![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Jam istirahat, Jiang Lizqi dan Ji Yu duduk di kursi taman yang dilengkapi meja marmer dan tenda payung. Bersama keduanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengerumuni. Sepertinya mereka sedang memimta petunjuk untuk membuat logo yang benar. Tidak lama kemudian, mereka membubarkan diri, meninggalkan Jiang Lizqi dan Ji Yu.
Baru saja keduanya mengembuskan napas lega, sudah harus kembali merasakan sesak di dada ketika Steven Lou muncul dengan arogan sembari menenteng skateboard-nya.
Plak
Berlembar-lembar uang pecahan seratus yuan tersebar di atas meja marmer. Jiang Lizqi dan Ji Yu menatap nanar pada kertas-kertas berharga yang berserak bagai benda tanpa nilai.
"Itu bayaran untuk tugas logo tadi." Dagu terangkat angkuh, cara bicara Steven Lou pun seperti penguasa tirani.
Ji Yu gusar. "Brengsek. Uang ini tidak akan bisa menghapus fakta bahwa kamu telah memcuri hasil karya Qiqi!"
"Yuyu, sudahlah." Jiang Lizqi menepuk bahu sahabatnya, lalu meremas lembut untuk menenangkan. "Biar aku yang bicara, kamu diam saja. Oke?"
Ji Yu tidak merespon, malah membuang muka kesal. Itu jauh lebih baik daripada melihat Steven Lou, lalu bawaanya ingin mengamuk.
Jiang Lizqi mengumpulkan uang yang berserak, lalu merapikannya menjadi satu tumpukan yang cukup tebal, lantas berdiri.
"Tuan Muda Lou, bukannya sombong atau apa, tapi aku tidak bisa menerima uang ini. Aku tidak berniat menjual hasil karyaku. Ambilah kembali dan pergunakan untuk hal lain."
Steven Lou menatap penuh kebencian. "Miskin, tapi sombong!"
Tersenyum kecil, Jiang Lizqi sama sekali tidak merasa sakit hati atau tersinggung. "Kalau lain kali butuh bantuan, datanglah secara baik-baik. Cukup dengan niat dan itikad baik, aku akan dengan senang hati membantu. Tidak perlu membayar dan kamu juga tidak perlu mencurinya."
"Kamu ...."
Steven Lou mencengkeram kerah kemeja Jiang Lizqi, tetapi gadis manis itu malah tersenyum teduh, dan hal itu semakin menyulut amarah Steven Lou. Sampai-sampai lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang gadis.
Bugh
__ADS_1
Tinju Ji Yu tiba-tiba sudah mendarat telak di pipi kiri Steven Lou, cengkeraman pada kerah Jiang Lizqi pun terlepas dan dia terhuyung ke belakang sambil memegangi pipi yang terasa sakit. Bahkan kepala pun pening.
"Jaga sikapmu Steven! Kamu sangat arogan dan menyebalkan!" Ji Yu berteriak gusar.
"Yuyu, apa-apaan kamu ini?" Jiang Lizqi kesal tetapi juga panik. "Astaga, Steven, bibirmu berdarah."
Tidak menghiraukan Jiang Lizqi, tatapan tajam Steven Lou terarah pada Ji Yu. Tangan kanannya mengayun cepat hendak meninju, tetapi gagal karena Jiang Lizqi berhasil menangkapnya dan menggenggam erat. Gadis itu berbadan langsing nyaris kurus, sebenarnya tidak pendek, tetapi terkesan mungil. Lebih dari itu, ternyata tenaganya sangat mengejutkan.
"Lepaskan, bangsat!" Steven Lou meraung seperti gila.
Dengan santai Jiang Lizqi berkata, "Sebenarnya kamu pantas mendapatkan lebih dari satu pukulan atas apa yang sudah kamu perbuat, tapi aku bukan tipe orang yang suka dengan kekerasan. Sebaiknya kamu pergi sekarang, sebelum kesabaranku habis. Pergilah."
Setelah melepaskan tangan Steven Lou disertai sedikit dorongan, Jiang Lizqi berdiri menantang, menatap tajam Steven Lou yang sedikit terhuyung. Sebelum dia bisa menguasi keseimbangan, Jiang Lizqi sudah meraih tangannya lalu menjejalkan uang yang dia pegang ke genggaman pemuda itu.
