Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
KEPIKIRAN


__ADS_3

Steven Lou muncul dengan gaya sok jagoan seperti biasa, tiba-tiba menghentikan laju skateboard, membuat orang jantungan, berpikir dia akan terlempar jatuh nyatanya tidak. Dia mendarat sempurna dan sekarang berdiri angkuh sambil menenteng si papan luncur di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan berkacak pinggang.


Mengangkat wajah sejenak, Jiang Lizqi hanya ingin memastikan bawah manusia yang dijuluki songong oleh Ji Yu itu baik-baik saja---maksudnya tidak terjungkal dari skateboard. Setelah melihat Steven Lou tidak apa-apa, gadis berambut lurus panjang sepunggung dan berponi itu kembali menekuni laptopnya.


"Tidak mengagetkan bisa, kan? Dasar manusia songong tukang pamer." Ji Yu bersungut-sungut.


"Tidak bisa." Steven Lou membalas lugas, tak acuh, tatapannya pun mencela. "Kamu tidak perlu pasang wajah seperti itu, aku datang bukan untukmu. Tidak penting."


Entah sarapan cabai berapa kilo, nada pedas dalam ucapan Steven Lou sampai membuat Ji Yu merah padam.


"Kamu---"


"Apa?!"


"Yuyu, sudahlah." Dua orang yang saling melotot membuat Jiang Lizqi memutar mata bosan, lalu menatap malas StevenLou. "Kamu datang untukku? Ada apa?"


Sikap Jiang Lizqi yang tenang, tetapi terkesan menantang, membuat Steven Lou cukup merasa disepelekan. Dia pun tersenyum miring mencemooh.


"Selain suka tersenyum, ternyata kamu bisa menyebalkan juga," ujarnya sarkas.


Sikap permusuhan Steven Lou terhadapnya kerap membuat Jiang Lizqi heran dan bingung. "Apa kamu datang membawa dendam dari kehidupan sebelumnya? Sejak pertama kali bertemu, kamu seperti sudah bertekad tidak akan membiarkan aku hidup tenang."


Ji Yu terkikik sembari menutup mulut, Steven Lou menatapnya jijik, Ji Yu pun langsung menghardik, "Apa lihat-lihat?"


"Ingin menampar mulutmu menggunakan ini." Steven Lou mengangkat skateboard-nya. "Sayangnya aku tidak tega membiarkan kesayanganku ini bersentuhan dengan muka idiot sepertimu."


"Kamu ...." Saking gusarnya Ji Yu sampai tidak tahu harus ngomong apa.


Steven Lou memang paling bisa memancing amarah orang dan Ji Yu adalah korban yang tidak pernah belajar dari pengalaman. Sudah tahu Steven Lou memang seperti itu masih saja diladeni.


"Jangan hiraukan. Dia sengaja bikin gara-gara, entah apa maunya." Jiang Lizqi menasihati Ji Yu yang seperti bensin, mudah tersulut api.


Terkekeh sarkas, wajah Steven Lou semakin tampak menyebalkan. "Tak kurang seperti yang sudah aku dengar. Kamu memang cermat, intuisimu tajam." Ini bukan pujian. Mana mau Steven Lou memuji orang yang tidak dia sukai secara terang-terangan begitu. Ini pasti karena ada maksud tertentu.

__ADS_1


Jiang Lizqi menyesal sempat merasa simpati-empati terhadap si arogan ini. Apanya coba yang sudah bisa membuat Jiang Lizqi bersimpati-empati pada makhluk songong satu yang sama sekali tidak bisa dikasih hati.


"Ada apa? Langsung katakan saja." Hati boleh dongkol, tetapi Jiang Lizqi tetap bisa memaksa dirinya bersikap ramah.


"Tipografi."


Sempat terbengong sesaat, akhirnya gadis itu paham apa maksud Steven Lou ketika melihat ke arah mana tatapan pemuda berambut kecokelatan itu berlabuh---laptop.


"Oh, kamu butuh bantuan mengerjakan tugas membuat logo?"


