![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Terkadang, adakalanya kita harus mengikis rasa gengsi, menyingkirkannya jauh-jauh demi menghindari masalah. Karena mempertahankan harga diri yang terlalu tinggi kadang-kadang bisa menyebabkan kita terjerumus dalam kesulitan juga.
Steven Lou adalah contoh nyata. Dia sendiri sudah menyadari sepenuhnya bahwa tidak akan mungkin menang melawan Shen Jiaying, tetapi masih saja nekat menerima tantangan mantan kekasihnya itu hanya karena tidak mau diremehkan.
Akibatnya, sekarang dia harus menggelepar tidak berdaya di sofa ruang VIP sebuah bar karena mabuk berat setelah dicekoki berbotol-botol minuman beralkohol oleh Shen Jiaying dan teman-temannya.
Bila sudah seperti itu memangnya si gengsi bisa menolongnya?
Setelah Steven Lou ditinggalkan sendirian, seorang pelayan yang hendak merapikan ruangan dibuat sedikit kebingungan karena melihat kondisinya yang lebih menyerupai orang sedang sekarat daripada mabuk berat.
Berbekal pengalaman yang telah dimilikinya sebagai pelayan di tempat tersebut---yang tidak hanya sekali dua kali harus menghadapi para pecandu alkohol dengan tingkah polah yang beragam bila sudah sepenuhnya berada di bawah pengaruh minuman laknat itu---si pelayan tidak perlu berlama-lama merasa bingung.
Dengan segera dia memeriksa kantong celana Steven Lou untuk mendapatkan sesuatu. Setelah beberapa saat meraba-raba, akhirnya menemukan sebuah ponsel, lalu menariknya ke luar dan mengoperasikannya. Seketika itu juga kerutan muncul di dahi.
"Aneh. Hanya ada satu nomor kontak tersimpan. Apakah, dia tidak memiliki keluarga atau teman? Lalu yang tadi bersamanya siapa?"
Pelayan itu menatap Steven Lou yang tampak menyedihkan dengan sorot mata prihatin. Kemudian segera menghubungi satu-satunya nomor telepon yang ada di daftar kontak.
Jiang Lizqi baru saja menyelesaikan kelas sesi terakhir dan sedang sibuk merapikan peralatan mengajar ketika ponselnya berdering. Berpikir bahwa mungkin Ji Yu yang menghubungi, dia meninggalkan kesibukannya sejenak untuk menerima panggilan tersebut. Namun, setelah melihat deretan nomor tanpa nama kontak, tetapi sangat familier di benaknya, gadis itu seketika menjatuhkan bahu lemas.
"Dia lagi," gumamnya malas.
Tanpa ragu, Jiang Lizqi kembali menaruh benda pipih persegi panjang itu di atas buffett, tidak ada niat untuk menerima panggilan dan kembali meneruskan aktivitas.
Akan tetapi, ketika ponselnya terus berdering, mengisyaratkan kegigihan sang penelepon, Jiang Lizqi tidak bisa terus mengabaikannya. Dengan wajah sebal dan bersungut-sungut, akhirnya dia membuka sambungan. Baru saja mulutnya terbuka hendak menyapa, suara dari seberang sana sudah menginterupsi,
"Apakah, Anda mengenal seseorang bernama Steven Lou?"
Dahi mulus gadis manis itu seketika berkerut. Dengan cepat menjauhkan ponsel dari telinga, melihat dengan saksama hanya ingin memastikan nomor telepon yang sedang digunakan untuk menghubungi dirinya adalah memang nomor misterius yang selama ini menerornya.
Sama. Pikirnya. Lalu segera bertanya, "Kalau boleh tahu, Anda ini siapa?"
"Saya hanya seorang pelayan bar di mana teman Anda saat ini sedang pingsan."
Jiang Lizqi tercengang. "Temanku? Tunggu dulu. Dari mana Anda mendapatkan nomor teleponku?"
__ADS_1
"Saya menghubungi Anda menggunakan ponsel Steven Lou. Dan di sini nomor Anda adalah satu-satunya, dengan nama kontak si Tukang Senyum."
Untuk yang kedua kalinya Jiang Lizqi tercengang. Namun, tidak sempat berkata-kata lagi karena orang yang menghubungi mendesaknya untuk segera datang menjemput Steven Lou. Kemudian, langsung mematikan sambungan setelah memberitahukan alamat bar berada.
Jiang Lizqi mengembuskan napas kasar, lalu memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. "Astaga. Ternyata dia orangnya. Steven Lou, usia kita sama tapi kenapa kamu begitu kekanakan?" keluhnya dalam gumaman lirih.
Mendapat kabar bahwa sekarang Steven Lou sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri di bar, Jiang Lizqi segera menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Setelah berpamitan kepada petugas resepsionis, dia bergegas pergi dengan langkah-langkah lebar.
Untuk menjemput seseorang yang sedang teler tidak mungkin naik bus atau MTR.
Selagi melangkah terburu-buru sambil memikirkan cara yang lebih efisien untuk membawa Steven Lou, hingga akhirnya dia putuskan bahwa lebih baik naik taksi, ternyata begitu keluar dari pintu tempatnya mengajar, sesuatu yang dia butuhkan itu telah menunggunya di depan, di tepi jalan dekat trotoar yang akan dilaluinya, dengan sopir yang sudah tidak asing lagi.
"Paman datang untuk menjemputku, kan?" Dengan napas terengah, Jiang Lizqi bertanya.
"Iya, Non. Silakan."