"Pergi dan sebaiknya jangan lagi membuat masalah."
Di sela kekesalan hatinya, Jiang Lizqi masih sempat mengagumi kecintaan Steven Lou terhadap skateboard-nya. Bahkan saat dalam keaadaan kesakitan dan terdesak, dia sama sekali tidak berniat melepaskan benda itu dari tangan.
Jiang Lizqi menatap punggung pemuda itu dengan mata sendu. Namun begitu, dia merasa lega karena Steven Lou tidak ngotot mengajak Ji Yu berkelahi.
Kelegaan Jiang Lizqi tidak bertahan lama karena tiba-tiba ....
"Ini semua karena kamu terlalu lunak padanya. Kenapa kamu melindunginya, huh? Jelas-jelas dia mencuri karyamu. Aku benar-benar marah sekarang. Sampai-sampai tidak bisa membedakan, marah pada siapa yang lebih besar, pada dia atau padamu." Ji Yu mengungkit peristiwa di dalam kelas tadi dan menyalahkan Jiang Lizqi.
Tiba-tiba Jiang Lizqi meledak tertawa, lalu berseloroh, "Jangan marah-marah terus nanti lekas tua."
Ji Yu mendesis kesal. "Aku yakin setelah ini si songong itu pasti akan semakin berulah. Aku jadi heran, apa orang tuanya tidak pernah menasehati?"
Sampai hari ini, sudah terhitung dua bulan Steven Lou kuliah, tetapi kehadirannya di kelas bisa dihitung dengan jari. Lebih banyak bolos daripada masuk.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada salahnya mengalah dan---"
"Ya, ya, ya ... dan biarkan dia terus menginjak-injak kita."
"Kamu memang tidak setinggi dia, tapi rasanya tetap mustahil Steven bisa menginjakmu."
Ji Yu mendelik kesal dan Jiang Lizqi berpura-pura ketakutan. Hal itu justru membuat Ji Yu merasa geli lantas tidak sanggup menahan tawa. Akhirnya sepanjang sisa waktu istirahat, mereka isi dengan berkelakar, melupakan kejadian barusan yang cukup tidak mengenakan.
Ketika kembali ke kelas, ternyata Steven Lou belum ada di sana. Jiang Lizqi menghela napas lelah. Dia tahu, Steven Lou tidak akan kembali untuk mengikuti mata kuliah berikutnya. Sudah biasa begini soalnya. Dan yang diuntungkan atas ketidakhadiran Steven Lou adalah Ji Yu. Dengan senang hati dia menempati kursi Steven Lou yang memang seharusnya adalah kursinya.
"Dasar bandel. Sekarang pasti dia sedang mengamuk entah di mana," ujar Ji Yu dalam bisikan sesaat setelah duduk.
"Jangan berprasangka buruk seperti itu. Aku sebenarnya kasihan padanya. Entahlah." Jiang Lizqi mengangkat bahu lemah.
Menatap sebal sahabatnya, Ji Yu bersungut-sungut, "Dia begitu membencimu, tapi masih saja terus kamu bela."
"Aku yakin dia tidak sejahat yang terlihat. Aku sungguh kasihan padanya. Sepertinya dia sengaja bertingkah menyebalkan untuk mencari perhatian."
"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu?"
"Entahlah, tapi aku yakin dia memang sengaja bersikap menyebalkan dan membangkang karena ingin mendapat perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya."
Ji Yu terkekeh sarkas. "Good joob kalau begitu. Dia sukses, berhasil mendapatkan banyak perhatian sekaligus kekesalan serta caci maki, atau bahkan kebencian. Lengkap."
Jiang Lizqi menatap kesal sahabatnya. "Kamu salah satunya, kan?"
Pertanyaan bernada sarkas dari sang sahabat sontak saja membuat Ji Yu mendesis sebal. "Aku bukan jelmaan malaikat sepertimu."
"Hooo ... dan setan mana yang membisikimu bahwa aku ini adalah jelmaan malaikat?"
__ADS_1
Ji Yu hendak membalas gurauan sahabatnya, tetapi urung karena dosen yang akan mengajar sudah memasuki kelas. Akhirnya mulut yang sudah terbuka malah beralih mengucap salam untuk sang dosen. Jiang Lizqi dengan senang hati terkikik menertawakannya.
[Bersambung]