"Tidak! Aku ingin kamu yang mengerjakannya untukku!" Lugas, tegas, ada aura 'tidak bisa ditawar' yang menguar dari suaranya, seperti perintah mutlak.


Menghela napas dalam-dalam untuk menata perasaan, tetapi nyatanya Jiang Lizqi tetap tidak bisa mencegah senyum sinis tersungging, bahkan bicara pun sarkas, "Maaf. Kalau kamu ingin belajar, mari aku bantu, tapi aku tidak punya waktu mengerjakan tugas orang lain sementara tugasku sendiri belum selesai."


"Apa bedanya kamu mengajariku atau mengerjakannya untukku, toh, sama-sama menyita waktumu. Ayolah, jangan sok. Aku akan membayar berapa pun."


Tipe orang  yang mengandalkan duit, menganggap duit bisa membeli apa saja dan mengabulkan semua permintaannya. Kata membayar telah menyentil titik tersensitif dalam hati Jiang Lizqi. Dia bangkit, berdiri tepat di hadapan Steven Lou, acuh tak acuh menyelipkan rambut di lipatan telinga setelahnya melipat tangan didepan dada, lalu menatap dengan kepala sedikit menunduk sehingga terkesan mendelik, dan wajah manisnya terlihat bengis.


Pukulan tanpa menyentuh menghantam telak nurani Steven Lou. Wajahnya seketika mengeras, mata menatap nanar, geraham mengetat menciptakan garis rahang tegas, genggaman pada papan luncur pun semakin erat.


Kali ini dengan suara lunak disertai tatapan teduh, Jiang Lizqi berkata, "Steven Lou, aku tidak tahu seberapa kaya orang tuamu, tapi percayalah, uang tidak akan selalu bisa menyelesaikan masalah. Di dunia ini ada hal-hal yang tidak akan bisa kamu beli dengannya. Maaf, bila perkataanku tadi telah menyinggungmu. Aku sedikit terbawa emosi."


Steven Lou hanya berdiri terpaku. Dadanya serasa bergemuruh seperti ada lahar mendidih yang siap tumpah, tetapi entah kenapa mulutnya enggan terbuka. Bahkan saat Jiang Lizqi dan Ji Yu melangkah pergi, dia hanya menatap tanpa berniat untuk mencegah atau berteriak mengumpat.


Di mata kuliah berikutnya hingga seluruh sesi belajar mengajar usai, Steven Lou tidak lagi menampakkan diri. Meski oleh karenya, Jiang Lizqi merasa lega, tetapi di lubuk hati yang paling dalam justru merasa cemas. Dia khawatir perkataannya tadi sudah menyinggung Steven Lou terlalu dalam.


Tidak tahu bagaimana kehidupan Steven Lou yang sebenarnya, Jiang Lizqi merasa tidak seharusnya asal bicara, seharusnya lebih bisa menahan diri.


Aish! Serba salah!


Kegelisahan Jiang Lizqi terbawa sampai ke apartemen. Beruntung sekali hari ini tidak ada jadwal mengajar les privat, kalau ada bisa-bisa kacau. Ya, begitulah. Karena tidak mau membebani orang tua dengan segala macam kebutuhan hidup dan kuliah, Jiang Lizqi bekerja sampingan menjadi guru les privat. Padahal orang tuanya tidak miskin walau tidak kaya raya juga. Mereka hanya petani, tetapi petani yang cukup sukses.


Berniat melupakan peristiwa tadi siang dengan menonton TV, bisa dibilang cukup berhasil. Selama menyaksikan program kesukaannya pikiran benar-benar teralihkan, tetapi ketika acara TV usai dan dia mulai mengoperasikan laptop untuk mengerjakan tugas membuat logo, wajah Steven Lou langsung terbayang.

__ADS_1


Ughf! Menyebalkan! Jiang Lizqi mengetuk kepalanya menggunakan pena.Seharusnya aku tidak berkata seperti itu padanya. Kenapa mulutku lancang sekali? Belum sebulan bertemu sudah kacau seperti ini. Astaga!  Gadis itu memijit pelipis yang tiba-tiba berdenyut sakit.


