Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
SENJATA MAKAN TUAN


__ADS_3

"Kamu ingin langsung pulang?" Pertanyaan Lou Haikuan menyentak Steven Lou dari lamunan panjang, tetapi dia tidak segera menoleh.


Hatinya masih sangat geram, ingin rasanya melampiaskan pada seseorang atau sesuatu. Dalam diam dia memeras otak; berpikir keras untuk menelurkan ide, tetapi  sebelum ilham mengahampiri, kepalanya sudah berdenyut sakit. Dia memijit pelipis sambil mendesis.


"Kamu kenapa?"


"Hanya sedikit pusing."


"Aku antar pulang."


"Tidak, tidak. Aku belum ingin pulang."


"Lalu?"


Steven Lou tidak segera menjawab. Matanya terpaku ke depan, ke arah seorang petugas pesan antar makanan yang sedang mengendarai sepeda motor perusahaan tepat di depan mobil mereka.


Pikirannya langsung tertuju kepada Jiang Lizqi. Hari apa ini pun menjadi salah satu yang dia perhitungkan. Setelah ingat hari ini adalah Jumat, seulas senyum licik tersungging.  Ketika melirik jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kakak sepupunya, senyumnya semakin lebar. Pukul setengah lima sore.


Entah apa yang terlintas dalam benaknya dan apa hubungan hari Jumat serta waktu. Yang jelas, di hari Jumat Jiang Lizqi tidak memiliki jadwal mengajar dan di jam sekarang ini, kuliah sudah berakhir.


"Aku ingin Kuan Ge melihat sesuatu," ujar Steven Lou sambil tersenyummiring.


"Apa itu?"


"Arahkan mobil ke komplek apartemen depan kampus."


"Kompleks Green Mediterania?"


"Hm."


Meski tidak tahu apa tujuannya, Lou Haikuan tetap saja melajukan mobil ke arah yang diminta Steven Lou. Sedangkan Steven Lou sendiri sekarang malah sedang asyik melakukan pemesanan lewat telepon.


Alis Lou Haikuan bertaut. Heran, untuk apa adik sepupunya itu memesan banyak makanan cepat saji dari beberapa restoran untuk dikirimkan ke satu alamat tujuan.


"Kenapa memesan begitu banyak dan itu alamat siapa?" tanya Lou Haikuan begitu Steven Lou sudah selesai menelepon.


Seringai puas penuh kemenangan tercetak miring di sudut bibir pemuda itu. "Kuan Ge lihat saja nanti," ujarnya misterius.


Menggeleng lemah dan mengembuskan napas lelah, Lou Haikuan yakin Steven Lou pasti hendak berbuat onar. "Aku harap kamu tidak sedang berencana mengerjai seseorang."


Steven Lou tidak merespons. Hatinya sedang berbunga. Sebentar lagi, dia akan menyaksikan manusia yang dianggapnya paling sombong dan paling menyebalkan, menjadi panik karena tidak mampu membayar makanan yang sudah dia pesan untuknya. Bila beruntung, mungkin dia akan mendapat kesempatan untuk melemparkan uang yang tadi siang sudah ditolak, tepat ke muka gadis itu.


Setelah memarkir mobil, masih dengan segala ketidakmengertiannya, Lou Haikuan mengikuti Steven Lou, melangkah memasuki kompleks apartemen yang mereka tuju. Sembari berjalan, bola mata pria itu terus bergerak mengikuti pergerakan para petugas pesan antar yang jumlahnya kira-kira ada sepuluh, bisa jadi lebih. Entalah dia tidak bisa memperkirakan dengan tepat. Mereka semua menuju ke lobi blok apartemen yang sama, dan ke sana pula sekarang Steven Lou membawanya.

__ADS_1


"Steven. Apa ini semua pesannanmu? Kenapa sebanyak ini dan ini apartemen siapa?"


Steven berdecih malas. "Diam dan lihat saja."


