![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Sementara Steven Lou sedang memeras otak untuk mengingat dan mereka-reka di mana kira-kira skateboard-nya, di ruang keluarga, Nyonya Lou dan Lou Haikuan tengah terlibat obrolan sangat serius.
Setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya, kenapa Steven Lou berada di bar dan mabuk berat. Kini pembicaraan merambah ke persoalan keluarga yang selama ini mereka tutupi dari Steven Lou. Keduanya begitu yakin kalau pemuda itu tidak akan turun lagi, mengingat bila suasana hatinya sedang buruk maka dia akan lebih suka mengurung diri di kamar.
"Aku bingung, bagaimana harus menyampaikan semua ini padanya. Aku tidak ingin hatinya hancur karena ayah yang selalu dibangga-banggakan ternyata tidak sebaik yang dia pikir." Suara Nyonya Lou bergetar dan serak karena menahan diri supaya tidak menangis.
Waktu itu, saat mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa sang suami, yang saat itu sedang berada di Singapura, Nyonya Lou merasa dunianya telah runtuh. Namun, sesampainya di Negeri Singa, dia harus menghadapi kenyataan yang lebih menyakitkan. Kenyataan yang membuatnya berpikir bahwa tertimpa reruntuhan dunia, lalu mati jauh lebih baik.
Suami yang Nyonya Lou pikir sangat mencintainya dan menjadikan dia perempuan satu-satunya, ternyata telah menikah tanpa sepengetahuan orang tua jauh sebelum mereka bertemu dan dijodohkan. Saat mengetahui semua itu dari mulut Tuan Lou yang waktu itu sedang sekarat, tak urung Nyonya Lou pun murka. Murka hebat tanpa peduli pada kondisi Tuan Lou yang sudah di ambang batas. Dia melontarkan apa saja yang ingin dikatakannya, termasuk sumpah serapah dan kutuk.
Namun, ketika tiba-tiba seorang anak laki-laki kisaran usia sepuluh tahun memasuki ruangan sambil menangis, dan setelah berada di dekat Tuan Lou yang sedang terbaring sekarat bocah itu tersedu-sedu sambil berkata, "Daddy, mommy sudah pergi. Yiehan mohon, Daddy jangan ikut pergi. Yiehan tidak mau sendirian."
Hati Nyonya Lou yang tadinya seperti terbakar seketika padam, dan tiba-tiba saja di matanya sosok bocah itu menjelma menjadi Steven Lou. Dia pun menjadi tidak tega melihatnya menangis sesenggukan, sambil terus mengguncang tubuh ayahnya yang meski masih bernapas, tetapi sudah tidak bisa bergerak lagi.
Nyonya Lou memang sangat marah bahkan membenci ayah dan ibu bocah itu. Akan tetapi, nalurinya sebagai seorang ibu tidak bisa tinggal diam begitu saja saat melihat seorang anak yang masih usia belia harus menanggung kesedihan yang begitu besar. Waktu itu, tanpa sadar kakinya yang lemas perlahan melangkah menghampiri dan tanpa berkata apa pun langsung merengkuh bocah tersebut ke dalam pelukan.
Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir, Tuan Lou dengan suara lirih hampir tidak terdengar sempat berkata, "Maaf. Dia tidak tahu apa-apa. Aku mohon jaga dia karena dia tidak memiliki siapa pun." Di kemudian hari baru Nyonya Lou ketahui bahwa ibu anak itu adalah yatim piatu.
Nyonya Lou tersedu-sedu sambil memeluk Lou Yiehan, putra sulung suaminya dengan istri pertama.
Awalnya perempuan itu menangis karena merasa dikhianati. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, dia bukanlah perempuan yang suaminya diambil, melainkan sebaliknya. Tanpa disadari dialah yang telah merebut suami perempuan lain. Namun itu bukan salahnya. Dia tidak tahu apa-apa.
Kendatipun terus membela diri, tetap saja alasan apa pun tidak berguna sama sekali. Kenyataan tidak bisa dipungkiri, dia adalah perebut suami orang. Ya, perebut suami orang.
__ADS_1
Setelah melihat Lou Yiehan, alasannya menangis sudah tidak sama lagi. Dia tidak lagi merasa dikhianati, tetapi tetap saja air matanya tumpah karena mengasihani putra-putra Lou. Dua bocah tidak berdosa yang telah menjadi korban kebejatan orang tuanya.
Dan ketika sang suami pergi untuk selamanya, dia menangis semakin kencang. Bahkan meraung-raung, bukan karena merasa sedih kehilangan. Dia hanya ingin menangis, menangis dan menangis untuk menumpahkan segala beban yang serasa menyesakkan dada. Saat itu, Nyonya Lou hanya berharap semua lara yang mengendap di dalam jiwa akan turut mengalir keluar bersama deras air matanya.
"Bi."
Nyonya Lou tersentak dari lamunan kala Lou Haikuan menyentuh punggung tangannya. Ternyata sang keponakan sudah berpindah duduk di sampingnya. Dengan lembut, pemuda dewasa itu menghapus air mata sang bibi yang sudah berlinang.
"Aku mengerti akan kerisauan yang Bibi rasakan. Tapi, Steven berhak mengetahui yang sebenarnya, Bi. Dia harus tahu bahwa ayahnya mempunyai anak dari perempuan lain. Lebih cepat lebih baik."
Wajah Nyonya Lou semakin tampak tersiksa. "Haikuan, aku takut Steven tidak mau mengerti. Takut kalau dia akan berpikir ibunya ini telah mengabaikannya demi anak yang lain. Padahal, aku hanya ingin bertindak adil. Membagi kasih sayang sama rata. Namun, tanpa aku sadari aku justru telah berbuat tidak adil padanya."
