Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
PERAWAT DADAKAN


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh saat Jiang Lizqi masih memeriksa ulang tugas kuliah, tiba-tiba Steven Lou merintih dan menggumam dalam tidur dengan tubuh menggigil. Pemuda yang baru saja kalah telak oleh pengaruh alkohol itu mengalami demam tinggi dan membuat Jiang Lizqi sempat merasa panik. Namun, pengalaman hidup mandiri selama ini cukup memberinya bekal untuk tetap bisa mengendalikan diri dalam situasi apa pun. Dia bergegas mengambil obat.


"Steven, bangun. Minum obat dulu." Jiang Lizqi membangunkan dengan suara dan sentuhan lembut pada bahunya, tetapi Steven Lou bergeming. Beberapa kali Jiang Lizqi mencoba dan gagal. "Aish, anak manja ini. Apa perlu aku siram air es biar bangun, huh? Steven, bangun minum obat dulu."


Meski mulutnya sedikit kasar, tetapi tindakannya berbanding terbalik. Dengan gerakan lembut dia membantu Steven Lou yang masih tidur nyenyak untuk bangun, hingga akhirnya pemuda itu membuka mata walau hanya secelah.


"Pusing ...." Dia mengeluh dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Buka mulutmu." Sambil bicara dan sebelum Steven Lou membuka mulut, Jiang Lizqi sudah menjejalkan sebutir pil ke bibir Steven Lou, membuat wajahnya mengernyit kesal. Namun ketika menyadari maksud Jiang Lizqi, dia pun perlahan membuka mulut.


Dia memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan mata yang terasa pedih dan panas. Di antara rasa sakit dan lelah pikirannya kacau, dia merasa seperti sedang berhalusinasi, takut mempercayai penglihatannya sendiri. Bagaimana mungkin Jiang Lizqi bersedia merawatnya?


Jiang Lizqi tidak tahu isi kepala Steven Lou. Jadi, dia santai saja. "Berbaringlah, pelan-pelan saja." Seperti pengasuh profesional, gadis itu membantu Steven Lou berbaring perlahan. "Apa rasanya dingin? Mau selimut tambahan?"


Di antara kesadaran yang tipis, Steven Lou mengangguk seperti anak patuh. Jiang Lizqi buru-buru mengambil selimut tambahan untuk menutup tubuhnya. Setelah itu mengambil air hangat suam-suam kuku serta saputangan untuk mengompres.


malam itu, dengan telaten dia merawat Steven Lou layaknya sahabat sejati, hingga dua jam kemudian bisa merasa lega karena suhu tubuh pemuda itu turun. Namun begitu, dia tidak lantas memiliki waktu untuk dirinya sendiri karena setelah tidak demam lagi, tubuh Steven Lou justru terus-terusan berkeringat.


Jiang Lizqi tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dia pun kembali menyusahkan diri dengan mengelap setiap butir cairan yang merembes ke luar dari pori-pori kulit pemuda itu, bahkan sempat tiga kali mengganti bajunya yang lembap.


Meski sebenarnya merasa tidak enak hati juga malu, tetapi Jiang Lizqi tidak punya pilihan. Toh, sebelumnya dia juga sudah sempat melihat tubuh bugil Steven Lou saat membantunya mandi. Bila setelah sembuh nanti Steven Lou akan semakin marah dan membencinya karena merasa telah dilecehkan, selama pemuda itu tidak melakukan hal aneh-aneh untuk mengerjainya, dia akan masa bodoh. Namun, jika setelah sembuh Steven Lou  menolak ingat semua kebaikannya dan malah menyalahkan atau berbuat macam-macam untuk mengerjainya, Jiang Lizqi sudah bertekad tidak akan tinggal diam.


Sekitar pukul dua belas lewat sedikit, Lou Haikuan mengirim pesan, menyampaikan kalau dia akan datang di pagi hari dan meminta Jiang Lizqi untuk tidak menunggunya. Gadis itu pun sebenarnya sangat ingin beristirahat, membaringkan tubuh yang sangat lelah, lalu berlayar dalam dunia mimpi.


Namun, dia tidak bisa karena Steven Lou kerap mengigau menggumam tidak jelas, terkadang juga terisak dan di sela isak itulah dia memanggil 'ibu' sembari tangannya menggapai-gapai seperti hendak meraih sesuatu. Jiang Lizqi yang berpikir bahwa Steven Lou sedang membutuhkan kehangatan dari sang ibu, segera meraih tangannya lalu menggenggam erat-erat.


Benar saja, setelah itu Steven Lou bisa tidur nyenyak dan tenang, Jiang Lizqi pun sempat terlena sejenak. Hanya sejenak, tidak sampai setengah jam karena terusik oleh mimpi buruk. Di alam bawah sadar, dia melihat Steven Lou ditikam dari belakang oleh seseorang berpakaian hitam. Aneh saja, gara-gara mimpi itu dia jadi kepikiran. Bahkan gelisah, padahal selama ini dia bukan tipe orang yang percaya takhayul atau tafsir mimpi.


Di dalam kamar yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak bisa dibilang kecil itu, sekarang yang terdengar jelas di antara keheningan hanyalah detak jantung sang waktu dan tarikan halus nan teratur napas keduanya yang sedang terlelap.

__ADS_1


Pukul tujuh pagi, Lou Haikuan melangkah tergesa keluar dari area parkir mobil indoor kompleks apartemen tempat Jiang Lizqi tinggal menuju lobi.


Sementara itu, di depan pintu unit apartemen Jiang Lizqi, sopir taksi kepercayaan Steven Lou sedang kebingungan, karena setelah berkali-kali membunyikan bel pintu dan juga mengetuk serta memanggil tetap tidak ada jawaban dari dalam.


"Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu yang buruk. Aduh, bagaimana ini dan apa yang harus aku lakukan?" Pria itu bergumam khawatir.


Sekali lagi dia menekan bel pintu, setelah beberapa saat menunggu tetap tidak ada respons, akhirnya kembali mengetuk sembari memanggil, tetap tidak ada hasil juga. Pria itu menjatuhkan bahu lamas, rasa putus asa dan khawatir membaur menjadi satu menyiksa batin hingga membuatnya merasa tertekan dan tegang. Kemarin dia pergi setelah Steven Lou tertidur.


Sampai di rumah, justru dia yang tidak bisa tidur dengan tenang karena mencemaskan tuan mudanya. Pagi ini dia sengaja datang lebih awal untuk melihat keadaannya serta membawakan sarapan berupa bubur putih.


Pria itu mengusap dahi yang terasa basah menggunakan punggung tangan yang sedang memegang bungkusan plastik---tidak ada pilihan karena tangan satunya pun sedang memegang sesuatu. Napas kasar terlontar dari mulutnya, wajah pun semakin terlihat murung.


Lou Haikuan yang baru keluar dari lift langsung melihatnya. "Paman Ping."


Sapaan dengan nada sedikit tinggi itu membuat pak sopir terlonjak kaget dan seketika memutar seluruh badan untuk menghadap. Ketika melihat siapa yang datang, perlahan dan pasti ketegangan yang sempat menghiasi wajahnya berangsur sirna. Meski juga sempat terkejut karena disapa tiba-tiba, tetapi kini senyum lega merekah di bibirnya yang sedikit bergetar.


"Tuan Lou. Syukurlah Anda datang!" Karena gembira, pria itu tanpa sadar berseru cukup kencang.


"Saya sudah hampir setengah jam berada di sini. Berulang kali membunyikan bel dan mengetuk, tapi tetap tidak ada jawaban. Saya sangat mengkhawatirkan keadaan tuan muda."


Kekhawatiran pun seketika menghiasi wajah Lou Haikuan. "Apa kondisi Steven sangat parah?"


Paman Ping menatap bingung. Sejatinya dia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi setelah sejenak berpikir akhirnya dia mengangguk lemah. Lou Haikuan pun langsung menepuk dahi gemas.


"Sejak kapan dia mulai seperti ini? Steven, Steven. Apa maunya?"


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


Suara yang datang dari arah belakang dengan nada tinggi itu mengagetkan keduanya. Bersama spontan menoleh dan langsung beradu pandang dengan seorang pemuda yang menatap penuh curiga dari balik kacamata berlensa tebal.

__ADS_1


"Kalian siapa dan sedang apa di depan apartemen Qiqi?" Pemuda yang tidak lain adalah Ji Yu itu kembali bertanya dengan nada ketus.


"Apa kamu teman Jiang Lizqi?" Lou Haikuan balik bertanya.


Ji Yu mengangguk kecil dengan gerakan enggan karena sebenarnya dia tidak ingin menjawab, tetapi kepalanya justru seperti spontan bergerak sendiri.


"Kalian ini siapa?" Ji Yu bertanya untuk yang ketiga kalinya dan ketika melihat cara berpakaian Lou Haikuan yang meskipun kasual sederhana, tetapi tidak meninggalkan kesan mewah, dahinya mengernyit dan hati langsung merasa tidak enak.


"Apa Qiqi sudah membuat masalah?"


Meski meragukan pemikiran sendiri karena baginya orang sebaik Jiang Lizqi tidak mungkin mencari gara-gara, tetapi di saat yang sama dia juga berpikir bahwa tidak menutup kemungkinan sahabatnya itu terlibat masalah yang disebabkan oleh orang lain.


"Sebaiknya nanti saja kita mengobrol setelah berada di dalam. Sekarang, pikirkan bagaimana cara kita bisa masuk," ujar Lou Haikuan dengan wajah serius.


"Ada bel, tinggal menekannya saja, bukan?" Ji Yu berbicara seolah menganggap mereka berdua bodoh, karena tidak mengerti fungsi kotak perak yang tertempel di dinding dengan tombol bulat di tengahnya. Pemuda bertampang culun itu langsung bergerak menekannya sebelum yang lain sempat memberi penjelasan.


Mereka hanya menatap dalam diam, membiarkan pemuda itu mendapatkan sendiri jawaban atas pertanyaannya. Hingga akhirnya yang bersangkutan mulai terlihat bingung karena berapa kali pun dia membunyikan bel, tetap tidak ada jawaban dari dalam.


"Sekarang Anda sudah mengerti, bukan? Kami juga sudah membunyikan bel itu berkali-kali, tapi tidak ada hasilnya." Paman Ping berujar dengan sopan, tetapi nada sarkas dalam suaranya tetap saja terasa.


Ji Yu menatap pria yang juga sedang menatapnya itu dengan bibir sedikit manyun. "Kenapa tadi tidak bilang?" ujarnya sengak, kemudian segera membuka tas dan setelah merogoh, mencari-cari sebentar, akhirnya dia menarik kembali tangannya bersama beberapa kunci yang disatukan dengan sebuah gantungan.


Melihat itu Lou Haikuan serta-merta mengembuskan napas lega. "Syukurlah."


Ucapan pria itu menarik atensi Ji Yu yang sedang memasukkan kunci ke lubangnya. Siapa sebenarnya mereka ini?


Dan kejadian berikutnya cukup membuatnya terkejut ketika Lou Haikuan yang terlihat kalem itu tiba-tiba mendesak masuk mendahului dirinya yang telah membukakan pintu. Bahkan dia juga kalah cepat dari Paman Ping.


"Hei, apa-apaan kalian ini?!" Dia berseru, tetapi tidak ada yang mengacuhkan.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2