Saat ini keadaan Steven Lou pun kacau. Perkataan Jiang Lizqi sampai sekarang masih terus terngiang-ngiang di telinga. Tadi dia sangat marah pada si Tukang Senyum itu, tetapi sekarang justru marah pada diri sendiri. Marah dan menyesal karena tadi tidak melabrak Jiang Lizqi.


Amarah yang tidak bisa dia lampiaskan pada target yang tepat, akhirnya menyasar pada benda-benda dalam kamarnya. Sulit dideskripsikan secara detail, pokoknya sangat berantakan seperti habis kena guncangan gempa berkekuatan dahsyat.


Setelah memorak-porandakan semua barang, dia mengambil bola basket lalu memantul-mantulkannya ke dinding sambil merapal nama Jiang Lizqi penuh kebencian. Setelah puas mengamuk, barulah dia keluar dari kamar dan tidur di sofa ruang keluarga. Karena kelelahan, tidurnya sangat pulas dan bangun-bangun sudah lewat jam makan malam.


Lebih baik mandi lalu tidur lagi, makannya besok pagi saja. Begitulah pikirnya. Akan tetapi, sebelum dia sempat beranjak, seorang perempuan dewasa dalam balutan busana formal warna pastel, rambut disanggul modern dan berhiasakan jepit daun perak di sisi kanan, masuk membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air minum.


Sangat anggun, cara berjalannya saja, seperti sudah mencerminkan status sosial dan integritasnya sebagai perempuan karier, percaya diri dan elegan. Alih-alih senang, Steven Lou malah membuang muka. Perempuan itu adalah ibunya, orang yang paling dia rindukan, tetapi setiap kali melihat wajahnya Steven Lou justru merasa kesal.


Setelah meletakkan nampan di atas meja, Nyonya Lou duduk di samping putranya. Meskipun sambutan sang buah hati tidak ramah, senyum lembut tetap merekah di bibirnya yang berpoles warna merah bata.


"Tumben sudah pulang." Steven Lou berujar sangat ketus dan tanpa menoleh.


Berbicara dengan nada ketus dan bersikap tidak sopan sepertinya sudah menjadi ciri khas StevenLou. Meskipun begitu, senyum Nyonya Lou tak luntur. Jemari lentik berhiasakan cincin berlian di jari tengah membelai lembut rambut kecokelatan putranya.


"Ibu pulang lebih awal karena ingin berbincang denganmu. Oh, iya, bibi bilang kamu belum makan dari tadi siang. Ini, ibu bawakan makanan, ayo, dimakan atau perlu ibu suapi?"


"Tsk, tidak perlu!" Steven Lou menepis tangan ibunya sangat kasar lalu menatap tajam. "Tidak perlu basa-basi ... Ibu pulang lebih awal karena Mister Kwong sudah mengadu macam-macam, kan?"


Dada terasa sesak tiba-tiba, Nyonya Lou pun menghela napas dalam lalu mengembuskan perlahan. Menghadapai putra semata wayangnya ini memang membutuhkan kesabaran ekstra. Bersyukurlah, sampai saat ini persediaan kesabaran Nyonya Lou belum menipis.


"Makanlah dulu. Setelah itu baru bicara. Ibu tidak mau tifusmu kambuh. Kamu adalah harta ibu yang paling berharga---"


"Kalau begitu, Ibu pasti ingin aku bahagia, kan? Ibu tahu betul apa yang bisa membuatku bahagia. Lalu kenapa tidak---"


"Steven, cukup. Ibu mohon jangan bicara tentang itu lagi." Setelah memotong ucapan putranya, lagi-lagi Nyonya Lou menghela napas panjang.


Sulit sekali berbicara dengan Steven Lou dalam suasana santai. Hubungan mereka memang sudah lama tidak harmonis dan Nyonya Lou tidak menyalahkan putranya dalam hal ini.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2