Sudah membuka mulut hendak berbicara, Lou Haikuan terpaksa kembali mengatupkannya kala dua orang petugas pesan antar yang sudah selesai mengantar pesanan melintas sambil menggerutu.


"Sok-sokan pesan makanan, sudah diantar malah bilang bukan dia yang memesan. Dasar."


"Untung masih mau bayar. Kalau tidak, kita yang harus ganti rugi."


Begitulah isi gerutuan mereka yang saling menyambung. Mata Lou Haikuan menyipit, menatap curiga Steven Lou yang wajahnya tampak berseri-seri.


"Dugaanku benar, kan? Oh astaga, Steven. Siapa yang kamu kerjai?" Lou Haikuan gusar, tetapi Steven Lou tenang-tenang saja, tidak ambil pusing pun.


Sekitar lima menit kemudian, pertanyaan Lou Haikuan terjawab. Ketika mereka sampai di lantai delapan dan melihat para petugas pesan antar sedang berkerumun di depan salah satu unit apartemen---marah-marah sambil menunjuk-nunjuk emosional pada seorang gadis yang wajahnya terlihat begitu lelah dan putus asa. Sorot mata mencela Lou Haikuan menatap adik sepupunya. Namun, sekali lagi yang bersangkutan hanya tak acuh.


"Apakah dia itu Jiang Lizqi?"


"Hm."


Sementara Steven Lou terlihat puas dan bahagia melihat penderitaan Jiang Lizqi, Lou Haikuan justru menatap sedih. Keduanya berdiri mematung, menyaksikan keributan itu dari dekat pintu lift.


"Saya sungguh-sungguh tidak memesannya!"


"Saya bukan orang kaya, uang saya tidak mungkin cukup untuk membayar semua ini. Astaga." Sudah lelah berteriak untuk meyakinkan, kali ini dia hanya bisa berujar lemah. Lelah sekali rasanya.


"Kamu harus tetap membayarnya! Kami tidak mungkin keliru karena orang yang tadi menelopon memberikan alamat ini kepada kami!"


Mereka yang tadinya berjuang untuk diri masing-masing, akhirnya mengunakan kata kami yang berarti mewakili semua. Jiang Lizqi kembali mengembuskan napas lelah, lalu mengacak rambut yang diikat asal-asalan. Dengan celana dan baju rumahan yang kedodoran, gadis itu tampak lebih kurus dan slebor.


Bisa saja dia membayar semuanya, tetapi dengan begitu, jatah uang untuk belanja bulan ini akan habis tak tersisa atau bahkan masih kurang dan terpaksa harus mengambil sedikit jatah untuk bulan depan. Kalau itu dilakukan, bisa-bisa dia tidak akan memiliki uang simpanan lagi.


Di saat sedang menimbang-nimbang itulah, terdengar suara bernada mencemooh dari seseorang yang sudah sangat dihafalnya, "Sepertinya Anda sedang butuh uang, Nona Jiang."


Semua atensi serempak teralihkan ke Steven Lou yang sedang melangkah angkuh dengan banyak uang dalam genggaman tangannya yang terjulur. Dia berhenti di jarak sekitar dua meter.


Untung saja uang itu tadi belum dia hamburkan untuk mentraktir teman-temannya. Dan tak satu pun ada yang mengira kalau di dompet pemuda itu terdapat banyak uang tunai.


"Steven, hentikan." Lou Haikuan berusaha mencegah, tetapi tidak ada gunanya pun.


Tidak menyangka Steven Lou mengetahui tempat tinggalnya, Jiang Lizqi hanya bisa melongo. Dan prasangka buruk pun tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Mata gadis itu memicing, menatap penuh selidik.


Melihat lagak songgong Steven Lou, dugaannya menjadi semakin kuat. Segera Jiang Lizqi berbisik, bertanya pada salah seorang petugas, "Kamu masih menyimpan nomor telepon si pemesan, kan?"

__ADS_1


Si petugas mengangguk cepat. "Iya, tentu saja masih."