Lou Haikuan tidak tega melihat bibinya bercucuran air mata. Sambil membawanya ke dalam pelukan dia berkata, "Tidak apa. Kalau memang Bibi belum sanggup untuk mengatakannya tidak usah dipaksakan."
Nyonya Lou hanya mengangguk lemah, tanpa sanggup berkata sepatah kata pun. Tidak pernah terpikirkan bahwa hari itu akan menjadi hari yang sangat buruk. Hari di mana dia akan kehilangan putra semata wayangnya.
Sekarang dia tahu. Ibunya kerap pergi dan baru kembali setelah berhari-hari bukan hanya karena pekerjaan, melainkan juga karena ada anak lain yang harus dia perhatikan. Anak ayahnya dengan perempuan lain.
Dengan langkah gontai dan perasaan hancur, Steven Lou kembali berjalan menapaki anak tangga. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha keras supaya kaca-kaca itu tidak pecah.
Dia tidak ingin menangis, dia sudah dewasa, sudah tidak pantas lagi menangis. Akan tetapi, ketika kakinya sampai di anak tangga paling atas, ingatan dari masa lalunya melompat keluar begitu saja. Di sana, dia kembali melihat dirinya yang masih usia enam tahun tidur bersandar pada tembok sambil memeluk guling kecil kesayangannya.
Waktu itu, dia terbangun di tengah malam dan tidak mendapati sang ibu di sampingnya. Dia takut sendirian, oleh karenanya nekat keluar dari kamar dengan niat ingin mencari ibunya di kamar, di lantai satu. Kaki-kaki kecilnya melangkah dengan cepat, dia ingin segera bertemu ibu karena kesendirian serasa mencekam dan menakutkan.
__ADS_1
Akan tetapi, sesampainya di tangga dia hanya berdiri mematung sambil melihat ke lantai bawah yang gelap. Steven Lou kecil sangat takut gelap. Dia tidak jadi turun dan memilih duduk di anak tangga paling atas sambil menangis karena ketakutan. Saking takutnya dia sampai tidak berani bersuara untuk memanggil. Dia terus berada di situ hingga jatuh tertidur.
Keesokan pagi, Steven Lou kecil bangun di atas tempat tidurnya. Dia senang karena berpikir bahwa sang ibu yang telah memindahkan. Namun, ketika bertanya kepada para pelayan, mereka bilang kalau ibunya mendadak harus pergi tadi malam. Steven Lou kecewa dan bersedih karena ketika esok hari tiba ibu tidak kembali, begitu pun di hari esoknya lagi, ibu masih juga belum kembali.
Hanya menelepon saja untuk menanyakan kabar. Setelah entah berapa lama hari berlalu, akhirnya sang ibu pulang. Steven Lou senang, senyum cerianya kembali. Kurang lebih untuk dua minggu dia menikmati kebersamaan dengan ibunya dan setelah itu sang ibu pergi lagi.
Begitu seterusnya hingga Steven Lou menjadi terbiasa. Pada saat-saat itu, Lou Haikuan sering datang dan menginap untuk menemaninya. Hal kecil, tetapi merupakan kebahagiaan tersendiri bagi si kecil yang selalu merasa kesepian.
Lou Haikuan selalu mengatakan bahwa ibunya pergi untuk bekerja. Jadi, dia tidak boleh marah. Steven Lou kecil sangat manis dan penurut, mendengar dan menuruti setiap nasehat kakak sepupunya. Hingga perlahan dan pasti, dia menjadi lebih dekat dengannya dibanding sang ibu. Pada akhirnya, sang ibu ada di rumah atau tidak, tidak lagi penting asalkan ada Lou Haikuan bersamanya.
Mengingat itu semua, Steven Lou sakit hati. Dia terisak kecil. Kaca yang membendung kedua telaga kecil di mata akhirnya retak, lalu pecah berantakan menumpahkan cairan yang tidak lagi mampu ditahan. Sekarang dia ingat, sejak malam itulah perlahan dan pasti dia merasa kehilangan figur seorang ibu.
Dengan kemarahan yang seakan bergemuruh di dalam dada, Steven Lou menatap foto sang ayah yang tergantung di dinding tangga. Benci. Dia sangat membencinya. Sangat benci, karena dirinya adalah keturunan pria berengsek itu.
Menuruti amarahnya, Steven Lou menarik foto dengan bingkai kayu berukir indah itu dari tempatnya digantung, lalu membantingnya ke lantai hingga kaca hancur berkeping-keping, seperti perasaannya sekarang.
"Bajingan laknat! Aku membencimu!"
Lou Haikuan dan Nyonya Lou terperanjat. Setelah sempat bertukar pandang sejenak, segera bergegas menghambur keluar dari ruang keluarga. Sesampai di bawah tangga keduanya terperangah menyaksikan Steven Lou sedang mengamuk, menghancurkan semua foto yang tergantung di dinding tangga.
"Palsu! Semuanya palsu! Kenapa aku harus lahir dalam kepalsuan?!Aaarrrggghhh!!"
Steven Lou membanting foto yang terakhir sambil meraung. Setelah itu, berlari menuruni anak tangga, tanpa peduli pada rasa sakit saat sesuatu yang tajam menusuk telapak kakinya. Dia terus berlari meski Lou Haikuan berusaha mencegah. Suara meratap sang ibu saat memanggilnya sambil menangis pun tidak dihiraukan
__ADS_1
Steven Lou terus berlari keluar dari rumah meninggalkan jejak darah di lantai yang membuat Lou Haikuan dan Nyonya Lou panik. Keduanya berlari mengejar, tetapi hanya sempat melihat pemuda itu mengambil sepatu dari rak, lalu melesat ke luar pagar.
[Bersambung]