![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Dengan wajah risau, Nyonya Lou keluar dari ruang resepsionis bar yang sama dengan yang tadi didatangi Jiang Lizqi. Meskipun sedang kalut, perempuan itu tetap terlihat cantik, berkelas dan elegan dalam balutan busana formal. Langkahnya angun dan penuh percaya diri.
"Kita ke arena skateboard yang biasa didatangi, Steven," perintahnya kepada pak sopir begitu sudah duduk di dalam mobil, kemudian segera mengoperasikan ponsel untuk menghubungi seseorang. Tidak butuh waktu lama panggilannya sudah tersambung.
"Bi, masuklah ke kamar tuan muda, lihat, ponselnya ada atau tidak."
Di kediaman Lou, seorang pelayan perempuan yang sedang menerima panggilan segera menjawab, "Ada, Nyonya. Kebetulan tadi saya sendiri yang merapikan kamar tuan muda."
Raut wajah Nyonya Lou terlihat semakin risau. Setelah memutus sambungan, segera menghubungi nomor yang lain. Begitu panggilan terhubung, dengan cepat melontarkan pertanyaan, "Apa kamu tahu, siapa teman Steven yang dijuluki si Tukang Senyum?"
Lawan bicara yang tidak lain adalah Lou Haikuan. Saat ini berada di dalam taksi sedang dalam perjalanan menuju bandara negara tempatnya berada, yakni Singapura. Dahinya mengernyit mendengar julukan itu.
"Kalau tidak salah, aku pernah engar dia memanggil Jiang Lizqi dengan sebutan itu."
Nyonya Lou tercengang. Kalau benar Jiang Lizqi berarti bukan teman. Perempuan itu pun lalu meracau seperti orang panik, "Jiang Lizqi? Ya Tuhan. Steven menggunakan satu ponsel khusus hanya untuk Jiang Lizqi? Buat apa? Menggangunya, menerornya, atau apa?"
"Bibi ngomong apa? Apa maksudnya ponsel khusus? Apa Steven membuat Jiang Lizqi terlibat dalam masalah lagi?"
Nyonya Lou sekarang terlihat putus asa. "Entahlah. Tapi yang jelas sekarang ini adikmu itu yang dalam masalah. Seseorang merekam dia yang sedang berada di bar; minum-minum, mabuk berat, dan mengirimkan videonya kepadaku. Memintaku untuk menjemputnya, tapi waktu aku sampai sana petugas resepsionis mengatakan kalau sudah ada yang membawa Steven pergi. Dua orang, yang satu gadis dan satunya laki-laki sudah cukup berumur."
"Lalu, dari mana Bibi mengetahui nama panggilan itu?"
"Mereka bilang kalau satu-satunya nomor telepon yang ada di dalam daftar kontak ponsel Steven adalah nama itu."
Lou Haikuan membeku sejenak, kemudian berkata, "Steven menghapus nomor kontak yang lain?"
"Tidak. Ponsel yang biasa dia gunakan ada di rumah. Aku rasa itu ponsel baru atau ponselnya yang lain. Makanya tadi aku bilang ponsel khusus."
Lou Haikuan menghela napas lelah. Kalau memang Steven Lou benar-benar mempunyai ponsel khusus untuk menjahili Jiang Lizqi, sungguh tidak habis pikir. "Bibi tenangkan diri dulu. Aku akan mengurusnya."
"Bagaimana kamu melakukannya, sementara kamu sendiri sedang ada di luar negri?" Suara perempuan itu sampai terdengar seperti sedang merengek karena saking cemasnya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ada hal penting yang harus aku sampaikan langsung pada Steven."
"Ada apa lagi? Astaga, jangan bilang ada masalah lain lagi. Apa yang terjadi?"
Nyonya Lou semakin terlihat gelisah dan gusar. Lou Haikuan baru kemarin bertolak ke Singapura, rencananya akan di sana selama dua minggu dan sekarang tiba-tiba mau kembali hanya untuk berbicara secara langsung dengan Steven. Hati dan pikiran perempuan itu pun jadi tidak menentu.
"Bibi tidak perlu khawatir. Aku janji akan mengendalikan situasi dan untuk yang di sini, aku percayakan pada Lou Yiehan."
Bibir Nyonya Lou bergetar hebat, berusaha menahan tangis, tetapi pada akhirnya, tetap saja tidak kuasa membendung cairan bening yang mendesak ke luar. "Kalau begitu, cepatlah datang," pintanya dengan suara tersendat.
"Sebaiknya Bibi istirahat saja. Aku akan menghubungi Jiang Lizqi terlebih dahulu."