"Kalau begitu, hubungi sekarang."


"Eh, kanapa? Bukankah Anda orangnya?" Si petugas pesan antar itu menatap bingung.


Jiang Lizqi mengibaskan tangan tidak sabar. "Sudah lakukan saja. Ayo, buruan."


Dengan wajah tertekuk kesal, pria itu membalas, "Ish, baiklah."


Selagi pria yang mengenakan baju seragam berlogo ayam goreng di atas piring itu sibuk dengan ponselnya, mata Jiang Lizqi menyipit menatap Steven Lou, dan bibir menyungging senyum sinis.


Senjata makan tuan, Steven Lou.


Ponselnya berdering, Steven Lou sedikit terlonjak kaget. Sebelum dia sempat menjawab panggilan, petugas yang tadi menelepon sudah menudingnya.


"Dia yang sudah memesan! Lihat. Apakah ini nomor telepon pemesan yang ada di kalian?" Petugas itu memperlihatkan layar ponsel yang masih dalam mode memanggil.


Yang lain pun buru-buru memeriksa ponsel masing-masing, ada juga yang hanya melihat secarik kertas. Kemudian hampir bersamaan mereka berseru, "Iya, benar!"


Sementara Jiang Lizqi tersenyum puas, Steven Lou menatap nanar. Marah dan benci luar biasa. Dalam hati merutuki kebodohannya yang terlalu meremehkan Jiang Lizqi. Di sampingnya, Lou Haikuan sama sekali tidak merasa kasihan ataupun prihatin, justru sedang bersusah-payah menahan senyum.


Jiang Lizqi melangkah dengan tenang menghampiri Steven Lou, lalu mengambil uang dari genggamannya sembari berkata, "Memesan itu sudah seharusnya membayar, bukan?"


Menahan amarah yang seakan meledak-ledak di dalam jiwa, Steven Lou justru tidak mampu bergerak. Hanya berdiri terpaku dengan rahang mengetat dan tinju mengepal erat.


Sebelum berpaling, Jiang Lizqi sempat tersenyum remeh, membuat amarah Steven memuncak. Akan tetapi, entah kenapa dia seperti tidak mampu bersuara. Bahkan saat Jiang Lizqi membagi-bagikan uang kepada para petugas pesan antar, dia hanya mampu menatap saja.


Lou Haikuan memperhatikan Jiang Lizqi dengan saksama, kemudian beralih memandang Steven Lou. Dua orang yang kepribadiannya sungguh bagai langit dan bumi, batinnya.


Dalam sekejap, lorong apartemen itu menjadi sunyi karena orang-orang yang tadi berkerumun sudah pergi, meninggalkan makanan yang mereka antar berjejer rapi di dekat pintu unit apartemen Jiang Lizqi.


Gadis itu kembali menghampiri Steven Lou. "Aku ambil uang yang sudah aku gunakan untuk membayar dua pesanan yang tidak pernah aku pesan. Sisanya aku kembalikan." Dia meraih tangan Steven Lou yang kaku bagai robot, lalu menjejalkan uang yang tersisa di telapaknya.


Steven Lou melontarkan napas kasar, amarahnya sudah berada di ambang batas. "Jangan berpikir bahwa ini sudah selesai." Berbicara pun dengan gigi terkatup rapat, bahkan terdengar suara bergemeratak.


Jiang Lizqi tersenyum teduh. "Aku tidak pernah merasa memulai mengganggumu. Tapi kenapa kamu selalu ingin membalasku?" Gadis itu melipat tangan di depan dada dan menatap Steven dengan gestur muak.


Setelah mendengkus kasar, Steven Lou berbalik, buru-buru Jiang Lizqi mencengkeram lengannya, tetapi segera setelahnya gadis itu terpaksa harus refleks menarik kepala ke belakang karena tiba-tiba Steven Lou mengarahkan tinju ke mukanya.


"Steven, jangan!"


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2