Sopir itu membukakan pintu, tetapi Jiang Lizqi tidak segera masuk. Setelah napasnya lebih teratur dan juga sudah membasahi tenggorokan dengan menelan ludah, barulah dia bersuara, "Paman, tolong antar aku ke sebuah bar. Ada seseorang yang harus aku jemput."
"Baik, Non."
Sosok Steven Lou sekarang baginya adalah sebuah misteri. Kebencian si arogan itu terhadapnya sangat berlebihan sejak pertama kali mereka bertemu, selalu menjadi tanda tanya besar di sudut terdalam hatinya.
Di balik perangai angkuh yang selalu ditunjukkan, ternyata Steven Lou memiliki kepedulian yang cukup besar terhadap sesama. Pemuda itu sama sekali tidak merasa enggan atau jijik bergaul dengan mereka yang dianggap kotor dan rendah oleh kebanyakan orang yang berstatus sosial tinggi.
Kenapa dan dengan tujuan apa pemuda itu meneror dirinya? Lalu, dari mana dia mendapatkan nomor teleponnya? Terasa cukup aneh pula bila di daftar kontak hanya ada satu nomor saja.
Lou Haikuan pernah mengatakan bahwa Steven Lou sangat menyukai aktivitas yang sehat, gemar berolahraga. Membuat Jiang Lizqi berasumsi bahwa Steven Lou pastinya juga akan memiliki pergaulan dan kehidupan yang bersih, jauh dari yang namanya kecanduan. Baik kecanduan obat-obatan ataupun miras.
Hal itu otomatis juga membuatnya menaruh respek. Namun, dengan kenyataan yang sekarang, Jiang Lizqi mendadak merasakan kekecewaan yang cukup dalam. Tadinya dia berpikir, meski arogan, Steven Lou bukanlah berandal atau apa pun sebutannya bagi mereka yang suka mabuk-mabukan. Akan tetapi, seiring dengan terpaparnya fakta, rasa respek itupun berangsur menipis.
"Kita sudah sampai, Non."
Bahu Jiang Lizqi sedikit terlonjak karena kaget. Keasyikan melamun, dia tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti.
"Paman tidak keberatan, kan, menemaniku masuk? Aku belum pernah mendatangi tempat semacam ini."
__ADS_1
Jiang Lizqi memandangi bangunan yang menyerupai ruko mewah itu dengan sorot mata miris. Dia tidak menyangka bahwa di balik keramaian aktivitas pertokoan yang terlihat biasa-biasa saja tersebut, ternyata terdapat satu tempat yang khusus disediakan bagi para pecandu alkohol, atau mungkin juga bagi para pecandu narkoba.
"Baik, Non."
"Oh iya. Apakah, Kuan Ge sudah menghubungi, Paman?"
"Belum. Sepertinya tidak akan menghubungi lagi karena tadi pagi sudah memberi instruksi sangat jelas, apa yang harus saya lakukan."
Sopir itu berbohong dengan sangat lancar. Bukan keinginannya seperti itu, melainkan karena tuntutan dari sang bos yang mengharuskan dirinya pandai-pandai merangkai kata dusta.
Jiang Lizqi tampak termenung, tidak lama kemudian tersentak kaget saat mengingat bahwa Steven Lou di dalam sana sedang butuh pertolongan.
"Astaga, apa yang aku lakukan? Paman, ayo ikut aku." Sembari berbicara, Jiang Lizqi turun dari mobil dan terus melangkah menuju bangunan ruko yang pada salah satu bagian dindingnya tertera alamat yang tadi disebutkan oleh pelayan bar. Begitu sampai di depan pintu yang ternyata akan otomatis terbuka dengan sendirinya bila ada yang mendekat, Jiang Lizqi memaksakan kakinya melangkah masuk meski sebenarnya enggan. Sopir taksi itu pun mengikutinya.
Ruangan yang mereka masuki hanya berpenerangan redup, memberi kesan teduh. Tidak ada apa pun selain tempat resepsionis yang dijaga oleh dua orang pria berpakaian formal. Jiang Lizqi jadi berpikir kalau dirinya mungkin telah mendatangi tempat yang salah. Sambil mengayun kaki perlahan, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sungguh tidak ada tanda-tanda bila tempat itu adalah bar.
"Selamat datang."
Kedua pria petugas resepsionis itu memberi salam serempak sambil mengangguk kecil. Perhatian Jiang Lizqi serta-merta beralih ke mereka dan balas mengangguk canggung. Setelahnya, sedikit mempercepat langkah dan berhenti tepat di depan meja resepsionis yang setinggi ulu hatinya.
Selagi Jiang Lizqi masih berpikir bagaimana merangkai kata yang tepat untuk bertanya, si sopir taksi sudah mendahuluinya. "Kami hendak menjemput seorang teman. Tadi salah satu pelayan tempat ini menghubungi kami."
Jiang Lizqi menatap si sopir dengan wajah polos cenderung bodoh. Dari cara pria itu menyampaikan maksud kedatangan, tanpa merasa ragu bila sudah mendatangi tempat yang salah, Jiang Lizqi jadi berpikir kalau sopir taksi itu sebenarnya sudah mengetahui tempat ini.
"Apakah Anda berdua ini teman dari Tuan Lou? Steven Lou?"
Sementara mata si sopir taksi melebar maksimal karena tidak menyangka orang yang akan mereka jemput adalah Steven Lou, Jiang Lizqi justru terlihat lega dan tersenyum lebar.
"Iya benar, kami temannya. Di mana kami bisa menemuinya?" tanyanya antusias.
"Baiklah, sebentar lagi akan ada yang membawa teman Anda kemari."
Gadis itu lantad bertanya "Apakah kami tidak boleh masuk untuk menjemputnya?"
[Bersambung]
__ADS_1