat Anda mengajar."


Hanya membalas dengan anggukan, lalu Jiang Lizqi mengikuti perempuan itu masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Ini ruangan Anda. Di setiap sesi yang berlangsung selama empat puluh lima menit hanya akan ada lima anak yang masuk kelas. Di sesi pertama ini ...." Perempuan itu menjelaskan panjang lebar dengan sabar.


"Baik, Miss Chu. Terima kasih atas bantuannya."


"Oke, saya rasa Anda sudah mendapat pembekalan untuk mengajar, bukan?"


Jiang Lizqi mengangguk. "Iya. Tuan Ryan sudah memberi saya tiga kali pelatihan."


"Oke. Silakan bersiap, kurang dari sepuluh menit lagi kelas akan dimulai. Selamat bekerja, Miss Jiang."


"Terima kasih, Miss Chu." Senyum Jiang Lizqi terus terkembang hingga Miss Chu menghilang dari pandangan.


Sepeninggal perempuan itu, Jiang Lizqi mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Terbersit rasa bangga dalam benaknya---bangga karena dia adalah satu-satunya tutor yang masih berstatus mahasiswa.


Waktu Lou Haikuan memperkenalkannya dengan Mr. Ryan, pemilik tempat bimbingan belajar ini. Jiang Lizqi hampir saja ditolak karena masih berstatus mahasiswa baru. Akan tetapi, Lou Haikuan mendesak dan menyarankan supaya dilakukan uji coba. Setelah uji coba itulah, Jiang Lizqi diterima. Jadi, bukan semata-mata karena rekomendasi dan koneksi saja dia berhasil mendapatkan pekerjaan, melainkan juga karena kemampuannya telah diakui.


"Terima kasih atas semua berkah ini, Tuhan." Lalu, sambil mengepalkan tangan dia menyemangati diri sendiri. "Ayo, Jiang Lizqi bersemangatlah!"

__ADS_1


Gadis itu hari ini tampil lebih anggun dengan celana kain berwarna pastel dipadukan dengan kemeja cream berenda di bagian kerah, tinggi menutup seluruh leher. Rambut yang biasa digerai, sekarang diikat rendah dan dihiasi jepit kupu-kupu. Cantik dan elegan.


[Bersambung]


__ADS_2