"Beri aku nomor telepon atau alamatnya kalau ada. Aku ingin bicara ...." Suara Nyonya Lou seperti timbul tenggelam karena sambil terisak-isak.
"Maaf, Bi ...."
"Aku tahu, aku tahu."
Setelah pembicaraan usai, Nyonya Lou menyandar lemas dan dengan suara lemah meminta pak sopir putar balik, pulang.
Ya, Tuhan. Mudah-mudahan semua baik-baik saja, harapnya dalam hati sambil memejamkan mata.
Sementara itu di apartemen Jiang Lizqi, selesai menyeka wajah dan leher Steven Lou yang beraroma alkohol dengan air hangat, gadis itu keluar dari kamar dan seketika terkejut karena mendapati pak sopir taksi masih berada di ruang depan apartemennya, sedang duduk termenung dan langsung berdiri ketika dirinya muncul.
"Astaga, aku sampai lupa. Paman, kenapa tidak segera pulang? Ini sudah hampir jam enam."
"Tidak apa-apa. Saya pikir mungkin Nona Jiang masih membutuhkan tenaga saya." Bila diperhatikan, wajah laki-laki itu tampak muram walaupun bibirnya tersenyum.
"Paman baik sekali. Terima kasih." Jiang Lizqi tersenyum lebar. Pikirnya, dia sangat beruntung karena sopir taksi utusan Lou Haikuan ini sangat berdedikasi.
"Iya, sama-sama, Non. Jangan sungkan kalau butuh bantuan. Oh iya, bagaimana keadaan Tuan Muda Lou?"
__ADS_1
"Aku rasa dia baik-baik saja. Hanya ... mungkin akan tertidur lebih lama. Sekali lagi terima kasih, Paman. Aku benar-benar bersyukur karena ada Paman yang membantu."
"Syukurlah. Saya senang bisa membantu."
"Sekarang Paman sudah bisa pu---"
Pak sopir menyela, "Kalau boleh, izinkan saya tetap di sini."
Nada memohon dalam suara pria itu membuat Jiang Lizqi menautkan kedua alis. Aneh saja rasanya melihat pak sopir itu tampak sangat cemas seolah yang sedang dalam kesulitan adalah sanak saudaranya.
Hal itu membuat si sopir langsung menyadari telah kelepasan bicara dan buru-buru berkata, "Bukan apa-apa, saya hanya ingin melakukan kewajiban dengan baik karena Tuan Lou Haikuan berpesan supaya---"
Jiang Lizqi menyela, "Paman sudah melaksanakan tugas dengan baik. Aku baik-baik saja dan sangat berterima kasih. Sekarang waktunya Paman pulang, berkumpul dengan keluarga dan beristirahat." Gadis itu tersenyum lembut. "Istri dan anak Paman pasti sudah menunggu kepulangan Paman."
Wajah sopir taksi itu seketika menjadi muram. Namun tidak membantah karena jika dia bersikeras, Jiang Lizqi bisa curiga. Akhirnya dia pun berpamitan, lalu melangkah ke arah pintu sambil sesekali menoleh ke belakang.
Jiang Lizqi memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan saksama. Rasa penasaran pun kembali meliputi hatinya. Dia penasaran karena merasa sopir itu sebenarnya lebih mengkhawatirkan Steven Lou dibandingkan dirinya.
Setelah itu, dia pun jadi beropini bahwa kemungkinan besar Steven Lou dan pak sopir taksi sudah saling mengenal. Lagi pula tidak aneh kalau itu memang benar, soalnya pak sopir kan orang kepercayaan Lou Haikuan.
Sedang asyik mereka-reka, tiba-tiba ponsel dalam saku Jiang Lizqi berdering. Sopir taksi itu pun serta-merta menghentikan langkah yang sudah mencapai pintu dan berbalik menghadap Jiang Lizqi yang sedang mengeluarkan ponsel dari saku.
Setelah benda pipih persegi panjang itu berada di tangan, dahi Jiang Lizqi mengernyit. Sederet nomor yang tidak dikenal dengan kode negara luar terpampang di layar.
"Pangilan dari luar negri. Siapa? Atau mungkin hanya salah sambung?" gumamnya sembari sekilas mengerling si sopir yang kini wajahnya terlihat tegang. Jiang Lizqi tidak menerima panggilan tersebut. Akan tetapi, ketika ponselnya kembali berdering, tanpa menunggu dering berikutnya langsung saja diterimanya.
"Ha---"
Suara dari seberang menyelanya, "Ini aku, Lou Haikuan."
[Bersambung]
__ADS_1